Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

kesetaraan gender

Berita dan Informasi kesetaraan gender

9 artikel ditampilkan

Ketika Kompetensi Tak Cukup: Realita Kerja Inklusif di Indonesia
Gaya Hidup

Ketika Kompetensi Tak Cukup: Realita Kerja Inklusif di Indonesia

Ira adalah perempuan dengan disabilitas kraniofasial, kondisi bawaan yang memengaruhi struktur tulang tengkorak dan wajah. Kondisi ini sama sekali tidak memengaruhi kecerdasan atau kemampuan intelektualnya. Dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang sesuai, ia memberanikan diri melamar posisi data entry officer di sebuah bank pemerintah. Ia siap mengikuti seleksi dan dinilai berdasarkan kompetensi.Namun, kesempatan itu tak pernah datang. Saat mendaftar, Ira langsung diberi tahu bahwa perusahaan tidak membuka lowongan untuk penyandang disabilitas. Penolakan ini terasa janggal—bukan karena ia meminta perlakuan istimewa, melainkan karena ia hanya ingin diuji kemampuannya. Ia kecewa karena ditolak sebelum kecakapannya dipertimbangkan.Hambatan yang Muncul Sebelum UjianPengalaman Ira bukan kasus tunggal. Ia menggambarkan paradoks di tengah kemajuan kebijakan yang seharusnya melindungi penyandang disabilitas. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 31 Tahun 2026 yang memberikan insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Kebijakan ini patut diapresiasi, tetapi kasus Ira menunjukkan masih ada celah implementasi.Pertanyaannya: apakah semua penyandang disabilitas benar-benar terlindungi? Disabilitas bukan kategori tunggal. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 mendefinisikan disabilitas sebagai keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik yang berlangsung lama. Setiap kelompok memiliki kebutuhan berbeda, termasuk akomodasi yang layak.Dalam praktiknya, perusahaan cenderung memilih penyandang disabilitas yang dianggap mudah ditempatkan. Akibatnya, kelompok seperti penyandang disabilitas netra sering terabaikan. Pemenuhan kuota secara angka tidak menjamin kesempatan yang setara dan merata.Bukan Sekadar Regulasi, tapi Dukungan NyataPerdebatan soal rendahnya partisipasi penyandang disabilitas sering dikaitkan dengan pendidikan. Memang, lembaga vokasional masih kerap mengabaikan kebutuhan peserta didik dengan disabilitas. Namun, mengatakan mereka sulit bekerja semata-mata karena kurang kompeten juga tidak tepat. Banyak yang sudah punya kualifikasi, tetapi tak pernah diberi kesempatan membuktikannya.Hambatan juga berlanjut setelah diterima bekerja. Seorang penyandang disabilitas netra low vision yang bekerja sebagai kasir ritel mengalami kesulitan karena layar komputer tidak aksesibel. Ia tampak kurang terampil, padahal masalahnya ada pada perangkat kerja yang tidak sesuai.Ini menunjukkan bahwa diterima bekerja belum tentu berarti bekerja dalam lingkungan inklusif. Tanpa perangkat dan dukungan yang responsif terhadap ragam disabilitas, seseorang tidak memperoleh kesempatan yang setara.Apa yang Bisa Kita Lakukan?Untuk menciptakan dunia kerja yang benar-benar inklusif, diperlukan langkah nyata:Perluas pemahaman disabilitas: Setiap jenis disabilitas punya kebutuhan berbeda. Jangan samakan semua.Evaluasi berbasis kompetensi: Nilai kemampuan, bukan penampilan fisik atau jenis disabilitas.Sediakan akomodasi yang layak: Teknologi pembaca layar, perangkat aksesibel, dan penyesuaian lingkungan kerja.Awasi implementasi kebijakan: Pastikan insentif tidak hanya memenuhi kuota, tetapi juga mendorong kesetaraan.Dukung perusahaan: Berikan bantuan teknis dan finansial agar mereka mampu menyediakan akomodasi.Pada akhirnya, kerja inklusif bukan hanya tentang membuka pintu, tetapi memastikan setiap orang—terlepas dari bentuk tubuh dan jenis disabilitasnya—memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berkembang.

Redaksi-17 September 2026
Panduan Bijak Mendidik Anak Laki-Laki agar Terhindar dari Ideologi Incel
Keluarga

Panduan Bijak Mendidik Anak Laki-Laki agar Terhindar dari Ideologi Incel

Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah incel, singkatan dari involuntary celibate. Kelompok ini adalah komunitas daring yang merasa tertolak oleh perempuan dan kemudian menumbuhkan kebencian mendalam terhadap perempuan. Mereka menyalahkan perempuan atas segala kesulitan yang mereka alami, terutama dalam hal hubungan romantis.Gerakan ini semakin mendapat perhatian setelah serangkaian kasus kekerasan yang dilakukan oleh individu yang terpapar ideologi incel. Salah satunya adalah Elliot Rodger pada 2014, yang menewaskan enam orang sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Ia meninggalkan pesan balas dendam terhadap perempuan yang menolaknya. Setelah kejadian itu, namanya justru dianggap pahlawan oleh sebagian pengikut incel. Setahun kemudian, Alek Minassian, yang juga terinspirasi oleh Rodger, melakukan pembunuhan massal di Toronto dan menewaskan sepuluh orang.Kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa incel bukan sekadar sikap benci terhadap perempuan. Ideologi ini bisa berujung pada femisida, pembunuhan terhadap perempuan karena gendernya. Yang lebih mencemaskan, internalisasi paham ini sering terjadi secara diam-diam pada anak dan remaja laki-laki melalui algoritma media sosial, seperti yang digambarkan dalam serial Adolescence.Lalu, bagaimana caranya agar anak laki-laki kita tidak terjebak dalam lingkaran incel? Berikut beberapa panduan yang bisa kita terapkan di rumah, seperti yang dibagikan oleh Tua Maratua dan Raya, orang tua yang juga penerima Fellowship Berbagi Beban dari Magdalene dan Wave for Equality.1. Hapus Bias Gender dalam KeseharianNorma maskulinitas yang kaku sering menjadi pintu masuk bagi incel untuk memengaruhi anak laki-laki. Masyarakat patriarkis menuntut laki-laki untuk selalu tangguh, tidak emosional, dominan, dan menghindari sifat feminin. Padahal, kepatuhan yang berlebihan pada norma ini bisa membahayakan kesehatan mental dan fisik laki-laki. Mereka jadi enggan meminta bantuan profesional saat menghadapi masalah emosional, dan malah mencari validasi di komunitas daring yang justru memperkuat norma beracun tersebut.Untuk mematahkan norma ini, Tua, seorang ayah, membebaskan anaknya untuk mengoleksi dan bermain boneka beruang. Menurutnya, bermain boneka bisa membantu anak meregulasi emosi, menjadi lebih tenang, dan melatih motorik halus. Sementara itu, Raya, seorang ibu tunggal, tidak pernah melarang anak laki-lakinya memilih pakaian berwarna pink jika anaknya merasa nyaman. Baginya, yang terpenting adalah anak merasa nyaman dengan pilihannya sendiri.2. Tanamkan Nilai Kesetaraan GenderKelompok incel meyakini bahwa perempuan tidak dapat dipercaya dan harus dikendalikan oleh laki-laki. Mereka bahkan memiliki visi untuk merampas hak-hak perempuan. Untuk menangkalnya, kita perlu mengajarkan nilai kesetaraan gender sejak dini.Tua memberikan contoh nyata dengan membagi tugas rumah tangga secara setara bersama istrinya. Ketika keduanya bekerja, sepulang kerja mereka berbagi peran. Misalnya, Tua menemani anak mengerjakan PR, lalu bergantian memasak dan mencuci. Anak pun melihat bahwa pekerjaan rumah tangga tidak terikat pada gender tertentu.Raya menambahkan bahwa anak adalah peniru ulung. Kita bisa menunjukkan kesetaraan di meja makan, misalnya dengan mendengarkan pendapat ibu sebelum mengambil keputusan keluarga. Dengan begitu, anak laki-laki belajar menghormati pendapat perempuan dan memahami bahwa keputusan diambil bersama-sama.3. Ciptakan Komunikasi Terbuka dan EmpatiAnak laki-laki perlu merasa aman untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dianggap lemah. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, termasuk tentang interaksi di media sosial. Jika mereka mengalami penolakan atau perundungan, bantu mereka memproses emosi dengan cara yang sehat. Ajarkan bahwa penolakan adalah bagian dari hidup dan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenci orang lain.4. Batasi Paparan Konten Negatif di InternetAlgoritma media sosial bisa dengan cepat membawa anak ke konten-konten yang penuh kebencian. Awasi aktivitas daring mereka, gunakan fitur parental control, dan dampingi mereka saat mengakses internet. Diskusikan konten yang mereka tonton dan berikan pemahaman kritis tentang bahaya ideologi incel. Dengan begitu, anak lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh.Mendidik anak laki-laki agar terhindar dari ideologi incel memang bukan perkara mudah. Namun, dengan menghapus bias gender, menanamkan kesetaraan, membangun komunikasi terbuka, dan mengawasi dunia maya, kita bisa membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat, empatik, dan menghargai sesama.

Redaksi-15 September 2026
Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya
Gaya Hidup

Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya

Bayangkan sebuah alat kontrasepsi yang dipasang di tubuh pria, bekerja tanpa mengganggu hormon, dan bisa dilepas kapan saja. Itulah gambaran dari STEOM, sebuah perangkat kontrasepsi pria yang tengah dikembangkan oleh tim peneliti di Lille University Hospital, Prancis, bekerja sama dengan University of Liège.Proyek yang dipimpin oleh androlog Julie Prasivoravong ini bertujuan memberikan lebih banyak pilihan bagi pria, sekaligus mendorong pembagian tanggung jawab kontrasepsi yang lebih seimbang dalam pasangan.Mengenal STEOM: IUD untuk PriaSTEOM bekerja dengan prinsip mekanis, mirip dengan IUD (intrauterine device) yang digunakan perempuan. Alat ini menghambat perjalanan sperma melalui saluran reproduksi tanpa memengaruhi kadar hormon atau mematikan kesuburan secara permanen. Berbeda dengan pil KB atau implan hormonal, STEOM tidak mengandung hormon sehingga minim efek samping sistemik.Bagaimana Cara Pasangnya?Prosedur pemasangan STEOM terbilang cepat, hanya sekitar 15 menit dengan anestesi lokal. Dokter akan membuat sayatan kecil di skrotum, lalu memasukkan alat tersebut. Menariknya, tidak diperlukan jahitan atau perban besar, sehingga pemulihan pun relatif singkat. Setelah terpasang, STEOM dapat bertahan hingga tiga tahun. Jika ingin menghentikan kontrasepsi, alat ini bisa dilepas atau diganti oleh tenaga medis terlatih, dan kesuburan pria akan kembali seperti semula.Mengapa Inovasi Ini Penting?Selama ini, pilihan kontrasepsi pria sangat terbatas: kondom, metode alami (pantang berkala), atau vasektomi yang bersifat permanen. Kondisi ini membuat perempuan menanggung sebagian besar beban kontrasepsi, mulai dari pil harian, suntik, implan, hingga IUD hormonal yang kerap menimbulkan efek samping seperti kenaikan berat badan, migrain, penurunan libido, hingga perubahan suasana hati.Kehadiran STEOM membuka harapan akan tanggung jawab yang lebih setara. Di Prancis sendiri, jumlah pria yang menjalani vasektomi meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menandakan minat pria untuk lebih terlibat dalam pengaturan kelahiran.Tahapan Uji dan KetersediaanMeski menjanjikan, STEOM masih harus melalui perjalanan panjang sebelum bisa diakses publik. Uji praklinis dimulai pada Mei 2026 di University of Liège. Jika hasilnya memuaskan, uji klinis akan melibatkan sekitar 100 relawan di Prancis dan Belgia. Sebagai perangkat medis, STEOM wajib melewati regulasi ketat, sehingga diperkirakan baru tersedia secara komersial dalam 7 hingga 10 tahun ke depan.Respons Publik dan Diskusi GenderDi media sosial, kemunculan STEOM memicu perbincangan hangat. Banyak perempuan menyoroti betapa menariknya kontrasepsi pria yang bebas hormon, sementara perempuan telah lama mengonsumsi hormon tambahan dengan berbagai konsekuensi. Namun, sebagian pihak menilai langkah ini tetap positif karena memperluas pilihan dan mendorong pembagian tanggung jawab yang lebih adil.Terlepas dari pro dan kontra, STEOM menandai babak baru dalam dunia kontrasepsi. Inovasi ini tidak hanya soal teknologi medis, tetapi juga membuka ruang dialog tentang kesetaraan gender dan hak atas tubuh sendiri. Bagaimana menurutmu, apakah pasanganmu bersedia mencobanya nanti?

Redaksi-14 September 2026
Festival Musik Ini Ubah Panggung Jadi Ruang Solidaritas Perempuan
Gaya Hidup

Festival Musik Ini Ubah Panggung Jadi Ruang Solidaritas Perempuan

Di tengah terik matahari California, Great Park, Irvine berubah menjadi lautan mahkota bunga daisy dan gaun flora. Ribuan perempuan berkumpul, bukan hanya untuk menikmati musik, tetapi juga merayakan semangat kebersamaan yang jarang terlihat di festival-festival besar. Acara ini adalah Daisy Chain Fields, festival musik yang digagas oleh Olivia Rodrigo pada 29 Agustus lalu. Lebih dari Sekadar Festival Musik Daisy Chain Fields bukan sekadar ajang hiburan. Dalam satu hari, festival ini berhasil mengumpulkan sekitar 45.000 pengunjung dan menampilkan deretan musisi perempuan dengan genre yang sangat beragam. Dari rock alternatif 90-an seperti Garbage dan The Breeders, rap enerjik Doechii, punk Bikini Kill, pop queer Chappell Roan, hingga indie-pop melankolis Mitski dan Rachel Chinouriri. Semua tampil tanpa ada jadwal yang bentrok, sehingga penonton bisa menikmati semua pertunjukan tanpa harus memilih. Yang membuat festival ini istimewa adalah cara mereka memperlakukan para penampil. Di poster resmi, semua nama musisi dicetak dengan ukuran dan jenis huruf yang sama. Tidak ada yang lebih menonjol, entah itu legenda atau pendatang baru. Semua berdiri sejajar di atas panggung yang sama. Ini adalah pernyataan tegas bahwa di sini, tidak ada kompetisi. Melawan Budaya Kompetitif di Industri Musik Emma Madden, jurnalis musik The Guardian, pernah menyoroti bagaimana industri musik dan media sering membanding-bandingkan musisi perempuan, menciptakan persaingan yang tidak sehat. Laporan Book More Women 2025 bahkan menunjukkan bahwa hanya 21,6 persen headliners di sembilan festival besar dunia adalah perempuan. Angka ini membuktikan bahwa ketimpangan masih sangat terasa. Eli, penyanyi indie berusia 25 tahun yang menjadi salah satu penampil termuda di Daisy Chain Fields, menegaskan pentingnya ekosistem yang dibangun Rodrigo. Baginya, festival ini memberikan ruang bagi karya perempuan untuk diterima dan dihargai tanpa tekanan kompetitif dan kapitalistik. Solidaritas yang Diwujudkan dalam Aksi Daisy Chain Fields dirancang sejak awal sebagai gerakan sosial, bukan sekadar bisnis. Rodrigo terinspirasi oleh bayangan perempuan yang duduk di bawah pohon, merangkai bunga daisy, dan saling mendukung. Visi ini ia wujudkan dengan mengajak semua musisi untuk tidak menerima bayaran profesional. Seluruh keuntungan bersih festival, yang mencapai 20 juta dolar AS atau sekitar Rp354 miliar, disumbangkan sepenuhnya ke 10 organisasi non-profit yang fokus pada kesehatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan perempuan. Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego. Menurut Rodrigo, festival ini juga merupakan penghormatan untuk Lilith Fair, festival serba perempuan yang digagas Sarah McLachlan di akhir 1990-an. Lilith Fair membuktikan bahwa festival dengan penampil perempuan bisa sukses secara finansial dan membawa dampak sosial. Rodrigo bahkan menghubungi McLachlan terlebih dahulu untuk meminta restu dan masukan sebelum meluncurkan festivalnya. Perlawanan di Tengah Krisis Hak Perempuan Di tengah meningkatnya ancaman terhadap hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia, terutama dengan bangkitnya pemimpin-pemimpin dengan gaya kepemimpinan maskulin, Daisy Chain Fields menjadi simbol perlawanan yang ceria namun penuh makna. Melalui festival ini, Rodrigo dan para musisi lainnya menunjukkan bahwa perempuan bisa bersatu, saling mendukung, dan menciptakan perubahan nyata. Mereka tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga mempraktikkannya dalam setiap aspek acara. Daisy Chain Fields bukan sekadar festival musik. Ia adalah pernyataan bahwa solidaritas perempuan adalah kekuatan yang bisa mengubah industri dan dunia.

Redaksi-01 September 2026
Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan
Cerita Ibu

Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan

Siang itu, di sebuah toko reparasi di Celukan Bawang, Bali, seorang ibu muda terlihat sibuk menggendong anaknya sambil sesekali melayani pelanggan. Saat ditanya tentang usaha reparasi yang dijalaninya, ia menjawab singkat, “Ah, saya cuma bantu-bantu jaga toko kalau suami pergi.” Namun, di balik jawaban sederhana itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam.Sosok di Balik LayarPerempuan bernama Nur itu sebenarnya bukan sekadar penjaga toko. Ia aktif membantu proses reparasi, mulai dari menerima pelanggan hingga memahami kerusakan alat. Sayangnya, pengakuan atas perannya masih minim. Hal yang sama dialami Mega, pemilik toko reparasi di Sukawati, Gianyar. Saat kami datang, pandangan langsung tertuju pada dua teknisi laki-laki yang sedang memperbaiki TV, padahal Megalah yang mengelola semua operasional toko.Fenomena ini bukan hal baru. Sosiolog Janet Finch menyebutnya sebagai incorporated wives, istri yang “terserap” ke dalam pekerjaan suami tanpa pengakuan formal. Kontribusi mereka sering dianggap biasa saja atau bahkan sengaja disembunyikan. Padahal, tanpa mereka, usaha tersebut mungkin tak akan berjalan lancar.Pembagian Peran yang TimpangSurvei Kopernik di Bali menemukan fakta menarik. Dari 22 praktisi reparasi yang disurvei, hanya empat yang perempuan. Mereka bekerja sebagai pemilik toko, penjahit, atau penerima pesanan di toko elektronik. Pembagian peran berbasis gender masih kental terlihat, di mana laki-laki lebih dominan di bagian teknis.Mega mengaku sering harus menolak pelanggan karena keterbatasan suku cadang. “Kalau TV merek lama, kami minta pelanggan pesan dulu komponennya,” ujarnya. Keputusan seperti ini butuh pemahaman mendalam, dan Mega memilikinya. Sayangnya, keahliannya jarang dianggap sebagai kapasitas teknis yang mumpuni.Mengapa Perempuan Masih Sulit Dilihat?Akademisi Inggris, Cynthia Cockburn, menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap maskulin. Perempuan yang menguasainya dianggap pengecualian, bukan hal lumrah. Hal ini membuat kompetensi Nur dan Mega luput dari pengakuan, meski mereka mampu mengelola usaha reparasi dengan baik.Padahal, potensi perempuan di bidang ini sangat besar. Survei Kopernik terhadap 223 rumah tangga menunjukkan 52 persen responden tertarik mengikuti lokakarya reparasi, dan 42,5 persen di antaranya adalah perempuan. Sayangnya, ekosistem reparasi belum sepenuhnya mendukung mereka.Potensi yang Belum TergarapData menunjukkan 44 persen barang rusak di Gerokgak dan Gianyar berhasil diperbaiki, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 4 persen. Namun, masih banyak barang yang berakhir di tempat sampah karena keterbatasan teknisi. Padahal, 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki daripada membeli baru, salah satu angka tertinggi di dunia.Kisah Nur dan Mega mengajarkan kita bahwa perempuan punya peran besar dalam sektor reparasi. Sudah saatnya kita membuka mata dan memberi ruang bagi mereka untuk tampil, bukan hanya sebagai pembantu, melainkan sebagai ahli yang diakui. Dengan begitu, ekosistem reparasi di Indonesia bisa tumbuh lebih kuat dan inklusif.

Redaksi-07 Agustus 2026
Karier Perempuan Bukan Urusan Izin Suami
Cerita Ibu

Karier Perempuan Bukan Urusan Izin Suami

Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mewajibkan ASN perempuan mendapatkan persetujuan suami untuk mutasi kerja bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah cerminan cara pandang yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak sepenuhnya mandiri dalam menentukan arah kariernya. Padahal, dalam pengelolaan ASN, seharusnya yang menjadi pertimbangan utama adalah kebutuhan organisasi, profesionalisme, dan hak-hak warga negara, bukan siapa yang memberi restu di rumah.Standar Ganda yang MembingungkanYang paling menyedot perhatian adalah ketimpangan yang terang-terangan. Rekan kerja laki-laki yang sudah berkeluarga bisa mengajukan mutasi tanpa perlu izin istri. Artinya, ada perlakuan yang berbeda hanya berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dianggap mampu mengambil keputusan profesional sendiri, sementara perempuan seolah butuh 'pengawasan' dari suami. Ini bukan hanya soal birokrasi, melainkan juga soal keadilan yang terasa janggal.Melanggar Konstitusi?Jika kita buka Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27 ayat (1) dengan tegas menyatakan semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Pasal 28D ayat (1) juga menjamin hak atas pengakuan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil. Bahkan Pasal 28I ayat (2) secara eksplisit melarang diskriminasi atas dasar apa pun. Dengan demikian, aturan yang membedakan hak antara ASN laki-laki dan perempuan ini jelas bertentangan dengan semangat konstitusi kita.Indonesia juga sudah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) melalui UU No. 7 Tahun 1984. Komitmen ini mengikat negara untuk memastikan kesetaraan hak bagi perempuan di semua bidang, termasuk dunia kerja. Jadi, aturan yang mensyaratkan izin suami ini sebenarnya berdiri di atas fondasi yang goyah—bertentangan dengan janji Indonesia sendiri.Bukan Sekadar Administrasi, Ini Soal PandanganDampak dari kebijakan seperti ini tidak berhenti di meja birokrasi. Ia ikut membentuk cara masyarakat memandang relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Ketika negara sendiri mengeluarkan aturan yang membedakan hak berdasarkan jenis kelamin, pesan yang tersampaikan adalah bahwa perlakuan berbeda itu wajar dan sah. Ini bisa memperkuat stereotip gender yang sudah lama mengakar, dan justru memberi pembenaran baru pada ketimpangan.Padahal, pemerintah sudah memiliki arahan yang jelas melalui Pengarusutamaan Gender (PUG) yang tertuang dalam Inpres No. 9 Tahun 2000. Seluruh kementerian dan pemerintah daerah wajib mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap kebijakan agar manfaatnya dirasakan setara. Aturan izin suami ini jelas berjalan berlawanan arah dengan semangat tersebut.Demokrasi dan Keadilan SubstantifLebih jauh lagi, ini berbicara tentang kualitas demokrasi kita. Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga sejauh mana sistem menjamin persamaan hak semua warga negara. Ketika negara membatasi hak perempuan untuk mengambil keputusan karier tanpa alasan yang jelas, objektif, dan proporsional, maka fondasi negara hukum itu sendiri menjadi rapuh.Kebijakan yang baik seharusnya mampu memperkuat profesionalisme birokrasi sekaligus menjamin kesetaraan hak bagi seluruh ASN, tanpa memandang jenis kelamin. Sudah saatnya aturan semacam ini ditinjau ulang. Negara hadir untuk melindungi kesetaraan dan hak asasi setiap warga negaranya, bukan justru menjadi sumber perlakuan diskriminatif. Perempuan berhak menentukan jalan kariernya sendiri, tanpa harus menunggu izin dari siapa pun.

Redaksi-07 Agustus 2026
Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan
Gaya Hidup

Feminisme Mengubah Cara Pria Desa Memandang Tradisi Sunat Perempuan

Dulu, kata feminisme terasa seperti barang asing bagi saya. Saya lahir dan tumbuh di kampung, jauh dari hingar-bingar kota. Di lingkungan saya, feminisme sering dianggap sebagai ideologi sesat yang ingin menghancurkan moral perempuan dan keharmonisan keluarga. Banyak teman saya yang mencurigainya, bahkan menganggapnya musuh budaya. Saya sendiri awalnya enggan mendengarkan, lebih memilih menolak sebelum memahami.Namun, segalanya berubah ketika saya diajak mengikuti lokakarya tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Di sana, saya mulai membaca dan berdiskusi tentang feminisme. Perlahan, saya mengerti bahwa feminisme bukanlah ajaran untuk membenci laki-laki, melainkan cara berpikir untuk melawan penindasan yang dialami perempuan akibat prasangka masyarakat.Meski istilahnya masih asing, cara berpikir feminisme ternyata dekat dengan keseharian. Feminisme mengajarkan saya untuk bertanya: siapa yang berhak bicara? Siapa yang dibungkam? Siapa yang diuntungkan? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya pulang ke kampung dan meneliti kembali praktik sunat perempuan yang selama ini dianggap wajar.Sunat Perempuan: Tradisi yang Tak Pernah DipersoalkanDi Indonesia, sunat perempuan sering dibungkus sebagai tradisi, kewajiban agama, atau cara mensucikan anak perempuan. Praktiknya beragam: ada yang dilakukan dukun beranak, ada yang oleh bidan, ada yang simbolis, ada yang lebih invasif. Yang paling meresahkan saya bukanlah bentuknya, melainkan alasannya: mengapa tubuh bayi perempuan harus ditandai dan diatur sebelum ia bisa memahami tubuhnya sendiri?Saya yakin orang tua melakukan ini dengan niat baik. Mereka merasa sedang menjalankan ajaran atau melestarikan budaya. Namun, niat baik tidak lantas membuat praktik ini adil. Seperti kata seorang kiai feminis, sunat perempuan adalah tradisi diskriminatif, apalagi tidak ada perintah agama yang mewajibkannya.Perbedaan Perlakuan pada Tubuh Laki-laki dan PerempuanSunat laki-laki biasanya dikaitkan dengan kebersihan atau tanda kedewasaan. Sementara sunat perempuan selalu dilekati prasangka tentang hasrat, kesalehan, dan kehormatan keluarga. Tubuh perempuan sejak awal dianggap perlu dikendalikan agar tidak 'menyimpang'. Yang diatur bukan hanya fisiknya, tapi juga makna yang ditempelkan padanya.Bayi perempuan tidak bisa memilih atau menolak. Masyarakat sudah meletakkan beban moral di atas tubuhnya. Ketika ada yang berkata, 'Ini sudah tradisi,' saya ingin bertanya: tradisi macam apa yang harus dibayar dengan tubuh anak perempuan? Mengkritik tradisi bukan berarti membenci budaya. Budaya yang sehat seharusnya mampu memeriksa dirinya sendiri.Pertanyaan yang Sering DihindariBanyak orang bertanya, 'Bagaimana dengan agama?' Pertanyaan ini selalu muncul saat membahas sunat perempuan. Sayangnya, diskusi sering berhenti karena takut dituduh anti-agama. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar membawa kebaikan bagi anak perempuan?Dari lokakarya itu, saya menangkap feminisme sebagai kacamata yang membantu saya melihat hal-hal yang selama ini luput. Dengan kacamata biasa, kita mungkin menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dengan kacamata feminisme, saya melihat bahwa ada praktik yang disebut budaya, tapi menyimpan luka.Saya dulu mengira sunat perempuan hanya adat kampung saya. Ternyata praktik ini ada di banyak tempat dengan alasan yang sama: mengendalikan seksualitas perempuan. Saya terperangah. Bagaimana dengan ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuan saya? Apakah mereka dianggap begitu buruk sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi?Tubuh Perempuan Adalah Milik Mereka SendiriTubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Ia milik perempuan itu sendiri. Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa harus dengan menyunat tubuhnya. Saya tidak mengajak orang kampung meninggalkan budaya. Saya justru ingin mengajak mencintai budaya dengan lebih dewasa dan terbuka.Kampung bukan ruang hampa budaya. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kemanusiaan. Feminisme membantu saya melihat bahwa nilai-nilai itu harus berpihak pada keadilan, bukan sekadar melanggengkan tradisi yang melukai. Kini, sebagai lelaki kampung, saya bangga menyebut diri saya feminis—karena feminisme membuat saya lebih manusiawi.

Redaksi-31 Juli 2026
Priyanka Chopra Tegaskan Peran Rumah Tangga Bukan Hanya Urusan Perempuan
Cerita Ibu

Priyanka Chopra Tegaskan Peran Rumah Tangga Bukan Hanya Urusan Perempuan

Priyanka Chopra Jonas, yang dikenal sebagai aktris multitalenta, tak hanya bersinar di layar lebar. Ia juga lantang menyuarakan kesetaraan gender, termasuk dalam urusan domestik. Dalam penampilannya di Cannes Lions, ia dengan tegas menyatakan bahwa memasak dan membersihkan rumah bukanlah pekerjaan yang melekat pada gender tertentu.Pekerjaan Rumah Tangga: Keterampilan Dasar, Bukan Beban Gender"Membersihkan rumah dan memasak bukan pekerjaan perempuan. Itu adalah keterampilan dasar sebagai orang dewasa. Jangan mencampuradukkan gender dengan kemalasan," ujar Priyanka. Pernyataannya ini langsung memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak warganet setuju bahwa pembagian peran di rumah seharusnya lebih adil, tanpa memandang jenis kelamin.Priyanka menekankan bahwa kemampuan mengurus rumah tangga adalah keterampilan hidup yang harus dimiliki oleh setiap individu. Ia mengkritik pandangan yang masih menganggap pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab perempuan semata. Menurutnya, kemalasan bukanlah soal gender, melainkan soal pilihan dan tanggung jawab pribadi.Revolusi Industri Hiburan di Era DigitalTidak hanya soal rumah tangga, Priyanka juga berbicara tentang perubahan besar di industri hiburan. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin berkarya. "Dulu jika ingin masuk ke industri film, Anda harus menentukan ingin bekerja di bagian apa. Sangat sulit untuk bisa masuk ke industri ini," kenangnya.Kini, era digital mengubah segalanya. "Kalau Anda punya ide, rekam saja, unggah ke YouTube, dan itu bisa berkembang menjadi sebuah film besar. Ini adalah masa yang luar biasa untuk menjadi seorang entertainer dan bekerja di industri hiburan," ujarnya. Ia mencontohkan kesuksesan film horor Obsession yang berawal dari konten digital.Pesan Priyanka jelas: jangan biarkan gender membatasi peran kita. Baik di rumah maupun di industri kreatif, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan sukses. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk belajar dan berani mengambil langkah.

Redaksi-26 Juni 2026
Curhat Ibu Rumah Tangga Viral: Saat Ibu Tumbang, Rumah Ikut Berantakan
Gaya Hidup

Curhat Ibu Rumah Tangga Viral: Saat Ibu Tumbang, Rumah Ikut Berantakan

Media sosial kembali diramaikan oleh curhatan seorang ibu rumah tangga yang menyentuh hati. Akun Instagram @selvi_komaru_zaman mengunggah video yang memperlihatkan kondisi rumahnya yang berantakan—tumpukan pakaian kotor, dapur penuh piring, dan lantai berserakan. Dalam videonya, ia mengaku sedang tidak enak badan dan anaknya juga sakit, sehingga ia kewalahan membereskan rumah.Realita yang Sering TerabaikanDalam unggahan tersebut, Selvi—sapaan akrabnya—menceritakan bahwa ia merasa sedih karena harus tetap bekerja keras meski tubuhnya lemah. Ia menyadari bahwa ketika seorang ibu tumbang, seluruh rumah ikut kacau. "Ternyata kalau seorang ibu di rumah lagi tumbang, satu rumah langsung kelihatan bedanya. Bukan karena ngerasa aku paling hebat, tapi karena dari awal semua urusan memang udah dianggap otomatis jadi tugas perempuan," ungkapnya.Ia pun menyoroti ketidakadilan dalam pembagian tugas rumah tangga. "Yang makan juga bukan cuman satu orang. Yang pakai barang banyak. Yang bikin rumah berantakan juga banyak. Tapi anehnya, urusan beres-beres sering banget langsung identik sama ibu atau istri," tambah Selvi.Viral dan Banjir DukunganVideo Selvi telah ditonton lebih dari 1,8 juta kali dan mendapat banyak komentar dari warganet. Banyak yang merasa terwakili dan memberikan dukungan. Seorang netizen menulis, "Peluk dari kejauhan. Insyaallah setiap kebaikanmu berbalas pahala terbaik." Warganet lain menyarankan agar ia mengajarkan anak laki-lakinya untuk membantu pekerjaan rumah, demi memutus rantai patriarki.Selvi, yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga, pedagang, dan kreator konten, mengonfirmasi bahwa video tersebut adalah pengalaman pribadinya. Ia berharap curhatannya bisa membuka mata banyak orang bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya beban perempuan. "Saya ingin menyampaikan bahwa menjaga rumah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga, bukan hanya satu orang saja," tutup Selvi.

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita