Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Gaya Hidup

Pengaruh Nama pada Kesan Pertama: Antara Bunyi dan Kepribadian

Pernahkah Anda merasa penasaran mengapa nama tertentu terkesan lebih ramah atau lebih energik? Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa bunyi dalam nama bisa membentuk persepsi orang lain terhadap kepribadian kita, meski belum tentu sesuai dengan karakter asli.

Mutiara Salimah
Mutiara Salimah
Penulis NaraCerita
-04 Juli 2026 -13:04:00 WIB
Ukuran teks
Pengaruh Nama pada Kesan Pertama: Antara Bunyi dan Kepribadian

Bunda, pernahkah Anda merasa seseorang terlihat ramah, ceria, atau lembut hanya dari mendengar namanya? Meski terdengar seperti sekadar firasat, ternyata kesan pertama terhadap sebuah nama bisa memengaruhi cara orang menilai kepribadian pemiliknya. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa bunyi tertentu dalam nama dapat memunculkan persepsi yang berbeda. Nama dengan pelafalan tegas cenderung diasosiasikan dengan sosok supel dan energik, sementara bunyi yang lebih lembut sering dianggap mencerminkan pribadi yang hangat, emosional, atau mudah diajak bekerja sama. Menariknya, anggapan tersebut bukan berarti benar-benar menggambarkan karakter asli seseorang.

Bagaimana Nama Bisa Mempengaruhi Penilaian?

Mengutip dari jurnal Journal of Experimental Psychology: General, sebuah makalah terbaru mengungkap cara orang menilai kepribadian dari nama. Penelitian menemukan bahwa sebagian orang kerap mengaitkan bunyi dalam nama dengan sifat-sifat tertentu. Misalnya, nama yang mengandung bunyi K dan T dinilai memiliki profil yang cukup berbeda dengan nama yang mengandung bunyi N atau L, yang lebih beresonansi. Sebelumnya, penelitian lain juga menemukan bahwa orang cenderung mengaitkan suara tertentu dengan bentuk tertentu—misalnya, kata 'Bouba' dengan bentuk bulat dan 'Kiki' dengan bentuk runcing. Peneliti mengungkap bahwa seseorang mungkin secara naluriah mengaitkan bentuk dan suara dengan keadaan emosional tertentu.

Hasil Penelitian tentang Nama dan Kepribadian

Para peneliti dari University of Calgary yang dipimpin oleh David Sidhu ingin mengetahui apakah orang mengaitkan bunyi dalam sebuah nama dengan hal yang lebih abstrak, seperti kepribadian. Secara khusus, mereka meneliti apakah kita cenderung menilai kepribadian seseorang secara berbeda berdasarkan bunyi pada namanya. Penelitian ini membandingkan dua jenis bunyi dalam nama. Pertama, sonorant, yaitu bunyi yang terdengar lembut dan mengalun, seperti huruf M, L, dan N. Contohnya nama Lauren. Kedua, voiceless stop, yaitu bunyi pendek yang dihasilkan dengan menghentikan aliran udara sesaat saat berbicara, seperti huruf T, K, dan P. Contohnya Katie.

Dalam tiga penelitian, sebanyak 180 peserta diminta melihat berbagai sifat kepribadian, seperti rajin dan bertanggung jawab (conscientiousness) atau mudah bergaul (extraversion). Bersamaan dengan itu, mereka diperlihatkan nama-nama yang mengandung bunyi sonorant atau voiceless stop. Pada salah satu penelitian, peserta melihat dua nama sekaligus dan diminta memilih nama yang paling sesuai dengan sifat tertentu. Dalam penelitian lain, mereka hanya melihat satu nama, lalu menilai seberapa cocok sifat tersebut menggambarkan orang dengan nama itu. Penelitian ketiga menggunakan nama-nama fiktif yang memiliki bunyi serupa, misalnya Mauren sebagai pengganti Lauren dan Tatie sebagai pengganti Katie.

Hasilnya konsisten. Nama-nama dengan bunyi sonorant, seperti Lauren, lebih sering dinilai sebagai sosok yang ramah, mudah bekerja sama (agreeableness), serta dalam dua penelitian juga dianggap lebih emosional dan bertanggung jawab. Sebaliknya, nama dengan bunyi voiceless stop, seperti Katie, lebih sering dinilai sebagai orang ekstrovert, energik, dan mudah bersosialisasi.

Mengapa Persepsi Ini Terbentuk?

Awalnya, para peneliti menduga mungkin nama seseorang memang mencerminkan kepribadiannya. Untuk mengujinya, mereka meminta lebih dari 1.000 orang mengisi survei kepribadian secara daring. Namun, hasilnya menunjukkan tidak ada hubungan nyata antara bunyi dalam nama seseorang dengan kepribadian aslinya. Kemungkinan lain adalah karena orang sudah memiliki pengalaman dengan nama tertentu. Misalnya, seseorang pernah berteman dengan orang bernama Lauren yang ramah, sehingga menganggap semua nama Lauren memiliki sifat serupa. Namun, dugaan ini juga kurang kuat karena pola yang sama tetap muncul ketika peserta menilai nama-nama fiktif yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Para peneliti kemudian berpendapat bahwa manusia mungkin telah belajar mengaitkan bunyi tertentu dengan kesan emosional tertentu. Bunyi yang lembut, seperti pada nama Lauren atau Owen, mungkin lebih sering terdengar dalam situasi yang tenang sehingga memunculkan kesan ramah dan dapat dipercaya. Sebaliknya, bunyi yang pendek dan tegas, seperti pada nama Jack atau Katie, dapat memberi kesan seseorang yang lebih aktif, bersemangat, dan ekstrovert.

Apa Artinya dalam Kehidupan Sehari-hari?

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, bunyi nama kemungkinan hanya memberi kesan awal dan tidak terlalu memengaruhi penilaian kita terhadap seseorang. Saat mengenal orang lebih jauh, kita tentu akan mempertimbangkan banyak faktor lain, seperti perilaku, cara berbicara, dan pengalaman berinteraksi. Namun, temuan ini bisa bermanfaat dalam situasi tertentu. Misalnya, perusahaan dapat mempertimbangkan bunyi sebuah nama saat memberi nama produk agar sesuai dengan citra yang ingin dibangun, sementara penulis dapat memilih nama tokoh yang bunyinya selaras dengan karakter yang ingin ditampilkan.

Nah, itulah penjelasan tentang nama yang memengaruhi penilaian orang terhadap kepribadian pemiliknya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Mutiara Salimah
Mutiara Salimah

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita