Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Gaya Hidup

Jejak Kuasa di Balik Sepatu Hak Tinggi: Dari Sanggurdi Kuda ke Lemari Wanita

Siapa sangka, sepatu hak tinggi yang kini identik dengan feminitas ternyata lahir dari kebutuhan para prajurit berkuda? Mari menelusuri perjalanan sejarah yang mengubah simbol kekuasaan pria menjadi ikon gaya perempuan.

Hestia Ramadhani
Hestia Ramadhani
Penulis NaraCerita
-14 September 2026 -07:07:00 WIB
Ukuran teks
Jejak Kuasa di Balik Sepatu Hak Tinggi: Dari Sanggurdi Kuda ke Lemari Wanita

Ketika kita melihat sepasang sepatu hak tinggi, pikiran langsung melayang pada dunia mode perempuan. Namun, tahukah Anda bahwa berabad-abad lalu, alas kaki ini justru menjadi penanda status bagi para bangsawan pria? Kisahnya dimulai dari medan perang, bukan dari catwalk.

Dari Sanggurdi ke Istana

Pada abad ke-16, prajurit berkuda Persia menciptakan sepatu dengan tumit menonjol. Tujuannya sangat praktis: menjaga kaki tetap terkunci di sanggurdi saat menunggang kuda. Bagi pemanah berkuda, stabilitas adalah segalanya—mereka harus bisa berdiri di atas kuda sambil melepaskan anak panah. Tumit itu memberi mereka keunggulan dalam bermanuver.

Ketika hubungan diplomatik antara Persia dan Eropa semakin erat, mode ini pun menyebar ke kalangan aristokrat. Para bangsawan Eropa mengadopsi sepatu bertumit bukan karena mereka perlu memanah dari atas kuda, melainkan karena sepatu itu membawa aura kekuatan militer, keberanian, dan status elit. Perlahan, fungsi praktisnya bergeser menjadi simbol sosial.

Simbol Kekuasaan di Kaki Raja

Raja Louis XIV dari Prancis adalah ikon paling terkenal dalam sejarah sepatu hak tinggi. Tinggi badannya sekitar 163 cm, dan ia menggunakan hak sepatu untuk menambah postur sekaligus mempertegas wibawa. Yang paling khas adalah warna haknya: merah menyala dengan ornamen mewah. Di lingkungan istana, hak merah menjadi penanda kedekatan istimewa dengan raja.

Pada masa itu, sepatu bukan sekadar alas kaki, melainkan bahasa visual. Warna, bahan, dan bentuk sepatu bisa menunjukkan posisi seseorang di tangga sosial. Semakin tidak praktis sepatu tersebut, semakin jelas bahwa pemakainya berasal dari kelas yang tidak perlu bekerja fisik.

Perempuan Mulai Mengadopsi

Perempuan pun mulai melirik sepatu bertumit. Catherine de' Medici, misalnya, dikenal memakai hak tinggi pada abad ke-16 untuk tampil lebih tinggi di pernikahannya dengan Henry II dari Prancis. Di beberapa wilayah Eropa, muncul pula chopines—platform tinggi yang bisa mencapai puluhan sentimeter, meski membuat pemakainya sulit berjalan dan butuh bantuan.

Seiring waktu, bentuk sepatu pria dan perempuan mulai berbeda. Hak pria cenderung tebal dan dikaitkan dengan sepatu berkuda atau busana formal. Sementara hak perempuan semakin diasosiasikan dengan keanggunan, bentuk tubuh, dan daya tarik.

Era Pencerahan dan Great Male Renunciation

Perubahan besar terjadi pada abad ke-18 saat Eropa memasuki era Pencerahan. Gagasan rasionalitas, kesederhanaan, dan kepraktisan mulai memengaruhi gaya berpakaian. Pria perlahan meninggalkan pakaian yang mencolok, perhiasan, dan sepatu hak tinggi. Mereka beralih ke busana yang lebih sederhana, terutama karena identitas pria semakin terkait dengan pekerjaan dan aktivitas publik.

Fenomena ini dikenal sebagai Great Male Renunciation, istilah yang diperkenalkan psikolog John Carl Flügel pada 1930. Sekitar tahun 1740, pria Eropa umumnya sudah meninggalkan sepatu hak tinggi. Sejak saat itu, hak tinggi semakin lekat dengan perempuan.

Menariknya, perubahan ini bukan karena tubuh pria tiba-tiba tidak cocok memakai hak tinggi. Tidak ada perubahan biologis yang membuat sepatu itu mendadak menjadi 'sepatu perempuan'. Yang berubah adalah makna sosialnya. Sejarah sepatu hak tinggi menunjukkan bahwa selera dan simbolisme gender sangat dipengaruhi oleh budaya, kekuasaan, dan dinamika sosial—bukan sekadar anatomi.

Jadi, ketika Anda mengenakan sepatu hak tinggi hari ini, Anda sedang meneruskan warisan panjang yang telah melewati medan perang, istana raja, dan revolusi gaya. Menarik, bukan?

Hestia Ramadhani
Hestia Ramadhani

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita