Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

keuangan keluarga

Berita dan Informasi keuangan keluarga

4 artikel ditampilkan

Harga Rumah Bisa Melambung, Waspada Sebelum Ambil KPR 40 Tahun
Keluarga

Harga Rumah Bisa Melambung, Waspada Sebelum Ambil KPR 40 Tahun

Pemerintah tengah mendorong skema KPR dengan tenor 40 tahun untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memiliki rumah pertama. Cicilan bulanan yang ringan, sekitar Rp500-700 ribu, tentu menarik. Namun, jangan terkecoh dengan angka bulanan yang kecil.Total Pembayaran Bisa 3 Kali LipatMenurut pengamat perbankan, Arianto Muditomo, total pembayaran hingga lunas bisa mencapai 3 kali lipat dari harga rumah awal. Dengan bunga flat 5 persen per tahun selama 40 tahun, total bunga yang dibayar bisa mencapai 200 persen dari harga rumah. Artinya, Bunda tidak hanya membayar pokok rumah, tetapi juga bunga yang sangat besar.Simulasi Rumah Subsidi Rp185 JutaSebagai gambaran, ambil contoh rumah subsidi di Bekasi seharga Rp185 juta dengan KPR 40 tahun, bunga 5 persen flat, tanpa DP. Berikut perhitungannya:Cicilan per bulan: sekitar Rp771 ribu (pokok + bunga).Total pembayaran selama 40 tahun: Rp370 juta (pokok Rp185 juta + bunga Rp185 juta).Total bunga sama dengan harga rumah, sehingga total bayar 2 kali lipat. Namun jika ada biaya lain, bisa lebih.Harga rumah Rp185 juta adalah batas tertinggi di beberapa wilayah seperti Jabodetabek, Bali, dan Maluku. Di luar Papua, batas maksimal Rp240 juta. Jadi, jika tenor 40 tahun, total pembayaran bisa mencapai Rp480 juta untuk rumah seharga Rp240 juta.Tips Bijak Mengambil KPRBunda, sebelum mengajukan KPR, pertimbangkan hal berikut:Pastikan penghasilan stabil dan cukup untuk cicilan plus biaya hidup.Hitung total pembayaran, bukan hanya cicilan bulanan.Usahakan DP lebih besar untuk mengurangi pokok pinjaman.Pilih tenor lebih pendek jika mampu, agar bunga total lebih kecil.Cari tahu program subsidi lain yang mungkin lebih menguntungkan.Rumah adalah investasi jangka panjang. Jangan sampai beban bunga membuat keuangan keluarga terhimpit. Konsultasikan dengan ahlinya sebelum memutuskan.

Redaksi-01 Juli 2026
Atur Keuangan Keluarga Tanpa Drama: Hindari Jebakan Ini
Gaya Hidup

Atur Keuangan Keluarga Tanpa Drama: Hindari Jebakan Ini

Mengelola keuangan keluarga memang gampang-gampang susah. Penghasilan besar belum jaminan hidup tenang kalau pengelolaannya berantakan. Justru sering kali, kebiasaan sepele yang dilakukan setiap hari jadi biang keroknya. Yuk, kita bedah satu per satu jebakan yang harus dihindari.1. Asal Hafal, Gak Pernah DicatatPernah gak sih, kamu merasa pengeluaran bulan ini gak terlalu banyak, tapi pas dicek saldo kok langsung ludes? Ini tandanya kamu cuma mengandalkan ingatan. Padahal, otak kita gak bisa merekam detail transaksi kecil seperti jajan, parkir, atau biaya admin. Jumlahnya kalau dikumpulkan bisa sampai 10-15% dari pendapatan, lho! Solusinya, catat setiap pengeluaran, baik pakai buku, Excel, atau aplikasi. Lakukan rutin setiap hari atau maksimal tiga hari sekali.2. Gaji Masuk, Langsung BelanjaKebanyakan keluarga punya pola: gaji dikurangi pengeluaran, sisanya ditabung. Hasilnya? Gak pernah ada sisa. Lebih parah lagi, kadang pengeluaran malah melebihi pendapatan dan akhirnya berutang. Coba ubah pola jadi: gaji dikurangi tabungan dan investasi dulu, baru sisanya dipakai belanja. Sisihkan minimal 10-20% segera setelah gaji masuk, sebelum kamu tergoda buat belanja.3. Kebutuhan vs Keinginan, Samar BatasnyaZaman sekarang, batas antara kebutuhan dan keinginan makin tipis. Promo, diskon, dan fitur bayar nanti bikin kita gampang tergoda. Contohnya, beli baju baru padahal lemari masih penuh, atau langganan streaming yang jarang ditonton. Akibatnya, uang yang seharusnya buat dana darurat atau pendidikan anak malah habis buat barang yang nilainya cepat turun. Terapkan aturan jeda: untuk barang di atas Rp500 ribu yang bukan kebutuhan pokok, tunggu 3-7 hari sebelum memutuskan membeli. Siapa tahu keinginan itu hilang dengan sendirinya.4. Dana Darurat: Ada Tapi Salah PakaiBanyak keluarga yang gak punya dana darurat sama sekali. Ada juga yang punya, tapi jumlahnya terlalu kecil atau malah dipakai buat liburan, ganti HP, atau renovasi rumah yang gak mendesak. Padahal, saat terjadi hal tak terduga seperti sakit atau PHK, tabungan jangka panjang atau utang jadi jalan satu-satunya. Idealnya, dana darurat adalah 3-6 kali pengeluaran bulanan, atau 6-12 kali kalau pendapatan gak tetap. Simpan di rekening terpisah yang gak mudah diakses, dan hanya boleh dipakai untuk kondisi darurat yang benar-benar mengancam.5. Satu Pihak Dominan, Pasangan Buta FinansialPernah gak, hanya suami atau istri saja yang tahu semua soal uang keluarga? Ini risiko banget. Selain bisa memicu konflik, kalau yang mengelola tiba-tiba sakit atau meninggal, pasangannya bakal kesulitan mengurus aset dan utang. Solusinya, jadikan urusan keuangan sebagai tanggung jawab bersama. Lakukan rapat keuangan keluarga rutin minimal sebulan sekali, bahas pemasukan, pengeluaran, dan rencana ke depan. Bagi tugas secara jelas dan disepakati berdua.6. Utang Konsumtif MembeludakUtang produktif seperti KPR atau modal usaha masih wajar. Tapi kalau utang buat liburan, belanja, atau lifestyle lainnya sudah melebihi 30% dari pendapatan, itu tanda bahaya. Cicilan yang menumpuk bikin arus kas tersedot habis. Prioritaskan lunasi utang konsumtif dengan bunga tinggi dulu, dan jangan tambah utang baru sebelum yang lama lunas.Nah, itu dia beberapa jebakan yang sering terjadi. Mulai sekarang, yuk lebih sadar dan disiplin dalam mengatur keuangan keluarga. Ingat, sehat finansial bukan soal seberapa besar penghasilan, tapi bagaimana kita mengelolanya.

Redaksi-01 Juli 2026
Jangan Sampai Terjebak! Hindari 8 Kesalahan Fatal Kelola Uang Keluarga
Gaya Hidup

Jangan Sampai Terjebak! Hindari 8 Kesalahan Fatal Kelola Uang Keluarga

Mengatur keuangan rumah tangga itu kayak merawat tanaman—kalau nggak diperhatikan setiap hari, cepat atau lambat layu. Banyak dari kita yang sadar pentingnya perencanaan, tapi tanpa sadar melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Akibatnya, tujuan keuangan seperti beli rumah, dana pensiun, atau pendidikan anak jadi makin jauh.1. Hanya Modal Ingatan, Nol CatatanBanyak pasangan yang mengaku sudah hafal pengeluaran bulanan, jadi nggak perlu repot mencatat. Padahal, otak kita bukan kalkulator. Pengeluaran kecil seperti jajan anak, parkir, atau ongkos ojek online kalau diakumulasi bisa mencapai 10-15% dari total pendapatan, lho. Catatan yang rapi adalah fondasi keuangan yang sehat. Mulailah dengan aplikasi sederhana atau buku catatan, dan biasakan mencatat setiap transaksi.2. Gaji Turun, Langsung Belanja—Bukan NabungKebiasaan paling umum: gajian, bayar tagihan, belanja kebutuhan, baru sisanya ditabung. Masalahnya, sisa itu sering kali nol besar atau malah minus. Prinsip yang benar adalah pay yourself first. Sisihkan minimal 10-20% gaji untuk tabungan dan investasi begitu uang masuk, baru sisanya dipakai untuk belanja. Dengan begitu, masa depan kamu sudah diamankan sejak awal.3. Susah Membedakan 'Butuh' dan 'Mau'Di era diskon dan cicilan 0%, batas antara kebutuhan dan keinginan makin kabur. Pakaian baru dianggap kebutuhan padahal lemari masih penuh, atau langganan aplikasi yang jarang dipakai. Coba terapkan aturan 3-7 hari: untuk barang non-pokok di atas Rp500 ribu, tunggu beberapa hari sebelum membeli. Biasanya, keinginan itu akan mereda sendiri.4. Dana Darurat: Ada Tapi Salah PakaiDana darurat sering dianggap remeh. Ada yang tidak punya sama sekali, atau punya tapi dipakai untuk liburan, ganti HP, atau renovasi rumah yang nggak mendesak. Idealnya, dana darurat adalah 3-6 kali pengeluaran bulanan. Simpan di rekening terpisah yang nggak mudah diakses, dan gunakan hanya untuk kondisi benar-benar darurat seperti kehilangan pekerjaan atau sakit keras.5. Keuangan Cuma Urusan Satu OrangDalam banyak keluarga, hanya suami atau istri yang tahu persis kondisi keuangan. Ini berbahaya karena jika yang bersangkutan berhalangan, pasangan akan kesulitan mengelola aset dan utang. Selain itu, tidak ada kontrol dari dua sisi. Solusinya, adakan rapat keuangan keluarga rutin setiap bulan. Bahas pemasukan, pengeluaran, dan rencana ke depan bersama-sama. Keuangan adalah tanggung jawab bersama.6. Utang Konsumtif MembeludakUtang produktif seperti KPR atau kredit usaha tidak masalah, asal rasio cicilan tidak melebihi 30% dari pendapatan. Yang menjadi masalah adalah utang konsumtif—kartu kredit untuk liburan, kredit motor baru padahal yang lama masih bagus, atau paylater untuk belanja online. Utang konsumtif tidak menghasilkan aset dan hanya membebani arus kas. Hindari sebisa mungkin.7. Lupa Biaya Tak TerdugaBanyak keluarga hanya menyusun anggaran untuk biaya rutin bulanan, tapi lupa dengan pengeluaran periodik seperti biaya sekolah tahunan, perpanjangan STNK, servis mobil, atau hadiah lebaran. Ketika tiba waktunya, uang tunai tidak siap dan akhirnya pakai utang. Catat semua biaya tahunan, lalu bagi dengan 12 untuk dialokasikan setiap bulan.8. Anggaran Dibuat Sekali, Lupa DirevisiAnggaran bukan patung yang beku. Hidup berubah: gaji naik, keluarga bertambah, atau ada anggota baru. Anggaran yang tidak pernah ditinjau ulang akan makin tidak relevan. Luangkan waktu setiap 3-6 bulan untuk mengevaluasi apakah pos-pos pengeluaran masih sesuai. Sesuaikan dengan kondisi terkini agar anggaran tetap menjadi alat yang efektif, bukan sekadar pajangan.Nah, dari delapan jebakan di atas, mana yang paling sering kamu lakukan? Jangan khawatir, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Mulailah dari satu langkah kecil, misalnya mencatat pengeluaran hari ini. Konsistensi adalah kunci. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan ini, perjalanan menuju kebebasan finansial akan terasa lebih ringan dan pasti.

Redaksi-29 Juni 2026
Kenaikan Gaji Tak Sebanding Inflasi, Begini Strategi Bijak Mengelola Keuangan Keluarga
Keluarga

Kenaikan Gaji Tak Sebanding Inflasi, Begini Strategi Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya tempat tinggal terus melonjak. Di sisi lain, banyak perusahaan memberikan kenaikan gaji, tapi apakah nominalnya cukup? Survei terbaru dari Jobstreet by SEEK menunjukkan bahwa 62 persen pekerja mengalami kenaikan gaji dalam setahun terakhir, namun mayoritas hanya naik 5 persen. Sementara inflasi rumah tangga bisa mencapai dua digit.Mengapa Gaji Naik Tapi Dompet Tetap Tipis?Menurut Managing Director Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, kepuasan terhadap gaji sangat personal. Ada yang merasa cukup, ada yang tidak. Faktor kebutuhan keluarga dan gaya hidup sangat memengaruhi. Gen Z yang bergaji kecil justru lebih puas (65%), sementara Gen X yang bergaji besar justru paling tidak puas (hanya 41% yang puas).Ini menunjukkan bahwa kenaikan gaji saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Banyak keluarga merasa pendapatan mereka tergerus inflasi, sehingga perlu strategi jitu untuk bertahan.Langkah Cerdas Hadapi Inflasi Tanpa Pindah KerjaWisnu menyarankan agar jangan terburu-buru mencari pekerjaan baru. Lebih baik, bicarakan dulu dengan atasan mengenai kemungkinan kenaikan gaji atau tunjangan. Jika opsi internal tidak ada, barulah pertimbangkan peluang di luar. Namun, jangan lupa pertimbangkan nilai jangka panjang perusahaan tempat Anda bekerja, seperti reputasi dan peluang pengembangan diri.Tips Mengelola Keuangan Keluarga di Tengah InflasiBuat anggaran bulanan yang realistis, pisahkan kebutuhan primer dan sekunder.Catat setiap pengeluaran, sekecil apapun, untuk mengetahui kebocoran keuangan.Kurangi pengeluaran tidak penting, seperti langganan streaming ganda atau jajan di luar.Manfaatkan promo dan diskon belanja bulanan, tapi tetap sesuai daftar belanja.Cari penghasilan tambahan dari hobi, misalnya jualan online atau jadi freelancer.Investasi untuk jangka panjang, meski hanya sedikit, agar nilai uang tidak tergerus inflasi.KesimpulanInflasi rumah tangga memang menjadi tantangan, namun bukan berarti Anda harus terus merasa tertekan. Dengan komunikasi yang baik di tempat kerja dan pengelolaan keuangan yang bijak, keluarga bisa tetap harmonis dan sejahtera. Ingat, kenaikan gaji bukan satu-satunya solusi, melainkan bagaimana Anda mengelola apa yang sudah ada.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita