Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

cuaca panas

Berita dan Informasi cuaca panas

2 artikel ditampilkan

Cuaca Panas Saat Hamil: Risiko Keguguran yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan Keluarga

Cuaca Panas Saat Hamil: Risiko Keguguran yang Perlu Diwaspadai

Bunda, siapa sangka kalau cuaca panas yang semakin ekstrem akhir-akhir ini bukan hanya bikin gerah, tapi juga bisa berdampak buruk pada kehamilan? Sebuah penelitian internasional yang melibatkan hampir 30 juta kelahiran di Brasil selama dua dekade menemukan bahwa kekeringan dan panas berlebih selama kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur. Semakin ekstrem panasnya, semakin tinggi pula risikonya. Bahkan, penelitian lain di Amerika Utara menyebutkan bahwa ibu hamil memiliki risiko keguguran dini hingga 44 persen lebih tinggi pada bulan-bulan musim panas, terutama akhir Agustus dan awal September.Apa Kata Penelitian?Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet Regional Health-Americas ini menganalisis data dari 100 juta penduduk Brasil. Peneliti menemukan bahwa kekeringan bukan hanya fenomena lingkungan, tetapi juga bisa menjadi penentu kesehatan ibu dan anak. "Kekeringan bukan hanya fenomena lingkungan atau pertanian, tetapi juga berpotensi menjadi penentu kesehatan ibu dan anak. Ini adalah contoh nyata kesehatan planet, bagaimana perubahan iklim dan sistem alam pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan manusia," ujar Dr. Aline Rocha, salah satu peneliti di SalutData Lab.Dampak Kekeringan pada KehamilanDampak kekeringan ternyata berkaitan erat dengan risiko kelahiran prematur. Risiko kelahiran prematur bisa naik sekitar 2 persen pada periode yang dianalisis, dan semakin parah kekeringan, semakin tinggi risikonya. Misalnya, paparan kekeringan sedang selama enam bulan bisa meningkatkan risiko hingga 1 persen, sedangkan kekeringan ekstrem bisa meningkatkan risiko hingga 5 persen. Masa pertengahan dan akhir kehamilan menjadi waktu yang paling rentan terhadap dampak kekeringan.Faktor Sosial Ekonomi yang MemperparahPerlu Bunda tahu, kondisi sosial dan ekonomi juga berperan besar. Ibu hamil dengan sumber daya terbatas akan lebih sulit menghadapi kekurangan pangan, kenaikan harga, dan kesulitan mendapatkan air bersih. Hal ini bisa memengaruhi gizi dan akses terhadap pemeriksaan kesehatan. "Peristiwa iklim tidak memengaruhi semua orang secara sama. Kondisi sosial sebagian besar menentukan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari kekurangan pangan dan air, menjaga gizi yang memadai, atau mengakses perawatan prenatal. Oleh karena itu, langkah-langkah adaptasi harus memberikan perhatian khusus kepada perempuan hamil dalam situasi yang lebih rentan," tegas Rocha.Hasil yang Perlu DiwaspadaiPara peneliti menemukan tiga hasil kehamilan yang bisa merugikan akibat cuaca panas ekstrem, yaitu:Kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu (prematur)Berat badan lahir rendah meskipun lahir cukup bulanUkuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan bayi lain dengan usia kehamilan yang samaTips Menghadapi Cuaca Panas untuk Ibu HamilBunda, menghadapi cuaca panas memang tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dan si kecil:Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.Hindari berada di luar ruangan pada siang hari ketika matahari sedang terik.Kenakan pakaian yang longgar dan berbahan menyerap keringat.Gunakan pelindung seperti topi atau payung saat keluar rumah.Konsumsi buah-buahan segar yang mengandung banyak air, seperti semangka dan mentimun.Istirahat yang cukup dan jangan memaksakan diri beraktivitas berat.Dengan memahami risiko dan mengambil langkah pencegahan, Bunda bisa menjaga kehamilan tetap sehat meski cuaca sedang panas. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisi Bunda.

Redaksi-03 September 2026
Ruben Onsu Rela Kulit Gosong saat Ibadah, Ini Kisahnya
Kesehatan Keluarga

Ruben Onsu Rela Kulit Gosong saat Ibadah, Ini Kisahnya

Siapa yang tak kenal Ruben Onsu? Presenter serba bisa ini baru saja kembali dari Tanah Suci setelah menjalani ibadah umrah. Namun, perjalanan spiritualnya kali ini terasa begitu menantang. Pasalnya, cuaca di Arab Saudi sedang berada di puncak panasnya, dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius.Ruben mengaku merasakan betul betapa menyengatnya udara saat itu. Bahkan, ia bercerita bahwa ponselnya pun ikut kepanasan dan sulit dipegang. “Salat Jumat mencapai 50 derajat. Handphone nggak bisa kepegang. Baru keluarin berapa menit, langsung panas,” ujarnya saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (1/7/2026).Tanpa Sunblock, Kulit Jadi KorbanYang menarik, Ruben memilih tidak menggunakan pelindung kulit seperti sunblock atau tabir surya selama beribadah. Ia lebih memilih menikmati setiap momen ibadah tanpa terlalu memikirkan efek buruk sinar matahari. Akibatnya, kulitnya pun terbakar dan mengalami sunburn.“Saya pasrah aja. Ibadah itu kan harus khusyuk, bukan mikirin kulit,” katanya santai. Meski begitu, ia tetap mengingatkan jamaah lain untuk lebih berhati-hati jika bepergian ke negara dengan suhu ekstrem.Tips Aman Beribadah di Cuaca PanasKisah Ruben Onsu ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, terutama yang berencana umrah atau haji di musim panas. Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan:Gunakan sunblock dengan SPF minimal 50 dan ulangi setiap 2-3 jam.Kenakan pakaian longgar, berwarna terang, dan berbahan menyerap keringat seperti katun.Bawa topi lebar atau payung untuk melindungi wajah dan leher.Minum air putih yang cukup, setidaknya 2 liter sehari, agar tidak dehidrasi.Semprotkan air muka atau gunakan kipas angin portabel untuk mendinginkan tubuh.Jika merasa pusing atau mual, segera berteduh dan istirahat.Ruben sendiri mengaku tidak menyesal dengan keputusannya. Baginya, umrah adalah momen berharga yang harus dijalani dengan sepenuh hati, meski harus rela kulit terbakar. Semoga pengalamannya bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua.

Redaksi-03 Juli 2026
NaraCerita