Setiap pasangan pasti pernah menghadapi dilema ini: apakah istri sebaiknya fokus mengurus rumah tangga atau tetap bekerja? Keduanya memiliki konsekuensi finansial yang berbeda. Bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga pengeluaran yang mungkin timbul atau hilang. Agar tidak salah langkah, penting untuk menghitung dampaknya secara menyeluruh.
1. Hitung Penghasilan Bersih vs Biaya Bekerja
Gaji yang kamu terima setiap bulan belum tentu sebesar nilai yang benar-benar kamu bawa pulang. Ada berbagai biaya yang harus dikeluarkan karena bekerja, seperti transportasi, makan siang, biaya penitipan anak, dan pengeluaran tambahan lainnya. Coba catat semua pengeluaran tersebut.
Misalnya, penghasilan bersihmu Rp8 juta per bulan. Untuk bekerja, kamu mengeluarkan Rp1 juta untuk transportasi dan makan, Rp2 juta untuk daycare, dan Rp500 ribu untuk kebutuhan lain. Total biaya bekerja sekitar Rp3,5 juta. Artinya, jika kamu berhenti bekerja, keluarga tidak kehilangan seluruh Rp8 juta, karena ada pengeluaran yang ikut hilang. Hitunglah angka bersihnya agar perbandingan lebih adil.
2. Pastikan Satu Penghasilan Cukup untuk Kebutuhan Rutin
Jika memilih menjadi ibu rumah tangga, pendapatan keluarga mungkin hanya mengandalkan pasangan. Pertanyaannya, apakah penghasilan tersebut cukup untuk membiayai semua kebutuhan tanpa membuat keuangan terlalu ketat? Buatlah daftar pengeluaran bulanan, mulai dari kebutuhan rumah, listrik, internet, transportasi, cicilan, belanja dapur, biaya anak, premi asuransi, hingga kebutuhan pribadi. Bandingkan dengan penghasilan bersih yang tersedia.
Jangan lupa sisihkan untuk tabungan dan dana darurat. Jangan sampai seluruh gaji habis hanya untuk kebutuhan rutin, karena pengeluaran tak terduga bisa mengacaukan anggaran.
3. Hitung Biaya Pengasuhan Anak dengan Realistis
Biaya pengasuhan anak sering menjadi pos terbesar. Namun, jangan langsung menganggap biaya ini hilang seluruhnya jika salah satu orang berhenti bekerja. Anak tetap membutuhkan kebutuhan harian, perlengkapan sekolah, makanan, kesehatan, dan aktivitas lainnya. Jika sebelumnya kamu menggunakan jasa pengasuh atau daycare, hitung berapa biaya yang benar-benar bisa dihemat setelah kamu berhenti bekerja. Namun, tetap ada biaya pengasuhan yang muncul, seperti membeli buku anak, mainan, camilan sehat, dan sebagainya. Jadi, jangan hilangkan pos ini begitu saja.
Perhitungan ini juga membantu melihat kondisi beberapa tahun ke depan. Anak yang masih bayi membutuhkan jenis pengeluaran berbeda dengan anak yang sudah sekolah. Gunakan proyeksi, bukan hanya angka pengeluaran bulan ini.
4. Pertimbangkan Tabungan Pensiun dan Tunjangan dari Pekerjaan
Gaji bulanan bukan satu-satunya nilai dari pekerjaan. Ada tunjangan, bonus, jaminan sosial, asuransi dari perusahaan, kontribusi pensiun, hingga peluang kenaikan penghasilan. Ketika memilih menjadi ibu rumah tangga, beberapa fasilitas tersebut mungkin ikut berhenti. Bagian ini sering luput dari perhitungan karena manfaatnya tidak selalu terlihat sebagai uang yang masuk ke rekening setiap bulan.
Coba hitung berapa kontribusi perusahaan untuk asuransi atau dana pensiun. Jika jumlahnya cukup besar, keluarga perlu menyiapkan pengganti secara mandiri. Dengan begitu, kebutuhan masa depan tetap punya sumber dana meskipun kamu sudah tidak menerima penghasilan dari pekerjaan.
5. Jangan Abaikan Peluang Penghasilan di Masa Depan
Berhenti bekerja selama beberapa tahun dapat memengaruhi peluang ketika ingin kembali ke dunia kerja. Perkembangan industri berjalan cepat, keterampilan bisa berubah, dan posisi yang tersedia belum tentu sama seperti sebelum kamu berhenti. Bagi ibu rumah tangga yang ingin tetap punya pemasukan, pekerjaan paruh waktu, freelance, usaha rumahan, atau proyek berbasis keterampilan bisa menjadi pilihan. Besarnya penghasilan memang mungkin tidak sama dengan pekerjaan sebelumnya, tetapi pemasukan tambahan dapat membantu menjaga ruang dalam anggaran keluarga.
Jika berencana kembali bekerja setelah anak lebih besar, pertahankan keterampilan yang masih bisa digunakan. Mengikuti kursus, mengambil proyek kecil, atau tetap membangun portofolio dapat memudahkan proses kembali bekerja.
6. Siapkan Dana Darurat yang Memadai
Keputusan berhenti bekerja sebaiknya tidak dilakukan ketika tabungan keluarga sedang tipis. Dana darurat akan memberikan napas tambahan jika terjadi hal-hal seperti kehilangan pekerjaan, anggota keluarga sakit, kendaraan rusak, atau kebutuhan rumah tangga mendadak meningkat. Idealnya, hitung kebutuhan berdasarkan jumlah pengeluaran bulanan setelah perubahan kondisi kerja. Jika sebelumnya keluarga memiliki dana darurat, pastikan jumlahnya masih mencukupi setelah penghasilan berkurang.
Itulah beberapa pertimbangan finansial yang perlu kamu pikirkan matang-matang sebelum memutuskan menjadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja. Kuncinya adalah komunikasi dengan pasangan dan perhitungan yang cermat. Semoga membantu!
Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.
Suka artikel ini?
Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.
