Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

kesehatan anak

Berita dan Informasi kesehatan anak

5 artikel ditampilkan

Mitos Kesehatan Ibu dan Anak yang Sering Dianggap Kebenaran, Cek Faktanya
Kesehatan Keluarga

Mitos Kesehatan Ibu dan Anak yang Sering Dianggap Kebenaran, Cek Faktanya

Sejak kecil, kita kerap mendengar berbagai nasihat kesehatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari minum delapan gelas air sehari hingga larangan berenang setelah makan. Karena disampaikan berulang kali, nasihat itu pun dianggap sebagai kebenaran mutlak. Padahal, dunia kesehatan terus berkembang dan banyak mitos yang akhirnya terbantahkan. Berikut beberapa mitos kesehatan yang masih sering dipercaya, terutama di kalangan ibu, beserta penjelasan ilmiahnya. 1. Harus Minum Delapan Gelas Air Sehari Anjuran minum delapan gelas air sehari memang mudah diingat, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa semua orang butuh jumlah yang sama. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas, dan suhu lingkungan. Rata-rata pria dewasa membutuhkan sekitar 3,7 liter cairan per hari, sedangkan wanita sekitar 2,7 liter. Angka ini mencakup cairan dari makanan dan minuman lain, bukan hanya air putih. Jadi, tidak perlu memaksakan diri minum delapan gelas jika tubuh sudah merasa cukup. 2. Cuaca Dingin Menyebabkan Flu Keluar rumah saat cuaca dingin tidak langsung membuat Anda atau anak flu. Flu disebabkan oleh virus, bukan suhu udara. Namun, cuaca dingin dan kering dapat membuat virus lebih mudah bertahan dan menyebar. Selain itu, saat dingin orang cenderung berkumpul di ruangan tertutup, sehingga penularan virus lebih mudah terjadi. Jadi, yang membuat sakit adalah virus, bukan udaranya. 3. Sarapan Adalah Waktu Makan Paling Penting Sarapan memang baik untuk mengisi energi, tetapi bukan berarti waktu makan ini yang paling penting. Penelitian belum membuktikan bahwa sarapan otomatis membuat seseorang lebih sehat. Yang lebih krusial adalah kualitas makanan dan pola makan secara keseluruhan. Bagi sebagian orang, sarapan membantu memenuhi kebutuhan gizi, tapi bagi yang lain melewatkannya juga tidak masalah asalkan asupan nutrisi harian tetap tercukupi. 4. Harus Berjalan 10.000 Langkah Sehari Target 10.000 langkah sangat populer, tetapi angka itu bukan patokan ilmiah. Studi terbaru menunjukkan sekitar 7.000 langkah per hari sudah cukup untuk menurunkan risiko berbagai penyakit, seperti jantung, diabetes, kanker, demensia, dan depresi. Jadi, tidak perlu merasa gagal jika belum mencapai 10.000 langkah. Yang terpenting adalah meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap. 5. Membunyikan Buku Jari Menyebabkan Radang Sendi Suara 'krek' saat membunyikan buku jari sering dianggap merusak sendi. Faktanya, penelitian tidak menemukan hubungan antara kebiasaan ini dengan arthritis atau radang sendi. Suara tersebut berasal dari gelembung gas yang pecah di cairan sendi. Kebiasaan ini juga tidak terbukti menurunkan fungsi tangan secara signifikan. 6. Vaksin Flu Menyebabkan Flu Vaksin flu suntik menggunakan virus yang sudah dimatikan, sehingga tidak mungkin menyebabkan flu. Jika setelah vaksinasi Anda merasa nyeri atau kurang enak badan, itu adalah respons normal sistem kekebalan tubuh. Bisa juga Anda sudah terpapar virus sebelum vaksin bekerja. Vaksin flu tetap efektif menurunkan risiko flu berat yang memerlukan perawatan medis. 7. Membaca di Tempat Redup Merusak Mata Membaca dengan pencahayaan minim memang membuat mata cepat lelah, tetapi tidak menyebabkan kerusakan permanen. Masalah penglihatan jangka panjang lebih dipengaruhi oleh faktor usia dan kondisi mata tertentu. Meski begitu, pencahayaan yang cukup tetap dianjurkan agar mata tidak tegang. 8. Harus Menunggu 30 Menit Setelah Makan Sebelum Berenang Nasihat ini sudah lama beredar, konon katanya bisa menyebabkan kram dan tenggelam. Namun, American Red Cross menyatakan bahwa berenang dalam waktu satu jam setelah makan tidak meningkatkan risiko tenggelam. Risiko berenang lebih terkait dengan infeksi air, kecelakaan, dan kurangnya pengawasan. 9. Urutan Minum Alkohol Menentukan Beratnya Hangover Ungkapan 'beer before liquor, never been sicker' terdengar meyakinkan, tapi tidak sepenuhnya benar. Beratnya hangover lebih ditentukan oleh jumlah alkohol yang diminum, bukan urutan jenis minuman. Semakin banyak alkohol, semakin besar kemungkinan hangover. 10. Tidak Bisa Hamil Saat Menstruasi Peluang hamil saat menstruasi memang lebih rendah, tetapi bukan tidak mungkin. Ovulasi bisa terjadi lebih awal, terutama pada wanita dengan siklus pendek. Sperma dapat bertahan hidup hingga lima hari di saluran reproduksi. Jadi, hubungan seksual menjelang akhir menstruasi tetap bisa berujung kehamilan. Menstruasi bukanlah metode kontrasepsi yang aman. Mitos kesehatan bertahan karena menawarkan jawaban sederhana untuk masalah tubuh yang kompleks. Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan berbeda. Sebagai ibu, penting untuk selalu mencari informasi terpercaya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengambil keputusan untuk keluarga.

Redaksi-17 September 2026
Waspada Mikroplastik di Musim Hujan, Begini Cara Melindungi Keluarga
Kesehatan Keluarga

Waspada Mikroplastik di Musim Hujan, Begini Cara Melindungi Keluarga

Belakangan ini, imbauan untuk memakai masker atau tidak langsung keluar rumah setelah hujan sempat menuai pro dan kontra. Namun, di balik perdebatan tersebut, ada fakta ilmiah yang perlu kita pahami bersama. Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik. Ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga ancaman kesehatan bagi kita dan keluarga, terutama anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.Apa Itu Mikroplastik dan Mengapa Berbahaya?Mikroplastik adalah pecahan plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang berasal dari penguraian sampah plastik akibat paparan sinar matahari dan cuaca. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya mudah terbawa angin, masuk ke tanah, dan akhirnya mencemari sumber air serta makanan. Bahaya utamanya terletak pada kandungan bahan kimia aditif yang bisa mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.Jalur Masuknya Mikroplastik ke Dalam TubuhMikroplastik bisa masuk ke tubuh kita melalui tiga jalur utama:Makanan: Partikel mikroplastik dapat mencemari ikan, garam, dan bahan makanan lain yang kita konsumsi sehari-hari.Minuman: Air minum dalam kemasan, bahkan air keran, berisiko mengandung mikroplastik.Udara: Saat kita bernapas, partikel mikroplastik yang melayang di udara bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.Selain itu, produk perawatan tubuh seperti sabut scrub atau pasta gigi yang mengandung microbeads juga bisa menjadi jalur masuk mikroplastik ke dalam tubuh, meski dalam skala lebih kecil.Dampaknya bagi Kesehatan KeluargaPaparan mikroplastik dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) telah mengingatkan bahwa akumulasi partikel ini dapat mengganggu sistem hormon, menurunkan kesuburan, serta menyebabkan gangguan pencernaan dan sistem imun. Untuk anak-anak, efeknya bisa lebih serius karena sistem tubuh mereka masih berkembang.Langkah Nyata yang Bisa Kita LakukanKabar baiknya, kita bisa mengurangi risiko ini dengan beberapa langkah sederhana:Pilih makanan segar: Kurangi konsumsi makanan olahan yang dikemas dalam plastik. Lebih baik memasak sendiri di rumah.Gunakan wadah non-plastik: Saat membeli makanan atau minuman, bawa wadah sendiri dari kaca atau stainless steel.Perhatikan label produk: Hindari produk perawatan tubuh yang mengandung microbeads.Selalu cuci tangan sebelum makan: Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko masuknya partikel mikroplastik dari tangan ke makanan.Dukung gaya hidup ramah lingkungan: Kurangi penggunaan plastik sekali pakai dan ajarkan anak-anak untuk memilah sampah sejak dini.Perubahan kecil yang kita lakukan hari ini akan berdampak besar bagi kesehatan keluarga di masa depan. Mari bersama-sama melindungi buah hati kita dari ancaman mikroplastik yang tak terlihat.

Redaksi-03 September 2026
Lindungi Si Kecil dari Kabut Asap: Panduan Lengkap untuk Ibu
Kesehatan Keluarga

Lindungi Si Kecil dari Kabut Asap: Panduan Lengkap untuk Ibu

Ketika musim kemarau tiba, kabut asap sering kali menjadi momok menakutkan bagi keluarga Indonesia. Kebakaran hutan yang melanda berbagai wilayah menghasilkan asap tebal yang menyebar luas, menurunkan kualitas udara, dan mengancam kesehatan, terutama bagi anak-anak.Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih dalam tahap pertumbuhan. Mereka juga menghirup udara lebih banyak dibandingkan orang dewasa, sehingga risiko terpapar polutan pun semakin tinggi. Paparan kabut asap dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan serius pada perkembangan otak dan organ tubuh.Dampak Tersembunyi Kabut Asap pada Tumbuh Kembang AnakAsap dari kebakaran hutan bukanlah asap biasa. Ia mengandung campuran bahan kimia beracun, seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, logam berat, dan partikel halus (PM2.5). Partikel-partikel kecil ini mampu menembus jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan, sehingga anak bisa mengalami sesak napas, batuk, dan dada terasa berat.Lebih mengkhawatirkan lagi, paparan kabut asap dalam jangka panjang dapat mengganggu perkembangan otak anak. Seorang dokter spesialis paru dari Universitas Gadjah Mada, dr. Sumardi, Sp PD-KP, mengungkapkan bahwa kecerdasan anak bisa terpengaruh. Ibu hamil pun tak luput dari risiko; mereka rentan mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah dan perkembangan organ yang tidak optimal.Data dari UNICEF bahkan mencatat bahwa asap kebakaran lahan secara global telah merenggut hampir 27.000 nyawa anak di bawah usia lima tahun. Angka ini menjadi pengingat betapa seriusnya ancaman ini.Langkah Jitu Melindungi Anak dari Kabut AsapMenghadapi kondisi udara yang buruk, orang tua perlu sigap mengambil tindakan. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan:Pantau Kualitas Udara: Biasakan memantau indeks kualitas udara di daerah Anda melalui aplikasi seperti IQAir atau situs serupa. Jika angka menunjukkan level tidak sehat, batasi aktivitas di luar rumah untuk Si Kecil.Ciptakan Ruang Aman di Dalam Rumah: Tutup rapat jendela dan pintu, serta matikan saluran udara segar pada AC. Anda juga bisa menggunakan pembersih udara (air purifier) untuk menjaga kualitas udara di dalam ruangan.Kurangi Aktivitas di Luar: Jika memang harus keluar rumah, hindari aktivitas berat yang membuat anak bernapas lebih cepat. Lebih baik tetap di dalam ruangan yang bersih dan aman.Kenali Gejala Bahaya: Waspadai tanda-tanda seperti batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata atau tenggorokan terasa perih, dan pusing. Jika gejala ini muncul, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.Perlu diingat, masker biasa tidak dirancang untuk melindungi dari asap kebakaran hutan. Masker N95 mungkin lebih efektif, namun tetap tidak sebaik menghindari paparan langsung. Jadi, prioritas utama adalah menjaga anak tetap di dalam ruangan yang udaranya bersih.Kabut asap adalah ujian berat bagi para ibu. Namun, dengan pengetahuan dan kewaspadaan, kita bisa menjaga buah hati tetap sehat dan aman. Semoga panduan ini bermanfaat, dan mari kita selalu berdoa agar musibah kebakaran hutan segera berakhir.

Redaksi-31 Agustus 2026
Jadwal Imunisasi BIAS Agustus 2026: Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki
Kesehatan Keluarga

Jadwal Imunisasi BIAS Agustus 2026: Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki

Bunda, agenda penting untuk kesehatan anak sekolah sudah di depan mata. Bulan Agustus ini, Kementerian Kesehatan kembali menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026. Program ini menyasar anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat. Tujuannya jelas: memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Apa itu BIAS dan Mengapa Penting? BIAS adalah program imunisasi lanjutan yang diintegrasikan dengan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS). Program ini dirancang untuk menjaga kesehatan anak sekolah, sehingga mereka bisa belajar dengan optimal. Imunisasi yang diberikan bertujuan mencegah penyakit seperti difteri, tetanus, campak, rubela, dan yang terbaru adalah infeksi HPV penyebab kanker leher rahim. Pentingnya imunisasi lanjutan ini tidak bisa diabaikan, Bunda. Imunisasi saat bayi saja tidak cukup. Anak usia sekolah tetap membutuhkan dosis lanjutan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka. Jadwal Imunisasi BIAS 2026: Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan? Setiap jenjang kelas memiliki jenis dan jadwal imunisasi yang berbeda. Berikut rinciannya: Untuk Kelas 1 SD (Usia ±7 Tahun) Agustus: Vaksin MR (Campak dan Rubella) – 1 dosis November: Vaksin DT (Difteri dan Tetanus) – 1 dosis Untuk Kelas 2 SD (Usia ±8 Tahun) November: Vaksin Td (Tetanus dan Difteri) – 1 dosis Untuk Kelas 5 SD (Usia ±11 Tahun) Agustus: Vaksin HPV – 1 dosis November: Vaksin Td – 1 dosis Untuk Kelas 6 SD (Usia ±12 Tahun) Agustus: Vaksin HPV – 1 dosis Untuk Kelas 9 SMP (Usia ±15 Tahun) Agustus: Vaksin HPV – 1 dosis Manfaat Imunisasi BIAS yang Wajib Diketahui Setiap jenis imunisasi punya peran penting dalam menjaga kesehatan anak. Berikut manfaatnya: Melindungi dari Campak dan Rubella Vaksin MR melindungi anak dari penyakit campak yang bisa memicu komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), hingga kebutaan. Rubella sendiri berbahaya bagi ibu hamil, jadi melindungi anak berarti melindungi generasi mendatang. Mencegah Difteri dan Tetanus Vaksin DT dan Td memberikan kekebalan terhadap dua penyakit mematikan. Difteri bisa menyebabkan gangguan pernapasan, sedangkan tetanus memicu kejang otot yang menyakitkan. Keduanya bisa berakibat fatal jika tidak ditangani cepat. Perlindungan dari Infeksi HPV Vaksin HPV dirancang untuk melindungi dari virus penyebab kanker leher rahim, yang menurut data mencapai 95 persen kasus. Namun, manfaatnya kini juga dirasakan oleh anak laki-laki. Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki: Kenapa Penting? Bunda, vaksin HPV tidak hanya untuk perempuan. Anak laki-laki juga sangat dianjurkan mendapatkannya. Berikut alasannya: Melindungi dari risiko kanker anus, penis, dan tenggorokan (orofaring) di masa depan. Membantu memutus rantai penularan virus HPV, sehingga melindungi orang-orang terdekat di kemudian hari. Studi menunjukkan bahwa vaksin HPV memberikan perlindungan hampir 100 persen terhadap tipe virus berisiko tinggi jika diberikan sejak dini. Efek perlindungannya pun bertahan hingga lebih dari 10 tahun. Kapan dan Di Mana Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki Diberikan? Pada BIAS Agustus 2026 ini, vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun akan mulai diberikan di tiga provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), DKI Jakarta, dan Bali. Menurut Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Indri Yogyaswari, MARS, program ini akan diperluas ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten pada 2027, serta Jawa Timur pada 2028, sebelum akhirnya menyasar seluruh Indonesia. Kemenkes juga merekomendasikan pemberian vaksin HPV cukup satu dosis untuk anak di bawah usia 20 tahun. Untuk anak usia 11 tahun yang tidak terjangkau BIAS, vaksin ini bisa didapatkan secara gratis di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. Semoga informasi ini membantu Bunda dalam mempersiapkan kesehatan si kecil. Pastikan mereka mengikuti imunisasi sesuai jadwal, ya!

Redaksi-07 Agustus 2026
Obesitas Anak: Bukan Sekadar Soal Berat Badan Ibu Hamil
Kesehatan Keluarga

Obesitas Anak: Bukan Sekadar Soal Berat Badan Ibu Hamil

Bunda, mungkin Anda pernah khawatir apakah kenaikan berat badan selama kehamilan akan berdampak pada kesehatan si kecil di masa depan. Kekhawatiran ini wajar, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa ceritanya tidak sesederhana itu. Faktor genetik yang diwariskan dari ayah dan ibu ternyata menjadi kunci utama dalam menentukan indeks massa tubuh (IMT) anak, bahkan mengalahkan pengaruh lingkungan dalam kandungan.Penelitian Skala Besar Menguak Fakta BaruSebuah studi kolaboratif yang melibatkan para peneliti dari University of Bristol, University of Queensland, dan Norwegian Institute of Public Health baru saja dipublikasikan di jurnal PLOS Medicine. Mereka menganalisis data dari lebih dari 86.000 anak di Norwegia yang lahir antara tahun 1999 hingga 2009. Data yang dikumpulkan mencakup berat badan lahir, IMT anak dari usia 6 bulan hingga 8 tahun, serta perilaku makan terkait nafsu makan pada usia 8 tahun.Untuk memisahkan pengaruh genetik dan lingkungan, para peneliti membandingkan data dari saudara kembar, saudara kandung, dan saudara tiri lintas generasi. Metode ini memungkinkan mereka mengukur secara lebih akurat seberapa besar hubungan IMT orang tua dan anak yang benar-benar disebabkan oleh faktor genetik.Hasil: Genetik Mendominasi, Lingkungan Kandungan Tidak Sebesar DugaanTemuan utama studi ini cukup mengejutkan. IMT ibu memang berkaitan lebih kuat dengan berat lahir anak dibandingkan IMT ayah. Namun, setelah anak lahir, hubungan antara IMT ibu dan ayah dengan IMT anak menjadi serupa pada usia 2 hingga 8 tahun. Model statistik menunjukkan bahwa faktor genetik menjelaskan sekitar 79% hubungan antara IMT ibu dan anak pada usia 8 tahun, dan 94% hubungan dengan ayah.Dengan kata lain, pengaruh berat badan ibu selama kehamilan terhadap risiko obesitas anak di kemudian hari sebagian besar terjadi melalui pewarisan gen, bukan semata-mata karena lingkungan rahim. Dr. Tom Pond, salah satu peneliti, menjelaskan, "Obesitas cenderung diturunkan dalam keluarga. Hasil kami menunjukkan bahwa hubungan antara IMT orang tua dan anak hingga usia 8 tahun sebagian besar disebabkan oleh gen yang diwariskan."Peneliti lain, David Evans dari University of Queensland, menambahkan, "Kami tertarik meneliti apakah obesitas pada ibu selama kehamilan berdampak buruk pada risiko obesitas anak saat tumbuh. Kami menemukan bahwa meskipun IMT ibu saat hamil memengaruhi berat lahir anak, efeknya terhadap obesitas di kemudian hari tidak besar jika sudah memperhitungkan transmisi genetik."Perilaku Makan Juga Dipengaruhi GenetikStudi ini juga menemukan bahwa orang tua dengan IMT lebih tinggi cenderung memiliki anak dengan perilaku makan yang berisiko obesitas, seperti responsivitas makanan yang tinggi dan kecenderungan makan berlebihan karena emosi. Namun, peneliti belum bisa memastikan sejauh mana faktor genetik berperan dalam hal ini.Direktur ilmiah kohort MoBa, Alexandra Havdahl, menegaskan, "Temuan kami menunjukkan bahwa hubungan antara IMT orang tua dan anak sebagian besar didorong oleh gen yang sama, bukan lingkungan intrauterin atau pola asuh."Pesan Penting: Bukan Berarti Tidak Ada yang Bisa DilakukanMeskipun genetik memegang peran besar, para peneliti mengingatkan bahwa hasil ini tidak berarti obesitas anak adalah takdir yang tidak bisa diubah. "Calon orang tua harus didorong untuk menjaga berat badan sehat. Namun, ini mungkin tidak cukup untuk memastikan anak-anak mereka juga memiliki berat badan sehat," kata Dr. Pond.Artinya, menjaga kesehatan selama kehamilan tetaplah penting, tapi kita juga perlu menyadari bahwa faktor genetik tidak bisa diabaikan. Pola makan sehat, aktivitas fisik, dan lingkungan yang mendukung tetap menjadi kunci untuk membantu anak tumbuh dengan berat badan ideal. Yang terpenting, Bunda tidak perlu merasa bersalah jika berat badan naik sedikit lebih banyak selama hamil—karena genetik juga ikut bicara.

Redaksi-01 Juli 2026
NaraCerita