Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Kesehatan Keluarga

Femisida di Intan Jaya: Ibu Hamil Tewas Diduga Ditembak, Siapa Bertanggung Jawab?

Seorang ibu hamil tujuh bulan ditemukan tewas di Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah. Melkiana Duwita diduga menjadi korban penembakan dari arah pos militer. Kejadian ini menambah panjang daftar warga sipil yang menjadi korban kekerasan bersenjata di Papua.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni
Penulis NaraCerita
-06 Juli 2026 -15:02:00 WIB
Ukuran teks
Femisida di Intan Jaya: Ibu Hamil Tewas Diduga Ditembak, Siapa Bertanggung Jawab?

Duka mendalam menyelimuti warga Intan Jaya, Papua Tengah. Melkiana Duwita, seorang ibu yang tengah mengandung tujuh bulan, ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Sugapa pada Selasa (2/7) malam. Laporan yang diterima menyebutkan, korban tewas akibat luka tembak yang diduga berasal dari pos militer yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya.

Kronologi Penembakan

Menurut keterangan juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, suara tembakan terdengar dari Pos Militer Indonesia di kawasan Jaringan (J2), meliputi Kampung Bilogai dan Kampung Wandoga. Tak lama kemudian, Melkiana ditemukan dalam kondisi bersimbah darah bersama janin yang dikandungnya. Sambom menduga kuat aparat militer Indonesia yang berada di dalam pos melakukan penembakan yang mengarah ke rumah-rumah warga sipil di pusat Kota Sugapa.

Korban Berjatuhan dalam Rentang Waktu Berdekatan

Kematian Melkiana bukanlah yang pertama. Dalam rentang 29 Juni hingga 2 Juli, setidaknya empat warga sipil dilaporkan tewas tertembak. Para korban terdiri dari seorang gembala bernama Elianus Agimbau, seorang pemuda bernama Okto Tigau, serta Melkiana Duwita beserta bayi yang dikandungnya. Warga sipil kembali menjadi korban di tengah operasi keamanan yang digencarkan di Intan Jaya.

Suara dari Aktivis dan Lembaga HAM

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai rangkaian kematian ini menunjukkan kegagalan pendekatan keamanan militeristik di Papua. Menurutnya, pendekatan tersebut justru melahirkan siklus kekerasan baru dan membuat warga sipil semakin rentan. Ia mendesak pemerintah untuk membentuk tim pencari fakta independen guna mengusut tuntas kasus pembunuhan di luar hukum ini.

Senada dengan itu, Siti Aminah Tardi dari Indonesian Legal Resource Center (ILRC) menyoroti kerentanan berlapis yang dialami korban. Selain sebagai warga sipil di daerah konflik, Melkiana juga seorang perempuan hamil sehingga menghadapi diskriminasi berbasis gender, kondisi kehamilan, etnis, dan situasi keamanan. Amik menekankan pentingnya penyelidikan independen untuk mencegah impunitas dan memperbaiki situasi kekerasan di Papua.

Militerisasi dan Dampaknya pada Perempuan

Kematian Melkiana adalah pengingat pahit bahwa militerisasi di Papua tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga secara khusus membahayakan kelompok rentan seperti ibu hamil. Setiap nyawa yang hilang adalah tanggung jawab negara untuk diusut tuntas. Warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, tidak boleh terus menjadi korban dari kebijakan keamanan yang gagal.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita