Pernahkah Anda merasakan dorongan buang air kecil yang lebih sering saat sedang cemas atau tertekan? Keluhan ini kerap dianggap sepele, padahal para ahli menemukan adanya hubungan erat antara kondisi mental dan fungsi kandung kemih. Stres, kecemasan, hingga depresi disebut berkaitan dengan berbagai gejala saluran kemih bagian bawah atau lower urinary tract symptoms (LUTS).
Apa Itu LUTS dan Seberapa Umum Terjadi?
LUTS mencakup keluhan seperti sering buang air kecil, rasa mendesak untuk pipis, hingga inkontinensia urine. Masalah ini ternyata cukup umum. Sebuah studi populasi memperkirakan prevalensinya mencapai 62,5% pada pria dan 66,6% pada wanita. Artinya, lebih dari separuh orang dewasa pernah mengalaminya.
Hubungan Dua Arah antara Pikiran dan Kandung Kemih
Tinjauan sistematis terhadap 77 studi menemukan korelasi positif antara LUTS dengan depresi dan kecemasan. Meta-analisis dalam tinjauan tersebut memperkirakan orang dengan depresi memiliki kemungkinan 1,58 kali lebih tinggi mengalami LUTS. Sebaliknya, mereka yang memiliki gangguan buang air kecil bisa merasa malu, takut bocor, hingga menarik diri dari aktivitas sosial. Kondisi ini pada akhirnya memperburuk beban psikologis.
Pada pasien overactive bladder (OAB), tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan gejala yang lebih berat. Dalam satu kelompok pasien OAB, 48% mengalami gejala kecemasan dan 24% di antaranya sedang hingga berat. Mereka juga melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah.
Mengapa Stres Bisa Memengaruhi Kandung Kemih?
Para peneliti menduga ada beberapa mekanisme biologis yang berperan. Salah satunya adalah sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), bagian penting dari respons tubuh terhadap stres. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa stres psikologis kronis dapat mengubah aktivitas sumbu HPA dan meningkatkan sensitivitas kandung kemih. Sistem saraf otonom juga ikut berubah saat tubuh stres. Namun, mekanisme pasti pada manusia masih terus diteliti.
Selain itu, ada fenomena central sensitization, di mana rangsangan ringan pada kandung kemih dirasakan jauh lebih kuat. Mekanisme ini diduga berperan pada kondisi seperti interstitial cystitis/bladder pain syndrome (IC/BPS), meski tidak menjelaskan semua jenis LUTS.
Pendekatan Holistik untuk Kesehatan Kandung Kemih
Karena itu, penanganan LUTS sebaiknya tidak hanya berfokus pada kandung kemih. Terapi perilaku seperti latihan kandung kemih dan latihan otot dasar panggul menjadi langkah awal untuk OAB. Selain itu, terapi kognitif perilaku (CBT) mulai banyak diteliti karena mampu mengubah pola pikir dan perilaku yang memperkuat siklus gejala. Beberapa studi menunjukkan CBT, dengan atau tanpa latihan otot dasar panggul, dapat memperbaiki gejala inkontinensia urgensi, kualitas hidup, kepuasan pasien, serta gejala psikologis.
Meski hubungan antara kesehatan mental dan LUTS belum bisa disederhanakan sebagai sebab-akibat, bukti yang ada cukup kuat untuk mengatakan bahwa keduanya saling terkait. Jadi, jika Anda mengalami gangguan buang air kecil yang menetap disertai tekanan psikologis, jangan ragu mencari bantuan profesional. Pendekatan yang menyeluruh—memperhatikan fisik dan psikis—akan memberikan hasil terbaik.
Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.
Suka artikel ini?
Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.
