Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Gaya Hidup

Diberi Tiket, Ditinggal di Pinggir Jalan: Perjuangan Perempuan di Panggung Politik

Pernahkah kamu membayangkan berjuang keras untuk sebuah kursi, tapi harus berhadapan dengan tembok yang tak terlihat? Ini kisah tentang para perempuan calon legislatif yang tidak hanya berjuang melawan lawan politik, tapi juga melawan tradisi, stigma, dan bahkan partainya sendiri.

Maya Handayani
Maya Handayani
Penulis NaraCerita
-31 Agustus 2026 -15:07:00 WIB
Ukuran teks
Diberi Tiket, Ditinggal di Pinggir Jalan: Perjuangan Perempuan di Panggung Politik

Setiap kali pemilu tiba, kita mendengar janji tentang keterwakilan perempuan. Partai-partai berlomba memasang wajah-wajah perempuan di baliho dan poster. Namun, di balik senyum manis dan pose percaya diri itu, tersimpan perjuangan yang jauh lebih berat dari sekadar bersaing merebut suara.

Dari Dapur ke DPR: Beratnya Menembus Budaya Maskulin

Bayangkan seorang perempuan yang telah mendapat restu keluarga dan partai untuk maju sebagai calon legislatif. Ia bersemangat, penuh mimpi. Namun, begitu masuk ke dunia politik, ia seperti memasuki dunia asing yang sangat maskulin. Rapat-rapat strategi sering berlangsung hingga larut malam, di ruangan pengap penuh asap rokok. Bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal kenyamanan dan rasa aman. Ia harus pandai menyesuaikan diri, bukan hanya soal ide, tapi juga soal gaya bicara, cara duduk, bahkan cara berpakaian agar dianggap "pantas".

Belum lagi urusan biaya. Ia harus pandai membagi uang antara kebutuhan kampanye dan kebutuhan keluarga. Penampilan pun harus dijaga agar terlihat "bonafide". Sementara itu, kandidat laki-laki jarang menghadapi beban ganda seperti ini. Mereka lebih bebas bergerak, tanpa harus memikirkan penilaian masyarakat terhadap peran mereka sebagai perempuan.

Membuktikan Diri Sebelum Bertarung

Bagi banyak perempuan, perjuangan bahkan dimulai jauh sebelum nama mereka diumumkan sebagai calon. Mereka harus berdebat dengan keluarga sendiri yang masih berpikir bahwa politik bukan tempat perempuan. Mereka harus menghadapi tetangga yang meragukan kemampuan mereka. Anggapan bahwa parlemen adalah "arena laki-laki" masih tertanam kuat. Perempuan harus bekerja ekstra untuk membuktikan bahwa mereka layak, sesuatu yang tidak diminta dari kandidat laki-laki. Laki-laki dianggap memang sudah seharusnya menjadi pemimpin, sementara perempuan harus terus bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku cukup baik?"

Kuota 30 Persen: Pintu Terbuka, Jalan Masih Berbatu

Sudah lebih dari dua dekade kita memiliki kebijakan kuota 30 persen untuk calon legislatif perempuan. Ini adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Namun, kenyataannya, jumlah perempuan yang berhasil duduk di kursi parlemen masih jauh dari target. Pada Pemilu 2024, dari 580 anggota DPR RI terpilih, hanya 127 yang perempuan, atau sekitar 21,9 persen. Di tingkat provinsi, angkanya juga beragam, misalnya di Jawa Barat hanya 22,5 persen, bahkan di Papua Barat hanya 8,6 persen.

Data ini menunjukkan bahwa kuota memang berhasil meningkatkan jumlah calon, tetapi tidak serta-merta meningkatkan jumlah yang terpilih. Mengapa? Karena hambatan tidak hanya berasal dari budaya patriarki, tetapi juga dari aturan main dan praktik di dalam partai politik itu sendiri.

Partai: Memberi Tiket, tetapi Bukan untuk Menang

Banyak partai mencalonkan perempuan hanya untuk memenuhi kuota, tanpa memberikan dukungan yang memadai. Perempuan seringkali tidak mendapatkan nomor urut yang aman, daerah pemilihan yang potensial, atau dana kampanye yang cukup. Mereka juga sulit mengakses jaringan politik yang sudah mapan, yang biasanya dikuasai oleh laki-laki. Keputusan-keputusan penting sering dibuat di ruang-ruang eksklusif yang didominasi elite partai laki-laki, di mana perempuan harus berjuang lebih keras hanya untuk didengar.

Akibatnya, banyak perempuan yang merasa seperti "diberi tiket, tetapi tidak diberi jalan". Mereka boleh ikut dalam perlombaan, tetapi dengan tangan terikat dan beban tambahan di pundak. Ini bukan soal kemampuan, karena banyak perempuan yang berpendidikan tinggi dan memiliki kapasitas memimpin. Ini tentang sistem yang belum sepenuhnya adil dan ramah terhadap perempuan.

Jalan Panjang Menuju Kesetaraan

Perjuangan untuk keterwakilan perempuan di parlemen bukanlah perjuangan yang singkat. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan perubahan di banyak lini, mulai dari budaya, kebijakan partai, hingga kesadaran masyarakat. Namun, setiap langkah kecil yang diambil oleh para perempuan pemberani di garis depan adalah harapan. Mereka adalah pahlawan yang membuka jalan bagi generasi berikutnya, agar suatu saat nanti, perempuan tidak perlu lagi membuktikan diri lebih keras hanya karena gender mereka.

Maya Handayani
Maya Handayani

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita