Asa Dara: Gerakan Perempuan untuk Melawan Stigma dan Merawat Kesehatan Hormon
Kesehatan hormonal seringkali menjadi topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal, banyak perempuan yang berjuang melawan gangguan seperti PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) tanpa mendapat dukungan yang layak. Melihat situasi ini, sekelompok mahasiswa dari konsentrasi Marketing Communication LSPR Institute of Communication & Business tergerak untuk membuat perubahan lewat program Community Development bertajuk Daraloka.Puncak acara Daraloka, yang diberi nama Asa Dara, sukses digelar di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak, pada akhir Juli lalu. Dengan mengusung tema Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women's Wounds, acara ini bertujuan mengajak masyarakat luas untuk lebih memahami kesehatan hormonal perempuan dan menantang stigma sosial yang melekat.Membuka Ruang Diskusi yang SehatAsa Dara dibuka dengan sesi PMOS Yoga yang menenangkan, dilanjutkan dengan konferensi pers bersama dosen pembimbing, founder Komunitas Kata Nona, dan media partner. Momen ini menjadi ajang untuk memperkenalkan kampanye Daraloka secara lebih mendalam kepada publik.Kehadiran para tokoh penting ini mempertegas bahwa isu PMOS bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem yang suportif bagi para penyintas.Dara Bersuara: Ruang Ekspresi dan EmpatiSalah satu daya tarik utama Asa Dara adalah pameran interaktif bertajuk "Dara Bersuara". Pameran ini menyajikan kisah-kisah nyata tentang stigma, tekanan sosial, dan perjalanan para pejuang PMOS melalui instalasi visual dan pengalaman audio yang menggugah.Kolaborasi dengan lebih dari sepuluh seniman lokal membuat pameran ini semakin hidup. Mereka bersama-sama membangun kesadaran, menumbuhkan empati, dan menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi dan saling mendukung.Talkshow Menggugah: Menjadi PerempuanSesi talkshow bertajuk "Menjadi Perempuan" menjadi puncak diskusi yang dinanti. Para pembicara hebat seperti dr. Mahatmasara Adhiwasa, Sp.OG, psikolog RA Oriza Sativa, dan aktivis Prily Soetiman serta Aya Canina berbagi pandangan tentang pengaruh budaya dan ekspektasi sosial terhadap perempuan, terutama mereka yang hidup dengan PMOS.Diskusi ini membuka mata banyak peserta bahwa banyak perempuan yang diam-diam berjuang tanpa dukungan yang memadai. Stigma yang berakar dari budaya seringkali membuat mereka merasa sendirian dan tidak dipahami.Workshop Reflektif: Merawat Diri dan HubunganTak hanya mendengarkan, peserta juga diajak untuk berefleksi melalui dua workshop menarik. Workshop pertama, "Rangkai Rupa Diri: Bracelet Charm", mengajak peserta membuat gelang sebagai simbol dukungan dari orang-orang terdekat. Sementara workshop kedua, "Rangkai Rupa Diri: Flower Arrangement", mengajak peserta merangkai bunga sebagai bentuk self-love dan penerimaan diri.Kegiatan ini memberikan ruang bagi perempuan untuk merawat diri mereka sendiri dan menghargai proses penyembuhan yang mereka jalani.Menutup dengan KebahagiaanAcara ditutup dengan sesi Karaoke Night bertema "No Sad Songs" yang penuh keceriaan. Peserta saling bertukar kartu bertuliskan "You Made Someone's Night Better" sebagai bentuk apresiasi dan dukungan satu sama lain.Melvin Bonardo Simanjuntak, dosen pengampu mata kuliah Community Development, menyatakan bahwa Daraloka adalah bukti nyata bagaimana teori dan konsep dapat dipraktikkan menjadi aksi nyata. "Kami berharap acara ini mampu membentuk pemahaman yang lebih baik bagi audiens tentang isu PMOS, kesetaraan, dan inklusivitas," ujarnya.Sementara itu, Aya Canina dari Komunitas Kata Nona menambahkan, "Membicarakan PMOS secara terbuka adalah bentuk keberpihakan pada perempuan. Kami ingin mengakui ketubuhan dan tantangan psikososial mereka, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas lain."Melalui rangkaian kegiatan Asa Dara, Daraloka berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kesehatan hormonal perempuan. Dengan memahami PMOS dan melawan stigma, kita bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan bebas dari penghakiman.Bagi kamu yang ingin berbagi cerita atau mencari dukungan seputar isu ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas yang peduli. Karena setiap perempuan berhak untuk didengar dan didukung.