Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

budaya indonesia

Berita dan Informasi budaya indonesia

2 artikel ditampilkan

Misi Thresia Mareta Menyelamatkan Keterampilan Perajin Lewat Fesyen Berkelanjutan
Gaya Hidup

Misi Thresia Mareta Menyelamatkan Keterampilan Perajin Lewat Fesyen Berkelanjutan

Thresia Mareta bukan sekadar perancang busana. Lewat LAKON dan Teras LAKON, ia mengusung misi yang lebih dalam: menjaga denyut nadi keterampilan tradisional Indonesia tetap hidup. Berawal dari keresahan melihat para perajin batik dan penjahit yang kehilangan peminat, Thresia menyadari bahwa akar masalahnya bukan sekadar soal generasi muda yang enggan belajar, melainkan ekosistem yang belum mampu memberikan penghidupan layak bagi para perajin.Regenerasi Keterampilan: Bukan Soal Gengsi, Tapi KesejahteraanThresia melihat banyak anak muda yang memilih bekerja di pabrik daripada meneruskan keahlian orang tua mereka. Alasannya sederhana: penghasilan yang lebih pasti. Menurutnya, wajar jika generasi penerus mencari pekerjaan lain yang secara ekonomi lebih menjanjikan. Kondisi ini membuat regenerasi keterampilan tradisional menjadi semakin sulit, karena para perajin sendiri kesulitan mendapatkan kehidupan yang layak dari pekerjaannya."Untuk melestarikan budaya, kita bukan menyimpan kainnya atau hasil produknya, tapi yang perlu dilestarikan adalah tangannya. Keterampilan itu enggak boleh hilang," tegas Thresia. Baginya, melestarikan budaya berarti memastikan para perajin bisa hidup sejahtera dari keahlian mereka, sehingga generasi berikutnya melihat profesi ini sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan.Teras LAKON: Laboratorium Hidup untuk Keterampilan TradisionalDari kegelisahan itulah, Thresia membangun Teras LAKON—sebuah ruang yang ia sebut sebagai laboratorium. Di sini, pengetahuan dan keterampilan dari karya-karya tradisional Indonesia diarsipkan, dipelajari, dan diekstraksi. Proses ini kemudian diajarkan kembali kepada para perajin, sehingga kemampuan mereka terus berkembang dan menghasilkan karya yang bernilai ekonomi.Hasil dari proses kreatif di Teras LAKON kemudian diproduksi oleh brand LAKON dan didistribusikan melalui LAKON Store. Dengan begitu, para perajin tidak hanya menjadi bagian dari rantai produksi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang menghargai karya mereka. Thresia percaya, ketika perajin mampu menghasilkan karya dengan tangan sendiri dan memperoleh penghasilan yang lebih baik, akan muncul rasa bangga yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan ini.Produksi Berkelanjutan: Dari Efisiensi Bahan hingga Perbaikan PakaianBagi Thresia, keberlanjutan dalam fesyen tidak hanya soal bahan ramah lingkungan, tetapi juga keseluruhan proses produksi. LAKON memulai dengan pemotongan bahan yang efisien untuk mengurangi limbah, yang otomatis menghemat benang, listrik, dan sumber daya lainnya. Sisa produksi pun tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.Ia juga mengembangkan layanan recycle and repair, di mana konsumen bisa memperbaiki pakaian yang dibeli atau memodifikasinya menjadi bentuk baru. "Jadi memang prosesnya yang penting, bukan hanya soal bahan yang digunakan," ujarnya. Dengan pendekatan ini, LAKON berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus memperpanjang umur pakai produk.Fesyen sebagai Ruang Ekspresi dan IdentitasThresia juga melihat fesyen sebagai ruang untuk membicarakan kreativitas dan identitas, terutama bagi generasi muda. Sebagai Advisor Jakarta Fashion Festival (JF3), ia menyadari bahwa ruang berkreasi untuk para kreator fesyen masih terbatas. JF3 hadir untuk memberikan panggung yang berbeda setiap tahun, sehingga presentasi karya tidak berhenti pada sekadar tampil, tetapi juga menjadi ajang eksplorasi dan kolaborasi.Dedikasi Thresia dalam mengembangkan bisnis fesyen sekaligus melestarikan budaya Indonesia membawanya meraih penghargaan bergengsi. Pada 2025, ia menerima gelar Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis. Penghargaan ini menjadi pengakuan internasional atas kontribusinya dalam mempromosikan warisan budaya Indonesia melalui fesyen.Kisah Thresia Mareta adalah bukti bahwa fesyen bisa menjadi medium untuk perubahan sosial. Dengan membangun ekosistem yang menghidupi para perajin, ia tidak hanya menyelamatkan keterampilan tradisional, tetapi juga memberikan harapan bagi masa depan industri fesyen Indonesia yang lebih berkelanjutan dan bermartabat.

Redaksi-31 Agustus 2026
Teater Koma Bangkitkan Lagi Kisah Klasik, Kini dengan Sentuhan yang Lebih Dekat di Hati
Keluarga

Teater Koma Bangkitkan Lagi Kisah Klasik, Kini dengan Sentuhan yang Lebih Dekat di Hati

Teater Koma, kelompok teater yang sudah malang melintang hampir lima dekade, kembali beraksi. Kali ini mereka memutar ulang salah satu karya monumental almarhum N. Riantiarno, Rumah Sakit Jiwa. Yang istimewa, pementasan ini bukanlah sekadar pengulangan masa lalu, melainkan sebuah interpretasi baru yang lebih hidup dan dekat dengan kondisi kita sekarang. Berkat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, lakon ini siap menyapa penonton di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026.Mengapa Lakon Ini Begitu Spesial?Bagi pecinta teater tanah air, Rumah Sakit Jiwa punya tempat tersendiri. Kisahnya tentang Rogusta, seorang dokter muda yang bertugas di sebuah rumah sakit jiwa di bawah pimpinan Profesor Sidarta. Rogusta datang dengan pendekatan yang mengedepankan empati dan kehangatan, ingin mengubah cara perawatan pasien yang selama ini terkesan kaku dan penuh tembok. Namun, niat baiknya justru memicu benturan dengan sistem lama yang sudah mengakar, serta orang-orang yang merasa terancam posisinya. Dari situlah kita diajak menyelami kompleksitas relasi manusia yang dibayangi ketakutan, prasangka, dan perebutan kekuasaan. Ini bukan sekadar cerita tentang rumah sakit jiwa, melainkan cermin kehidupan sosial yang masih relevan hingga kini.Kemasan Baru yang Lebih HidupYang bikin penasaran, bagaimana caranya sebuah lakon yang lahir di era 90-an bisa terasa segar di 2026? Sutradara Rangga Riantiarno punya jawabannya. Tim produksi tidak tinggal diam. Mereka melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa dan berdiskusi dengan para psikolog klinis serta psikiater. Tujuannya, supaya para pemain bisa membangun karakter bukan hanya dari hafalan naskah, tetapi dari pemahaman dan empati yang mendalam. Hasilnya? Penampilan yang lebih otentik dan menyentuh hati. Selain itu, panggung bertingkat, permainan cahaya yang dramatis, multimedia, serta musik garapan Fero A. Stefanus yang mengalun mengikuti emosi setiap adegan, semua bekerja sama menciptakan pengalaman teater yang imersif. Kostum rancangan Samuel Wattimena dan Rima Ananda pun tidak sekadar pemanis, melainkan ikut bercerita tentang kondisi psikologis para tokoh.Generasi Baru, Semangat BaruMenariknya lagi, dari 115 orang yang terlibat dalam produksi ini, hanya enam orang yang merupakan pemain asli pementasan 1991. Selebihnya adalah wajah-wajah baru, generasi penerus Teater Koma yang diberi ruang untuk mengeksplorasi karakter dengan sudut pandang mereka sendiri. Ini bukti nyata bahwa regenerasi seni benar-benar hidup. Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, menegaskan bahwa naskah tetap menjadi pedoman, tetapi bukan batasan. Pementasan tahun 1991 dijadikan titik tolak, bukan patokan kaku, sehingga kreativitas baru bisa berkembang tanpa beban. Lebih dari itu, Billy Gamaliel dari Bakti Budaya Djarum Foundation menambahkan bahwa dukungan ini adalah bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni pertunjukan dan mendorong ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Mereka percaya, seni punya kekuatan untuk menyentuh dan menjembatani generasi.Jangan Lewatkan Momen Reflektif IniBuat kamu yang ingin menonton, siap-siap untuk pulang dengan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. Pertunjukan berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, setiap hari pukul 19.30 WIB. Ada jadwal tambahan di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, mulai pukul 13.30 WIB. Ini kesempatan bagus untuk mengajak pasangan atau keluarga menikmati seni pertunjukan yang bermutu sambil merenungkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena pada akhirnya, teater bukan hanya tentang apa yang terjadi di atas panggung, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia setelah lampu padam.

Redaksi-31 Juli 2026
NaraCerita