Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

pola asuh

Berita dan Informasi pola asuh

5 artikel ditampilkan

Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah
Keluarga

Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah

Belakangan ini, nama dr. Gia Pratama Putra makin dikenal publik lewat konten-konten edukatifnya. Ia juga aktif membuat podcast yang membahas soal keluarga dan keseharian. Dalam salah satu episode terbaru, dr. Gia mengajak serta orang tua dan adiknya untuk berbincang hangat soal pola asuh yang mereka terima sejak kecil.Momen menarik muncul saat sang adik membuka cerita tentang bagaimana mereka berdua dibesarkan dengan gaya hidup sederhana, padahal kondisi keluarga mereka sebenarnya cukup mapan. Sang adik mengungkapkan bahwa kebiasaan hidup pas-pasan yang diajarkan ayah mereka justru menjadi bekal berharga untuk membangun mental yang kuat.“Menurut Dede, salah satu yang mengajarkan kita punya mental toughness adalah hidup sederhana, hidup pas-pasan. Padahal sebetulnya enggak sesulit itu,” ujar sang adik dalam podcast tersebut, seperti dikutip dari akun TikTok @giapratamamd. Dr. Gia pun mengamini, “Iya, jadi kita terbiasa gitu.”Terbiasa Naik Angkutan Umum Sejak KecilKebiasaan sederhana itu sudah ditanamkan sejak dr. Gia dan adiknya masih kecil. Sang ayah kerap mengajak mereka naik metromini untuk berangkat ke sekolah. Tentu saja, sang ibu sempat tidak sepakat dengan cara ini. Namun, ia sadar bahwa itu bagian dari didikan sang suami agar anak-anaknya mandiri.“Kalau itu menjadi basic, yang harus diucapkan terima kasih itu Papa,” kata ibunda dr. Gia. Ia pun berbagi cerita lucu sekaligus mengharukan, “Setiap anak mau naik angkot, yang nangis ini (ibunya). Dianterin ke metromini, Mama ngikutin sambil nyetir. ‘Itu anak gue mau diapain sih?’ Diam-diam ngikutin metromini.”Ibunda dr. Gia mengaku bahwa mereka sering berbeda pendapat soal pengasuhan. Namun, ia menyadari bahwa pola asuh sang suami tidaklah salah. “Jadi sering sekali kita beda pendapat dalam hal itu. Tetapi Mama sebetulnya menyadari bahwa itu benar. Tapi hati seorang ibu tidak ikhlas, ‘Masa anak gue naik angkot?’, karena apa? Saya bisa nyetir, saya bisa nganterin ke kampus. Tapi enggak boleh (sama suami),” kenangnya.Pentingnya Mengajarkan Hidup Sederhana pada AnakKisah dr. Gia ini mengingatkan kita bahwa mengajarkan kesederhanaan pada anak bukanlah hal yang sulit. Kuncinya ada pada bagaimana kita menanamkan tujuan hidup yang kuat pada mereka. Pakar dan penulis buku The Purpose Code, Jordan Grumet, MD, menjelaskan bahwa memiliki tujuan hidup adalah unsur penting untuk kebahagiaan dan kepuasan hidup.“Mengajarkan tujuan hidup dengan mencontohkan gairah yang dirasakan orang tua lebih efektif daripada sekadar memberikan nasihat kepada anak-anak,” ungkapnya. Lalu, bagaimana cara praktisnya? Berikut tiga langkah yang bisa Bunda coba di rumah.Menjadi Teladan yang BaikAnak-anak adalah peniru ulung. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika orang tua menunjukkan semangat dan kegembiraan dalam menjalani aktivitas atau hobi, anak-anak akan menangkap energi positif itu.“Ketika orang tua menekuni aktivitas dan minat yang membuat mereka bersemangat, anak-anak akan memperhatikannya. Mereka akan melihat orang tua sangat terlibat dalam sesuatu yang memberi kegembiraan dan kepuasan, dan itu dapat memicu rasa ingin tahu mereka sendiri,” jelas Grumet.Biarkan Anak Memilih BarangnyaSaat mengajarkan hidup sederhana, penting untuk memberi anak kendali atas barang-barang miliknya. Biarkan mereka memutuskan barang apa yang ingin disimpan dan apa yang akan disumbangkan. Walaupun pilihan mereka mungkin tidak selalu sesuai harapan Bunda, hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa aman pada diri mereka.Jelaskan Manfaat Hidup SederhanaJangan lupa untuk mengomunikasikan manfaat dari gaya hidup sederhana. Misalnya, saat Bunda dan Si Kecil merapikan rumah, tunjukkan secara langsung bagaimana barang yang lebih sedikit memberi lebih banyak waktu untuk bermain atau melakukan hal yang mereka sukai. Dengan begitu, anak akan belajar menghargai bahwa menyederhanakan hidup justru membuka lebih banyak kesempatan untuk kebahagiaan.Kisah dr. Gia Pratama dan keluarganya menjadi pengingat bahwa gaya hidup sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan sebuah pilihan untuk membangun karakter yang kuat. Semoga cerita ini bisa menginspirasi Bunda dalam mendidik buah hati di rumah ya.

Redaksi-07 Agustus 2026
Rahasia Pola Asuh 5:1 untuk Hubungan Hangat dengan Anak
Kesehatan Keluarga

Rahasia Pola Asuh 5:1 untuk Hubungan Hangat dengan Anak

Sebagai ibu, kita sering kali tanpa sadar lebih fokus pada kesalahan anak daripada hal-hal baik yang mereka lakukan. Padahal, membangun hubungan yang sehat dengan buah hati adalah fondasi penting bagi tumbuh kembangnya. Salah satu cara yang kini banyak direkomendasikan oleh para ahli adalah menerapkan pola asuh 5:1. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus menciptakan suasana rumah yang lebih harmonis.Apa Itu Pola Asuh 5:1?Pola asuh 5:1 pertama kali diperkenalkan oleh psikolog terkenal, John Gottman, PhD. Dalam penelitiannya tentang hubungan pernikahan, Gottman menemukan bahwa pasangan yang langgeng memiliki lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif. Prinsip ini kemudian diadaptasi ke dalam pengasuhan anak.Artinya, Bunda perlu berusaha memberikan lebih banyak pujian, umpan balik positif, dan momen kebersamaan yang berkualitas dibandingkan dengan koreksi atau teguran. Misalnya, jika Bunda sering mengomentari saat anak bertengkar dengan saudaranya, cobalah juga untuk mengapresiasi saat mereka bermain rukun. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan diperhatikan, bukan hanya saat melakukan kesalahan.Mengapa Pola Asuh Ini Efektif?Menurut Carla C. Allan, PhD, seorang psikolog klinis di Phoenix Children's, menerapkan aturan 5:1 secara konsisten dapat memberikan contoh pengaturan emosi yang baik bagi anak. Hal ini juga mengurangi stres dalam keluarga dan membantu membangun kepercayaan serta ketahanan mental anak.Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan interaksi positif cenderung merasa aman dan didukung. Mereka tidak perlu mencari perhatian dengan cara negatif karena sudah mendapatkan perhatian yang cukup. Selain itu, mereka termotivasi untuk berperilaku baik karena didorong oleh keinginan internal, bukan karena takut dihukum.Olivia Bergeron, LCSW, seorang psikoterapis, menambahkan bahwa hubungan yang terbentuk dari pola asuh ini membuat anak lebih termotivasi secara intrinsik. Mereka melakukan hal yang benar karena ingin, bukan karena paksaan dari luar.Penerapan di Setiap Usia AnakKabar baiknya, pola asuh 5:1 bisa diterapkan untuk anak di segala usia, Bunda. Namun, cara mengekspresikannya perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.Balita: Mereka belajar bahwa kasih sayang Bunda tidak bersyarat. Pujian yang hangat dan antusias sangat efektif untuk usia ini.Anak usia sekolah: Mereka mulai memahami bahwa nilai diri mereka tidak hanya ditentukan oleh prestasi. Bunda bisa memberikan pengakuan atas usaha mereka, bukan hanya hasil akhir.Remaja: Mereka cenderung lebih menyukai pengakuan yang halus dan tulus. Hindari pujian yang berlebihan, fokuslah pada apresiasi atas kompetensi dan usaha mereka.Bukan Berarti PermisifPenting untuk digarisbawahi, pola asuh 5:1 bukanlah gaya pengasuhan permisif yang membiarkan anak tanpa aturan. Justru, pendekatan ini menjadi landasan yang kuat untuk menetapkan batasan dengan kerja sama. Anak akan lebih menerima aturan ketika mereka merasa dihargai dan dipahami.Pola asuh 5:1 bukanlah rumus matematika yang harus dihitung secara kaku, melainkan pengingat untuk menyeimbangkan interaksi kita dengan anak. Kuncinya adalah konsistensi dan kesadaran diri. Jangan ragu untuk memulai langkah kecil, seperti memberi pujian tulus setiap kali anak melakukan hal baik. Rasakan sendiri bagaimana suasana rumah berubah menjadi lebih hangat dan penuh cinta.

Redaksi-31 Juli 2026
Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak
Keluarga

Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh cinta, tapi juga tantangan. Kadang, niat baik kita malah berujung pada pola asuh yang tidak sehat. Istilah 'toxic parenting' mungkin terdengar berat, tapi faktanya banyak dari kita tanpa sadar melakukannya. Dampaknya? Bisa menghambat perkembangan emosi dan mental anak hingga dewasa.1. Emosi yang Meledak-ledakWajar kok kalau sesekali kita merasa lelah dan marah. Tapi kalau anak selalu hidup dalam ketakutan melihat emosi orang tua yang tidak stabil, ini masalah besar. Anak jadi tidak merasa aman dan kesulitan mengelola emosinya sendiri. Mereka butuh konsistensi agar tumbuh percaya diri.2. Kabur Batasan antara Orang Tua dan AnakSayang, seringkali kita terlalu 'terbuka' atau sebaliknya, terlalu ikut campur. Misalnya, menceritakan masalah dewasa di depan anak, atau tidak memberi mereka ruang pribadi. Akibatnya, anak jadi manja atau justru menjauh karena merasa sesak.3. Memaksakan Jalan Hidup AnakSetiap anak punya takdir dan minatnya sendiri. Saat kita memaksakan kehendak, misalnya memilihkan sekolah atau hobi yang kita anggap terbaik, tanpa mendengar keinginan mereka, kita sedang merampas kemandiriannya. Biarkan mereka belajar dari kesalahan sendiri.4. Overprotektif dan Terlalu MengontrolMengawasi anak memang penting, tapi kalau semua gerak-geriknya diatur, termasuk siapa temannya dan tontonan apa yang boleh, anak jadi tidak punya inisiatif. Pola asuh 'helikopter' ini malah bikin anak memberontak atau tidak percaya diri.5. Memanfaatkan Rasa BersalahKata-kata seperti 'Ibu sedih kalau kamu nakal' atau 'Ayah kecewa' sering dipakai agar anak menurut. Padahal, ini adalah bentuk manipulasi. Anak jadi merasa bersalah terus-menerus dan tidak berani mengambil keputusan sendiri.6. Gaslighting: Meremehkan Perasaan AnakPernah bilang 'Ah, kamu lebay' atau 'Itu nggak terjadi, kamu ngimpi'? Itu namanya gaslighting. Anak jadi ragu dengan perasaannya sendiri. Mereka belajar bahwa apa yang mereka rasakan tidak valid, padahal perasaan mereka penting.7. Kritik Berlebihan pada PenampilanKomentar soal berat badan atau bentuk tubuh, meski maksudnya bercanda, bisa membekas. Anak jadi terobsesi dengan penampilan dan berisiko mengalami gangguan makan. Lebih baik fokus pada kesehatan daripada penampilan fisik.8. Memaksa Anak Memilih Antara Orang TuaSetelah bercerai atau dalam konflik, kadang orang tua meminta anak memihak. Ini sangat membebani jiwa anak. Mereka butuh dicintai kedua belah pihak tanpa harus memilih. Jangan jadikan anak sebagai alat.9. Membuat Anak Merasa Tidak DiinginkanUcapan seperti 'Dasar merepotkan' atau 'Andai saja kamu tidak ada' sungguh menyakitkan. Anak akan merasa keberadaannya adalah beban. Harga diri mereka hancur dan sulit membangun hubungan sehat di masa depan.Sadari bahwa perubahan kecil dalam cara kita berinteraksi bisa berdampak besar. Yuk, mulai sekarang lebih peka dan perbaiki pola asuh kita. Anak-anak layak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan pengertian.

Redaksi-01 Juli 2026
Kisah Pilu di Balik Tindak Kekerasan: Ayah Akui Manja Anak karena Lebih Tampan
Gaya Hidup

Kisah Pilu di Balik Tindak Kekerasan: Ayah Akui Manja Anak karena Lebih Tampan

Nama Taufik Hidayat mendadak viral setelah aksi kejinya terhadap YTR terbongkar. Pria berusia 30 tahun itu dituduh menyekap dan menganiaya kekasihnya hingga korban mengalami cacat permanen. Setelah buron selama beberapa waktu, Taufik akhirnya ditangkap di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/6/26) malam. Kini ia tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polda Jawa Barat.Pengakuan Ayah yang MengejutkanTak lama setelah penangkapan, keluarga Taufik angkat bicara. Sang ayah, Tata, mengungkapkan bahwa Taufik adalah anak kesayangannya. Alasannya? Taufik dianggap lebih tampan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.“Benar (paling) disayang. Ganteng gitu lah, beda dari yang (saudara) lain,” kata Tata dalam podcast bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.Tata juga mengakui bahwa ia sering membela Taufik saat berkelahi dengan orang lain. Sikap memanjakan ini ternyata berlangsung sejak kecil. Dedi Mulyadi pun berkomentar, “Kalau sampai orang tua dipukul oleh anaknya pakai kayu dan orang tuanya memaafkan, itu cermin anak dimanja.”Kekerasan pada Ayah SendiriPerilaku kekerasan Taufik ternyata bukan hanya pada kekasihnya. Saat masih tinggal bersama ayahnya, Taufik pernah memukul kepala Tata dengan kayu hanya karena lapar dan tidak ada ikan untuk dimakan. Saat itu, ibunya sudah meninggal dunia.“Dia datang ke sawah, langsung pukul. Untung saya ada teman dua orang, jadi ditolong. Habis itu dia kabur mungkin selama satu minggu, lalu kembali dan minta maaf sambil nangis,” ungkap Tata.Alasan di Balik PenyekapanSetelah ditangkap, Taufik mengakui semua perbuatannya. Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan menyatakan bahwa Taufik melakukan aksi tersebut di bawah pengaruh alkohol. “Setiap hari konsumsi alkohol, selalu berdebat dan bercekcok dengan kekasihnya, dan terjadilah penganiayaan seperti itu,” ujar Rudi.Selama pelarian, Taufik sempat bersembunyi di Tangerang, namun merasa tidak aman dan kembali ke Jawa Barat hingga akhirnya tertangkap. Polisi melacaknya melalui aktivitas transaksi. Hasil tes urine menunjukkan Taufik negatif narkotika.Kondisi Korban dan Harapan KeluargaKorban YTR hingga kini masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya berangsur membaik, namun keluarga masih menjaga mentalnya. Bibi YTR, Erni, mengungkapkan bahwa YTR sudah bisa diajak berkomunikasi dan mulai bersemangat. Namun, ia menegaskan bahwa masa depan keponakannya suram karena cacat permanen akibat penganiayaan.“Kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Masa depan (korban) masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan,” ungkap Erni.Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang dampak pola asuh yang salah dan pentingnya keadilan bagi korban kekerasan.

Redaksi-27 Juni 2026
Pola Asuh Cerdas yang Bikin Anak Tumbuh Sukses
Gaya Hidup

Pola Asuh Cerdas yang Bikin Anak Tumbuh Sukses

Menjadi orang tua bukanlah perjalanan yang mudah. Ada kalanya kita ingin terus melindungi anak, namun sadar bahwa mereka harus belajar mandiri. Orang tua dengan kecerdasan tinggi biasanya memiliki cara unik dalam mendidik anak. Mereka lebih fokus membangun kemandirian dan tanggung jawab, bukan sekadar prestasi akademis. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa kamu tiru.1. Kelola Emosi dengan BaikSaat lelah dan stres, wajar jika emosi memuncak. Namun, meluapkan amarah dengan berteriak justru tidak efektif. Penelitian dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa berteriak bisa sama menyakitkannya dengan hukuman fisik. Anak yang sering diteriaki rentan mengalami masalah perilaku. Orang tua cerdas memilih tetap tenang, menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak.2. Bangun Komunikasi TerbukaKesibukan sering membuat orang tua lupa meluangkan waktu bicara dari hati ke hati. Padahal, komunikasi yang baik membentuk anak yang berani menyampaikan kebutuhan. Sebuah studi Pew Research Center mengungkap, 39% ibu bekerja penuh waktu merasa kurang waktu bersama anak. Orang tua cerdas menyisihkan waktu setiap hari untuk mengobrol, sehingga anak tumbuh dengan harga diri tinggi.3. Pilih Kata dengan BijakKata-kata yang terucap tanpa sadar bisa meninggalkan luka. Psikolog Jeffrey Bernstein menegaskan, komentar kritis mengikis rasa percaya diri anak. Alih-alih mengomel, gunakan kalimat yang membangun. Misalnya, “Kamu bisa kok, coba lagi” daripada “Kok sih begini terus?”. Ini membuat anak lebih termotivasi.4. Dorong Kreativitas Tanpa BatasBanyak orang tua khawatir kreativitas mengganggu fokus belajar. Padahal, bermain dan berkreasi justru mengasah imajinasi dan kemampuan berpikir. Biarkan anak menggambar, bernyanyi, atau bereksperimen. Kegiatan ini membantu mereka menemukan bakat dan minat.5. Beri Ruang untuk GagalRasa khawatir membuat orang tua terlalu protektif. Padahal, kegagalan adalah guru terbaik. Penelitian dari Universitas West Virginia menunjukkan, pola asuh overprotektif meningkatkan risiko depresi dan menurunkan prestasi akademik. Biarkan anak belajar dari kesalahan, agar mereka tumbuh tangguh.6. Pupuk Kemandirian Sejak DiniOrang tua cerdas mengajarkan anak melakukan hal sendiri, seperti merapikan mainan atau menyiapkan bekal. Kemandirian membuat anak percaya diri dan siap menghadapi tantangan. Mulailah dengan tugas sederhana, lalu tingkatkan seiring usia.7. Hargai Kebebasan BerekspresiSetiap anak unik. Daripada memaksakan kehendak, biarkan mereka memilih hobi atau cara belajar sendiri. Kebebasan ini mengembangkan rasa tanggung jawab dan kreativitas. Orang tua hanya perlu mengawasi dari jauh.8. Ajak Anak Bertanggung JawabBerikan tanggung jawab kecil, seperti menyiram tanaman atau menjaga adik. Hal ini melatih disiplin dan empati. Anak belajar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya.9. Ajarkan Belajar dari KesalahanKetika anak gagal, jangan langsung memarahi. Tanyakan, “Apa yang bisa kamu pelajari?”. Ini membangun pola pikir berkembang. Anak tidak takut mencoba hal baru karena mereka tahu kegagalan adalah bagian dari proses.10. Apresiasi Proses, Bukan HasilPujilah usaha anak, bukan hanya nilai bagus. Misalnya, “Kamu sudah belajar keras, bagus!”. Ini membuat anak menghargai kerja keras, bukan sekadar hasil akhir. Mereka pun lebih termotivasi untuk terus berkembang.Dengan menerapkan kebiasaan ini, kamu tidak hanya membantu anak cerdas secara intelektual, tapi juga emosional dan sosial. Ingat, setiap anak punya potensi luar biasa. Tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing mereka menemukan cahaya itu.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita