Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

pola asuh

Berita dan Informasi pola asuh

8 artikel ditampilkan

Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru
Keluarga

Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru

Gentle parenting belakangan menjadi topik hangat di kalangan orang tua, terutama para ibu. Pendekatan ini menekankan empati, komunikasi, dan kedekatan dengan anak. Namun, sering kali konsepnya disalahartikan sebagai pola asuh yang membebaskan anak tanpa batas. Padahal, gentle parenting tetap memiliki aturan dan disiplin yang jelas.Apa Sebenarnya Gentle Parenting?Menurut psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith, gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. "Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak, disiplin yang penuh perhatian, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ujarnya. Tujuannya adalah mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih sayang, namun tetap konsisten pada batasan sehat.Beda dengan Permissive ParentingBanyak yang menganggap gentle parenting sama dengan permissive parenting. Padahal, keduanya berbeda. Permissive parenting cenderung minim aturan dan memberikan kebebasan berlebihan, sering kali untuk menghindari konflik. Sementara gentle parenting tetap memberikan batasan yang jelas dan konsisten, meski disampaikan dengan empati. Orang tua tetap memegang kendali, bukan anak yang mengatur segalanya.Kesalahpahaman yang Sering TerjadiBerikut beberapa anggapan keliru tentang gentle parenting yang perlu Bunda ketahui:Tidak boleh menolak keinginan anak. Faktanya, mengatakan 'tidak' adalah bagian penting dari gentle parenting. Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan bahwa gentle parenting adalah bentuk authoritative parenting yang memadukan batasan tegas dengan hubungan hangat. Anak justru membutuhkan batasan agar merasa aman.Satu-satunya cara membesarkan anak yang baik. Tidak ada bukti ilmiah bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan yang benar. Penelitian justru menunjukkan bahwa authoritative parenting yang paling konsisten berdampak positif pada perkembangan anak.Orang tua tidak boleh marah. Menetapkan standar terlalu tinggi untuk selalu tenang justru bisa memicu burnout. Marah dan lelah adalah hal wajar. Anak tidak butuh orang tua sempurna, tetapi contoh bagaimana menghadapi emosi dengan sehat.Membuat anak manja. Gentle parenting tetap menerapkan aturan dan konsekuensi ketika dilanggar. Tujuannya memberi arahan, bukan menakut-nakuti, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi.Harus menghapus pola asuh masa kecil. Tidak perlu membandingkan dengan pengasuhan orang tua dulu. Yang terpenting adalah membangun hubungan yang aman dan penuh pengertian dengan anak, tanpa harus melupakan pengalaman masa lalu.Intinya, gentle parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang hadir dengan empati dan tetap teguh pada batasan yang sehat. Dengan pemahaman yang benar, Bunda dapat menerapkannya secara seimbang tanpa merasa terbebani.

Redaksi-08 Oktober 2026
Rangkaian Kalimat Ajaib yang Membuat Anak Lebih Terbuka pada Orang Tua
Keluarga

Rangkaian Kalimat Ajaib yang Membuat Anak Lebih Terbuka pada Orang Tua

Sebagai ibu, kita sering kali merasa sudah mengenal anak lebih baik dari dirinya sendiri. Namun, ada kalanya kita perlu memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaannya. Menurut psikolog Wendy Mogel, penulis The Blessing of a Skinned Knee, kunci komunikasi efektif dengan anak adalah menggunakan kalimat sederhana yang mampu menerima perasaan mereka tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.Berikut beberapa kalimat yang bisa Anda coba untuk memperbaiki komunikasi dengan buah hati:1. "Aku perlu memikirkannya dulu"Daripada langsung bereaksi terhadap permintaan atau pertanyaan anak, cobalah menunda sejenak dengan kalimat ini. Anda memberi diri sendiri waktu untuk berpikir, sekaligus mengajarkan anak bahwa mengambil keputusan perlu pertimbangan. Kebiasaan ini akan terbawa hingga mereka dewasa, membuat mereka lebih bijak dalam bertindak.2. "Bagaimana perasaanmu tentang itu?"Saat anak menghadapi situasi sulit atau melakukan kesalahan, tanyakan perasaannya. Pertanyaan ini mendorong anak untuk merefleksikan emosinya, sehingga mereka belajar memahami diri sendiri dan menghindari kesalahan yang sama.3. "Wow"Ketika anak bercerita tentang masalah atau tindakan yang kurang tepat, ungkapan "wow" bisa menjadi respons netral yang menunjukkan bahwa Anda mendengarkan tanpa langsung menghakimi. Ini memberi Anda waktu untuk menenangkan diri dan mencari solusi terbaik.4. "Mari kita cari sisi baiknya"Setelah anak selesai mengeluh, ajaklah mereka melihat hikmah dari masalah tersebut. Meski mungkin awalnya ditolak, perlahan anak akan belajar beradaptasi dan mengelola emosi dengan lebih baik.5. "Dengarkan tubuhmu"Alih-alih langsung menyimpulkan penyebab sakit perut atau kelelahan, bimbing anak untuk mengenali sinyal tubuhnya. Dengan begitu, mereka belajar mandiri dalam menjaga kesehatan dan memahami kebutuhan fisiknya.6. "Tarik napas"Kalimat singkat ini ampuh meredakan ketegangan saat transisi aktivitas. Ingatkan anak untuk menarik napas dalam-dalam, dan Anda pun bisa ikut melakukannya. Anak akan meniru cara Anda mengelola stres dengan tenang.7. "Apakah kamu ingin mengulanginya?"Saat anak berperilaku kurang baik, tanyakan dengan lembut apakah mereka ingin memperbaiki tindakannya. Kalimat ini tidak mempermalukan, melainkan mengajak anak bekerja sama dengan Anda.8. "Itu ide yang bagus"Apresiasi ide anak, sekecil apa pun, akan membangun rasa percaya diri dan kemampuan memecahkan masalah. Mereka akan merasa dihargai dan lebih terbuka untuk berkomunikasi.Dengan menerapkan kalimat-kalimat sederhana ini secara konsisten, hubungan Anda dan anak akan semakin erat. Komunikasi yang hangat dan penuh pengertian adalah kunci keluarga harmonis.

Redaksi-16 September 2026
Mama, Stres Saat Hamil Bisa Berdampak pada Kemampuan Sosial Anak
Kesehatan Keluarga

Mama, Stres Saat Hamil Bisa Berdampak pada Kemampuan Sosial Anak

Menjalani kehamilan memang tidak selalu mulus. Di samping perubahan fisik yang terjadi, Mama juga bisa dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari pekerjaan, kondisi keuangan, konflik rumah tangga, hingga rasa khawatir tentang proses melahirkan. Stres sesekali saat hamil sebenarnya wajar, tetapi stres yang berat atau berlangsung lama perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada janin.Hubungan Stres saat Hamil dengan Perkembangan AnakSejumlah penelitian menemukan bahwa kondisi psikologis ibu selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan anak, terutama dalam hal kemampuan mengatur emosi dan berinteraksi sosial. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menganalisis 71 penelitian dan menemukan adanya kaitan antara depresi serta kecemasan selama kehamilan dengan masalah sosial-emosional pada anak.Penelitian lain dalam Developmental Psychobiology menunjukkan bahwa stres maternal, terutama yang terkait peristiwa traumatis, berhubungan dengan temperamen anak, seperti meningkatnya respons emosi negatif dan menurunnya kemampuan regulasi diri. Kondisi ini bisa memengaruhi cara anak mengelola emosi dan merespons lingkungan sosialnya.Mekanisme di Balik Pengaruh Stres pada JaninPara ahli masih terus meneliti bagaimana stres ibu bisa memengaruhi janin. Salah satu teori melibatkan sistem respons stres tubuh, yaitu poros HPA (hipotalamus-hipofisis-adrenal). Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol lebih banyak. Selama kehamilan, perubahan ini dapat memengaruhi lingkungan biologis janin.Tinjauan sistematis pada 2024 yang melibatkan 71 penelitian dengan pencitraan otak menemukan bahwa distres maternal selama kehamilan berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsi otak janin, termasuk sistem limbik, korteks prefrontal, dan insula. Bagian-bagian ini berperan penting dalam regulasi emosi dan respons terhadap stres.Regulasi Emosi Anak yang Lebih MenantangKemampuan mengatur emosi adalah fondasi penting dalam hubungan sosial. Anak yang mudah frustrasi atau sulit menenangkan diri mungkin membutuhkan dukungan ekstra saat berinteraksi dengan orang lain. Tinjauan dari 32 penelitian menunjukkan bahwa stres dan kecemasan selama kehamilan berhubungan dengan reaktivitas negatif dan regulasi diri yang lebih rendah pada anak di dua tahun pertama kehidupannya. Namun, efek yang ditemukan umumnya berada pada tingkat rendah hingga sedang.Stres Bukan Vonis MutlakMama tidak perlu merasa bersalah jika pernah mengalami stres saat hamil. Penelitian menemukan hubungan statistik, bukan kepastian bahwa setiap anak akan mengalami masalah sosial. Perkembangan anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, pengasuhan, lingkungan, dan pengalaman sosial setelah lahir.Sebuah tinjauan di BMJ Open yang mencakup 44 penelitian juga menekankan bahwa distres psikologis selama kehamilan hanya berkaitan dengan perbedaan kecil pada perkembangan kognitif, bahasa, dan perilaku anak. Jadi, stres prenatal bukan satu-satunya penentu perkembangan anak.Tips Mengelola Stres Selama KehamilanMenjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik saat hamil. Berikut beberapa cara yang bisa Mama coba:Bercerita kepada pasangan atau orang terdekat tentang perasaan Mama.Melakukan aktivitas ringan yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik atau membaca buku.Menjaga pola tidur dan makan yang teratur.Melakukan relaksasi atau latihan pernapasan untuk menenangkan pikiran.Berolahraga ringan sesuai anjuran dokter, seperti jalan santai atau yoga hamil.Jika rasa cemas, sedih, atau tertekan terus berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan, psikolog, atau tenaga kesehatan mental. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan Mama dan Si Kecil.

Redaksi-30 Agustus 2026
Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah
Keluarga

Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah

Belakangan ini, nama dr. Gia Pratama Putra makin dikenal publik lewat konten-konten edukatifnya. Ia juga aktif membuat podcast yang membahas soal keluarga dan keseharian. Dalam salah satu episode terbaru, dr. Gia mengajak serta orang tua dan adiknya untuk berbincang hangat soal pola asuh yang mereka terima sejak kecil.Momen menarik muncul saat sang adik membuka cerita tentang bagaimana mereka berdua dibesarkan dengan gaya hidup sederhana, padahal kondisi keluarga mereka sebenarnya cukup mapan. Sang adik mengungkapkan bahwa kebiasaan hidup pas-pasan yang diajarkan ayah mereka justru menjadi bekal berharga untuk membangun mental yang kuat.“Menurut Dede, salah satu yang mengajarkan kita punya mental toughness adalah hidup sederhana, hidup pas-pasan. Padahal sebetulnya enggak sesulit itu,” ujar sang adik dalam podcast tersebut, seperti dikutip dari akun TikTok @giapratamamd. Dr. Gia pun mengamini, “Iya, jadi kita terbiasa gitu.”Terbiasa Naik Angkutan Umum Sejak KecilKebiasaan sederhana itu sudah ditanamkan sejak dr. Gia dan adiknya masih kecil. Sang ayah kerap mengajak mereka naik metromini untuk berangkat ke sekolah. Tentu saja, sang ibu sempat tidak sepakat dengan cara ini. Namun, ia sadar bahwa itu bagian dari didikan sang suami agar anak-anaknya mandiri.“Kalau itu menjadi basic, yang harus diucapkan terima kasih itu Papa,” kata ibunda dr. Gia. Ia pun berbagi cerita lucu sekaligus mengharukan, “Setiap anak mau naik angkot, yang nangis ini (ibunya). Dianterin ke metromini, Mama ngikutin sambil nyetir. ‘Itu anak gue mau diapain sih?’ Diam-diam ngikutin metromini.”Ibunda dr. Gia mengaku bahwa mereka sering berbeda pendapat soal pengasuhan. Namun, ia menyadari bahwa pola asuh sang suami tidaklah salah. “Jadi sering sekali kita beda pendapat dalam hal itu. Tetapi Mama sebetulnya menyadari bahwa itu benar. Tapi hati seorang ibu tidak ikhlas, ‘Masa anak gue naik angkot?’, karena apa? Saya bisa nyetir, saya bisa nganterin ke kampus. Tapi enggak boleh (sama suami),” kenangnya.Pentingnya Mengajarkan Hidup Sederhana pada AnakKisah dr. Gia ini mengingatkan kita bahwa mengajarkan kesederhanaan pada anak bukanlah hal yang sulit. Kuncinya ada pada bagaimana kita menanamkan tujuan hidup yang kuat pada mereka. Pakar dan penulis buku The Purpose Code, Jordan Grumet, MD, menjelaskan bahwa memiliki tujuan hidup adalah unsur penting untuk kebahagiaan dan kepuasan hidup.“Mengajarkan tujuan hidup dengan mencontohkan gairah yang dirasakan orang tua lebih efektif daripada sekadar memberikan nasihat kepada anak-anak,” ungkapnya. Lalu, bagaimana cara praktisnya? Berikut tiga langkah yang bisa Bunda coba di rumah.Menjadi Teladan yang BaikAnak-anak adalah peniru ulung. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika orang tua menunjukkan semangat dan kegembiraan dalam menjalani aktivitas atau hobi, anak-anak akan menangkap energi positif itu.“Ketika orang tua menekuni aktivitas dan minat yang membuat mereka bersemangat, anak-anak akan memperhatikannya. Mereka akan melihat orang tua sangat terlibat dalam sesuatu yang memberi kegembiraan dan kepuasan, dan itu dapat memicu rasa ingin tahu mereka sendiri,” jelas Grumet.Biarkan Anak Memilih BarangnyaSaat mengajarkan hidup sederhana, penting untuk memberi anak kendali atas barang-barang miliknya. Biarkan mereka memutuskan barang apa yang ingin disimpan dan apa yang akan disumbangkan. Walaupun pilihan mereka mungkin tidak selalu sesuai harapan Bunda, hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa aman pada diri mereka.Jelaskan Manfaat Hidup SederhanaJangan lupa untuk mengomunikasikan manfaat dari gaya hidup sederhana. Misalnya, saat Bunda dan Si Kecil merapikan rumah, tunjukkan secara langsung bagaimana barang yang lebih sedikit memberi lebih banyak waktu untuk bermain atau melakukan hal yang mereka sukai. Dengan begitu, anak akan belajar menghargai bahwa menyederhanakan hidup justru membuka lebih banyak kesempatan untuk kebahagiaan.Kisah dr. Gia Pratama dan keluarganya menjadi pengingat bahwa gaya hidup sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan sebuah pilihan untuk membangun karakter yang kuat. Semoga cerita ini bisa menginspirasi Bunda dalam mendidik buah hati di rumah ya.

Redaksi-07 Agustus 2026
Rahasia Pola Asuh 5:1 untuk Hubungan Hangat dengan Anak
Kesehatan Keluarga

Rahasia Pola Asuh 5:1 untuk Hubungan Hangat dengan Anak

Sebagai ibu, kita sering kali tanpa sadar lebih fokus pada kesalahan anak daripada hal-hal baik yang mereka lakukan. Padahal, membangun hubungan yang sehat dengan buah hati adalah fondasi penting bagi tumbuh kembangnya. Salah satu cara yang kini banyak direkomendasikan oleh para ahli adalah menerapkan pola asuh 5:1. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus menciptakan suasana rumah yang lebih harmonis.Apa Itu Pola Asuh 5:1?Pola asuh 5:1 pertama kali diperkenalkan oleh psikolog terkenal, John Gottman, PhD. Dalam penelitiannya tentang hubungan pernikahan, Gottman menemukan bahwa pasangan yang langgeng memiliki lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif. Prinsip ini kemudian diadaptasi ke dalam pengasuhan anak.Artinya, Bunda perlu berusaha memberikan lebih banyak pujian, umpan balik positif, dan momen kebersamaan yang berkualitas dibandingkan dengan koreksi atau teguran. Misalnya, jika Bunda sering mengomentari saat anak bertengkar dengan saudaranya, cobalah juga untuk mengapresiasi saat mereka bermain rukun. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan diperhatikan, bukan hanya saat melakukan kesalahan.Mengapa Pola Asuh Ini Efektif?Menurut Carla C. Allan, PhD, seorang psikolog klinis di Phoenix Children's, menerapkan aturan 5:1 secara konsisten dapat memberikan contoh pengaturan emosi yang baik bagi anak. Hal ini juga mengurangi stres dalam keluarga dan membantu membangun kepercayaan serta ketahanan mental anak.Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan interaksi positif cenderung merasa aman dan didukung. Mereka tidak perlu mencari perhatian dengan cara negatif karena sudah mendapatkan perhatian yang cukup. Selain itu, mereka termotivasi untuk berperilaku baik karena didorong oleh keinginan internal, bukan karena takut dihukum.Olivia Bergeron, LCSW, seorang psikoterapis, menambahkan bahwa hubungan yang terbentuk dari pola asuh ini membuat anak lebih termotivasi secara intrinsik. Mereka melakukan hal yang benar karena ingin, bukan karena paksaan dari luar.Penerapan di Setiap Usia AnakKabar baiknya, pola asuh 5:1 bisa diterapkan untuk anak di segala usia, Bunda. Namun, cara mengekspresikannya perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.Balita: Mereka belajar bahwa kasih sayang Bunda tidak bersyarat. Pujian yang hangat dan antusias sangat efektif untuk usia ini.Anak usia sekolah: Mereka mulai memahami bahwa nilai diri mereka tidak hanya ditentukan oleh prestasi. Bunda bisa memberikan pengakuan atas usaha mereka, bukan hanya hasil akhir.Remaja: Mereka cenderung lebih menyukai pengakuan yang halus dan tulus. Hindari pujian yang berlebihan, fokuslah pada apresiasi atas kompetensi dan usaha mereka.Bukan Berarti PermisifPenting untuk digarisbawahi, pola asuh 5:1 bukanlah gaya pengasuhan permisif yang membiarkan anak tanpa aturan. Justru, pendekatan ini menjadi landasan yang kuat untuk menetapkan batasan dengan kerja sama. Anak akan lebih menerima aturan ketika mereka merasa dihargai dan dipahami.Pola asuh 5:1 bukanlah rumus matematika yang harus dihitung secara kaku, melainkan pengingat untuk menyeimbangkan interaksi kita dengan anak. Kuncinya adalah konsistensi dan kesadaran diri. Jangan ragu untuk memulai langkah kecil, seperti memberi pujian tulus setiap kali anak melakukan hal baik. Rasakan sendiri bagaimana suasana rumah berubah menjadi lebih hangat dan penuh cinta.

Redaksi-31 Juli 2026
Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak
Keluarga

Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh cinta, tapi juga tantangan. Kadang, niat baik kita malah berujung pada pola asuh yang tidak sehat. Istilah 'toxic parenting' mungkin terdengar berat, tapi faktanya banyak dari kita tanpa sadar melakukannya. Dampaknya? Bisa menghambat perkembangan emosi dan mental anak hingga dewasa.1. Emosi yang Meledak-ledakWajar kok kalau sesekali kita merasa lelah dan marah. Tapi kalau anak selalu hidup dalam ketakutan melihat emosi orang tua yang tidak stabil, ini masalah besar. Anak jadi tidak merasa aman dan kesulitan mengelola emosinya sendiri. Mereka butuh konsistensi agar tumbuh percaya diri.2. Kabur Batasan antara Orang Tua dan AnakSayang, seringkali kita terlalu 'terbuka' atau sebaliknya, terlalu ikut campur. Misalnya, menceritakan masalah dewasa di depan anak, atau tidak memberi mereka ruang pribadi. Akibatnya, anak jadi manja atau justru menjauh karena merasa sesak.3. Memaksakan Jalan Hidup AnakSetiap anak punya takdir dan minatnya sendiri. Saat kita memaksakan kehendak, misalnya memilihkan sekolah atau hobi yang kita anggap terbaik, tanpa mendengar keinginan mereka, kita sedang merampas kemandiriannya. Biarkan mereka belajar dari kesalahan sendiri.4. Overprotektif dan Terlalu MengontrolMengawasi anak memang penting, tapi kalau semua gerak-geriknya diatur, termasuk siapa temannya dan tontonan apa yang boleh, anak jadi tidak punya inisiatif. Pola asuh 'helikopter' ini malah bikin anak memberontak atau tidak percaya diri.5. Memanfaatkan Rasa BersalahKata-kata seperti 'Ibu sedih kalau kamu nakal' atau 'Ayah kecewa' sering dipakai agar anak menurut. Padahal, ini adalah bentuk manipulasi. Anak jadi merasa bersalah terus-menerus dan tidak berani mengambil keputusan sendiri.6. Gaslighting: Meremehkan Perasaan AnakPernah bilang 'Ah, kamu lebay' atau 'Itu nggak terjadi, kamu ngimpi'? Itu namanya gaslighting. Anak jadi ragu dengan perasaannya sendiri. Mereka belajar bahwa apa yang mereka rasakan tidak valid, padahal perasaan mereka penting.7. Kritik Berlebihan pada PenampilanKomentar soal berat badan atau bentuk tubuh, meski maksudnya bercanda, bisa membekas. Anak jadi terobsesi dengan penampilan dan berisiko mengalami gangguan makan. Lebih baik fokus pada kesehatan daripada penampilan fisik.8. Memaksa Anak Memilih Antara Orang TuaSetelah bercerai atau dalam konflik, kadang orang tua meminta anak memihak. Ini sangat membebani jiwa anak. Mereka butuh dicintai kedua belah pihak tanpa harus memilih. Jangan jadikan anak sebagai alat.9. Membuat Anak Merasa Tidak DiinginkanUcapan seperti 'Dasar merepotkan' atau 'Andai saja kamu tidak ada' sungguh menyakitkan. Anak akan merasa keberadaannya adalah beban. Harga diri mereka hancur dan sulit membangun hubungan sehat di masa depan.Sadari bahwa perubahan kecil dalam cara kita berinteraksi bisa berdampak besar. Yuk, mulai sekarang lebih peka dan perbaiki pola asuh kita. Anak-anak layak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan pengertian.

Redaksi-01 Juli 2026
Kisah Pilu di Balik Tindak Kekerasan: Ayah Akui Manja Anak karena Lebih Tampan
Gaya Hidup

Kisah Pilu di Balik Tindak Kekerasan: Ayah Akui Manja Anak karena Lebih Tampan

Nama Taufik Hidayat mendadak viral setelah aksi kejinya terhadap YTR terbongkar. Pria berusia 30 tahun itu dituduh menyekap dan menganiaya kekasihnya hingga korban mengalami cacat permanen. Setelah buron selama beberapa waktu, Taufik akhirnya ditangkap di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/6/26) malam. Kini ia tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polda Jawa Barat.Pengakuan Ayah yang MengejutkanTak lama setelah penangkapan, keluarga Taufik angkat bicara. Sang ayah, Tata, mengungkapkan bahwa Taufik adalah anak kesayangannya. Alasannya? Taufik dianggap lebih tampan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.“Benar (paling) disayang. Ganteng gitu lah, beda dari yang (saudara) lain,” kata Tata dalam podcast bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.Tata juga mengakui bahwa ia sering membela Taufik saat berkelahi dengan orang lain. Sikap memanjakan ini ternyata berlangsung sejak kecil. Dedi Mulyadi pun berkomentar, “Kalau sampai orang tua dipukul oleh anaknya pakai kayu dan orang tuanya memaafkan, itu cermin anak dimanja.”Kekerasan pada Ayah SendiriPerilaku kekerasan Taufik ternyata bukan hanya pada kekasihnya. Saat masih tinggal bersama ayahnya, Taufik pernah memukul kepala Tata dengan kayu hanya karena lapar dan tidak ada ikan untuk dimakan. Saat itu, ibunya sudah meninggal dunia.“Dia datang ke sawah, langsung pukul. Untung saya ada teman dua orang, jadi ditolong. Habis itu dia kabur mungkin selama satu minggu, lalu kembali dan minta maaf sambil nangis,” ungkap Tata.Alasan di Balik PenyekapanSetelah ditangkap, Taufik mengakui semua perbuatannya. Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan menyatakan bahwa Taufik melakukan aksi tersebut di bawah pengaruh alkohol. “Setiap hari konsumsi alkohol, selalu berdebat dan bercekcok dengan kekasihnya, dan terjadilah penganiayaan seperti itu,” ujar Rudi.Selama pelarian, Taufik sempat bersembunyi di Tangerang, namun merasa tidak aman dan kembali ke Jawa Barat hingga akhirnya tertangkap. Polisi melacaknya melalui aktivitas transaksi. Hasil tes urine menunjukkan Taufik negatif narkotika.Kondisi Korban dan Harapan KeluargaKorban YTR hingga kini masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya berangsur membaik, namun keluarga masih menjaga mentalnya. Bibi YTR, Erni, mengungkapkan bahwa YTR sudah bisa diajak berkomunikasi dan mulai bersemangat. Namun, ia menegaskan bahwa masa depan keponakannya suram karena cacat permanen akibat penganiayaan.“Kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Masa depan (korban) masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan,” ungkap Erni.Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang dampak pola asuh yang salah dan pentingnya keadilan bagi korban kekerasan.

Redaksi-27 Juni 2026
Pola Asuh Cerdas yang Bikin Anak Tumbuh Sukses
Gaya Hidup

Pola Asuh Cerdas yang Bikin Anak Tumbuh Sukses

Menjadi orang tua bukanlah perjalanan yang mudah. Ada kalanya kita ingin terus melindungi anak, namun sadar bahwa mereka harus belajar mandiri. Orang tua dengan kecerdasan tinggi biasanya memiliki cara unik dalam mendidik anak. Mereka lebih fokus membangun kemandirian dan tanggung jawab, bukan sekadar prestasi akademis. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa kamu tiru.1. Kelola Emosi dengan BaikSaat lelah dan stres, wajar jika emosi memuncak. Namun, meluapkan amarah dengan berteriak justru tidak efektif. Penelitian dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa berteriak bisa sama menyakitkannya dengan hukuman fisik. Anak yang sering diteriaki rentan mengalami masalah perilaku. Orang tua cerdas memilih tetap tenang, menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak.2. Bangun Komunikasi TerbukaKesibukan sering membuat orang tua lupa meluangkan waktu bicara dari hati ke hati. Padahal, komunikasi yang baik membentuk anak yang berani menyampaikan kebutuhan. Sebuah studi Pew Research Center mengungkap, 39% ibu bekerja penuh waktu merasa kurang waktu bersama anak. Orang tua cerdas menyisihkan waktu setiap hari untuk mengobrol, sehingga anak tumbuh dengan harga diri tinggi.3. Pilih Kata dengan BijakKata-kata yang terucap tanpa sadar bisa meninggalkan luka. Psikolog Jeffrey Bernstein menegaskan, komentar kritis mengikis rasa percaya diri anak. Alih-alih mengomel, gunakan kalimat yang membangun. Misalnya, “Kamu bisa kok, coba lagi” daripada “Kok sih begini terus?”. Ini membuat anak lebih termotivasi.4. Dorong Kreativitas Tanpa BatasBanyak orang tua khawatir kreativitas mengganggu fokus belajar. Padahal, bermain dan berkreasi justru mengasah imajinasi dan kemampuan berpikir. Biarkan anak menggambar, bernyanyi, atau bereksperimen. Kegiatan ini membantu mereka menemukan bakat dan minat.5. Beri Ruang untuk GagalRasa khawatir membuat orang tua terlalu protektif. Padahal, kegagalan adalah guru terbaik. Penelitian dari Universitas West Virginia menunjukkan, pola asuh overprotektif meningkatkan risiko depresi dan menurunkan prestasi akademik. Biarkan anak belajar dari kesalahan, agar mereka tumbuh tangguh.6. Pupuk Kemandirian Sejak DiniOrang tua cerdas mengajarkan anak melakukan hal sendiri, seperti merapikan mainan atau menyiapkan bekal. Kemandirian membuat anak percaya diri dan siap menghadapi tantangan. Mulailah dengan tugas sederhana, lalu tingkatkan seiring usia.7. Hargai Kebebasan BerekspresiSetiap anak unik. Daripada memaksakan kehendak, biarkan mereka memilih hobi atau cara belajar sendiri. Kebebasan ini mengembangkan rasa tanggung jawab dan kreativitas. Orang tua hanya perlu mengawasi dari jauh.8. Ajak Anak Bertanggung JawabBerikan tanggung jawab kecil, seperti menyiram tanaman atau menjaga adik. Hal ini melatih disiplin dan empati. Anak belajar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya.9. Ajarkan Belajar dari KesalahanKetika anak gagal, jangan langsung memarahi. Tanyakan, “Apa yang bisa kamu pelajari?”. Ini membangun pola pikir berkembang. Anak tidak takut mencoba hal baru karena mereka tahu kegagalan adalah bagian dari proses.10. Apresiasi Proses, Bukan HasilPujilah usaha anak, bukan hanya nilai bagus. Misalnya, “Kamu sudah belajar keras, bagus!”. Ini membuat anak menghargai kerja keras, bukan sekadar hasil akhir. Mereka pun lebih termotivasi untuk terus berkembang.Dengan menerapkan kebiasaan ini, kamu tidak hanya membantu anak cerdas secara intelektual, tapi juga emosional dan sosial. Ingat, setiap anak punya potensi luar biasa. Tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing mereka menemukan cahaya itu.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita