Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

kesetaraan gender

Berita dan Informasi kesetaraan gender

5 artikel ditampilkan

Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan
Cerita Ibu

Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan

Siang itu, di sebuah toko reparasi di Celukan Bawang, Bali, seorang ibu muda terlihat sibuk menggendong anaknya sambil sesekali melayani pelanggan. Saat ditanya tentang usaha reparasi yang dijalaninya, ia menjawab singkat, “Ah, saya cuma bantu-bantu jaga toko kalau suami pergi.” Namun, di balik jawaban sederhana itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam.Sosok di Balik LayarPerempuan bernama Nur itu sebenarnya bukan sekadar penjaga toko. Ia aktif membantu proses reparasi, mulai dari menerima pelanggan hingga memahami kerusakan alat. Sayangnya, pengakuan atas perannya masih minim. Hal yang sama dialami Mega, pemilik toko reparasi di Sukawati, Gianyar. Saat kami datang, pandangan langsung tertuju pada dua teknisi laki-laki yang sedang memperbaiki TV, padahal Megalah yang mengelola semua operasional toko.Fenomena ini bukan hal baru. Sosiolog Janet Finch menyebutnya sebagai incorporated wives, istri yang “terserap” ke dalam pekerjaan suami tanpa pengakuan formal. Kontribusi mereka sering dianggap biasa saja atau bahkan sengaja disembunyikan. Padahal, tanpa mereka, usaha tersebut mungkin tak akan berjalan lancar.Pembagian Peran yang TimpangSurvei Kopernik di Bali menemukan fakta menarik. Dari 22 praktisi reparasi yang disurvei, hanya empat yang perempuan. Mereka bekerja sebagai pemilik toko, penjahit, atau penerima pesanan di toko elektronik. Pembagian peran berbasis gender masih kental terlihat, di mana laki-laki lebih dominan di bagian teknis.Mega mengaku sering harus menolak pelanggan karena keterbatasan suku cadang. “Kalau TV merek lama, kami minta pelanggan pesan dulu komponennya,” ujarnya. Keputusan seperti ini butuh pemahaman mendalam, dan Mega memilikinya. Sayangnya, keahliannya jarang dianggap sebagai kapasitas teknis yang mumpuni.Mengapa Perempuan Masih Sulit Dilihat?Akademisi Inggris, Cynthia Cockburn, menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap maskulin. Perempuan yang menguasainya dianggap pengecualian, bukan hal lumrah. Hal ini membuat kompetensi Nur dan Mega luput dari pengakuan, meski mereka mampu mengelola usaha reparasi dengan baik.Padahal, potensi perempuan di bidang ini sangat besar. Survei Kopernik terhadap 223 rumah tangga menunjukkan 52 persen responden tertarik mengikuti lokakarya reparasi, dan 42,5 persen di antaranya adalah perempuan. Sayangnya, ekosistem reparasi belum sepenuhnya mendukung mereka.Potensi yang Belum TergarapData menunjukkan 44 persen barang rusak di Gerokgak dan Gianyar berhasil diperbaiki, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 4 persen. Namun, masih banyak barang yang berakhir di tempat sampah karena keterbatasan teknisi. Padahal, 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki daripada membeli baru, salah satu angka tertinggi di dunia.Kisah Nur dan Mega mengajarkan kita bahwa perempuan punya peran besar dalam sektor reparasi. Sudah saatnya kita membuka mata dan memberi ruang bagi mereka untuk tampil, bukan hanya sebagai pembantu, melainkan sebagai ahli yang diakui. Dengan begitu, ekosistem reparasi di Indonesia bisa tumbuh lebih kuat dan inklusif.

Redaksi-07 Agustus 2026
Karier Perempuan Bukan Urusan Izin Suami
Cerita Ibu

Karier Perempuan Bukan Urusan Izin Suami

Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mewajibkan ASN perempuan mendapatkan persetujuan suami untuk mutasi kerja bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah cerminan cara pandang yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak sepenuhnya mandiri dalam menentukan arah kariernya. Padahal, dalam pengelolaan ASN, seharusnya yang menjadi pertimbangan utama adalah kebutuhan organisasi, profesionalisme, dan hak-hak warga negara, bukan siapa yang memberi restu di rumah.Standar Ganda yang MembingungkanYang paling menyedot perhatian adalah ketimpangan yang terang-terangan. Rekan kerja laki-laki yang sudah berkeluarga bisa mengajukan mutasi tanpa perlu izin istri. Artinya, ada perlakuan yang berbeda hanya berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dianggap mampu mengambil keputusan profesional sendiri, sementara perempuan seolah butuh 'pengawasan' dari suami. Ini bukan hanya soal birokrasi, melainkan juga soal keadilan yang terasa janggal.Melanggar Konstitusi?Jika kita buka Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27 ayat (1) dengan tegas menyatakan semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Pasal 28D ayat (1) juga menjamin hak atas pengakuan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil. Bahkan Pasal 28I ayat (2) secara eksplisit melarang diskriminasi atas dasar apa pun. Dengan demikian, aturan yang membedakan hak antara ASN laki-laki dan perempuan ini jelas bertentangan dengan semangat konstitusi kita.Indonesia juga sudah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) melalui UU No. 7 Tahun 1984. Komitmen ini mengikat negara untuk memastikan kesetaraan hak bagi perempuan di semua bidang, termasuk dunia kerja. Jadi, aturan yang mensyaratkan izin suami ini sebenarnya berdiri di atas fondasi yang goyah—bertentangan dengan janji Indonesia sendiri.Bukan Sekadar Administrasi, Ini Soal PandanganDampak dari kebijakan seperti ini tidak berhenti di meja birokrasi. Ia ikut membentuk cara masyarakat memandang relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Ketika negara sendiri mengeluarkan aturan yang membedakan hak berdasarkan jenis kelamin, pesan yang tersampaikan adalah bahwa perlakuan berbeda itu wajar dan sah. Ini bisa memperkuat stereotip gender yang sudah lama mengakar, dan justru memberi pembenaran baru pada ketimpangan.Padahal, pemerintah sudah memiliki arahan yang jelas melalui Pengarusutamaan Gender (PUG) yang tertuang dalam Inpres No. 9 Tahun 2000. Seluruh kementerian dan pemerintah daerah wajib mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap kebijakan agar manfaatnya dirasakan setara. Aturan izin suami ini jelas berjalan berlawanan arah dengan semangat tersebut.Demokrasi dan Keadilan SubstantifLebih jauh lagi, ini berbicara tentang kualitas demokrasi kita. Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga sejauh mana sistem menjamin persamaan hak semua warga negara. Ketika negara membatasi hak perempuan untuk mengambil keputusan karier tanpa alasan yang jelas, objektif, dan proporsional, maka fondasi negara hukum itu sendiri menjadi rapuh.Kebijakan yang baik seharusnya mampu memperkuat profesionalisme birokrasi sekaligus menjamin kesetaraan hak bagi seluruh ASN, tanpa memandang jenis kelamin. Sudah saatnya aturan semacam ini ditinjau ulang. Negara hadir untuk melindungi kesetaraan dan hak asasi setiap warga negaranya, bukan justru menjadi sumber perlakuan diskriminatif. Perempuan berhak menentukan jalan kariernya sendiri, tanpa harus menunggu izin dari siapa pun.

Redaksi-07 Agustus 2026
Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan
Gaya Hidup

Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan

Dulu, kata feminisme terasa seperti barang asing bagi saya. Saya lahir dan tumbuh di kampung, jauh dari hingar-bingar kota. Di lingkungan saya, feminisme sering dianggap sebagai ideologi sesat yang ingin menghancurkan moral perempuan dan keharmonisan keluarga. Banyak teman saya yang mencurigainya, bahkan menganggapnya musuh budaya. Saya sendiri awalnya enggan mendengarkan, lebih memilih menolak sebelum memahami.Namun, segalanya berubah ketika saya diajak mengikuti lokakarya tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Di sana, saya mulai membaca dan berdiskusi tentang feminisme. Perlahan, saya mengerti bahwa feminisme bukanlah ajaran untuk membenci laki-laki, melainkan cara berpikir untuk melawan penindasan yang dialami perempuan akibat prasangka masyarakat.Meski istilahnya masih asing, cara berpikir feminisme ternyata dekat dengan keseharian. Feminisme mengajarkan saya untuk bertanya: siapa yang berhak bicara? Siapa yang dibungkam? Siapa yang diuntungkan? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya pulang ke kampung dan meneliti kembali praktik sunat perempuan yang selama ini dianggap wajar.Sunat Perempuan: Tradisi yang Tak Pernah DipersoalkanDi Indonesia, sunat perempuan sering dibungkus sebagai tradisi, kewajiban agama, atau cara mensucikan anak perempuan. Praktiknya beragam: ada yang dilakukan dukun beranak, ada yang oleh bidan, ada yang simbolis, ada yang lebih invasif. Yang paling meresahkan saya bukanlah bentuknya, melainkan alasannya: mengapa tubuh bayi perempuan harus ditandai dan diatur sebelum ia bisa memahami tubuhnya sendiri?Saya yakin orang tua melakukan ini dengan niat baik. Mereka merasa sedang menjalankan ajaran atau melestarikan budaya. Namun, niat baik tidak lantas membuat praktik ini adil. Seperti kata seorang kiai feminis, sunat perempuan adalah tradisi diskriminatif, apalagi tidak ada perintah agama yang mewajibkannya.Perbedaan Perlakuan pada Tubuh Laki-laki dan PerempuanSunat laki-laki biasanya dikaitkan dengan kebersihan atau tanda kedewasaan. Sementara sunat perempuan selalu dilekati prasangka tentang hasrat, kesalehan, dan kehormatan keluarga. Tubuh perempuan sejak awal dianggap perlu dikendalikan agar tidak 'menyimpang'. Yang diatur bukan hanya fisiknya, tapi juga makna yang ditempelkan padanya.Bayi perempuan tidak bisa memilih atau menolak. Masyarakat sudah meletakkan beban moral di atas tubuhnya. Ketika ada yang berkata, 'Ini sudah tradisi,' saya ingin bertanya: tradisi macam apa yang harus dibayar dengan tubuh anak perempuan? Mengkritik tradisi bukan berarti membenci budaya. Budaya yang sehat seharusnya mampu memeriksa dirinya sendiri.Pertanyaan yang Sering DihindariBanyak orang bertanya, 'Bagaimana dengan agama?' Pertanyaan ini selalu muncul saat membahas sunat perempuan. Sayangnya, diskusi sering berhenti karena takut dituduh anti-agama. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar membawa kebaikan bagi anak perempuan?Dari lokakarya itu, saya menangkap feminisme sebagai kacamata yang membantu saya melihat hal-hal yang selama ini luput. Dengan kacamata biasa, kita mungkin menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dengan kacamata feminisme, saya melihat bahwa ada praktik yang disebut budaya, tapi menyimpan luka.Saya dulu mengira sunat perempuan hanya adat kampung saya. Ternyata praktik ini ada di banyak tempat dengan alasan yang sama: mengendalikan seksualitas perempuan. Saya terperangah. Bagaimana dengan ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuan saya? Apakah mereka dianggap begitu buruk sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi?Tubuh Perempuan Adalah Milik Mereka SendiriTubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Ia milik perempuan itu sendiri. Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa harus dengan menyunat tubuhnya. Saya tidak mengajak orang kampung meninggalkan budaya. Saya justru ingin mengajak mencintai budaya dengan lebih dewasa dan terbuka.Kampung bukan ruang hampa budaya. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kemanusiaan. Feminisme membantu saya melihat bahwa nilai-nilai itu harus berpihak pada keadilan, bukan sekadar melanggengkan tradisi yang melukai. Kini, sebagai lelaki kampung, saya bangga menyebut diri saya feminis—karena feminisme membuat saya lebih manusiawi.

Redaksi-31 Juli 2026
Priyanka Chopra Tegaskan Peran Rumah Tangga Bukan Hanya Urusan Perempuan
Cerita Ibu

Priyanka Chopra Tegaskan Peran Rumah Tangga Bukan Hanya Urusan Perempuan

Priyanka Chopra Jonas, yang dikenal sebagai aktris multitalenta, tak hanya bersinar di layar lebar. Ia juga lantang menyuarakan kesetaraan gender, termasuk dalam urusan domestik. Dalam penampilannya di Cannes Lions, ia dengan tegas menyatakan bahwa memasak dan membersihkan rumah bukanlah pekerjaan yang melekat pada gender tertentu.Pekerjaan Rumah Tangga: Keterampilan Dasar, Bukan Beban Gender"Membersihkan rumah dan memasak bukan pekerjaan perempuan. Itu adalah keterampilan dasar sebagai orang dewasa. Jangan mencampuradukkan gender dengan kemalasan," ujar Priyanka. Pernyataannya ini langsung memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak warganet setuju bahwa pembagian peran di rumah seharusnya lebih adil, tanpa memandang jenis kelamin.Priyanka menekankan bahwa kemampuan mengurus rumah tangga adalah keterampilan hidup yang harus dimiliki oleh setiap individu. Ia mengkritik pandangan yang masih menganggap pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab perempuan semata. Menurutnya, kemalasan bukanlah soal gender, melainkan soal pilihan dan tanggung jawab pribadi.Revolusi Industri Hiburan di Era DigitalTidak hanya soal rumah tangga, Priyanka juga berbicara tentang perubahan besar di industri hiburan. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin berkarya. "Dulu jika ingin masuk ke industri film, Anda harus menentukan ingin bekerja di bagian apa. Sangat sulit untuk bisa masuk ke industri ini," kenangnya.Kini, era digital mengubah segalanya. "Kalau Anda punya ide, rekam saja, unggah ke YouTube, dan itu bisa berkembang menjadi sebuah film besar. Ini adalah masa yang luar biasa untuk menjadi seorang entertainer dan bekerja di industri hiburan," ujarnya. Ia mencontohkan kesuksesan film horor Obsession yang berawal dari konten digital.Pesan Priyanka jelas: jangan biarkan gender membatasi peran kita. Baik di rumah maupun di industri kreatif, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan sukses. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk belajar dan berani mengambil langkah.

Redaksi-26 Juni 2026
Curhat Ibu Rumah Tangga Viral: Saat Ibu Tumbang, Rumah Ikut Berantakan
Gaya Hidup

Curhat Ibu Rumah Tangga Viral: Saat Ibu Tumbang, Rumah Ikut Berantakan

Media sosial kembali diramaikan oleh curhatan seorang ibu rumah tangga yang menyentuh hati. Akun Instagram @selvi_komaru_zaman mengunggah video yang memperlihatkan kondisi rumahnya yang berantakan—tumpukan pakaian kotor, dapur penuh piring, dan lantai berserakan. Dalam videonya, ia mengaku sedang tidak enak badan dan anaknya juga sakit, sehingga ia kewalahan membereskan rumah.Realita yang Sering TerabaikanDalam unggahan tersebut, Selvi—sapaan akrabnya—menceritakan bahwa ia merasa sedih karena harus tetap bekerja keras meski tubuhnya lemah. Ia menyadari bahwa ketika seorang ibu tumbang, seluruh rumah ikut kacau. "Ternyata kalau seorang ibu di rumah lagi tumbang, satu rumah langsung kelihatan bedanya. Bukan karena ngerasa aku paling hebat, tapi karena dari awal semua urusan memang udah dianggap otomatis jadi tugas perempuan," ungkapnya.Ia pun menyoroti ketidakadilan dalam pembagian tugas rumah tangga. "Yang makan juga bukan cuman satu orang. Yang pakai barang banyak. Yang bikin rumah berantakan juga banyak. Tapi anehnya, urusan beres-beres sering banget langsung identik sama ibu atau istri," tambah Selvi.Viral dan Banjir DukunganVideo Selvi telah ditonton lebih dari 1,8 juta kali dan mendapat banyak komentar dari warganet. Banyak yang merasa terwakili dan memberikan dukungan. Seorang netizen menulis, "Peluk dari kejauhan. Insyaallah setiap kebaikanmu berbalas pahala terbaik." Warganet lain menyarankan agar ia mengajarkan anak laki-lakinya untuk membantu pekerjaan rumah, demi memutus rantai patriarki.Selvi, yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga, pedagang, dan kreator konten, mengonfirmasi bahwa video tersebut adalah pengalaman pribadinya. Ia berharap curhatannya bisa membuka mata banyak orang bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya beban perempuan. "Saya ingin menyampaikan bahwa menjaga rumah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga, bukan hanya satu orang saja," tutup Selvi.

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita