Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Kesehatan Keluarga

Duka di Masa Kecil, Luka yang Perlu Disembuhkan

Kehilangan orang tua adalah salah satu ujian terberat dalam hidup seorang anak. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa pengalaman duka ini bisa meninggalkan bekas yang dalam pada kesehatan mental mereka. Yuk, kita pahami bersama bagaimana mendampingi buah hati yang sedang berduka agar mereka tetap bisa tumbuh bahagia.

Maya Handayani
Maya Handayani
Penulis NaraCerita
-31 Agustus 2026 -15:03:00 WIB
Ukuran teks
Duka di Masa Kecil, Luka yang Perlu Disembuhkan

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh cinta, namun juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu momen paling menyedihkan yang mungkin dihadapi keluarga adalah ketika seorang anak harus kehilangan ayah atau ibunya. Di usia yang masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan, kehilangan ini tentu menjadi pukulan yang sangat berat.

Angka yang Mengkhawatirkan dari Negeri Kanguru

Sebuah penelitian dari Curtin University di Australia baru-baru ini mengungkap fakta yang perlu kita waspadai. Anak-anak yang kehilangan orang tua ternyata memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Para peneliti mengamati data dari lebih dari 6.300 rumah tangga di Australia dengan anak berusia 4 hingga 17 tahun.

Hasilnya cukup mengejutkan: sekitar 21,4 persen anak yang kehilangan orang tua menunjukkan gejala gangguan mental seperti kecemasan, depresi, atau ADHD. Sementara itu, pada anak yang masih memiliki orang tua lengkap, angka tersebut hanya sekitar 10,8 persen. Bahkan, anak-anak yang ditinggal orang tua meninggal dunia memiliki tingkat gangguan mental tertinggi, mencapai 28,8 persen.

Mengapa Duka Bisa Begitu Dalam?

Profesor Lauren Breen, yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa kehilangan orang tua bukan sekadar kesedihan sesaat. Ini adalah pengalaman yang membentuk cara anak memandang dunia dan dirinya sendiri. Anak-anak yang lebih kecil mungkin belum mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, sehingga duka yang mereka rasakan bisa terpendam dan berdampak pada perilaku serta emosi mereka.

Shelley Skinner, pendiri Lionheart Camp for Kids, sebuah lembaga yang mendampingi anak-anak berduka, menambahkan bahwa dunia yang sudah rumit bisa terasa semakin membingungkan bagi anak yang sedang berduka. Ketika mereka tidak bisa mengelola perasaan tersebut, risiko untuk mengalami kecemasan, perilaku berisiko, hingga masalah kesehatan fisik dan mental menjadi lebih besar.

Dukungan yang Tepat Membuat Perbedaan

Meskipun angka-angka di atas terdengar menakutkan, ada kabar baiknya. Penelitian juga menunjukkan bahwa banyak anak yang kehilangan orang tua tetap tumbuh menjadi pribadi yang sehat, bahagia, dan produktif. Kuncinya ada pada dukungan yang tepat dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam berduka. Ada yang lebih mudah terbuka, ada pula yang cenderung menutup diri. Sebagai orang tua atau pengasuh, kita perlu peka terhadap perubahan perilaku mereka. Kesedihan yang berkepanjangan, penurunan prestasi di sekolah, atau menarik diri dari pergaulan bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan bantuan profesional.

Sayangnya, tidak semua keluarga mudah mengakses layanan kesehatan mental. Antrian yang panjang, biaya yang mahal, dan kebingungan mencari informasi sering menjadi penghalang. Profesor Breen menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap anak yang berduka mendapatkan dukungan yang ia butuhkan, baik itu terapi, konseling, atau sekadar dukungan dari keluarga besar dan teman-teman.

Peran Kita dalam Mendampingi Anak Berduka

Bagi kita para ibu, mungkin ada perasaan takut atau bingung ketika harus mendampingi anak yang kehilangan salah satu orang tuanya. Namun, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  • Beri ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya tanpa menghakimi.
  • Jangan ragu untuk berbicara tentang orang tua yang telah tiada, sehingga anak merasa kehilangannya diakui.
  • Ajak anak untuk menjaga rutinitas harian yang sehat, seperti tidur cukup, makan bergizi, dan beraktivitas fisik.
  • Perhatikan tanda-tanda stres yang berkepanjangan dan jangan sungkan untuk mencari bantuan profesional.
  • Bangun komunikasi yang terbuka dengan guru di sekolah agar mereka juga bisa mendukung anak.

Kehilangan orang tua memang meninggalkan luka yang dalam. Namun, dengan kasih sayang, pengertian, dan dukungan yang tepat, anak-anak bisa belajar untuk bangkit kembali. Mereka tetap berhak untuk bahagia dan meraih mimpi-mimpi mereka. Kita, sebagai orang dewasa di sekitar mereka, memiliki peran besar untuk memastikan hal itu terjadi.

Semoga informasi ini bermanfaat dan bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli pada kesehatan mental anak-anak, terutama mereka yang sedang berduka.

Maya Handayani
Maya Handayani

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita