Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

festival musik

Berita dan Informasi festival musik

2 artikel ditampilkan

Festival Musik Ini Ubah Panggung Jadi Ruang Solidaritas Perempuan
Gaya Hidup

Festival Musik Ini Ubah Panggung Jadi Ruang Solidaritas Perempuan

Di tengah terik matahari California, Great Park, Irvine berubah menjadi lautan mahkota bunga daisy dan gaun flora. Ribuan perempuan berkumpul, bukan hanya untuk menikmati musik, tetapi juga merayakan semangat kebersamaan yang jarang terlihat di festival-festival besar. Acara ini adalah Daisy Chain Fields, festival musik yang digagas oleh Olivia Rodrigo pada 29 Agustus lalu. Lebih dari Sekadar Festival Musik Daisy Chain Fields bukan sekadar ajang hiburan. Dalam satu hari, festival ini berhasil mengumpulkan sekitar 45.000 pengunjung dan menampilkan deretan musisi perempuan dengan genre yang sangat beragam. Dari rock alternatif 90-an seperti Garbage dan The Breeders, rap enerjik Doechii, punk Bikini Kill, pop queer Chappell Roan, hingga indie-pop melankolis Mitski dan Rachel Chinouriri. Semua tampil tanpa ada jadwal yang bentrok, sehingga penonton bisa menikmati semua pertunjukan tanpa harus memilih. Yang membuat festival ini istimewa adalah cara mereka memperlakukan para penampil. Di poster resmi, semua nama musisi dicetak dengan ukuran dan jenis huruf yang sama. Tidak ada yang lebih menonjol, entah itu legenda atau pendatang baru. Semua berdiri sejajar di atas panggung yang sama. Ini adalah pernyataan tegas bahwa di sini, tidak ada kompetisi. Melawan Budaya Kompetitif di Industri Musik Emma Madden, jurnalis musik The Guardian, pernah menyoroti bagaimana industri musik dan media sering membanding-bandingkan musisi perempuan, menciptakan persaingan yang tidak sehat. Laporan Book More Women 2025 bahkan menunjukkan bahwa hanya 21,6 persen headliners di sembilan festival besar dunia adalah perempuan. Angka ini membuktikan bahwa ketimpangan masih sangat terasa. Eli, penyanyi indie berusia 25 tahun yang menjadi salah satu penampil termuda di Daisy Chain Fields, menegaskan pentingnya ekosistem yang dibangun Rodrigo. Baginya, festival ini memberikan ruang bagi karya perempuan untuk diterima dan dihargai tanpa tekanan kompetitif dan kapitalistik. Solidaritas yang Diwujudkan dalam Aksi Daisy Chain Fields dirancang sejak awal sebagai gerakan sosial, bukan sekadar bisnis. Rodrigo terinspirasi oleh bayangan perempuan yang duduk di bawah pohon, merangkai bunga daisy, dan saling mendukung. Visi ini ia wujudkan dengan mengajak semua musisi untuk tidak menerima bayaran profesional. Seluruh keuntungan bersih festival, yang mencapai 20 juta dolar AS atau sekitar Rp354 miliar, disumbangkan sepenuhnya ke 10 organisasi non-profit yang fokus pada kesehatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan perempuan. Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego. Menurut Rodrigo, festival ini juga merupakan penghormatan untuk Lilith Fair, festival serba perempuan yang digagas Sarah McLachlan di akhir 1990-an. Lilith Fair membuktikan bahwa festival dengan penampil perempuan bisa sukses secara finansial dan membawa dampak sosial. Rodrigo bahkan menghubungi McLachlan terlebih dahulu untuk meminta restu dan masukan sebelum meluncurkan festivalnya. Perlawanan di Tengah Krisis Hak Perempuan Di tengah meningkatnya ancaman terhadap hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia, terutama dengan bangkitnya pemimpin-pemimpin dengan gaya kepemimpinan maskulin, Daisy Chain Fields menjadi simbol perlawanan yang ceria namun penuh makna. Melalui festival ini, Rodrigo dan para musisi lainnya menunjukkan bahwa perempuan bisa bersatu, saling mendukung, dan menciptakan perubahan nyata. Mereka tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga mempraktikkannya dalam setiap aspek acara. Daisy Chain Fields bukan sekadar festival musik. Ia adalah pernyataan bahwa solidaritas perempuan adalah kekuatan yang bisa mengubah industri dan dunia.

Redaksi-01 September 2026
Prambanan Jazz 2026: Festival yang Mengguncang dengan Kejutan dan Kolaborasi
Gaya Hidup

Prambanan Jazz 2026: Festival yang Mengguncang dengan Kejutan dan Kolaborasi

Prambanan Jazz Festival 2026 baru saja menuntaskan rangkaian acaranya selama tiga hari, dari Jumat hingga Minggu (3-5 Juli), di Candi Prambanan, Yogyakarta. Festival ini berhasil menyedot perhatian 85.000 penonton dari berbagai daerah, menjadikannya edisi terpadat sepanjang sejarah. Kehadiran bintang kelas dunia seperti XDinary Heroes, NIKI, dan The Rose menjadi daya tarik utama, namun kejutan-kejutan manis dari musisi lokal juga tak kalah memukau.Kejutan dan Kolaborasi yang Menghangatkan HatiSalah satu momen paling berkesan datang dari Jikustik yang melakukan reuni dengan Pongky Barata. Kehadiran Pongky di atas panggung membuat suasana menjadi hangat dengan candaan dan cerita tentang perjalanan mereka. Tak hanya itu, Tulus juga memberikan kejutan dengan membawakan lagu anyarnya yang berjudul 'Teh Hijau' di hadapan ribuan penonton pada hari ketiga. Sementara itu, Rio Febrian tampil istimewa dengan berduet bersama putranya, Jamaica Fosteriano, yang memiliki suara merdu seperti sang ayah. Penampilan mereka yang membawakan lagu hits Rio sukses membuat penonton terkesima dan meminta tambahan.Rekor Penonton dan Dominasi Hari KeduaFestival tahun ini mencatatkan rekor penonton terbanyak, dengan total 85.000 orang memenuhi venue. Hari kedua menjadi puncak keramaian ketika NIKI tampil, menarik 35.000 penonton hingga nyaris tidak ada celah di area konser. Tiket hari itu pun habis terjual tanpa sisa. Panitia mengakui bahwa antusiasme tahun ini luar biasa, menjadikan Prambanan Jazz 2026 sebagai gelaran paling sukses selama 12 tahun acara ini berjalan.63 Persen Musisi Jazz: Jawaban untuk KritikusMenjawab kritik dari para musisi dan penikmat jazz, Prambanan Jazz 2026 menghadirkan 63 persen musisi jazz dalam line-up-nya. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi kurang dari 50 persen musisi jazz. Nama-nama besar seperti Margie Segers, Karimata, Fariz RM, dan Joey Alexander turut memeriahkan panggung. Selain itu, musisi jazz lainnya seperti Dewa Budjana, I am Jazz a Kids, Jazz Kotabaru, Jo Soegono, dan White (Jazz) Chorus juga ikut berpartisipasi, memastikan suasana jazz yang kental sepanjang festival.Dengan pencapaian ini, Prambanan Jazz 2026 tidak hanya sukses secara komersial tetapi juga berhasil memenuhi ekspektasi para penggemar jazz. Festival ini membuktikan bahwa perpaduan antara musisi internasional dan lokal, serta kejutan-kejutan manis, mampu menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi semua pengunjung.

Redaksi-06 Juli 2026
NaraCerita