Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

keamanan pangan

Berita dan Informasi keamanan pangan

2 artikel ditampilkan

Makanan Siap Saji untuk Jemaah Haji Makin Terpercaya Berkat Standar Keamanan Tinggi
Kesehatan Keluarga

Makanan Siap Saji untuk Jemaah Haji Makin Terpercaya Berkat Standar Keamanan Tinggi

Bagi para ibu di rumah yang mungkin khawatir dengan keamanan makanan siap saji, ada kabar baik dari dunia pangan Indonesia. PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI), produsen makanan siap saji untuk jemaah haji, baru saja menerima penghargaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penghargaan ini diberikan atas konsistensi perusahaan dalam menerapkan Program Manajemen Risiko (PMR) di industri pangan.Penghargaan tersebut menjadi pengakuan resmi bahwa produk makanan siap saji buatan PT HATI telah memenuhi standar keamanan pangan yang ketat. Ini tentu menjadi kabar menggembirakan bagi para jemaah haji yang membutuhkan makanan praktis namun tetap aman dikonsumsi selama ibadah.Puspo Wardoyo, pemilik PT HATI, mengaku bersyukur atas apresiasi yang diberikan BPOM. Menurutnya, perjalanan mengembangkan makanan siap saji untuk haji selama hampir lima tahun terakhir penuh tantangan. "Alhamdulillah, kami memang sudah hampir lima tahun menyediakan makanan untuk haji. Banyak tantangannya, terutama mengubah persepsi masyarakat terhadap makanan siap saji," ujarnya.Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah mengedukasi masyarakat bahwa produk Meal Ready to Eat (MRE) berbeda dengan makanan siap saji pada umumnya. "Imej makanan siap saji selama ini dianggap tidak enak dan memakai pengawet. Padahal produk kami tanpa bahan pengawet, bisa disimpan pada suhu ruang, tetapi rasanya tetap seperti makanan segar," jelas Puspo.Keberhasilan teknologi pengolahan ini mulai mendapat pengakuan dalam dua tahun terakhir. Pada penyelenggaraan haji tahun lalu, hampir seluruh kebutuhan makanan jemaah Indonesia telah menggunakan produk PT HATI. Puspo optimistis ke depan kebutuhan makanan haji akan semakin banyak menggunakan produk Ready to Eat dari perusahaannya.Direktur Utama PT HATI, Sugiri, menambahkan bahwa penerapan Program Manajemen Risiko menjadi standar penting untuk menjamin keamanan produk. "Concern utama BPOM adalah bagaimana industri pangan mengikuti standar yang ketat dengan tujuan utama menjaga food safety atau keamanan pangan. Karena dampaknya sangat besar apabila makanan tidak aman," kata Sugiri.Pendampingan BPOM kepada PT HATI telah berlangsung sejak 2019, dan implementasi sertifikasi PMR mulai dilakukan pada 2024 melalui bimbingan teknis, evaluasi, hingga audit menyeluruh. Setelah memperoleh sertifikasi, perusahaan wajib melaporkan implementasi sistem setiap enam bulan sekali. Menjelang musim haji, BPOM juga melakukan audit langsung ke fasilitas produksi."Setiap menjelang haji, BPOM selalu datang melakukan visit saat proses produksi untuk memastikan seluruh proses berjalan aman sebelum produk dikirim ke Arab Saudi," ujar Sugiri. Ia menilai penghargaan dari BPOM akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk PT HATI.Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., mengatakan penerapan PMR semakin berkembang dalam sepuluh tahun belakangan, tidak hanya di industri besar tapi juga UMKM. "Lewat program ini kami membuat auto-control atau self-control dari industri yang kita atur dari standar keamanannya, standar gizinya, standar processing-nya, standar proses pengemasannya, dan sebagainya," paparnya.Dari ribuan pelaku industri, BPOM memberikan apresiasi kepada tujuh perusahaan, salah satunya PT HATI. Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan penerima apresiasi, seperti lama pelaksanaan program, kepatuhan terhadap ketentuan, dan perkembangan industri. PT HATI sendiri setiap tahun melakukan validasi terhadap menu-menu baru yang akan diekspor ke Arab Saudi, memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat bulan sebelum produk dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan.Untuk musim haji 2026, PT HATI mengirimkan sekitar 2 juta porsi makanan siap saji bagi jemaah haji Indonesia selama puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Produk tersebut dibuat menggunakan bahan baku alami asal Indonesia tanpa bahan pengawet, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pertanian, peternakan, dan industri pangan nasional.

Redaksi-01 Juli 2026
Pipa PVC untuk Cetakan Kue Putu? Pakar Ingatkan Bahaya Ini
Gaya Hidup

Pipa PVC untuk Cetakan Kue Putu? Pakar Ingatkan Bahaya Ini

Kue putu memang jajanan tradisional yang selalu punya tempat di hati. Aroma pandan dan suara khasnya langsung membawa memori masa kecil. Tapi belakangan ini, publik dikejutkan dengan temuan bahwa sebagian pedagang mulai menggunakan pipa PVC sebagai cetakan kue putu, menggantikan bambu yang biasa dipakai.Kenapa Pipa PVC Berbahaya?Menurut Prof. Eko Hari Purnomo dari IPB University, pipa PVC sebenarnya dirancang untuk mengalirkan cairan dingin, bukan untuk terkena panas tinggi. “Pipa paralon jenis unplasticized PVC hanya bisa dipakai pada suhu di bawah 50 derajat Celsius,” jelasnya. Padahal, proses pengukusan kue putu membutuhkan uap bersuhu sekitar 100 derajat Celsius agar pati beras matang sempurna.Zat Berbahaya Bisa Pindah ke MakananSuhu tinggi tersebut bisa menyebabkan migrasi komponen plastik dari pipa PVC ke dalam kue putu. Zat tambahan dalam plastik itu berpotensi mengganggu kesehatan jika terus-menerus terkonsumsi. “Sebaiknya hindari penggunaan pipa paralon untuk makanan yang dimasak dengan uap panas,” tegas Eko.Kembali ke Bambu: Lebih Aman dan BerbudayaEko menyarankan para pedagang untuk kembali menggunakan cetakan bambu tradisional. Selain lebih aman secara pangan, bambu juga ramah lingkungan dan menjaga nilai budaya kuliner Indonesia. Jika terpaksa ingin pakai cetakan plastik, pastikan pilih yang berlabel aman untuk pangan suhu tinggi.Jadi, sebelum membeli kue putu favorit, ada baiknya kita lebih jeli memperhatikan cetakannya. Kesehatan keluarga tentu lebih utama dari sekadar kepraktisan sesaat.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita