Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

kesehatan reproduksi

Berita dan Informasi kesehatan reproduksi

6 artikel ditampilkan

Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya
Gaya Hidup

Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya

Bayangkan sebuah alat kontrasepsi yang dipasang di tubuh pria, bekerja tanpa mengganggu hormon, dan bisa dilepas kapan saja. Itulah gambaran dari STEOM, sebuah perangkat kontrasepsi pria yang tengah dikembangkan oleh tim peneliti di Lille University Hospital, Prancis, bekerja sama dengan University of Liège.Proyek yang dipimpin oleh androlog Julie Prasivoravong ini bertujuan memberikan lebih banyak pilihan bagi pria, sekaligus mendorong pembagian tanggung jawab kontrasepsi yang lebih seimbang dalam pasangan.Mengenal STEOM: IUD untuk PriaSTEOM bekerja dengan prinsip mekanis, mirip dengan IUD (intrauterine device) yang digunakan perempuan. Alat ini menghambat perjalanan sperma melalui saluran reproduksi tanpa memengaruhi kadar hormon atau mematikan kesuburan secara permanen. Berbeda dengan pil KB atau implan hormonal, STEOM tidak mengandung hormon sehingga minim efek samping sistemik.Bagaimana Cara Pasangnya?Prosedur pemasangan STEOM terbilang cepat, hanya sekitar 15 menit dengan anestesi lokal. Dokter akan membuat sayatan kecil di skrotum, lalu memasukkan alat tersebut. Menariknya, tidak diperlukan jahitan atau perban besar, sehingga pemulihan pun relatif singkat. Setelah terpasang, STEOM dapat bertahan hingga tiga tahun. Jika ingin menghentikan kontrasepsi, alat ini bisa dilepas atau diganti oleh tenaga medis terlatih, dan kesuburan pria akan kembali seperti semula.Mengapa Inovasi Ini Penting?Selama ini, pilihan kontrasepsi pria sangat terbatas: kondom, metode alami (pantang berkala), atau vasektomi yang bersifat permanen. Kondisi ini membuat perempuan menanggung sebagian besar beban kontrasepsi, mulai dari pil harian, suntik, implan, hingga IUD hormonal yang kerap menimbulkan efek samping seperti kenaikan berat badan, migrain, penurunan libido, hingga perubahan suasana hati.Kehadiran STEOM membuka harapan akan tanggung jawab yang lebih setara. Di Prancis sendiri, jumlah pria yang menjalani vasektomi meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menandakan minat pria untuk lebih terlibat dalam pengaturan kelahiran.Tahapan Uji dan KetersediaanMeski menjanjikan, STEOM masih harus melalui perjalanan panjang sebelum bisa diakses publik. Uji praklinis dimulai pada Mei 2026 di University of Liège. Jika hasilnya memuaskan, uji klinis akan melibatkan sekitar 100 relawan di Prancis dan Belgia. Sebagai perangkat medis, STEOM wajib melewati regulasi ketat, sehingga diperkirakan baru tersedia secara komersial dalam 7 hingga 10 tahun ke depan.Respons Publik dan Diskusi GenderDi media sosial, kemunculan STEOM memicu perbincangan hangat. Banyak perempuan menyoroti betapa menariknya kontrasepsi pria yang bebas hormon, sementara perempuan telah lama mengonsumsi hormon tambahan dengan berbagai konsekuensi. Namun, sebagian pihak menilai langkah ini tetap positif karena memperluas pilihan dan mendorong pembagian tanggung jawab yang lebih adil.Terlepas dari pro dan kontra, STEOM menandai babak baru dalam dunia kontrasepsi. Inovasi ini tidak hanya soal teknologi medis, tetapi juga membuka ruang dialog tentang kesetaraan gender dan hak atas tubuh sendiri. Bagaimana menurutmu, apakah pasanganmu bersedia mencobanya nanti?

Redaksi-14 September 2026
Mitos atau Fakta: Plastik dan Kesuburan, Ini Kata Sains
Kesehatan Keluarga

Mitos atau Fakta: Plastik dan Kesuburan, Ini Kata Sains

Tanpa sadar, plastik sudah jadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Dari botol minum, wadah bekal, sampai kemasan makanan, semuanya terbuat dari plastik. Tapi, di balik kepraktisannya, pernahkah kamu bertanya-tanya apakah plastik bisa memengaruhi kesuburan? Isu ini memang sering dibicarakan, dan banyak yang penasaran dengan kebenarannya.Apa Sih Sebenarnya Kandungan Plastik yang Bisa Berbahaya?Dua zat yang paling sering dikaitkan dengan masalah kesuburan adalah Bisphenol A (BPA) dan phthalates. BPA biasanya ditemukan di plastik keras atau kemasan makanan kaleng, sedangkan phthalates ditambahkan untuk membuat plastik lebih lentur dan tahan lama. Keduanya termasuk bahan kimia pengganggu endokrin (EDCs), yang bisa mengganggu sistem hormon dalam tubuh kita. Padahal, hormon memegang peran penting dalam proses reproduksi, mulai dari produksi sel telur hingga ovulasi.Benarkah Plastik Bisa Bikin Susah Hamil?Jawabannya nggak sesederhana itu. Penelitian memang menunjukkan adanya kaitan, tapi bukan berarti memakai botol plastik sekali langsung bikin mandul. Sebuah studi terbaru yang menggabungkan 38 penelitian dengan total lebih dari 55 ribu peserta menemukan bahwa paparan BPA dan phthalates bisa memengaruhi beberapa indikator kesuburan, seperti kadar hormon AMH dan jumlah folikel di ovarium. Tapi, hubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk hamil secara keseluruhan tidak signifikan. Jadi, belum bisa disimpulkan kalau plastik adalah biang keladi infertilitas.Pada wanita, kekhawatiran utama adalah efeknya terhadap cadangan sel telur. Kadar AMH dan jumlah folikel antral memang sering dipakai untuk menilai cadangan ovarium. Namun, ini bukan satu-satunya penentu kehamilan. Banyak faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti usia, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu.Pria Juga Perlu WaspadaKesuburan adalah urusan bersama, bukan cuma wanita. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan phthalates bisa mengubah kualitas sperma, seperti konsentrasi dan pergerakannya. Begitu juga dengan BPA, kadar yang tinggi dalam urine berkorelasi dengan penurunan jumlah sperma. Sebuah studi yang melibatkan 501 pasangan bahkan menemukan bahwa beberapa jenis phthalates pada pria bisa memperpanjang waktu untuk mencapai kehamilan. Jadi, pria juga perlu memperhatikan paparan plastik dalam keseharian.Apa Dampaknya pada Program Bayi Tabung?Buat kamu yang sedang menjalani program bayi tabung, paparan BPA dan phthalates juga mulai diteliti. Beberapa studi menemukan bahwa paparan BPA bisa menurunkan tingkat fertilisasi normal dan jumlah embrio berkualitas tinggi. Namun, pengaruhnya terhadap angka keberhasilan kehamilan klinis masih belum konsisten. Artinya, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan ini secara pasti.Lalu, Harus Apa? Jangan Panik Dulu!Tenang, kamu nggak perlu membuang semua barang plastik di rumah. Yang penting adalah mengurangi paparan yang tidak perlu. Beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:Jangan memanaskan makanan dalam wadah plastik, terutama di microwave. Pindahkan ke piring kaca atau keramik.Pilih botol minum yang bebas BPA atau gunakan botol kaca.Kurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk makanan dan minuman.Cuci tangan sebelum makan, terutama setelah memegang plastik.Dengan langkah kecil ini, kamu sudah membantu menjaga kesehatan reproduksi dan mengurangi risiko paparan bahan kimia yang tidak perlu. Yang terpenting, jangan lupa jalani hidup sehat dan rutin periksa ke dokter jika ada keluhan kesuburan. Semoga informasi ini bermanfaat!

Redaksi-31 Agustus 2026
Mengapa Sulit Hamil Anak Kedua? Ini Penjelasan dan Solusinya
Kesehatan Keluarga

Mengapa Sulit Hamil Anak Kedua? Ini Penjelasan dan Solusinya

Setelah melewati masa kehamilan dan persalinan pertama, sebagian pasangan mungkin berharap program hamil anak kedua akan terasa lebih mudah. Sayangnya, tidak selalu begitu. Ada kalanya, perjuangan untuk mendapatkan momongan kedua justru terasa lebih berat. Kondisi ini ternyata umum terjadi dan punya istilah medis, yaitu infertilitas sekunder.Infertilitas sekunder adalah kondisi ketika pasangan yang sebelumnya pernah hamil mengalami kesulitan untuk hamil kembali. Banyak faktor yang bisa berubah sejak kehamilan pertama, baik dari sisi fisik maupun gaya hidup. Memahami penyebabnya bisa membantu pasangan mencari langkah yang tepat.Faktor-Faktor yang Menghambat Kehamilan Kedua1. Usia yang Semakin BertambahFaktor usia memang tidak bisa dipungkiri. Seiring bertambahnya usia, kualitas dan kuantitas sel telur wanita menurun. Ini bisa membuat proses ovulasi dan pembuahan menjadi kurang optimal. Meski begitu, usia bukan vonis. Banyak wanita di usia 35 tahun ke atas yang tetap berhasil hamil, hanya saja mungkin butuh waktu lebih lama.2. Kondisi Kesehatan AyahKesuburan tidak hanya soal wanita. Kualitas sperma pria juga bisa berubah seiring waktu. Gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, atau kebiasaan yang membuat testis terlalu panas (misalnya sering menggunakan celana ketat atau laptop di pangkuan) dapat menurunkan jumlah dan pergerakan sperma. Jadi, pria juga perlu menjaga kesehatan demi program hamil yang sukses.3. Gangguan HormonSalah satu penyebab umum sulit hamil, baik primer maupun sekunder, adalah ketidakseimbangan hormon seperti pada sindrom ovarium polikistik (PCOS). Gangguan ini bisa membuat siklus menstruasi tidak teratur dan ovulasi terganggu. Jika menstruasi tidak lancar, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.4. Berat Badan yang Tidak IdealBerat badan berlebih atau terlalu kurus sama-sama bisa memengaruhi kesuburan. Pada wanita, kelebihan berat badan dapat mengganggu ovulasi, sedangkan pada pria, berat badan berlebih bisa menurunkan produksi sperma. Menjaga berat badan sehat dengan pola makan seimbang dan olahraga teratur adalah langkah awal yang baik.5. Kebiasaan Merokok dan Minum AlkoholZat-zat berbahaya dalam rokok dapat merusak sel telur dan sperma. Sementara alkohol berlebihan juga terbukti menurunkan peluang kehamilan dan kualitas sperma. Mengurangi atau menghentikan kebiasaan ini sangat dianjurkan untuk meningkatkan kesuburan.Tips Meningkatkan Peluang Hamil Anak Kedua1. Kenali Masa SuburMengetahui kapan ovulasi terjadi sangat membantu. Anda bisa menggunakan alat prediksi ovulasi atau memperhatikan perubahan lendir serviks. Berhubungan intim di masa subur meningkatkan peluang pembuahan.2. Rutin Berhubungan IntimLakukan hubungan intim secara teratur, sekitar 2-3 hari sekali, tanpa menggunakan kontrasepsi. Ini memastikan sperma selalu siap saat sel telur dilepaskan.3. Jaga Berat Badan dan Konsumsi Makanan BergiziPastikan tubuh dalam kondisi prima. Konsumsi makanan bergizi seimbang, perbanyak sayur, buah, protein, dan asam folat. Suplemen asam folat sangat penting untuk mendukung kehamilan yang sehat.Intinya, sulit hamil anak kedua adalah hal yang wajar dan bisa diatasi. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan jika sudah mencoba lebih dari satu tahun. Setiap pasangan punya perjalanan yang unik, dan yang terpenting adalah tetap berpikir positif serta saling mendukung.

Redaksi-30 Agustus 2026
Bahan Kimia Rumah Tangga yang Bisa Mengganggu Kesuburan, Waspadai
Keluarga

Bahan Kimia Rumah Tangga yang Bisa Mengganggu Kesuburan, Waspadai

Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan reproduksi menjadi prioritas utama. Namun, seringkali kita lupa bahwa lingkungan rumah pun menyimpan 'musuh' tak terlihat. Berbagai bahan kimia dalam produk sehari-hari dapat mengganggu keseimbangan hormon dan kualitas sel telur maupun sperma.Menurut para ahli, paparan bahan kimia ini mungkin tidak langsung terasa dampaknya, tetapi akumulasi dalam jangka panjang bisa menjadi penghalang kehamilan. Berikut lima jenis bahan kimia yang perlu diwaspadai:1. BPA (Bisphenol A)BPA banyak ditemukan dalam plastik keras, lapisan kaleng makanan, hingga struk belanja. Saat plastik dipanaskan atau digunakan berulang, BPA dapat larut ke dalam makanan dan minuman. Zat ini dikenal sebagai pengganggu endokrin yang bisa meniru hormon estrogen dalam tubuh. Dampaknya? Siklus haid bisa kacau, ovulasi terganggu, dan kualitas sel telur serta sperma menurun. Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik, dan pilih produk berlabel 'BPA-free'.2. FtalatFtalat adalah plasticizer yang membuat plastik menjadi lentur. Anda bisa menemukannya di botol sampo, sabun cair, pengharum ruangan, sampai mainan anak. Bahan kimia ini mudah menguap ke udara dan terserap tubuh. Penelitian menunjukkan ftalat dapat mengganggu perkembangan sperma dan ovarium, serta menurunkan peluang hamil hingga 18% per siklus. Pilih produk perawatan tubuh tanpa pewangi sintetis dan hindari plastik lunak untuk menyimpan makanan.3. ParabenParaben sering digunakan sebagai pengawet di kosmetik, losion, dan pembersih wajah. Fungsinya memang mencegah jamur dan bakteri, tapi sayangnya ia bisa meniru estrogen dan mengacaukan hormon reproduksi. Meski penelitian masih terus berkembang, sebaiknya batasi penggunaan produk dengan kandungan methylparaben, propylparaben, atau butylparaben. Cari label 'paraben-free' sebagai langkah aman.4. PFAS (Per- and Polyfluoroalkyl Substances)PFAS dikenal sebagai 'forever chemicals' karena sulit terurai di lingkungan. Zat ini kerap digunakan pada wajan anti lengket, kemasan makanan tahan minyak, hingga tekstil anti noda. PFAS dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma, gangguan ovulasi, dan endometriosis. Untuk mengurangi paparan, ganti peralatan masak anti lengket yang sudah tergores dengan alternatif seperti besi cor atau stainless steel, dan hindari makanan cepat saji yang dibungkus kertas minyak.5. Petroleum dan Turunan BenzenaPetroleum muncul di berbagai produk rumah tangga, seperti lilin wangi, parfum sintetis, hingga cat kuku. Saat dibakar atau diuapkan, petroleum melepaskan senyawa organik volatil (VOC) termasuk benzena. Paparan benzena secara terus-menerus telah terbukti menurunkan jumlah sperma dan merusak DNA-nya. Ganti lilin parfum dengan lilin berbahan alami seperti beeswax atau soy wax, dan pilih wewangian dari essential oil murni.Mulailah dari langkah kecil: baca label produk, kurangi plastik, dan pilih bahan alami. Tubuh Anda akan berterima kasih, dan perjalanan menuju kehamilan pun bisa lebih lancar.

Redaksi-03 Juli 2026
Harapan Baru: Program Hamil bagi Perempuan dengan Kanker Endometrium
Cerita Ibu

Harapan Baru: Program Hamil bagi Perempuan dengan Kanker Endometrium

Kanker endometrium adalah salah satu jenis kanker ginekologi yang menyerang lapisan dalam rahim. Meski lebih sering ditemukan pada perempuan menopause, kini kasusnya juga mulai terdeteksi pada usia muda. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi mereka yang masih ingin merasakan kehamilan.Peluang Hamil dengan Terapi Fertility-SparingDokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis onkologi ginekologi, dr. Renny Anggia Julianti, Sp.O.G, Subsp.Onk, menjelaskan bahwa perempuan dengan kanker endometrium masih bisa menjalani program hamil melalui terapi hormonal yang disebut fertility-sparing. Terapi ini bekerja dengan mengontrol kadar hormon dalam tubuh untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker, tanpa harus mengangkat organ reproduksi.Namun, tidak semua pasien bisa menjalani terapi ini. Ada syarat ketat yang harus dipenuhi: usia di bawah 40 tahun, derajat diferensiasi sel kanker yang baik, dan tidak ada penyebaran ke otot rahim. Setelah menjalani terapi, pasien akan dievaluasi dengan USG setiap tiga hingga enam bulan. Jika hasilnya positif, kehamilan bisa segera direncanakan.Menariknya, kehamilan tidak harus melalui program bayi tabung. Meski demikian, dokter menilai metode ini lebih efektif dibandingkan menunggu kehamilan alami. Selama kehamilan, ibu tidak memerlukan perawatan khusus, hanya perlu menjaga pola makan dan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi seperti diabetes.Setelah melahirkan, biasanya disarankan untuk menjalani pengangkatan rahim. Keputusan ini tentu perlu didiskusikan lebih lanjut dengan dokter.Penyebab dan Faktor RisikoPenyebab pasti kanker endometrium belum diketahui, namun ketidakseimbangan hormon estrogen sering menjadi pemicu utama. Berikut beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai:Konsumsi obat yang mengandung atau menstimulasi estrogen, misalnya suntik hormon untuk program hamil.Kelebihan berat badan yang menyebabkan siklus haid tidak teratur.Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi gula dan tepung berlebihan.Sindrom metabolik, termasuk diabetes melitus yang meningkatkan risiko hingga 4-5 kali lipat.Faktor genetik, seperti lynch syndrome atau mutasi gen BRCA.Riwayat infertilitas.Gejala yang Perlu DiwaspadaiKanker endometrium sering kali memberikan tanda awal yang jelas. Kenali gejalanya agar bisa ditangani lebih dini:Perdarahan vagina setelah menopause.Perubahan pola haid, seperti darah keluar terus-menerus atau flek di luar jadwal.Keputihan abnormal atau bercampur darah.Nyeri panggul dan perut bagian bawah.Sakit saat berhubungan intim atau buang air kecil.Perut terasa begah, menandakan rahim membesar.Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk menjalani terapi fertility-sparing dan mewujudkan impian memiliki buah hati. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi ginekologi jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut.

Redaksi-03 Juli 2026
Mitos atau Fakta? Kesuburan Perempuan Ternyata Bisa Melampaui Pria
Gaya Hidup

Mitos atau Fakta? Kesuburan Perempuan Ternyata Bisa Melampaui Pria

Pernahkah kamu mendengar anggapan bahwa kesuburan laki-laki selalu lebih unggul? Alasannya karena pria dapat memproduksi sperma sepanjang hidupnya. Namun, perkembangan zaman dan data terkini dari para ahli demografi membalikkan asumsi tersebut.Penelitian Terbaru: Perempuan Unggul dalam KesuburanSebuah studi kolaboratif dari Max Planck Institute for Demographic Research (MPIDR), Divisi Populasi PBB, dan Universitas Oslo menemukan bahwa sejak tahun 2024, secara global perempuan memiliki tingkat kesuburan total yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan ini mengejutkan karena sebelumnya laki-laki selalu memimpin dalam indikator ini.Peneliti menggunakan data dari World Population Prospects PBB dan metode demografi-statistik tidak langsung untuk menganalisis dampak ketidakseimbangan populasi. Hasilnya, peningkatan proporsi laki-laki dalam populasi menjadi faktor utama pergeseran ini.“Kami mengamati transisi dari tingkat kesuburan total yang lebih tinggi pada laki-laki menjadi lebih tinggi pada perempuan,” ungkap Henrik-Alexander Schubert, salah satu peneliti MPIDR. Perubahan ini didorong oleh penurunan angka kematian dan penyempitan kesenjangan harapan hidup antara perempuan dan laki-laki, yang membuat rasio jenis kelamin semakin condong ke laki-laki.Kapan Transisi Terjadi di Berbagai Wilayah?Transisi ini tidak terjadi serentak di seluruh dunia. Di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, peralihan sudah terjadi sejak tahun 1960-an dan 1970-an. Sementara di sebagian besar Amerika Latin, perubahan baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan Oseania, Amerika Selatan, dan Asia juga mulai mengalami pergeseran ini belakangan.Perbedaan waktu ini terkait dengan transisi demografis masing-masing wilayah, termasuk tingkat urbanisasi, akses pendidikan, dan perubahan norma sosial.Dampak dan Tantangan yang MunculMeningkatnya proporsi laki-laki dalam populasi menyebabkan semakin banyak pria lajang yang tidak memiliki anak—bukan karena pilihan, melainkan karena faktor di luar kendali. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kesehatan yang lebih buruk dan ketergantungan pada perawatan profesional di usia tua.Para peneliti menekankan perlunya kebijakan untuk mengatasi kesenjangan ini. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain:Memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat untuk mencegah aborsi berbasis jenis kelamin.Meningkatkan pendidikan dan peluang kerja bagi laki-laki lajang yang belum memiliki anak.Memberikan solusi teknis seperti membentuk lingkaran pertemanan dan melegalkan teknologi reproduksi berbantuan.“Jika tantangan ini tidak diatasi, ada risiko reaksi balik budaya terhadap kesetaraan gender dan konflik sosial,” peringat tim peneliti.Jadi, anggapan lama bahwa kesuburan laki-laki selalu lebih tinggi ternyata tidak sepenuhnya benar. Data terkini membuktikan bahwa perempuan justru bisa lebih unggul dalam hal fertilitas. Informasi ini penting bagi kita semua, terutama dalam merencanakan keluarga dan memahami dinamika populasi masa depan.

Redaksi-02 Juli 2026
NaraCerita