Waspadai Sindrom Iritasi Usus Pascainfeksi Setelah Keracunan Makanan
Keracunan makanan biasanya hanya menimbulkan ketidaknyamanan sesaat. Namun, tahukah Anda bahwa infeksi saluran cerna akibat bakteri, virus, atau parasit bisa memicu kondisi jangka panjang yang disebut post-infection irritable bowel syndrome (IBS pascainfeksi)? Kondisi ini membuat gejala seperti kram perut, diare, sembelit, dan kembung terus berulang bahkan setelah infeksi awal sembuh, bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.Apa Itu IBS Pascainfeksi?IBS pascainfeksi adalah gangguan fungsi usus yang muncul setelah infeksi akut saluran cerna. Menurut Dr. Irene Sonu, profesor klinis gastroenterologi dari Stanford Medicine, sekitar 10 persen orang yang mengalami infeksi gastrointestinal akan mengembangkan kondisi ini. Usus tidak kembali berfungsi normal meski infeksi sudah hilang.Dr. William D. Chey, kepala divisi gastroenterologi di Michigan Medicine, menggambarkan IBS pascainfeksi seperti 'hangover' pada saluran pencernaan. Efek akut infeksi sudah berlalu, tetapi gangguan pada usus tetap bertahan.Gejala yang Perlu DiwaspadaiGejala IBS pascainfeksi bervariasi, antara lain:Nyeri perut berulangKembung dan gas berlebihDiare atau sembelit, bisa bergantianPerut terasa tidak nyaman setelah makanJika Anda mengalami gejala-gejala ini setelah episode keracunan makanan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.Mengapa Bisa Terjadi?Penyebab pasti IBS pascainfeksi belum sepenuhnya dipahami. Ada beberapa teori yang dikemukakan para ahli:Sistem imun dan saraf yang tetap aktif: Setelah infeksi, sistem imun dan saraf di usus bisa tetap dalam kondisi 'siaga' sehingga memicu sensitivitas berlebih.Perubahan mikrobioma usus: Infeksi dapat mengubah komposisi bakteri baik di usus dan membuat lapisan usus lebih permeabel.Respons autoimun: Beberapa infeksi bakteri memicu antibodi yang keliru menyerang saraf pengendali gerakan usus.Dr. Sonu menambahkan, apa pun penyebabnya, intinya usus menjadi lebih sensitif setelah infeksi.Faktor Risiko yang Meningkatkan PeluangBeberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami IBS pascainfeksi:Durasi dan keparahan infeksi awalJenis kelamin perempuan lebih berisiko dibanding laki-lakiJenis infeksi: parasit (sekitar 30%), bakteri (18%), virus (11%)Infeksi tertentu seperti Giardia, Campylobacter, dan SalmonellaSebuah tinjauan terhadap hampir 50 studi dengan lebih dari 28.000 partisipan menemukan bahwa 14,5 persen orang yang mengalami gastroenteritis akut mengembangkan IBS pascainfeksi.Langkah PenangananPenanganan IBS pascainfeksi disesuaikan dengan gejala yang muncul. Berikut beberapa pendekatan yang umum dilakukan:Diare: obat antidiare, antibiotik tertentu, atau pengikat asam empedu.Sembelit: pencahar atau suplemen serat larut.Kram perut: obat antispasmodik yang dijual bebas atau dengan resep.Terapi kognitif perilaku atau hipnoterapi usus: membantu mengatasi hubungan usus-otak.Diet rendah FODMAP: membatasi sementara karbohidrat tertentu yang difermentasi di usus.Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan terapi yang paling tepat sesuai kondisi Anda.Kapan Harus ke Dokter?Jika Anda mengalami gejala pencernaan yang menetap setelah infeksi saluran cerna, jangan ragu untuk memeriksakan diri. Dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan seperti tes PCR tinja atau kultur tinja untuk mendeteksi kemungkinan infeksi yang masih berlangsung atau kondisi lain.Meski tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis IBS pascainfeksi, riwayat kesehatan dan gejala yang Anda alami akan sangat membantu dokter menegakkan diagnosis.Jadi, jangan sepelekan keracunan makanan. Kenali gejalanya dan segera cari bantuan medis jika diperlukan. Usus yang sehat adalah kunci kualitas hidup yang lebih baik.