Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

budaya

Berita dan Informasi budaya

3 artikel ditampilkan

Jejak Kuasa di Balik Sepatu Hak Tinggi: Dari Sanggurdi Kuda ke Lemari Wanita
Gaya Hidup

Jejak Kuasa di Balik Sepatu Hak Tinggi: Dari Sanggurdi Kuda ke Lemari Wanita

Ketika kita melihat sepasang sepatu hak tinggi, pikiran langsung melayang pada dunia mode perempuan. Namun, tahukah Anda bahwa berabad-abad lalu, alas kaki ini justru menjadi penanda status bagi para bangsawan pria? Kisahnya dimulai dari medan perang, bukan dari catwalk.Dari Sanggurdi ke IstanaPada abad ke-16, prajurit berkuda Persia menciptakan sepatu dengan tumit menonjol. Tujuannya sangat praktis: menjaga kaki tetap terkunci di sanggurdi saat menunggang kuda. Bagi pemanah berkuda, stabilitas adalah segalanya—mereka harus bisa berdiri di atas kuda sambil melepaskan anak panah. Tumit itu memberi mereka keunggulan dalam bermanuver.Ketika hubungan diplomatik antara Persia dan Eropa semakin erat, mode ini pun menyebar ke kalangan aristokrat. Para bangsawan Eropa mengadopsi sepatu bertumit bukan karena mereka perlu memanah dari atas kuda, melainkan karena sepatu itu membawa aura kekuatan militer, keberanian, dan status elit. Perlahan, fungsi praktisnya bergeser menjadi simbol sosial.Simbol Kekuasaan di Kaki RajaRaja Louis XIV dari Prancis adalah ikon paling terkenal dalam sejarah sepatu hak tinggi. Tinggi badannya sekitar 163 cm, dan ia menggunakan hak sepatu untuk menambah postur sekaligus mempertegas wibawa. Yang paling khas adalah warna haknya: merah menyala dengan ornamen mewah. Di lingkungan istana, hak merah menjadi penanda kedekatan istimewa dengan raja.Pada masa itu, sepatu bukan sekadar alas kaki, melainkan bahasa visual. Warna, bahan, dan bentuk sepatu bisa menunjukkan posisi seseorang di tangga sosial. Semakin tidak praktis sepatu tersebut, semakin jelas bahwa pemakainya berasal dari kelas yang tidak perlu bekerja fisik.Perempuan Mulai MengadopsiPerempuan pun mulai melirik sepatu bertumit. Catherine de' Medici, misalnya, dikenal memakai hak tinggi pada abad ke-16 untuk tampil lebih tinggi di pernikahannya dengan Henry II dari Prancis. Di beberapa wilayah Eropa, muncul pula chopines—platform tinggi yang bisa mencapai puluhan sentimeter, meski membuat pemakainya sulit berjalan dan butuh bantuan.Seiring waktu, bentuk sepatu pria dan perempuan mulai berbeda. Hak pria cenderung tebal dan dikaitkan dengan sepatu berkuda atau busana formal. Sementara hak perempuan semakin diasosiasikan dengan keanggunan, bentuk tubuh, dan daya tarik.Era Pencerahan dan Great Male RenunciationPerubahan besar terjadi pada abad ke-18 saat Eropa memasuki era Pencerahan. Gagasan rasionalitas, kesederhanaan, dan kepraktisan mulai memengaruhi gaya berpakaian. Pria perlahan meninggalkan pakaian yang mencolok, perhiasan, dan sepatu hak tinggi. Mereka beralih ke busana yang lebih sederhana, terutama karena identitas pria semakin terkait dengan pekerjaan dan aktivitas publik.Fenomena ini dikenal sebagai Great Male Renunciation, istilah yang diperkenalkan psikolog John Carl Flügel pada 1930. Sekitar tahun 1740, pria Eropa umumnya sudah meninggalkan sepatu hak tinggi. Sejak saat itu, hak tinggi semakin lekat dengan perempuan.Menariknya, perubahan ini bukan karena tubuh pria tiba-tiba tidak cocok memakai hak tinggi. Tidak ada perubahan biologis yang membuat sepatu itu mendadak menjadi 'sepatu perempuan'. Yang berubah adalah makna sosialnya. Sejarah sepatu hak tinggi menunjukkan bahwa selera dan simbolisme gender sangat dipengaruhi oleh budaya, kekuasaan, dan dinamika sosial—bukan sekadar anatomi.Jadi, ketika Anda mengenakan sepatu hak tinggi hari ini, Anda sedang meneruskan warisan panjang yang telah melewati medan perang, istana raja, dan revolusi gaya. Menarik, bukan?

Redaksi-14 September 2026
Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan
Gaya Hidup

Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan

Dulu, kata feminisme terasa seperti barang asing bagi saya. Saya lahir dan tumbuh di kampung, jauh dari hingar-bingar kota. Di lingkungan saya, feminisme sering dianggap sebagai ideologi sesat yang ingin menghancurkan moral perempuan dan keharmonisan keluarga. Banyak teman saya yang mencurigainya, bahkan menganggapnya musuh budaya. Saya sendiri awalnya enggan mendengarkan, lebih memilih menolak sebelum memahami.Namun, segalanya berubah ketika saya diajak mengikuti lokakarya tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Di sana, saya mulai membaca dan berdiskusi tentang feminisme. Perlahan, saya mengerti bahwa feminisme bukanlah ajaran untuk membenci laki-laki, melainkan cara berpikir untuk melawan penindasan yang dialami perempuan akibat prasangka masyarakat.Meski istilahnya masih asing, cara berpikir feminisme ternyata dekat dengan keseharian. Feminisme mengajarkan saya untuk bertanya: siapa yang berhak bicara? Siapa yang dibungkam? Siapa yang diuntungkan? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya pulang ke kampung dan meneliti kembali praktik sunat perempuan yang selama ini dianggap wajar.Sunat Perempuan: Tradisi yang Tak Pernah DipersoalkanDi Indonesia, sunat perempuan sering dibungkus sebagai tradisi, kewajiban agama, atau cara mensucikan anak perempuan. Praktiknya beragam: ada yang dilakukan dukun beranak, ada yang oleh bidan, ada yang simbolis, ada yang lebih invasif. Yang paling meresahkan saya bukanlah bentuknya, melainkan alasannya: mengapa tubuh bayi perempuan harus ditandai dan diatur sebelum ia bisa memahami tubuhnya sendiri?Saya yakin orang tua melakukan ini dengan niat baik. Mereka merasa sedang menjalankan ajaran atau melestarikan budaya. Namun, niat baik tidak lantas membuat praktik ini adil. Seperti kata seorang kiai feminis, sunat perempuan adalah tradisi diskriminatif, apalagi tidak ada perintah agama yang mewajibkannya.Perbedaan Perlakuan pada Tubuh Laki-laki dan PerempuanSunat laki-laki biasanya dikaitkan dengan kebersihan atau tanda kedewasaan. Sementara sunat perempuan selalu dilekati prasangka tentang hasrat, kesalehan, dan kehormatan keluarga. Tubuh perempuan sejak awal dianggap perlu dikendalikan agar tidak 'menyimpang'. Yang diatur bukan hanya fisiknya, tapi juga makna yang ditempelkan padanya.Bayi perempuan tidak bisa memilih atau menolak. Masyarakat sudah meletakkan beban moral di atas tubuhnya. Ketika ada yang berkata, 'Ini sudah tradisi,' saya ingin bertanya: tradisi macam apa yang harus dibayar dengan tubuh anak perempuan? Mengkritik tradisi bukan berarti membenci budaya. Budaya yang sehat seharusnya mampu memeriksa dirinya sendiri.Pertanyaan yang Sering DihindariBanyak orang bertanya, 'Bagaimana dengan agama?' Pertanyaan ini selalu muncul saat membahas sunat perempuan. Sayangnya, diskusi sering berhenti karena takut dituduh anti-agama. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar membawa kebaikan bagi anak perempuan?Dari lokakarya itu, saya menangkap feminisme sebagai kacamata yang membantu saya melihat hal-hal yang selama ini luput. Dengan kacamata biasa, kita mungkin menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dengan kacamata feminisme, saya melihat bahwa ada praktik yang disebut budaya, tapi menyimpan luka.Saya dulu mengira sunat perempuan hanya adat kampung saya. Ternyata praktik ini ada di banyak tempat dengan alasan yang sama: mengendalikan seksualitas perempuan. Saya terperangah. Bagaimana dengan ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuan saya? Apakah mereka dianggap begitu buruk sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi?Tubuh Perempuan Adalah Milik Mereka SendiriTubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Ia milik perempuan itu sendiri. Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa harus dengan menyunat tubuhnya. Saya tidak mengajak orang kampung meninggalkan budaya. Saya justru ingin mengajak mencintai budaya dengan lebih dewasa dan terbuka.Kampung bukan ruang hampa budaya. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kemanusiaan. Feminisme membantu saya melihat bahwa nilai-nilai itu harus berpihak pada keadilan, bukan sekadar melanggengkan tradisi yang melukai. Kini, sebagai lelaki kampung, saya bangga menyebut diri saya feminis—karena feminisme membuat saya lebih manusiawi.

Redaksi-31 Juli 2026
Ketika Panggung Teater Mengingatkan Arti Kemanusiaan dalam Keluarga
Keluarga

Ketika Panggung Teater Mengingatkan Arti Kemanusiaan dalam Keluarga

Setelah 35 tahun lamanya, Teater Koma kembali menghadirkan lakon legendaris 'Rumah Sakit Jiwa' sebagai produksi ke-237 mereka. Bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, pertunjukan ini digelar mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Sebuah momentum langka yang sayang untuk dilewatkan.Mengapa Harus 'Rumah Sakit Jiwa'?Lakon karya almarhum N. Riantiarno ini bukan sekadar cerita tentang pasien dan dokter. Lebih dari itu, 'Rumah Sakit Jiwa' menyelami relung hati manusia: tentang kemanusiaan, relasi kuasa, dan problem sosial yang masih relevan hingga kini. Dalam konteks keluarga, banyak dari kita yang mungkin pernah merasa 'terkungkung' oleh ekspektasi, kekuasaan orang tua, atau stigma sosial yang membuat anggota keluarga merasa tidak didengar. Pertunjukan ini mengingatkan kita bahwa kesehatan jiwa adalah fondasi keharmonisan rumah tangga.Kisah di Balik PanggungCerita berpusat pada Rogusta, seorang dokter baru yang bertugas di rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarta. Lewat interaksi mereka, penonton diajak melihat dinamika kekuasaan, perjuangan untuk dipahami, dan pentingnya empati. Bagi para ibu, pelajaran ini bisa diterapkan dalam mendidik anak atau menjalin komunikasi dengan suami. Bukankah keluarga yang sehat adalah yang saling mendengarkan tanpa menghakimi?Dengan sentuhan artistik baru—eksplorasi visual, musik, dan pendalaman karakter—pertunjukan ini terasa segar namun tetap setia pada pesan aslinya. Teater bukan hanya tontonan, tapi tuntunan untuk lebih peka terhadap sesama.Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan 'Rumah Sakit Jiwa' bersama keluarga. Selain mengapresiasi seni, Anda juga bisa merenung dan mungkin menemukan cara baru untuk mempererat ikatan keluarga.

Redaksi-30 Juli 2026
NaraCerita