Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

perempuan desa

Berita dan Informasi perempuan desa

2 artikel ditampilkan

Koperasi Desa Merah Putih: Antara Janji Kesejahteraan dan Ancaman bagi Perempuan
Gaya Hidup

Koperasi Desa Merah Putih: Antara Janji Kesejahteraan dan Ancaman bagi Perempuan

Pagi itu, Sarita dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Lahan kebun kolektif yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan dan ruang berbagi bagi kelompok perempuannya di Desa Kuku, Poso, Sulawesi Tengah, tiba-tiba berubah menjadi bangunan bercat merah putih. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berdiri di atas tanah yang mereka garap.“Kami tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba sudah ada bangunan di sana,” tutur Sarita dalam sebuah diskusi publik yang digelar Solidaritas Perempuan, mengutip pernyataannya pada Minggu (28/7).Kelompok Perempuan Mawongi yang ia pimpin selama ini memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam padi dan jagung. Selain menjadi sumber pangan keluarga, kebun itu juga menjadi tempat berbagi benih dan pengetahuan antar perempuan. Kini, semua itu lenyap.Kebijakan Top-Down yang Abai Suara PerempuanKDMP adalah program koperasi serba usaha yang mencakup produksi, konsumsi, penyediaan sarana pertanian, hingga simpan pinjam. Program ini dijalankan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025, dan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri. Pemerintah menyebutnya sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional untuk memodernisasi tata kelola ekonomi desa.Namun, temuan Solidaritas Perempuan menunjukkan realitas yang berbeda. Pembentukan KDMP dinilai sangat sentralistis, tanpa melibatkan partisipasi masyarakat desa, apalagi perempuan.“Pemerintah desa tidak punya ruang untuk menentukan apakah program ini sesuai dengan kebutuhan warganya. Semua diputuskan dari atas,” kata Finna Falah Husani, Staf Peneliti Solidaritas Perempuan.Minimnya pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan membuat program ini tak mempertimbangkan dampak langsung pada kehidupan mereka. Akibatnya, akses dan kontrol perempuan terhadap lahan garapan hilang, dan ruang hidup mereka tergerus.Dari Hilangnya Lahan hingga Ancaman EkonomiDampak KDMP tak hanya soal fisik lahan. Solidaritas Perempuan menemukan bahwa program ini berpotensi menggeser ruang ekonomi perempuan. Dengan harga barang yang lebih murah dan distribusi barang bersubsidi yang terpusat di KDMP, muncul kekhawatiran akan monopoli pasar desa.“Usaha kecil yang dikelola perempuan bisa mati karena mereka tidak bisa bersaing dengan harga yang ditawarkan KDMP,” ujar Finna.Armayanti Sanusi, Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, menegaskan bahwa kebijakan yang tidak netral bisa berujung pada pemiskinan perempuan. “Program tanpa perencanaan matang justru merugikan,” tegasnya.Lebih mengkhawatirkan lagi, ada indikasi KDMP mulai merambah sektor ekstraktif. Di Desa Poto, Kupang, ditemukan rencana pengelolaan tambang mangan oleh salah satu KDMP. Hal ini berpotensi mengancam lingkungan dan mengurangi akses perempuan terhadap tanah dan air.Anggaran Desa Tergerus, Beban Perempuan BertambahPendanaan KDMP yang bersumber dari dana desa juga menjadi masalah serius. Asesmen Solidaritas Perempuan di enam wilayah menunjukkan bahwa alokasi dana untuk KDMP mencapai 70-80 persen dari total dana desa. Akibatnya, program prioritas lain seperti pemberdayaan ekonomi perempuan, pendidikan, dan kesehatan terpangkas.“Honor kader Posyandu terancam tidak dibayar. Program-program yang menyasar perempuan jadi korban,” ungkap Finna.Solidaritas Perempuan menyebut fenomena ini sebagai feminisasi beban fiskal, di mana kebijakan anggaran negara secara tidak proporsional membebani perempuan. “Negara menentukan prioritas yang tidak berpihak pada perempuan,” pungkas Armayanti.

Redaksi-29 Juli 2026
Ibu-Ibu Desa Jadi Pahlawan Masa Depan Anak Lewat Gerakan Ini
Keluarga

Ibu-Ibu Desa Jadi Pahlawan Masa Depan Anak Lewat Gerakan Ini

Selama ini, kita sering melihat ibu-ibu desa sebagai pilar utama keluarga. Mereka yang mengurus anak, memasak, dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Tapi tahukah Bunda, peran mereka kini semakin luas? Lewat gerakan Srikandi Jaga Desa, para perempuan desa didorong untuk turun langsung memastikan generasi muda tumbuh di lingkungan yang sehat, aman, dan jauh dari pengaruh buruk.Apa Itu Srikandi Jaga Desa?Srikandi Jaga Desa adalah sayap organisasi dari ABPEDNAS yang fokus pada penguatan peran perempuan dalam pembangunan desa. Gerakan ini lahir karena sadar bahwa perempuan punya potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan anak dan perempuan.Perempuan Desa, Pahlawan EkonomiData BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, atau sekitar 37 juta orang. Kontribusi mereka terhadap PDB nasional mencapai 61 persen. Luar biasa, kan? Lewat Srikandi Jaga Desa, para perempuan desa difasilitasi untuk mengembangkan UMKM dan potensi lokal, sehingga kemandirian ekonomi keluarga semakin kuat.Munas Pertama: Konsolidasi NasionalPada 2 Juli 2026, Musyawarah Nasional (Munas) perdana Srikandi Jaga Desa digelar di Jakarta. Acara ini menjadi ajang konsolidasi bagi pengurus dari pusat hingga daerah. Mereka menyamakan visi dan misi sebelum pelantikan resmi keesokan harinya. Ketua Umum DPP Srikandi Jaga Desa, Ella Nurlaela Tubagoes, menekankan pentingnya wadah terorganisir bagi perempuan desa.Pengawasan dari Hati NuraniDalam Munas tersebut, Ketua Dewan Pengawas ABPEDNAS Prof. Dr. Reda Manthovani menegaskan bahwa Srikandi Jaga Desa bukan sekadar pelengkap organisasi. Mereka adalah pilar pengawasan yang rasional dan humanis di tingkat akar rumput. Dengan melibatkan perempuan, potensi penyimpangan kebijakan desa bisa ditekan.Sinergi untuk Desa TangguhKetua Umum DPP ABPEDNAS Ir. H. Indra Utama, M.PWK., menambahkan bahwa membangun desa yang mandiri tidak bisa tanpa peran perempuan. Sinergi antara BPD dan inisiatif perempuan akan menciptakan ekosistem desa yang berdaya tahan tinggi. Sementara itu, Dewan Pembina Sherly Tjoanda Laos mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi dan ketahanan mental anak bermula dari keluarga. Perempuan yang berdaya secara ekonomi akan punya suara lebih lantang dalam menentukan masa depan desa.Mari Dukung Perempuan DesaGerakan Srikandi Jaga Desa membuktikan bahwa ibu-ibu desa adalah pahlawan masa depan anak-anak kita. Dengan semangat "Perempuan Berdaya, Desa Berjaya, Indonesia Maju", mereka siap mengawal pembangunan desa yang transparan, memberdayakan UMKM, dan melindungi generasi muda. Yuk, kita dukung terus perjuangan mereka!

Redaksi-03 Juli 2026
NaraCerita