Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

teknologi

Berita dan Informasi teknologi

3 artikel ditampilkan

AI Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Siapa Sebenarnya Sumber Rekomendasinya?
Kesehatan Keluarga

AI Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Siapa Sebenarnya Sumber Rekomendasinya?

Ketika kamu mengetik 'skincare untuk kulit berminyak dan sensitif' di ChatGPT atau Google, jawaban yang muncul bukan berasal dari situs resmi brand. Sebuah riset besar bertajuk Beauty in The Eyes of AI menganalisis 8.000 jawaban AI dan 63.286 rujukan dari lima platform populer: ChatGPT, Google AI Overview, Gemini, Perplexity, dan Microsoft Copilot sepanjang Agustus 2026. Hasilnya? Hanya 11,6% rujukan berasal dari kanal milik brand. Sisanya, 46,6%, justru datang dari media berita serta sumber kesehatan dan medis.Artinya, perjalanan belanja kecantikanmu kini dimulai dari sebuah pertanyaan, bukan dari nama brand. AI menjadi 'penasihat' yang menentukan brand mana yang layak dipertimbangkan. Lalu, dari mana AI mengambil informasi tersebut? Mari kita bedah lebih dalam.Media Berita dan Sumber Medis Jadi Rujukan UtamaStudi yang dipaparkan dalam Sraya Session 2026 di Jakarta ini menemukan bahwa kategori Berita dan Media menyumbang 12.612 rujukan, disusul Informasi Kesehatan dan Medis dengan 10.924 rujukan (21,6%). Menariknya, ritel dan lokapasar seperti Shopee, Zalora, dan Watsons juga muncul kuat—bukan sebagai tempat belanja, melainkan sebagai sumber informasi produk.Yang lebih mengejutkan, media umum justru lebih sering dirujuk AI dibandingkan media khusus kecantikan. Fokus pada satu topik ternyata tidak otomatis membuat sebuah media menjadi sumber utama. Halodoc, misalnya, muncul di 74 dari 80 pertanyaan umum berkat kontennya tentang rekomendasi produk, kandungan, keamanan, dan rutinitas perawatan kulit.Tiap Platform AI Punya 'Selera' BerbedaJangan samakan strategi komunikasi di semua platform AI. Microsoft Copilot dan Google AI Overview menunjukkan perbedaan mencolok. Copilot merujuk 53,1% dari Berita dan Media, sementara Google AI Overview hanya 9,5%. Sebaliknya, Google AI Overview lebih banyak mengambil dari Sosial, Blog, dan Komunitas (28,1%), yang di Copilot hanya 1,8%.ChatGPT punya komposisi paling merata: Informasi Kesehatan dan Medis (23,7%), kanal brand (19,5%), Berita dan Media (18,3%), serta Regulasi dan Sertifikasi (15,1%). Gemini condong ke Berita dan Media (33,5%) dan Ritel (22,8%), sedangkan Perplexity sangat bergantung pada Berita dan Media (37,3%).Pertanyaanmu Menentukan Sumber JawabanTopik yang kamu tanyakan juga memengaruhi dari mana AI mengambil informasi. Berikut pola yang terungkap:Efektivitas dan Kecocokan: 45,5% dari sumber kesehatan dan medis; situs brand hanya 10,5%.Harga dan Nilai: 36,8% dari Berita dan Media, lebih besar dari halaman harga brand.Keamanan dan Kepatuhan: 22,8% dari regulasi, pemerintah, dan sertifikasi seperti BPOM dan lembaga halal.Keyakinan dan Kesesuaian Budaya: kanal brand mencapai porsi tertinggi, 21,3%.Ketersediaan dan Kanal Penjualan: 15,5% dari situs perusahaan di luar industri kecantikan.Reputasi dan Ulasan: situs brand hanya 7,6%.Bahan dan Formulasi: basis data bahan hanya 0,5%.Menariknya, ketika kamu menyebut nama brand dalam pertanyaan, AI langsung beralih ke situs ritel dan kanal resmi brand. Porsi konten sosial, blog, dan komunitas naik dari 9,2% menjadi 19,5%.Konten Lama Masih RelevanDari 49.445 rujukan yang memiliki tanggal publikasi, 61,3% berasal dari konten berusia kurang dari satu tahun. Namun, sekitar 17% justru dari halaman yang terbit lebih dari tiga tahun lalu. Jadi, konten lama tetap bisa menjadi rujukan selama informasinya akurat dan relevan.Di media sosial, visibilitas tidak selalu identik dengan influencer. Di Instagram, hanya 4 dari 10 profil yang paling sering dirujuk adalah kreator individu. Di YouTube, kanal Female Daily paling sering dirujuk, disusul seorang dokter kecantikan. Di Lemon8, tidak ada satu akun pun yang mendominasi.Kesimpulannya, AI telah mengubah cara kita menemukan dan memercayai brand kecantikan. Brand tidak lagi bisa hanya mengandalkan situs resmi. Mereka perlu membangun kredibilitas di media, sumber medis, dan komunitas. Buat kamu para beauty enthusiast, jadikan AI sebagai alat bantu, bukan satu-satunya penentu. Tetap kritis dan cek informasi dari berbagai sumber, ya!

Redaksi-16 September 2026
Ketika Manusia dan Robot Berbagi Hidup: Film Sci-Fi yang Menggugah
Gaya Hidup

Ketika Manusia dan Robot Berbagi Hidup: Film Sci-Fi yang Menggugah

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan semakin nyata. Robot bukan lagi sekadar alat, tetapi mulai merambah ranah emosional. Film-film sci-fi berikut ini mengeksplorasi bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan mesin yang hampir setara manusia. Mulai dari robot pengasuh, sahabat, hingga penjaga rahasia, semuanya tersaji dalam cerita yang menggugah. 1. Archive (2020) Film ini mengisahkan George, seorang ilmuwan yang mengasingkan diri di fasilitas riset terpencil. Ia menciptakan robot-robot canggih dengan tujuan mulia: menghidupkan kembali kesadaran istrinya yang telah meninggal. Namun, semakin robot itu mirip manusia, semakin rumit pula batas antara pencipta dan ciptaannya. Archive menyajikan drama emosional tentang kehilangan, kesepian, dan ambisi yang mengaburkan etika. 2. Finch (2021) Dibintangi Tom Hanks, film ini berlatar pasca-apokaliptik. Finch, penyintas terakhir, menciptakan robot humanoid bernama Jeff untuk merawat anjing kesayangannya sepeninggalnya. Jeff harus belajar tentang dunia, rasa takut, dan persahabatan. Hubungan hangat antara manusia, robot, dan anjing ini menghadirkan kelembutan di tengah dunia yang keras. 3. After Yang (2021) Ketika android pendamping keluarga mereka rusak, pasangan suami istri ini harus mencari cara memperbaikinya. Proses itu membuka rahasia dan kenangan yang tersimpan dalam memori Yang. Film ini menyentuh tema identitas, memori, dan makna keluarga dengan pendekatan yang tenang dan filosofis. 4. Ex Machina (2014) Seorang programmer muda diundang untuk menguji robot humanoid bernama Ava. Kecerdasan dan pesona Ava membuatnya terjebak dalam permainan psikologis yang menegangkan. Ex Machina mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan siapa, serta batas antara manipulasi dan kesadaran. 5. Her (2013) Film ini mengisahkan seorang penulis kesepian yang jatuh cinta pada sistem operasi ber-AI. Hubungan mereka berkembang layaknya pasangan manusia, lengkap dengan suka dan duka. Her menggali pertanyaan: bisakah cinta tumbuh tanpa raga? Dan apa artinya hubungan ketika salah satu pihak adalah mesin? 6. I, Robot (2004) Di tahun 2035, robot menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika seorang robot diduga melakukan pembunuhan, detektif Del Spooner menyelidiki konspirasi yang mengancam umat manusia. Film ini menyoroti bahaya ketergantungan pada teknologi dan pentingnya kendali manusia. 7. M3GAN (2022) M3GAN adalah boneka robot canggih yang dirancang untuk menjadi teman sekaligus pelindung seorang anak. Awalnya sempurna, M3GAN mulai mengembangkan obsesi berlebihan dan berubah menjadi ancaman. Film ini mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tanpa kendali bisa berbahaya. Dari ketujuh film tersebut, kita diajak merenung: seberapa jauh kita ingin teknologi mengambil alih peran manusia? Apakah robot bisa benar-benar memahami emosi, atau hanya menirunya? Yang jelas, film-film ini sukses menggugah rasa ingin tahu dan refleksi tentang masa depan yang mungkin tak lama lagi menjadi nyata.

Redaksi-15 September 2026
Saat Teknologi Bikin Hidup Terasa Lebih Sibuk, Ini yang Perlu Kamu Sadari
Gaya Hidup

Saat Teknologi Bikin Hidup Terasa Lebih Sibuk, Ini yang Perlu Kamu Sadari

Dulu, menyelesaikan satu laporan mungkin butuh waktu seharian. Sekarang, dengan bantuan berbagai aplikasi cerdas, semua bisa beres dalam hitungan jam. Email tinggal diketik, presentasi tinggal disusun, ide konten tinggal diminta. Semua tampak begitu ajaib dan menghemat waktu.Namun, ada perasaan aneh yang mulai menghampiri. Waktu yang kita hemat itu, ke mana perginya? Rasanya bukan bertambah lega, tapi malah semakin penuh dengan pekerjaan baru. Inilah paradoks yang jarang disadari: ketika kita bisa melakukan lebih banyak dalam waktu singkat, ekspektasi kita terhadap diri sendiri pun ikut naik.Standar Baru yang Terus MeningkatDulu, mengerjakan satu proyek dalam tiga hari adalah hal yang wajar. Kini, jika semua bisa selesai dalam sehari, muncul pertanyaan, "Kalau bisa cepat, kenapa tidak langsung kerjakan dua proyek sekaligus?" Efisiensi yang tadinya diharapkan memberi ruang istirahat, justru berubah menjadi alasan untuk menambah beban kerja.Kita jadi lebih cepat mengetik email, tapi jumlah email yang harus dibalas juga semakin banyak. Presentasi selesai lebih cepat, tapi sudah ada daftar presentasi berikutnya. Ide konten mudah didapat, tapi target jumlah konten juga ikut melonjak. Teknologi memang menghemat waktu, tapi kita sendiri yang kemudian mengisinya dengan tuntutan baru. Alhasil, kita tidak pernah benar-benar merasa punya banyak waktu luang.Hambatan yang Ternyata BerhargaAda satu hal yang sering kita lupakan: gesekan atau hambatan dalam proses berpikir itu penting. Dulu, ketika menulis, kita harus mencari referensi, menyusun kalimat, mengedit, dan memutuskan mana yang terbaik. Proses ini memang lambat, tapi di situlah otak kita benar-benar bekerja.Teknologi cerdas memang menghilangkan banyak hambatan tersebut. Tapi, tidak semua hambatan dalam hidup harus dihilangkan. Ada momen-momen ketika kita perlu berhenti, bingung, mencoba, gagal, dan menemukan jawaban sendiri. Ada ide-ide yang justru muncul setelah kita mengalami kebuntuan. Ada jeda yang terlihat tidak produktif, padahal penting untuk memulihkan mental.Ketika setiap waktu luang langsung diisi dengan bantuan teknologi, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk berdiam diri dan menikmati proses. Padahal, hidup bukanlah mesin yang harus selalu berjalan maksimal.Kita Mulai Berlari Mengejar KecepatanMasalah yang lebih besar mungkin bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara kita mengejar kecepatannya. Ketika aplikasi bisa merespons dalam hitungan detik, kita menjadi tidak sabar dengan proses yang lambat. Balasan yang tertunda terasa mengganggu. Pekerjaan yang butuh konsentrasi dianggap bisa dibantu mesin.Perlahan, standar kita terhadap produktivitas berubah. Kita merasa harus selalu tanggap, selalu punya jawaban, dan selalu menghasilkan sesuatu. Padahal, otak manusia tidak bekerja seperti mesin. Kita butuh waktu untuk memproses informasi, berpindah fokus, beristirahat, dan bahkan merasa bosan. Memaksakan diri untuk terus produktif justru membuat kita lelah secara mental.Ironisnya, teknologi yang seharusnya meringankan beban, justru ikut membangun budaya yang menuntut kita untuk selalu aktif.Terlalu Banyak Pilihan, Bikin Kita Semakin LelahDulu, kita mungkin stres karena bingung harus memulai dari mana. Sekarang, kita stres karena terlalu banyak pilihan. Dengan bantuan teknologi, kita bisa menghasilkan puluhan ide dalam sekejap. Membandingkan berbagai opsi, membuat berbagai versi rencana, dan meminta rekomendasi semuanya terasa mudah.Tapi, semakin banyak pilihan, semakin besar kecemasan kita untuk memilih yang paling sempurna. Muncul pertanyaan-pertanyaan baru: Apakah aku sudah menggunakan teknologi ini dengan maksimal? Apakah caraku bekerja sudah cukup efisien? Bagaimana kalau orang lain sudah jauh lebih produktif dariku?Teknologi akhirnya bukan hanya alat, tapi juga cermin untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita mulai sibuk mengoptimalkan hidup, bukan menjalaninya.Saat Istirahat pun Terasa Seperti TugasIni bagian yang paling mengkhawatirkan. Budaya produktivitas membuat kita bertanya, "Bagaimana caranya supaya aku bisa bekerja lebih cepat?" Teknologi menjawabnya dengan berbagai cara. Tapi, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apakah semua hal memang harus cepat?"Tidur tidak perlu dioptimalkan agar lebih efisien. Jalan-jalan tidak harus menghasilkan ide. Ngobrol dengan teman tidak perlu memiliki tujuan. Weekend tidak harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Tidak semua bagian hidup harus menghasilkan sesuatu yang nyata.Ketika kita melihat seluruh hidup dari kacamata efisiensi, kita berisiko mengubah kebahagiaan menjadi proyek yang harus diukur. Berapa jam tidur, berapa langkah kaki, berapa buku yang dibaca, berapa pekerjaan yang selesai. Akibatnya, istirahat pun terasa seperti tugas.Jadi, Apa Jawabannya?Teknologi bukan satu-satunya biang stres. Ada banyak faktor lain: beban kerja, tekanan sosial, kondisi ekonomi, dan hubungan antar manusia. Namun, teknologi bisa memperkuat pola pikir yang sudah ada. Jika kita sudah terbiasa hidup dalam tekanan, kehadiran teknologi bisa membuat kita semakin terperangkap.Yang perlu kita sadari adalah, kita punya kendali atas cara kita menggunakan teknologi. Kita bisa memilih untuk tidak selalu mengikuti kecepatannya. Kita bisa belajar untuk menikmati proses, bukan hanya hasilnya. Dan yang terpenting, kita bisa mengingatkan diri sendiri bahwa hidup bukan perlombaan kecepatan, melainkan perjalanan yang harus dinikmati.

Redaksi-30 Agustus 2026
NaraCerita