Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

feminisme

Berita dan Informasi feminisme

1 artikel ditampilkan

Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan
Gaya Hidup

Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan

Dulu, kata feminisme terasa seperti barang asing bagi saya. Saya lahir dan tumbuh di kampung, jauh dari hingar-bingar kota. Di lingkungan saya, feminisme sering dianggap sebagai ideologi sesat yang ingin menghancurkan moral perempuan dan keharmonisan keluarga. Banyak teman saya yang mencurigainya, bahkan menganggapnya musuh budaya. Saya sendiri awalnya enggan mendengarkan, lebih memilih menolak sebelum memahami.Namun, segalanya berubah ketika saya diajak mengikuti lokakarya tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Di sana, saya mulai membaca dan berdiskusi tentang feminisme. Perlahan, saya mengerti bahwa feminisme bukanlah ajaran untuk membenci laki-laki, melainkan cara berpikir untuk melawan penindasan yang dialami perempuan akibat prasangka masyarakat.Meski istilahnya masih asing, cara berpikir feminisme ternyata dekat dengan keseharian. Feminisme mengajarkan saya untuk bertanya: siapa yang berhak bicara? Siapa yang dibungkam? Siapa yang diuntungkan? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya pulang ke kampung dan meneliti kembali praktik sunat perempuan yang selama ini dianggap wajar.Sunat Perempuan: Tradisi yang Tak Pernah DipersoalkanDi Indonesia, sunat perempuan sering dibungkus sebagai tradisi, kewajiban agama, atau cara mensucikan anak perempuan. Praktiknya beragam: ada yang dilakukan dukun beranak, ada yang oleh bidan, ada yang simbolis, ada yang lebih invasif. Yang paling meresahkan saya bukanlah bentuknya, melainkan alasannya: mengapa tubuh bayi perempuan harus ditandai dan diatur sebelum ia bisa memahami tubuhnya sendiri?Saya yakin orang tua melakukan ini dengan niat baik. Mereka merasa sedang menjalankan ajaran atau melestarikan budaya. Namun, niat baik tidak lantas membuat praktik ini adil. Seperti kata seorang kiai feminis, sunat perempuan adalah tradisi diskriminatif, apalagi tidak ada perintah agama yang mewajibkannya.Perbedaan Perlakuan pada Tubuh Laki-laki dan PerempuanSunat laki-laki biasanya dikaitkan dengan kebersihan atau tanda kedewasaan. Sementara sunat perempuan selalu dilekati prasangka tentang hasrat, kesalehan, dan kehormatan keluarga. Tubuh perempuan sejak awal dianggap perlu dikendalikan agar tidak 'menyimpang'. Yang diatur bukan hanya fisiknya, tapi juga makna yang ditempelkan padanya.Bayi perempuan tidak bisa memilih atau menolak. Masyarakat sudah meletakkan beban moral di atas tubuhnya. Ketika ada yang berkata, 'Ini sudah tradisi,' saya ingin bertanya: tradisi macam apa yang harus dibayar dengan tubuh anak perempuan? Mengkritik tradisi bukan berarti membenci budaya. Budaya yang sehat seharusnya mampu memeriksa dirinya sendiri.Pertanyaan yang Sering DihindariBanyak orang bertanya, 'Bagaimana dengan agama?' Pertanyaan ini selalu muncul saat membahas sunat perempuan. Sayangnya, diskusi sering berhenti karena takut dituduh anti-agama. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar membawa kebaikan bagi anak perempuan?Dari lokakarya itu, saya menangkap feminisme sebagai kacamata yang membantu saya melihat hal-hal yang selama ini luput. Dengan kacamata biasa, kita mungkin menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dengan kacamata feminisme, saya melihat bahwa ada praktik yang disebut budaya, tapi menyimpan luka.Saya dulu mengira sunat perempuan hanya adat kampung saya. Ternyata praktik ini ada di banyak tempat dengan alasan yang sama: mengendalikan seksualitas perempuan. Saya terperangah. Bagaimana dengan ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuan saya? Apakah mereka dianggap begitu buruk sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi?Tubuh Perempuan Adalah Milik Mereka SendiriTubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Ia milik perempuan itu sendiri. Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa harus dengan menyunat tubuhnya. Saya tidak mengajak orang kampung meninggalkan budaya. Saya justru ingin mengajak mencintai budaya dengan lebih dewasa dan terbuka.Kampung bukan ruang hampa budaya. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kemanusiaan. Feminisme membantu saya melihat bahwa nilai-nilai itu harus berpihak pada keadilan, bukan sekadar melanggengkan tradisi yang melukai. Kini, sebagai lelaki kampung, saya bangga menyebut diri saya feminis—karena feminisme membuat saya lebih manusiawi.

Redaksi-31 Juli 2026
NaraCerita