Si Kecil Belum Lancar Menelan MPASI? Ini Penjelasan dan Tipsnya
Memulai MPASI adalah momen yang dinanti sekaligus mendebarkan. Ada banyak hal baru yang harus dipelajari si kecil, termasuk bagaimana cara menelan makanan yang teksturnya berbeda dari ASI. Jadi, jika di hari-hari pertama si kecil masih 'bermain' dengan makanannya, jangan langsung putus asa ya, Bunda.Kenapa Bayi Sering Mengeluarkan Makanan?Sejak lahir, bayi terbiasa dengan gerakan mengisap. Lidahnya bergerak maju dan ke atas untuk mendapatkan ASI. Nah, untuk menelan makanan padat, lidah harus bergerak ke arah sebaliknya, yaitu ke belakang untuk mendorong makanan masuk ke kerongkongan. Perbedaan gerakan inilah yang membuat bayi perlu waktu untuk beradaptasi.Refleks ini dikenal dengan istilah tongue thrust reflex. Refleks ini secara alami akan berkurang seiring dengan seringnya bayi berlatih mengunyah dan menelan. Jadi, jangan salahkan diri sendiri atau si kecil jika makanan sering keluar lagi di minggu-minggu awal, ya.Berapa Lama Bayi Beradaptasi dengan MPASI?Tidak ada patokan pasti kapan bayi akan lancar menelan. Umumnya, proses adaptasi ini berlangsung sekitar 2-4 minggu. Ada bayi yang cepat, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Yang terpenting adalah Bunda melihat adanya perkembangan, sekecil apa pun itu.Beberapa tanda perkembangan yang bisa diamati antara lain:Bayi mulai jarang mengeluarkan makanan dari mulutnya.Ia terlihat lebih antusias saat melihat sendok atau mangkuknya.Sesi makan menjadi lebih lama, tidak hanya 3 menit.Ia mulai menunjukkan reaksi terhadap rasa, misalnya mengernyit saat merasakan asam atau tersenyum saat mencoba makanan manis.Lemak: Komponen Penting yang Wajib Adabanyak ibu yang ragu menambahkan lemak di awal MPASI. Padahal, lemak sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi bayi yang masih kecil. Organisasi kesehatan anak di Indonesia, IDAI, justru merekomendasikan lemak sebagai komponen wajib sejak awal MPASI.Lemak berperan penting dalam pertumbuhan otak bayi yang sedang pesat. Minyak zaitun (extra virgin olive oil) adalah salah satu pilihan yang baik karena kandungan lemak tak jenuh tunggalnya yang tinggi dan rasanya yang lembut. Bunda juga bisa memvariasikan dengan minyak kelapa, mentega tawar, atau kuning telur ayam kampung.Kapan Bunda Harus Khawatir?Sebenarnya, Bunda tidak perlu khawatir jika kondisi berikut ini terpenuhi:Bayi mau membuka mulut saat disuapi.Tidak ada tanda-tanda alergi seperti ruam kulit, gatal, atau gangguan pernapasan.Pencernaan bayi lancar, tidak diare atau sembelit parah.Bayi masih aktif menyusu ASI atau susu formula.Berat badan bayi tidak mengalami penurunan.Bayi tidak menangis atau muntah hebat saat makan.Jika semua poin di atas terpenuhi, berarti MPASI berjalan dengan baik. Yang perlu diwaspadai adalah jika bayi menunjukkan tanda-tanda seperti muntah proyektil, diare terus-menerus, atau berat badan turun. Segera konsultasikan dengan dokter anak jika hal ini terjadi.Tips Agar Sesi Makan Lebih MenyenangkanBerikut beberapa trik yang bisa Bunda coba untuk membuat si kecil lebih semangat makan:Pilih waktu yang tepat. Berikan MPASI saat bayi merasa lapar ringan, sekitar 1-1,5 jam setelah menyusu.Pastikan posisi duduk bayi nyaman dan tegak. Gunakan kursi makan khusus bayi jika perlu.Ciptakan suasana makan yang tenang tanpa gangguan seperti TV atau mainan.Perhatikan tekstur makanan. Mulailah dengan tekstur yang lembut dan tidak terlalu encer.Ingat, tujuan MPASI di awal adalah memperkenalkan rasa, tekstur, dan melatih keterampilan menelan. Jadi, jangan terlalu fokus pada berapa banyak makanan yang masuk. Yang penting adalah si kecil menunjukkan ketertarikan dan tidak menolak makanan secara berlebihan.Bunda juga perlu memastikan asupan ASI tetap terjaga. Di usia ini, ASI masih menjadi sumber nutrisi utama. Jangan mengurangi frekuensi menyusu secara drastis hanya karena si kecil sudah mulai MPASI.

