Kabar Ariana Grande yang memutuskan rehat dari hingar-bingar industri hiburan sontak menjadi perbincangan hangat. Penyanyi yang baru saja menuntaskan tur 'Eternal Sunshine' ini mengumumkan keputusannya di hadapan penonton konsernya di Chicago. Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar reaksi spontan, melainkan buah perenungan panjang yang sudah ia simpan rapi dalam diam.
"Keputusan ini datang dari tempat yang penuh keyakinan, bukan sekadar respons atas apa yang terjadi hari ini," ujarnya, seperti dikutip dari Variety. Pernyataan tersebut muncul di tengah riuhnya perbincangan warganet yang mengaitkan keputusannya dengan sorotan tajam terhadap perubahan bentuk tubuhnya dalam beberapa tahun terakhir.
Era di Mana Tubuh Selebriti Selalu Dikomentari
Perhatian publik terhadap fisik Ariana sebenarnya bukan hal baru. Sejak ia memerankan Glinda dalam film 'Wicked', banyak yang berkomentar tentang tubuhnya yang semakin ramping. Asumsi pun bermunculan, mulai dari tuntutan peran hingga dugaan gangguan makan. Saat video musik 'Petal' dirilis, komentar serupa kembali membanjiri media sosial.
Di sisi lain, para penggemar yakin bahwa idola mereka justru berada dalam kondisi paling sehat. Mereka menilai komentar-komentar tersebut sebagai bentuk pengekangan dan perundungan terhadap tubuh perempuan. Ariana sendiri pernah menegaskan pada 2023 bahwa dirinya sedang dalam kondisi terbaiknya, seraya mengingatkan bahwa sehat tidak selalu terlihat sama bagi setiap orang.
"Sehat bisa berarti tampil berbeda. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain, jadi meskipun niat kita baik, bisa saja orang tersebut sedang berjuang," tuturnya.
Kekuatan Pengaruh di Pundak Publik Figur
Perdebatan ini sebenarnya mengaburkan satu hal penting: bagaimana cara kita menyeimbangkan kepedulian terhadap kesehatan tanpa melanggar batas privasi dan martabat seseorang, terutama seorang publik figur dengan jutaan penggemar.
Posisi Ariana sebagai idola membuatnya memiliki pengaruh besar, terutama bagi perempuan muda yang mungkin meniru gaya hidupnya. Penelitian Brown dan Tiggemann menunjukkan bahwa paparan terhadap citra selebriti dan kebiasaan membandingkan diri dapat memicu pandangan negatif terhadap tubuh sendiri. Hal serupa juga disuarakan oleh aktris Jameela Jamil, yang mengingatkan bahwa mengomentari tubuh Ariana bisa memperburuk kesehatan mentalnya, namun diam juga berisiko menormalisasi standar tubuh yang tidak realistis.
Psikolog Kim Lampson juga menyoroti kembalinya tren tubuh kurus yang menggeser gerakan body positivity. Ia sendiri pernah mengalami gangguan makan akibat terpengaruh oleh sosok model Twiggy di masa mudanya. Menurutnya, kemunculan obat pelangsing seperti GLP-1 semakin memperkuat tren ini di kalangan selebriti.
Dari Taylor Swift hingga Lorde: Luka yang Sama
Kisah Ariana hanyalah satu dari sekian banyak perempuan di industri hiburan yang harus berhadapan dengan komentar publik tentang tubuh mereka. Taylor Swift pernah mengaku sempat berhenti makan karena komentar yang terus menghantuinya. Lorde juga berbagi pengalaman serupa dalam lagunya, tentang perang batin dengan tubuh yang membuatnya kelaparan, lalu kembali mengalami kenaikan berat badan yang terasa sama menyakitkannya.
Semua cerita ini menunjukkan bahwa objektifikasi tubuh perempuan bukanlah hal baru. Ia seperti lingkaran setan yang terus berulang dari generasi ke generasi. Komentar pedas yang dilontarkan tanpa berpikir panjang bisa meninggalkan luka yang dalam, sementara diam juga bisa berarti membiarkan standar yang tidak sehat terus mengakar.
Lalu, di mana kita harus berdiri? Mungkin jawabannya bukan pada salah satu kutub, melainkan di tengah-tengah: berempati tanpa menghakimi, peduli tanpa mencampuri, dan mendukung tanpa memaksakan standar. Karena pada akhirnya, setiap perempuan berhak menentukan apa yang terbaik untuk tubuhnya sendiri, tanpa harus menjadi medan perang opini publik.
Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.
Suka artikel ini?
Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.
