Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

autisme

Berita dan Informasi autisme

2 artikel ditampilkan

Gaya Hidup Sehat Selama Hamil yang Baik untuk Otak Janin
Kesehatan Keluarga

Gaya Hidup Sehat Selama Hamil yang Baik untuk Otak Janin

Setiap ibu pasti ingin bayinya lahir sehat dan cerdas. Ternyata, apa yang kita lakukan selama hamil bisa memengaruhi perkembangan otak janin, lho. Meskipun tidak ada jaminan mutlak, beberapa kebiasaan sehat terbukti membantu menurunkan risiko gangguan perkembangan, termasuk autisme.Apa Itu Autisme pada Bayi?Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara anak berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku. Setiap anak dengan autisme memiliki gejala yang unik, mulai dari ringan hingga berat. Penting untuk diingat bahwa autisme bukan disebabkan oleh pola asuh atau vaksin, melainkan kombinasi faktor genetik dan lingkungan.Tanda-Tanda Awal yang Bisa DiwaspadaiMeski diagnosis pasti hanya bisa dilakukan oleh dokter, ada beberapa tanda awal yang bisa diamati pada bayi:Kurangnya kontak mata atau respons saat diajak bicaraTerlambat dalam mengoceh (babbling)Tidak menunjuk atau menunjukkan benda kepada orang tuaGerakan berulang, seperti mengayun atau memutar bendaRespon berlebihan atau kurang terhadap suara, cahaya, atau sentuhanNamun, satu gejala saja belum cukup untuk menyimpulkan. Bila Ibu khawatir, segera konsultasikan ke dokter anak.Kebiasaan Ibu Hamil yang Mendukung Perkembangan Otak JaninBerikut ini beberapa kebiasaan yang bisa Ibu lakukan untuk mendukung perkembangan otak si kecil:1. Penuhi Asam Folat Setiap HariAsam folat adalah vitamin B yang sangat penting untuk pembentukan sistem saraf janin. Ibu hamil disarankan mengonsumsi 400 mikrogram asam folat per hari, bisa dari makanan seperti bayam, brokoli, kacang-kacangan, atau suplemen sesuai anjuran dokter. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi asam folat sejak sebelum hamil hingga trimester pertama dapat menurunkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.2. Olahraga Ringan Secara TeraturJangan malas bergerak, ya! Olahraga ringan seperti jalan kaki, berenang, atau yoga prenatal membantu melancarkan sirkulasi darah dan menjaga kesehatan metabolisme Ibu. Tubuh yang sehat akan memberikan lingkungan yang optimal bagi janin. Tentu, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memulai rutinitas olahraga.3. Makan Makanan Bergizi SeimbangNutrisi yang masuk ke tubuh Ibu adalah bahan bakar untuk otak bayi. Pastikan asupan protein, omega-3 (dari ikan salmon atau sarden), zat besi, dan vitamin lainnya tercukupi. Pola makan sehat selama hamil dikaitkan dengan perkembangan kognitif anak yang lebih baik.4. Hindari Rokok, Alkohol, dan Zat BerbahayaPaparan rokok, alkohol, atau obat-obatan terlarang selama kehamilan dapat mengganggu perkembangan otak janin. Bahkan asap rokok dari orang di sekitar pun berbahaya. Jadi, jauhkan diri dari semua zat tersebut demi si kecil.5. Kelola Stres dengan BaikStres yang berkepanjangan bisa memengaruhi hormon dan aliran darah ke janin. Ibu bisa mengelola stres dengan tidur cukup, melakukan hobi ringan, atau sekadar ngobrol dengan pasangan. Dukungan keluarga sangat penting di sini.Benarkah Bisa Menurunkan Risiko Autisme Hingga 30%?Ada penelitian yang menyebutkan bahwa konsumsi asam folat dan multivitamin prenatal secara rutin dapat menurunkan risiko autisme hingga sekitar 30%. Namun, angka ini berasal dari studi observasional dan bukan jaminan. Autisme dipengaruhi banyak faktor, jadi tidak ada satu cara pun yang bisa mencegahnya sepenuhnya. Yang terpenting adalah Ibu sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk si kecil.Pada akhirnya, menjalani kehamilan dengan gaya hidup sehat bukan hanya tentang menurunkan risiko autisme, tetapi juga untuk kesehatan Ibu dan bayi secara keseluruhan. Jadi, mulailah dari hal kecil sekarang juga!

Redaksi-03 Juli 2026
Perjalanan Hati Shireen Sungkar Menerima Diagnosis Autisme pada Putrinya
Keluarga

Perjalanan Hati Shireen Sungkar Menerima Diagnosis Autisme pada Putrinya

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh kejutan. Ada kalanya kebahagiaan datang tanpa cela, namun tak jarang ujian hadir untuk menguatkan. Hal itulah yang dialami oleh Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu. Pasangan yang telah dikaruniai tiga anak ini harus melewati masa-masa sulit saat mengetahui putri bungsu mereka, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, memiliki kebutuhan khusus.Awal Mula KekhawatiranShireen mengaku bahwa pada dua tahun pertama, perkembangan Shafiyyah tampak normal. Namun, ia mulai merasakan ada yang berbeda. "Dari 0 sampai 2 tahun menurut kita baik-baik saja. Memang speech delay, kosakatanya ada terus. Tapi usia 0 sampai 2 tahun tuh telat banget kelihatannya," ujarnya.Perubahan perilaku mulai terlihat saat Shafiyyah lebih suka menyendiri dan enggan bermain dengan teman sebaya. "Kalau aku ajari dia menghindar, lebih suka melakukan apa-apa sendiri," kenang Shireen. Kondisi ini semakin jelas saat pandemi COVID-19 melanda, ketika aktivitas di luar rumah terhenti total."Paling parah waktu itu COVID-19. Dia enggak beraktivitas di luar, kelas-kelasnya berhenti, enggak ada main di playground. Dan dia tuh anaknya enggak gadget," cerita Shireen. Di masa itu, kosakata yang sudah dimiliki Shafiyyah justru menghilang, dan kontak mata pun berkurang drastis.Proses Diagnosis yang PanjangMeski firasat sudah kuat, Shireen dan suami sempat menunda pemeriksaan karena situasi pandemi. Hingga akhirnya, saat Shafiyyah berusia 2 tahun 8 bulan, mereka memutuskan untuk memeriksakan sang buah hati ke dokter spesialis. Hasilnya pun mengejutkan: Shafiyyah didiagnosis autisme."Waktu itu bingung mencernanya. Autisme itu apa? Terus aku harus melakukan apa? Terapinya seperti apa?" ungkap Shireen. Kebingungan dan rasa bersalah langsung menghampiri. "Aku salahin diri aku banget. Apa aku salah makan waktu hamil? Apa aku stres pas hamil? Apa aku salah mendidiknya?" tuturnya.Belajar Ikhlas dan BersyukurDalam perjalanan menerima kondisi Shafiyyah, Shireen menyadari betapa pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Ia pun mencari ketenangan dengan bercerita kepada seorang ustaz. "Gimana ya, ustaz, supaya saya tuh nerima, saya mau berjuang. Terus enggak sedih melihat anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara, seumurannya bisa main," curhatnya.Nasihat sang ustaz menjadi titik balik. "Kita manusia itu cuma bisa berencana. Allah yang kasih takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak ketika Allah itu sudah menakdirkan anaknya?" kata Shireen menirukan wejangan yang ia terima. Mendengar itu, perasaannya campur aduk. "Memang aku tuh kenapa ya, aku lebih fokus marah sama kondisi daripada fokus berpikir Allah itu baik," akuinya.Shireen kini bersyukur dan menerima bahwa anak berkebutuhan khusus adalah surga yang dititipkan Allah. "Di situ aku merasa pentingnya ilmu supaya kita bisa mengambil sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan," pungkasnya. Perjalanan ini mengajarkan bahwa setiap anak adalah anugerah, dan tugas orang tua adalah mendampingi dengan penuh cinta dan kesabaran.

Redaksi-01 Juli 2026
NaraCerita