Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Keluarga

Satu Gaji untuk Satu Keluarga: Mengapa Kini Terasa Berat?

Dulu, satu orang bekerja mungkin sudah cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Namun, sekarang banyak pasangan merasa harus bekerja sama-sama untuk memenuhi kebutuhan. Apa sebenarnya yang membuat satu penghasilan terasa kurang? Yuk, kita bahas bersama.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni
Penulis NaraCerita
-30 Agustus 2026 -21:03:00 WIB
Ukuran teks
Satu Gaji untuk Satu Keluarga: Mengapa Kini Terasa Berat?

Menjadi ibu rumah tangga dengan suami sebagai satu-satunya pencari nafkah memang punya tantangan tersendiri. Dulu, mungkin kita sering mendengar kisah orang tua atau kakek-nenek yang bisa membesarkan anak-anaknya dengan satu gaji. Namun, di zaman sekarang, cerita seperti itu semakin jarang terjadi. Banyak keluarga muda justru merasa kewalahan jika hanya mengandalkan satu sumber pemasukan.

Perubahan ekonomi global dan gaya hidup membuat segalanya terasa lebih mahal. Mulai dari harga rumah, biaya sekolah, sampai tagihan bulanan, semuanya naik. Lalu, apa saja sih faktor-faktor yang membuat satu gaji terasa tidak cukup? Simak ulasannya berikut ini.

Biaya Hidup yang Terus Menanjak

Salah satu penyebab utama adalah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terbendung. Inflasi membuat uang yang kita miliki nilainya semakin mengecil. Kebutuhan seperti makanan, pakaian, dan transportasi memakan porsi lebih besar dari pendapatan. Belum lagi biaya untuk membesarkan anak, seperti susu, popok, dan mainan, yang harganya terus merangkak naik.

Harga Rumah dan Sewa yang Sulit Dijangkau

Memiliki rumah sendiri adalah impian banyak keluarga. Namun, harga rumah di kota-kota besar semakin tidak masuk akal. Kalaupun memilih menyewa, biayanya pun tidak kalah membebani. Untuk keluarga dengan satu penghasilan, membayar cicilan rumah atau uang sewa bisa memakan habis sebagian besar gaji suami. Akibatnya, sulit untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.

Biaya Pendidikan dan Kesehatan yang Melonjak

Pendidikan dan kesehatan adalah dua sektor yang biayanya naik sangat signifikan. Uang sekolah anak, les tambahan, hingga biaya berobat di rumah sakit, semuanya butuh dana tidak sedikit. Asuransi kesehatan keluarga pun preminya terus meningkat. Beban ini terasa sangat berat jika hanya ditanggung oleh satu orang.

Dunia Kerja yang Semakin Tidak Menentu

Dulu, bekerja di satu perusahaan bisa bertahan puluhan tahun dengan jaminan pensiun. Sekarang, banyak pekerja yang beralih ke pekerjaan lepas atau gig economy. Memang lebih fleksibel, tapi pendapatannya tidak stabil dan tunjangannya minim. Hal ini membuat perencanaan keuangan keluarga menjadi lebih sulit.

Mempersiapkan Dana Pensiun Sendiri

Dengan semakin langkanya perusahaan yang memberikan dana pensiun, kita dituntut untuk menyiapkan masa tua secara mandiri. Ini artinya, sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk tabungan pensiun. Bagi keluarga dengan satu pencari nafkah, menyisihkan uang untuk masa depan setelah memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa menjadi tantangan besar.

Memang, memiliki dua penghasilan bukanlah jaminan hidup berkecukupan, tapi setidaknya bisa memberikan ruang napas lebih lega. Bagi Bunda yang saat ini menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dengan satu sumber penghasilan, tidak perlu berkecil hati. Yang terpenting adalah bijak dalam mengelola keuangan dan selalu berkomunikasi dengan pasangan tentang kondisi finansial keluarga.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita