Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

gen z

Berita dan Informasi gen z

4 artikel ditampilkan

Mengupas Tuntas Stigma Gen Z di Dunia Kerja: Fakta atau Mitos?
Gaya Hidup

Mengupas Tuntas Stigma Gen Z di Dunia Kerja: Fakta atau Mitos?

Belakangan ini, Generasi Z sering menjadi sorotan di dunia kerja. Mereka kerap dilabeli sebagai generasi yang tidak betah bekerja, mudah mengundurkan diri, dan terlalu menuntut keseimbangan hidup. Namun, apakah stigma ini benar adanya? Mari kita bedah berdasarkan data dan penelitian yang ada. Uang Bukan Segalanya, Tapi Tetap Penting Sebuah survei global dari Deloitte mengungkap bahwa 34% Gen Z Indonesia menempatkan kemandirian finansial sebagai tujuan karier utama. Ini menunjukkan bahwa bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar passion atau jabatan, melainkan juga sarana mencapai stabilitas finansial. Ketika pekerjaan tidak memberikan kompensasi yang memadai atau prospek pengembangan, berpindah kerja bisa menjadi strategi rasional, bukan sekadar ketidakbetahan. Definisi Sukses yang Bergeser Gen Z memiliki pandangan berbeda tentang kesuksesan. Survei yang sama menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama. Bagi banyak pekerja muda, kesuksesan bisa berarti memiliki keahlian khusus, pendapatan yang cukup, fleksibilitas, atau kualitas hidup yang baik. Perubahan cara pandang ini sering disalahartikan sebagai kurangnya loyalitas. Work-Life Balance dan Niat Pindah Kerja Penelitian tahun 2025 terhadap Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa work-life balance memiliki hubungan signifikan dengan keinginan untuk pindah kerja. Semakin baik persepsi terhadap keseimbangan hidup, semakin rendah niat untuk meninggalkan pekerjaan. Jadi, ketika Gen Z menuntut batas yang sehat antara kerja dan kehidupan pribadi, itu bukan tanda malas, melainkan upaya menilai apakah pekerjaan tersebut masih sepadan dengan waktu dan energi yang dikeluarkan. Faktor Lingkungan Kerja Juga Berperan Studi terhadap 539 pekerja Gen Z di Indonesia mengungkap bahwa keinginan pindah kerja tidak hanya dipengaruhi oleh karakter generasi, tetapi juga oleh faktor organisasi seperti stres kerja, beban kerja, kompensasi, dukungan organisasi, dan burnout. Jika karyawan merasa tidak didukung, tidak memiliki kesempatan berkembang, atau menghadapi beban berlebih, keinginan untuk mencari peluang lain menjadi wajar. Pertanyaan "mengapa Gen Z tidak betah?" seharusnya juga ditujukan pada lingkungan kerja yang mereka hadapi. Pengembangan Karier yang Terhambat Bagi pekerja yang baru memasuki dunia kerja, beberapa tahun pertama adalah masa krusial untuk membangun keterampilan. Pekerjaan yang hanya memberikan tugas berulang tanpa kesempatan belajar bisa membuat Gen Z kehilangan minat. Studi terbaru menunjukkan bahwa career development, employee welfare, dan work-life balance adalah faktor kunci yang membuat mereka bertahan atau pergi. Kenaikan gaji saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pengembangan keterampilan dan jalur karier yang jelas. Turnover Intention Bukan Berarti Resign Data yang ada lebih banyak mengukur niat untuk pindah kerja (turnover intention), bukan angka resign aktual. Seseorang yang memiliki niat pindah belum tentu benar-benar mengundurkan diri, karena keputusan tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, peluang kerja, dan situasi pribadi. Jadi, stigma bahwa Gen Z tidak betah kerja perlu ditinjau ulang. Kesimpulannya, Gen Z bukan generasi yang tidak betah bekerja. Mereka memiliki prioritas dan nilai yang berbeda, serta menghadapi tantangan unik di dunia kerja. Alih-alih melabeli, mari ciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan semua generasi.

Redaksi-17 September 2026
Jejak Mikroplastik Tersembunyi di Balik Gaya Berpakaian Kekinian
Gaya Hidup

Jejak Mikroplastik Tersembunyi di Balik Gaya Berpakaian Kekinian

Gaya berpakaian bagi Generasi Z bukan sekadar kebutuhan, melainkan bentuk ekspresi diri. Wardrobe selalu penuh dengan koleksi terbaru, mengikuti tren yang berganti begitu cepat. Namun, di balik semua itu, ada masalah lingkungan yang mengintai: mikroplastik dari pakaian sintetis.Mengapa Pakaian Sintetis Jadi Sorotan?United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat sekitar 60% material pakaian terbuat dari plastik seperti polyester, acrylic, dan nilon. Saat dicuci, serat mikroskopis dari bahan-bahan ini terlepas dan terbawa air limbah. UNEP memperkirakan tekstil menyumbang sekitar 9% mikroplastik di laut.Penelitian dari Swiss Federal Laboratories for Materials Science and Technology dan Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology pada 2020 mengungkap bahwa pelepasan serat dipengaruhi oleh struktur kain. Kain tenun melepaskan lebih banyak serat dibandingkan kain rajut, dan kain yang lebih tebal serta berat cenderung melepaskan lebih banyak.Fakta dari Berbagai PenelitianStudi 2024 dalam Environmental Pollution menemukan bahwa acrylic melepaskan hingga 2.405 mikroserat, tertinggi di antara bahan sintetis lain.Recycled polyester ternyata melepaskan lebih banyak mikroserat (1.193) dibandingkan polyester biasa (908).Penelitian di Surabaya (2022) menemukan serat nilon, PET, dan polypropylene pada limbah laundry.Riset di Pontianak menunjukkan tahap pencucian melepaskan rata-rata 2.239 partikel mikroplastik per liter, dengan jenis polimer ABS dan polyethylene.Secara global, Journal of Hazardous Materials (2024) memperkirakan mesin cuci menyumbang 93,7% emisi serat mikroplastik dari aktivitas laundry rumah tangga. Aktivitas binatu di Asia diperkirakan menghasilkan 3,71 juta ton serat mikroplastik, lebih tinggi dari Amerika Utara dan Eropa.Fast Fashion dan Peran Gen ZPenelitian dari Bina Nusantara University pada Desember 2025 menyoroti preferensi fast fashion di kalangan Gen Z Indonesia. Dari 307 responden usia 15-29 tahun, banyak yang membeli produk fast fashion tiga kali dalam enam bulan terakhir. Meski tidak mengukur pelepasan mikroplastik secara langsung, studi ini menunjukkan bahwa sebagian Gen Z terjebak dalam ekosistem fast fashion yang menggunakan serat sintetis.Jadi, masalahnya bukan sekadar berapa banyak pakaian yang dibeli, tetapi juga bahan yang digunakan, berapa lama dipakai, seberapa sering dicuci, dan bagaimana cara mencucinya. Serat yang terlepas akhirnya bermuara ke lingkungan.Apa yang Bisa Kita Lakukan?Pilih pakaian dari bahan alami seperti katun, linen, atau wol yang lebih ramah lingkungan.Cuci pakaian sintetis dengan mesin cuci yang memiliki filter mikroplastik.Kurangi frekuensi mencuci pakaian sintetis, cukup angin-anginkan jika tidak terlalu kotor.Dukung merek yang peduli lingkungan dan gunakan pakaian lebih lama.Edukasi diri dan orang sekitar tentang dampak mikroplastik.Dengan langkah kecil ini, kita bisa mengurangi jejak mikroplastik dari lemari kita. Gaya boleh kekinian, tapi bumi tetap harus dijaga.

Redaksi-17 September 2026
Thrifting Jadi Gaya Hidup Gen Z, Padukan Personal Style dan Ekonomi Sirkular
Gaya Hidup

Thrifting Jadi Gaya Hidup Gen Z, Padukan Personal Style dan Ekonomi Sirkular

Fenomena thrifting atau berburu pakaian bekas kini semakin digandrungi generasi muda, terutama Gen Z. Mereka tidak hanya sekadar membeli, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari identitas diri. Dengan harga yang ramah kantong, siapa pun bisa tampil stylish tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.Bagi Gen Z, thrifting bukan hanya soal hemat, tetapi juga cara untuk mengekspresikan gaya personal yang autentik. Mereka bisa memadupadankan berbagai item vintage dengan tren masa kini, menciptakan tampilan yang unik dan tidak pasaran. Hasilnya, penampilan mereka terlihat eksklusif namun tetap membumi.Thrifting dan Ekonomi SirkularLebih dari sekadar gaya, thrifting juga mendukung konsep ekonomi sirkular yang sedang digaungkan di berbagai industri, termasuk fashion. Ekonomi sirkular adalah model yang berupaya meminimalkan penggunaan sumber daya, memperpanjang masa pakai produk, dan mengembalikan sisa konsumsi ke dalam rantai nilai.Dengan menjual kembali pakaian, tas, atau aksesori yang sudah tidak terpakai, kita memberi nilai ekonomis yang lebih lama pada barang tersebut. Gen Z punya cara cerdas untuk membuat koleksi thrift mereka terlihat menarik, misalnya dengan memadukan outfit lama dengan aksesori kekinian atau membuat konten visual yang estetik untuk media sosial.Para penjual thrifting biasanya mengandalkan platform seperti Instagram dan TikTok sebagai etalase, bukan hanya e-commerce. Mereka kreatif dalam mix and match, membuat foto dan video yang menarik, serta menjual secara live di berbagai platform. Strategi ini terbukti ampuh menarik minat pembeli.Dampak Positif bagi LingkunganThrifting juga memberikan dampak positif bagi lingkungan jika dilakukan secara bijak. Berbeda dengan fast fashion yang diproduksi massal, membeli pakaian bekas membantu mengurangi limbah tekstil. Menurut data UN Environment Programme (UNEP), limbah tekstil dunia mencapai sekitar 92 juta ton per tahun, dan angka ini bisa melonjak hingga 134 juta ton pada 2030 jika pola konsumsi tidak berubah.Proses produksi pakaian juga membutuhkan sumber daya air yang besar. Satu celana jeans saja memerlukan 1.800 galon air, mulai dari penanaman kapas hingga produk jadi. Belum lagi material sintetis yang sulit terurai. Dengan thrifting, kita turut mengurangi pemborosan sumber daya dan memperpanjang usia pakai pakaian.Laporan dari ThredUp bahkan memprediksi nilai pasar global fashion bekas akan mencapai US$351 miliar pada 2027. Angka ini menunjukkan bahwa thrifting bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pergerakan ekonomi yang menjanjikan.Tantangan dan Tips Thrifting BijakMeski menjanjikan, thrifting juga punya tantangan. Tren ini bisa memicu impor pakaian bekas ilegal yang justru membawa sampah tekstil dari luar negeri. Oleh karena itu, kesadaran untuk tidak konsumtif dan penegakan aturan yang tegas sangat diperlukan.Berikut beberapa tips agar thrifting tetap sejalan dengan ekonomi sirkular:Beli hanya pakaian yang benar-benar Anda butuhkan dan akan sering dipakai.Pilih kualitas bahan yang baik agar tahan lama.Pelajari cara merawat pakaian thrift agar tetap awet.Jual kembali atau donasikan pakaian yang sudah tidak muat atau tidak sesuai gaya Anda.Dukung penjual lokal yang menerapkan praktik ramah lingkungan.Hindari membeli secara impulsif hanya karena harga murah.Manfaatkan platform media sosial untuk mencari inspirasi mix and match.Ikut serta dalam komunitas thrifting untuk bertukar informasi dan pengalaman.Dengan begitu, thrifting bukan hanya tentang gaya, tetapi juga kontribusi nyata bagi bumi dan perekonomian yang lebih berkelanjutan.

Redaksi-15 September 2026
Makna Sukses Generasi Muda: Bukan Sekadar Jabatan Tinggi
Gaya Hidup

Makna Sukses Generasi Muda: Bukan Sekadar Jabatan Tinggi

Pandangan tentang kesuksesan di dunia kerja terus berubah. Jika dulu orang berlomba meraih posisi puncak, kini milenial dan Gen Z punya perspektif berbeda. Mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan makna dalam pekerjaan.Jabatan Bukan SegalanyaSurvei global terhadap ribuan responden muda menunjukkan bahwa hanya sekitar 6 persen yang menjadikan posisi pemimpin sebagai tujuan karier utama. Banyak yang menganggap jabatan tinggi identik dengan tekanan, tanggung jawab besar, dan risiko kelelahan. Alih-alih mengejar gelar, mereka lebih memilih pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi dan mendukung kesejahteraan.Meski begitu, ambisi mereka tidak hilang. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial tetap ingin mencapai posisi senior, namun dengan cara yang lebih sehat. Fleksibilitas, waktu untuk diri sendiri, dan dukungan mental menjadi syarat utama sebelum menerima tanggung jawab lebih besar.AI Jadi Sahabat BaruKecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian mereka. Bukan hanya untuk produktivitas, AI juga digunakan untuk mengembangkan keterampilan, mencari saran karier, hingga mengelola stres. Generasi muda percaya AI akan mengotomatiskan tugas rutin, sehingga mereka bisa lebih cepat terlibat dalam pekerjaan bernilai tinggi.Sayangnya, banyak perusahaan dinilai belum siap menghadapi transformasi AI. Hampir sepertiga responden merasa tempat kerja mereka kurang menyediakan pelatihan dan dukungan yang memadai. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya adaptasi dari sisi organisasi.Pekerjaan yang Bermakna Itu PentingBagi generasi ini, pekerjaan bukan sekadar sumber uang. Hampir semua responden menekankan pentingnya tujuan yang jelas dan dampak positif dari pekerjaan mereka. Bahkan, tidak sedikit yang rela menolak tawaran jika nilai perusahaan tidak sejalan. Makna dan tujuan kerja kini sama pentingnya dengan gaji.Selain itu, hubungan sosial di tempat kerja juga berperan besar. Mereka yang memiliki teman dekat di kantor cenderung lebih bahagia dan loyal. Budaya kerja yang mendukung kolaborasi dan koneksi antarkaryawan menjadi kebutuhan penting.KesimpulanDefinisi sukses terus berevolusi. Generasi sebelumnya mungkin mengukur keberhasilan dari materi dan status, tapi milenial dan Gen Z lebih menghargai keseimbangan, fleksibilitas, dan pekerjaan yang berarti. Pola pikir ini diperkirakan akan menjadi standar baru di masa depan, bahkan memengaruhi generasi Alpha yang akan datang.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita