Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Gaya Hidup

Misi Thresia Mareta Menyelamatkan Keterampilan Perajin Lewat Fesyen Berkelanjutan

Di balik gemerlap industri fesyen, ada tangan-tangan terampil yang perlahan kehilangan tempat. Thresia Mareta, pendiri LAKON, punya cara sendiri untuk memastikan keterampilan tradisional tidak punah—dengan membangun ekosistem yang menghidupi para perajinnya.

Hestia Ramadhani
Hestia Ramadhani
Penulis NaraCerita
-31 Agustus 2026 -19:11:00 WIB
Ukuran teks
Misi Thresia Mareta Menyelamatkan Keterampilan Perajin Lewat Fesyen Berkelanjutan

Thresia Mareta bukan sekadar perancang busana. Lewat LAKON dan Teras LAKON, ia mengusung misi yang lebih dalam: menjaga denyut nadi keterampilan tradisional Indonesia tetap hidup. Berawal dari keresahan melihat para perajin batik dan penjahit yang kehilangan peminat, Thresia menyadari bahwa akar masalahnya bukan sekadar soal generasi muda yang enggan belajar, melainkan ekosistem yang belum mampu memberikan penghidupan layak bagi para perajin.

Regenerasi Keterampilan: Bukan Soal Gengsi, Tapi Kesejahteraan

Thresia melihat banyak anak muda yang memilih bekerja di pabrik daripada meneruskan keahlian orang tua mereka. Alasannya sederhana: penghasilan yang lebih pasti. Menurutnya, wajar jika generasi penerus mencari pekerjaan lain yang secara ekonomi lebih menjanjikan. Kondisi ini membuat regenerasi keterampilan tradisional menjadi semakin sulit, karena para perajin sendiri kesulitan mendapatkan kehidupan yang layak dari pekerjaannya.

"Untuk melestarikan budaya, kita bukan menyimpan kainnya atau hasil produknya, tapi yang perlu dilestarikan adalah tangannya. Keterampilan itu enggak boleh hilang," tegas Thresia. Baginya, melestarikan budaya berarti memastikan para perajin bisa hidup sejahtera dari keahlian mereka, sehingga generasi berikutnya melihat profesi ini sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan.

Teras LAKON: Laboratorium Hidup untuk Keterampilan Tradisional

Dari kegelisahan itulah, Thresia membangun Teras LAKON—sebuah ruang yang ia sebut sebagai laboratorium. Di sini, pengetahuan dan keterampilan dari karya-karya tradisional Indonesia diarsipkan, dipelajari, dan diekstraksi. Proses ini kemudian diajarkan kembali kepada para perajin, sehingga kemampuan mereka terus berkembang dan menghasilkan karya yang bernilai ekonomi.

Hasil dari proses kreatif di Teras LAKON kemudian diproduksi oleh brand LAKON dan didistribusikan melalui LAKON Store. Dengan begitu, para perajin tidak hanya menjadi bagian dari rantai produksi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang menghargai karya mereka. Thresia percaya, ketika perajin mampu menghasilkan karya dengan tangan sendiri dan memperoleh penghasilan yang lebih baik, akan muncul rasa bangga yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan ini.

Produksi Berkelanjutan: Dari Efisiensi Bahan hingga Perbaikan Pakaian

Bagi Thresia, keberlanjutan dalam fesyen tidak hanya soal bahan ramah lingkungan, tetapi juga keseluruhan proses produksi. LAKON memulai dengan pemotongan bahan yang efisien untuk mengurangi limbah, yang otomatis menghemat benang, listrik, dan sumber daya lainnya. Sisa produksi pun tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.

Ia juga mengembangkan layanan recycle and repair, di mana konsumen bisa memperbaiki pakaian yang dibeli atau memodifikasinya menjadi bentuk baru. "Jadi memang prosesnya yang penting, bukan hanya soal bahan yang digunakan," ujarnya. Dengan pendekatan ini, LAKON berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus memperpanjang umur pakai produk.

Fesyen sebagai Ruang Ekspresi dan Identitas

Thresia juga melihat fesyen sebagai ruang untuk membicarakan kreativitas dan identitas, terutama bagi generasi muda. Sebagai Advisor Jakarta Fashion Festival (JF3), ia menyadari bahwa ruang berkreasi untuk para kreator fesyen masih terbatas. JF3 hadir untuk memberikan panggung yang berbeda setiap tahun, sehingga presentasi karya tidak berhenti pada sekadar tampil, tetapi juga menjadi ajang eksplorasi dan kolaborasi.

Dedikasi Thresia dalam mengembangkan bisnis fesyen sekaligus melestarikan budaya Indonesia membawanya meraih penghargaan bergengsi. Pada 2025, ia menerima gelar Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis. Penghargaan ini menjadi pengakuan internasional atas kontribusinya dalam mempromosikan warisan budaya Indonesia melalui fesyen.

Kisah Thresia Mareta adalah bukti bahwa fesyen bisa menjadi medium untuk perubahan sosial. Dengan membangun ekosistem yang menghidupi para perajin, ia tidak hanya menyelamatkan keterampilan tradisional, tetapi juga memberikan harapan bagi masa depan industri fesyen Indonesia yang lebih berkelanjutan dan bermartabat.

Hestia Ramadhani
Hestia Ramadhani

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita