Pagi itu, Purbaya Yudhi Sadewa masih menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia datang ke rapat DPD RI dan langsung memaparkan materi tentang anggaran negara. Angka-angka dirinci, dari mana uang negara berasal dan ke mana perginya. Para senator pun bertanya, dan Purbaya menjawab dengan gaya khasnya yang kadang diselingi tawa.
Di tengah rapat, ia menceritakan upaya menindak pajak bocor. Contohnya pabrik baja asal China di kawasan Pulogadung. Menurut Purbaya, ada sekitar 40 pabrik baja China yang tidak membayar pajak penuh. Petugas pajak sudah diperintah mengaudit, tapi tidak dijalankan. Ia pun turun langsung melakukan sidak.
“Setelah kita periksa pajaknya, mereka punya utang ke saya minimal Rp200 miliar, kalau ditekan lagi mendekati Rp1 triliun,” ujarnya dalam rapat yang dimulai pukul sepuluh pagi itu.
Purbaya berjanji memperbaiki kinerja pajak dan menciptakan iklim usaha yang adil. Ia yakin jika semua bayar pajak, industri baja dalam negeri akan hidup dan membuka banyak lapangan kerja. “Ada keributan sedikit-sedikit tapi nggak apa-apa,” tuturnya.
Keributan itu muncul karena Purbaya merasa terhina. Perusahaan China itu, katanya, menyepelekan aturan Indonesia. Mereka menganggap orang Indonesia tak bisa berubah dan semua bisa diselesaikan dengan uang. “Itu kan menghina kita. Kita akan antem yang begitu-begitu, walaupun saya kelihatan ketawa-ketawa, ini kurang ajar,” tegasnya sambil menghantamkan kepalan tangan ke meja.
Di sesi lain, Purbaya membahas dana pusat ke daerah yang tengah memanas. Ia sempat melontarkan candaan tentang Dirjen Anggaran di kementeriannya. “Ini Dirjen saya pelit sekali. Kalau nggak masuk akal, kalau bilang nggak mau, habis itu nggak masuk kantor dia. Pokoknya susah dicari,” selorohnya, disambut gelak tawa.
Purbaya memang dikenal blak-blakan. Saat serah terima jabatan Menteri Keuangan, di samping Sri Mulyani, ia menyebut dirinya sebagai “menteri kagetan” dan bergaya koboi. Dalam kebijakan, geraknya juga cepat. Belum genap seminggu menjabat, ia memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah di Bank Indonesia ke lima bank Himbara. Tujuannya agar uang nganggur itu bergerak menjadi kredit dan mendorong sektor riil.
Ia memberi keleluasaan pada bank untuk menyalurkan dana sesuai mekanisme bisnis. Pesannya hanya satu: jangan diparkir di surat berharga. Jika bank bingung mencari proyek, pemerintah siap menyuplai daftar proyek yang bisa dibiayai.
Saat Didik J Rachbini menyebut kebijakan itu melanggar tiga undang-undang, Purbaya tak gusar. “Pak Didik salah undang-undangnya. Ini bukan perubahan anggaran, hanya uang kita dipindahkan saja. Saya sudah konsultasi dengan ahli-ahli hukum di Kemenkeu,” jawabnya.
Ia bahkan pernah menelepon sendiri Kring Pajak untuk mengetahui langsung bagaimana layanan Coretax bekerja. Ia ingin tahu sendiri, bukan sekadar mendapat laporan anak buah.
Pada 28 Agustus 2026, ia menyebut Rp120 triliun keuntungan Danantara akan masuk kas negara sebagai cadangan anggaran. “Sudah dipastikan. Tinggal ditentukan kapan dia mau kirim, itu saja,” katanya. Purbaya juga mengakui Danantara protes dengan kebijakan itu, namun ia menyebut itu sudah jadi keputusan Presiden Prabowo. “Saya terima aja, kan enak,” tuturnya.
Semua itu terjadi dalam rentang setahun. Dan pada 14 September 2026, gaya kerja itu masih terlihat di ruang rapat DPD. Namun, rapat terpaksa dijeda. Paparan Purbaya terhenti karena panggilan telepon dari Istana. Menteri Sekretaris Negara memanggil.
Setelah jeda, Purbaya tak terlihat lagi di ruang rapat. Tayangan langsung di kanal YouTube DPD RI menampilkan paparan oleh Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Febrian Alphyanto Ruddyard. Sementara itu, stasiun televisi dan kanal YouTube berbagai media menyiarkan pelantikan Suahasil Nazara dari Istana Kepresidenan. Saat Purbaya masih bekerja, penggantinya sudah siap disumpah di gedung yang jaraknya tak sampai sepuluh kilometer.
Pagi hari Purbaya datang sebagai Menteri Keuangan. Ia masih duduk di ruang rapat, menjalankan agenda, membicarakan keuangan negara. Saat pulang beberapa jam kemudian, Purbaya bukan lagi menteri. Kisah sehari dalam hidupnya ini pun menjadi cermin betapa dinamisnya dunia politik dan pemerintahan.
Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.
Suka artikel ini?
Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.
