Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Kesehatan Keluarga

Gangguan Makan Tak Lagi Milik Perempuan: Pria Juga Rentan

Selama ini, gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia sering dianggap sebagai masalah perempuan. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pria juga mengalami kondisi ini, bahkan dengan angka yang meningkat pesat. Sayangnya, stigma dan kurangnya kesadaran membuat banyak pria enggan mencari bantuan.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni
Penulis NaraCerita
-30 Agustus 2026 -03:09:00 WIB
Ukuran teks
Gangguan Makan Tak Lagi Milik Perempuan: Pria Juga Rentan

Selama bertahun-tahun, kita sering mengasosiasikan gangguan makan dengan perempuan muda yang ingin kurus. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Data terbaru mengungkapkan bahwa kasus gangguan makan pada pria justru meningkat lebih cepat daripada perempuan. Ironisnya, diagnosis pada pria masih sangat tertinggal karena stigma yang melekat kuat di masyarakat.

Angka yang Tak Bisa Diabaikan

Menurut National Eating Disorders Association (NEDA), sekitar satu dari tiga penderita gangguan makan adalah laki-laki. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa laju peningkatan gangguan makan pada pria lebih tinggi dibanding perempuan. Yang mengejutkan, tingkat keparahan gejala klinisnya tidak berbeda antara keduanya.

Namun, perempuan masih lima kali lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan makan dibanding pria. Bahkan, mereka 1,5 kali lebih mungkin menerima perawatan. Kesenjangan ini bukan berarti pria lebih jarang mengalaminya, melainkan menunjukkan betapa seringnya kondisi ini luput dari deteksi.

Stigma Ganda yang Membungkam Pria

Pria yang ingin mencari bantuan sering kali menghadapi stigma ganda: stigma memiliki gangguan jiwa, ditambah stigma memiliki kondisi yang dianggap feminin. Kombinasi ini membuat banyak pria memilih diam dan tidak pernah mengungkapkan gejala yang mereka alami.

Norma maskulinitas yang kaku juga berperan besar. Banyak pria merasa bahwa mengakui masalah ini sama saja dengan menunjukkan kelemahan. Penelitian dari University of Exeter bahkan menemukan bahwa kurang dari satu persen riset tentang gangguan makan berfokus pada laki-laki, meskipun kasusnya terus bertambah.

Gejala yang Berbeda, Diagnosis yang Terlewat

Gejala gangguan makan pada pria sering kali tidak sesuai dengan stereotip umum. Jika perempuan cenderung menggunakan purging (memuntahkan makanan), pria lebih sering menggunakan olahraga berlebihan sebagai perilaku kompensasi. Mereka juga lebih terobsesi pada bentuk tubuh berotot, bukan sekadar kurus.

Sebuah riset menunjukkan bahwa 60 persen remaja laki-laki merasa tidak puas dengan tubuh mereka karena dorongan mengejar kekekaran otot. Pola ini sering disebut sebagai Adonis Complex. Ketidakpuasan ini biasanya terpusat pada ukuran dada dan lengan, bukan perut. Muscle dysmorphia, atau obsesi terhadap otot, diperkirakan memengaruhi hingga 10 persen pria yang rutin ke gym.

Perawatan yang Belum Ramah Pria

Kebanyakan program perawatan gangguan makan dirancang untuk perempuan. Mulai dari terapi kelompok yang mayoritas anggotanya perempuan, hingga kurikulum citra tubuh yang berfokus pada kelangsingan. Hal ini membuat pria merasa tidak pada tempatnya dan sulit merasa dipahami.

Akibatnya, banyak pria yang terlambat mendapatkan diagnosis. Padahal, keterlambatan ini bisa berakibat fatal. Pria berisiko lebih tinggi meninggal akibat gangguan makan karena biasanya baru terdeteksi saat kondisinya sudah parah.

Kelompok Pria dengan Risiko Lebih Tinggi

Beberapa kelompok pria ternyata lebih rentan mengalami gangguan makan. Laki-laki transgender, misalnya, secara signifikan lebih mungkin melaporkan diagnosis gangguan makan dibanding laki-laki cisgender. Remaja LGBTQ dengan gangguan makan juga memiliki peluang hampir empat kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri dalam setahun terakhir.

Veteran pria juga tidak luput dari risiko ini. Mereka menunjukkan angka gangguan makan yang lebih tinggi dibanding populasi pria umumnya. Sayangnya, penelitian dan perawatan yang spesifik untuk kelompok-kelompok ini masih sangat terbatas.

Mengubah Cara Pandang

Meningkatnya kesadaran tentang gangguan makan pada pria bukan hanya soal statistik. Ini tentang membuka pintu bagi lebih banyak pria untuk mengenali gejala pada diri mereka sendiri, mencari bantuan lebih awal, dan mendapatkan perawatan yang sesuai kebutuhan mereka. Sudah saatnya kita meninggalkan anggapan lama bahwa gangguan makan hanya milik perempuan.

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami gejala gangguan makan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk pulih.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita