Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

tumbuh kembang anak

Berita dan Informasi tumbuh kembang anak

7 artikel ditampilkan

Rahasia di Balik Hobi Musik Anak: Lebih dari Sekadar Bakat
Keluarga

Rahasia di Balik Hobi Musik Anak: Lebih dari Sekadar Bakat

Sebagai orang tua, kita pasti ingin memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang si kecil. Salah satu kegiatan yang sering direkomendasikan adalah belajar alat musik. Bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, bermain musik ternyata menyimpan banyak manfaat yang mungkin belum kita sadari.Melatih Ketekunan dan Disiplin yang MenyenangkanDi zaman yang serba cepat ini, anak-anak sering terbiasa dengan segala sesuatu yang instan. Namun, belajar musik mengajarkan mereka arti sebuah proses. Menurut para psikolog, saat anak berlatih alat musik, mereka akan menghadapi tantangan, membuat kesalahan, dan melalui fase di mana perkembangan terasa lambat. Dari situlah mereka belajar bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui latihan yang konsisten.Bayangkan kebanggaan yang dirasakan anak ketika berhasil memainkan lagu yang sebelumnya sulit. Perasaan "Aku bisa!" ini akan membangun disiplin diri yang kuat, tanpa terasa seperti beban. Ini modal berharga untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.Meningkatkan Fungsi Otak secara MenyeluruhMusik dan perkembangan otak adalah pasangan yang tak terpisahkan. Bermain alat musik adalah salah satu aktivitas yang mampu mengaktifkan banyak area otak secara bersamaan. Hal ini sangat baik untuk melatih fokus, mengendalikan impuls, mengatur memori, dan meningkatkan fleksibilitas kognitif anak.Dengan kata lain, anak yang terbiasa bermain musik cenderung memiliki kemampuan berpikir yang lebih tajam dan kreatif. Mereka juga lebih mudah beradaptasi dengan berbagai situasi baru.Menumbuhkan Percaya Diri dan Kecerdasan EmosiBelajar alat musik memberikan rasa mampu dan cerdas pada anak. Mereka belajar bahwa setiap rintangan bisa diatasi dengan usaha. Selain itu, musik menjadi saluran emosi yang sangat sehat. Ketika anak merasa frustasi karena belum bisa memainkan nada dengan sempurna, mereka secara tidak langsung belajar mengelola amarah dan stres dengan cara yang positif.Kemampuan mengatur emosi ini sangat penting untuk kesehatan mental anak di kemudian hari. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang dan bijaksana dalam menghadapi berbagai situasi.Mengasah Motorik Halus dan Kemampuan BersosialisasiInstrumen seperti piano, gitar, atau biola membutuhkan ketangkasan jari yang tinggi. Latihan rutin akan secara otomatis melatih keterampilan motorik halus anak. Selain itu, bermain musik dalam kelompok, seperti orkestra atau band, memberikan kesempatan anak untuk membangun koneksi sosial yang kuat dengan teman sebaya. Mereka belajar bekerja sama, mendengarkan, dan saling menghargai.Pentingnya Peran Orang TuaMeskipun banyak manfaatnya, ada satu hal yang perlu diwaspadai. Tekanan dari orang tua yang terlalu menuntut anak untuk sempurna justru bisa berdampak negatif. Anak akan mengaitkan musik dengan stres dan rasa takut mengecewakan. Oleh karena itu, biarkan anak bereksplorasi dengan gembira. Pastikan jadwal mereka tidak terlalu padat, sehingga masih ada waktu untuk bermain bebas dan menikmati masa kecil.Menjawab Pertanyaan Umum Seputar Musik dan AnakApakah anak perlu bakat khusus? Tidak. Setiap anak memiliki musikalitas bawaan. Belajar musik adalah soal eksplorasi dan kegembiraan, bukan mengejar kesempurnaan.Apa dampak jika orang tua terlalu memaksa? Anak bisa mengasosiasikan musik dengan kecemasan dan menjadi beban mental. Lebih baik dukung mereka dengan sabar tanpa tekanan.Apakah manfaatnya terasa hingga dewasa? Tentu. Orang dewasa yang pernah belajar musik cenderung memiliki kemampuan pendengaran yang lebih baik, memori kerja yang kuat, dan menjadi pemecah masalah yang kreatif.Alat musik apa yang baik untuk motorik halus? Hampir semua alat musik, terutama yang membutuhkan koordinasi jari seperti piano, biola, atau gitar, sangat baik untuk melatih motorik halus.Bagaimana cara mendukung anak? Berikan pujian atas usaha mereka, bukan hanya hasil. Dengarkan mereka bermain, dan tunjukkan antusiasme. Yang terpenting, jadikan musik sebagai momen menyenangkan, bukan kewajiban yang membebani.Dengan memahami manfaat luas dari belajar musik, kita bisa lebih bijak dalam mendampingi anak. Mari kita dukung mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, dan bahagia melalui keindahan musik.

Redaksi-07 Agustus 2026
Rahasia Mahir Mengetik 10 Jari untuk Anak, Asyik dan Cepat Bisa
Keluarga

Rahasia Mahir Mengetik 10 Jari untuk Anak, Asyik dan Cepat Bisa

Mengetik dengan sepuluh jari adalah kemampuan yang sangat berguna, terutama di era digital seperti sekarang. Untuk anak-anak, belajar mengetik bisa menjadi aktivitas seru sekaligus bekal masa depan. Kuncinya adalah membuat proses belajar terasa seperti bermain, bukan beban.Mengapa Anak Perlu Belajar Mengetik 10 Jari?Bayangkan anak Anda bisa menyelesaikan tugas sekolah dengan cepat, mengetik cerita impiannya, atau bahkan mengobrol dengan teman tanpa kerepotan. Mengetik 10 jari membuat semua itu mungkin. Kecepatan mengetik rata-rata pengguna 10 jari bisa mencapai 50 kata per menit, hampir dua kali lipat dari yang hanya menggunakan dua jari. Efisiensi ini memberi anak lebih banyak waktu untuk hal-hal lain yang mereka sukai.Langkah Awal: Kenalkan Posisi Jari yang NyamanSemua petualangan dimulai dengan langkah pertama. Untuk mengetik, langkah pertama adalah menempatkan jari-jari mungil di posisi yang tepat. Ajak anak untuk meletakkan:Tangan kiri: kelingking di A, jari manis di S, jari tengah di D, telunjuk di F.Tangan kanan: telunjuk di J, jari tengah di K, jari manis di L, kelingking di titik koma (;).Ibu jari: siap di bilah spasi.Beri tahu anak bahwa tombol F dan J memiliki tonjolan kecil yang bisa diraba. Ini adalah 'rumah' bagi jari telunjuk. Setelah menekan tombol lain, jari-jari harus kembali ke 'rumah' masing-masing. Latihan ini seperti permainan petak umpet, seru dan membangun kebiasaan.Latihan Menyenangkan Tanpa Melihat KeyboardBagian tersulit bagi anak-anak adalah menahan diri untuk tidak melihat keyboard. Tapi jangan khawatir, ada triknya. Tutuplah keyboard dengan kain tipis atau gunakan aplikasi belajar mengetik yang dirancang khusus untuk anak. Mulailah dengan mengetik huruf-huruf yang mudah, seperti 'asdf' dan 'jkl;', lalu tingkatkan ke kata-kata pendek. Yang terpenting, rayakan setiap kemajuan kecil, bukan kecepatan.Akurasi Dulu, Baru KecepatanAnak-anak seringkali ingin cepat, tapi justru di situlah kesalahan terjadi. Tekankan pada mereka untuk fokus pada akurasi. Biarkan mereka mengetik dengan lambat tapi tepat. Seiring waktu, kecepatan akan mengikuti dengan sendirinya. Ingatkan mereka untuk tidak menekan tombol dengan kasar, cukup dengan sentuhan ringan.Bermain Sambil Belajar: Rekomendasi AktivitasPermainan mengetik online: Ada banyak situs seperti TypingClub atau Nitrotype yang mengemas latihan mengetik dalam bentuk game balapan atau petualangan.Mengetik cerita pendek: Ajak anak mengetik cerita favorit mereka atau membuat cerita baru. Ini melatih kreativitas sekaligus keterampilan mengetik.Kartu flash huruf: Tulis huruf di kartu, lalu minta anak menekan tombol yang sesuai di keyboard tanpa melihat. Cocok untuk melatih memori otot.Jadwalkan Latihan Rutin, Tapi Jangan DipaksaKonsistensi lebih penting daripada durasi. Latihan 15-20 menit setiap hari lebih efektif daripada 2 jam seminggu sekali. Buatlah jadwal yang menyenangkan, misalnya setelah mengerjakan PR atau sebelum waktu bermain. Jangan pernah memaksa anak jika mereka lelah atau bosan. Biarkan mereka istirahat dan kembali lagi lain waktu.Postur Tubuh yang Tepat Agar Tidak Cepat LelahAjari anak untuk duduk tegak dengan punggung lurus, bahu rileks, dan siku membentuk sudut 90 derajat. Posisi ini mencegah pegal-pegal dan membuat mereka bisa mengetik lebih lama. Pastikan meja dan kursi sesuai dengan tinggi badan anak.Mengetik 10 jari adalah investasi keterampilan yang akan berguna seumur hidup. Dengan pendekatan yang sabar dan menyenangkan, anak Anda bisa menguasainya tanpa terasa. Selamat mencoba, Moms!

Redaksi-31 Juli 2026
Rahasia Belajar Anti Kantuk agar Otak Makin Tajam
Keluarga

Rahasia Belajar Anti Kantuk agar Otak Makin Tajam

Belajar sambil melawan kantuk memang melelahkan, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Kuncinya ada pada persiapan tubuh, lingkungan, dan metode belajar yang tepat. Dengan sedikit penyesuaian, kamu bisa tetap segar dan materi pun cepat meresap.1. Siapkan Tubuh agar PrimaTubuh yang bugar adalah fondasi utama untuk belajar tanpa kantuk. Pastikan kamu cukup tidur 7-9 jam setiap malam, karena tidur berkualitas membantu otak memproses informasi. Jangan lupa minum air putih yang cukup agar tidak dehidrasi, karena dehidrasi ringan saja bisa bikin lemas dan sulit konsentrasi. Pilih camilan sehat seperti kacang-kacangan atau buah, hindari makanan berat dan manis yang bikin energi cepat drop. Sempatkan juga bergerak ringan setiap 30-45 menit, misalnya berjalan-jalan sebentar atau peregangan, untuk melancarkan aliran darah ke otak.2. Atur Lingkungan Belajar yang MendukungSuasana ruang belajar sangat memengaruhi tingkat kewaspadaan. Usahakan belajar di tempat dengan pencahayaan terang, dekat jendela jika memungkinkan, karena sinar alami membantu menekan hormon kantuk. Jaga suhu ruangan tetap sejuk dan sirkulasi udara lancar. Hindari belajar di atas kasur atau tempat tidur, karena otak mengasosiasikannya dengan istirahat. Duduklah dengan tegak di kursi dan meja, postur ini membantu menjaga kewaspadaan. Meja yang rapi juga mengurangi distraksi dan membuat pikiran lebih fokus.3. Gunakan Metode Belajar AktifBelajar pasif seperti membaca saja bisa membuat otak cepat bosan dan mengantuk. Coba terapkan teknik Pomodoro: belajar fokus 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Setelah empat siklus, ambil jeda lebih panjang 15-30 menit. Saat belajar, gunakan metode active recall—tutup buku dan coba ingat poin-poin penting tanpa melihat catatan. Ajak otakmu berpikir dengan menjelaskan materi ke orang lain atau membaca lantang. Variasikan topik belajar agar tidak monoton, dan tetapkan target kecil untuk setiap sesi agar lebih terarah. Belajar bersama teman juga bisa jadi pilihan karena diskusi membuatmu lebih terjaga.4. Trik Cepat Mengusir KantukSaat kantuk mulai menyerang, lakukan hal-hal sederhana ini: cuci muka dengan air dingin, hirup udara segar sebentar, atau kunyah permen karet. Gerakan kecil seperti menggerakkan jari kaki atau meregangkan leher juga membantu mengembalikan kesegaran. Yang terpenting, jangan paksakan diri jika sudah sangat lelah—tidur sejenak 10-20 menit bisa lebih efektif daripada memaksakan belajar.

Redaksi-30 Juli 2026
Belajar Bahasa Sunda untuk Si Kecil, Yuk Kenalkan dari Sekarang!
Keluarga

Belajar Bahasa Sunda untuk Si Kecil, Yuk Kenalkan dari Sekarang!

Bahasa Sunda adalah salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia, mencapai 32 juta jiwa. Bagi para ibu, mengajarkan bahasa Sunda kepada anak sejak dini bukan hanya memperkaya kemampuan berbahasa, tetapi juga menanamkan nilai sopan santun melalui undak usuk basa atau tingkatan bahasa. Yuk, kita pelajari bersama kalimat-kalimat sederhana yang bisa Ibu praktikkan bersama si kecil!Mengenal Ciri Khas Bahasa SundaSebelum mulai belajar, ada baiknya Ibu tahu beberapa keunikan bahasa Sunda. Pertama, bahasa ini memiliki tingkatan: lemes (halus), loma (akrab), dan kasar. Kedua, pelafalannya khas, terutama bunyi 'e', 'é', dan 'eu'. Ketiga, sering menggunakan partikel seperti 'teh', 'mah', dan 'atuh' untuk memperhalus kalimat. Misalnya, untuk kata 'jatuh' saja ada beberapa istilah seperti tikusruk, tijengkang, dan tijungkel, yang menggambarkan cara jatuh yang berbeda. Menarik, kan?Kalimat Sehari-hari untuk Si KecilMulailah dengan sapaan dan ungkapan sederhana yang sering digunakan. Berikut beberapa contoh yang bisa Ibu ajarkan:Sampurasun – Halo (sapaan formal)Kumaha damang? – Apa kabar? (untuk orang yang lebih tua)Wilujeng énjing – Selamat pagiWilujeng wengi – Selamat malamTepangkeun, nami abdi... – Perkenalkan, nama saya...Hatur nuhun – Terima kasihSami-sami – Sama-samaPunten – PermisiMuhun – IyaTeu acan – BelumBadé kamana? – Mau ke mana?Nuju naon? – Sedang apa?Tos emam? – Sudah makan?Abdi teu damang – Saya sakitKarunya teuing – Kasihan sekaliBogoh ka anjeun – Cinta sama kamu (untuk pasangan)Geus lila teu papanggih – Sudah lama tidak bertemuSing enggal damang – Semoga lekas sembuhKaduhung pisan – Sangat menyesalTipayun nya! – Duluan ya!Ibu bisa mempraktikkan kalimat-kalimat ini setiap hari agar si kecil terbiasa mendengar dan mengucapkannya.Mengajarkan Basa Lemes (Bahasa Halus)Bagian penting dari bahasa Sunda adalah basa lemes atau bahasa halus. Ini digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua, guru, atau orang yang baru dikenal. Mengajarkan basa lemes pada anak akan membentuk karakter sopan dan hormat. Contoh kalimat halus yang bisa Ibu ajarkan:Abdi badé ulin sareng réréncangan – Saya ingin bermain dengan teman-teman.Bapa badé tuang? – Ayah mau makan?Abdi hoyong ngabantosan – Saya ingin membantu.Punten, abdi badé angkat ti payun – Permisi, saya mau pergi duluan.Hapunten, abdi teu ngartos – Maaf, saya tidak mengerti.Dengan membiasakan menggunakan basa lemes di rumah, si kecil akan tumbuh menjadi anak yang santun dan dihormati orang lain.Selamat mencoba, Ibu! Semoga si kecil cepat fasih berbahasa Sunda dan bangga dengan budaya daerah sendiri.

Redaksi-06 Juli 2026
Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak
Keluarga

Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh cinta, tapi juga tantangan. Kadang, niat baik kita malah berujung pada pola asuh yang tidak sehat. Istilah 'toxic parenting' mungkin terdengar berat, tapi faktanya banyak dari kita tanpa sadar melakukannya. Dampaknya? Bisa menghambat perkembangan emosi dan mental anak hingga dewasa.1. Emosi yang Meledak-ledakWajar kok kalau sesekali kita merasa lelah dan marah. Tapi kalau anak selalu hidup dalam ketakutan melihat emosi orang tua yang tidak stabil, ini masalah besar. Anak jadi tidak merasa aman dan kesulitan mengelola emosinya sendiri. Mereka butuh konsistensi agar tumbuh percaya diri.2. Kabur Batasan antara Orang Tua dan AnakSayang, seringkali kita terlalu 'terbuka' atau sebaliknya, terlalu ikut campur. Misalnya, menceritakan masalah dewasa di depan anak, atau tidak memberi mereka ruang pribadi. Akibatnya, anak jadi manja atau justru menjauh karena merasa sesak.3. Memaksakan Jalan Hidup AnakSetiap anak punya takdir dan minatnya sendiri. Saat kita memaksakan kehendak, misalnya memilihkan sekolah atau hobi yang kita anggap terbaik, tanpa mendengar keinginan mereka, kita sedang merampas kemandiriannya. Biarkan mereka belajar dari kesalahan sendiri.4. Overprotektif dan Terlalu MengontrolMengawasi anak memang penting, tapi kalau semua gerak-geriknya diatur, termasuk siapa temannya dan tontonan apa yang boleh, anak jadi tidak punya inisiatif. Pola asuh 'helikopter' ini malah bikin anak memberontak atau tidak percaya diri.5. Memanfaatkan Rasa BersalahKata-kata seperti 'Ibu sedih kalau kamu nakal' atau 'Ayah kecewa' sering dipakai agar anak menurut. Padahal, ini adalah bentuk manipulasi. Anak jadi merasa bersalah terus-menerus dan tidak berani mengambil keputusan sendiri.6. Gaslighting: Meremehkan Perasaan AnakPernah bilang 'Ah, kamu lebay' atau 'Itu nggak terjadi, kamu ngimpi'? Itu namanya gaslighting. Anak jadi ragu dengan perasaannya sendiri. Mereka belajar bahwa apa yang mereka rasakan tidak valid, padahal perasaan mereka penting.7. Kritik Berlebihan pada PenampilanKomentar soal berat badan atau bentuk tubuh, meski maksudnya bercanda, bisa membekas. Anak jadi terobsesi dengan penampilan dan berisiko mengalami gangguan makan. Lebih baik fokus pada kesehatan daripada penampilan fisik.8. Memaksa Anak Memilih Antara Orang TuaSetelah bercerai atau dalam konflik, kadang orang tua meminta anak memihak. Ini sangat membebani jiwa anak. Mereka butuh dicintai kedua belah pihak tanpa harus memilih. Jangan jadikan anak sebagai alat.9. Membuat Anak Merasa Tidak DiinginkanUcapan seperti 'Dasar merepotkan' atau 'Andai saja kamu tidak ada' sungguh menyakitkan. Anak akan merasa keberadaannya adalah beban. Harga diri mereka hancur dan sulit membangun hubungan sehat di masa depan.Sadari bahwa perubahan kecil dalam cara kita berinteraksi bisa berdampak besar. Yuk, mulai sekarang lebih peka dan perbaiki pola asuh kita. Anak-anak layak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan pengertian.

Redaksi-01 Juli 2026
Si Kecil Mulai Meracau: Panduan Tumbuh Kembang Bayi 1 Tahun
Keluarga

Si Kecil Mulai Meracau: Panduan Tumbuh Kembang Bayi 1 Tahun

Setiap anak memiliki ritme perkembangan yang unik, tapi ada beberapa tonggak umum yang bisa Mama jadikan acuan. Pada usia 1 tahun, bayi biasanya sudah menunjukkan kemampuan di berbagai area, mulai dari fisik, bahasa, hingga sosial emosional. Yang terpenting, jangan terlalu khawatir jika si kecil sedikit lebih lambat atau lebih cepat dari teman sebayanya—yang penting ia terus berkembang.Perkembangan Fisik: Tubuh Mungil yang Makin KuatDi usia 1 tahun, tinggi badan bayi rata-rata bertambah sekitar 25 cm sejak lahir, yaitu antara 71-81 cm. Berat badannya biasanya sudah dua kali lipat dari berat lahir, meski setelah ulang tahun pertama laju pertumbuhan mulai melambat. Lingkar kepala sekitar 46 cm dan ubun-ubun mulai menutup. Beberapa gigi pertama juga sudah tumbuh, biasanya dua gigi depan atas dan bawah.Penampilan fisiknya masih khas bayi: kepala relatif besar, perut buncit, dan tubuh terlihat gemuk. Namun, jangan salah, di balik itu si kecil sudah sangat aktif bergerak.Kemampuan Motorik: Mulai Berdiri dan MelangkahPada usia 1 tahun, sebagian besar bayi sudah bisa berdiri sendiri atau berpegangan pada perabot. Mereka senang merambat (cruising) di sepanjang meja atau sofa. Beberapa bahkan sudah mulai berjalan beberapa langkah. Selain itu, mereka sudah bisa:Memegang benda kecil seperti potongan makanan menggunakan ibu jari dan telunjuk (pincer grasp)Minum dari cangkir tanpa tutup dengan bantuanMemasukkan benda ke dalam wadah, misalnya balok ke dalam kotakMeniru gerakan sederhana seperti melambaikan tanganMama bisa mendorongnya dengan menyediakan mainan dorong-tarik, mainan susun, atau buku bergambar yang aman.Bahasa dan Komunikasi: Kata Pertama yang DinantiInilah momen yang paling ditunggu: si kecil mulai mengucapkan kata-kata. Umumnya, di usia 1 tahun bayi sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata bermakna, seperti “mama”, “papa”, atau “mimi”. Mereka juga mulai meniru suara dan intonasi orang dewasa. Meski belum lancar, mereka sudah memahami banyak kata, seperti nama mainan atau bagian tubuh.Bayi juga berkomunikasi non-verbal: menunjuk, melambaikan tangan, atau menggeleng saat mendengar “tidak”. Mereka bisa menunjuk 1-3 bagian tubuh jika ditanya. Ajak si kecil bicara setiap hari, bacakan buku, dan tirukan suara-suara lucu untuk merangsang kemampuannya.Sosial dan Emosional: Mulai Punya Ikatan KuatDi usia 1 tahun, bayi mulai menunjukkan kelekatan yang jelas pada orang tua atau pengasuh. Mereka bisa menangis saat ditinggal, malu pada orang asing, dan suka bermain tepuk tangan atau cilukba. Mereka juga mulai memperhatikan reaksi Mama terhadap perilakunya, jadi pastikan Mama memberi respons positif.Mainan favorit sudah mulai muncul, dan mereka senang berinteraksi dalam permainan sederhana. Ini saat yang tepat untuk membangun bonding melalui aktivitas bersama.Kognitif: Belajar dengan CepatKemampuan berpikir si kecil berkembang pesat. Ia mulai bisa mencari benda yang disembunyikan di depannya, meniru gerakan, dan menggunakan benda sesuai fungsinya (misal, sisir untuk menyisir rambut). Mereka juga bisa mengikuti perintah sederhana seperti “ambil bola” atau “lempar”.Berikan mainan yang menantang, seperti balok susun, puzzle sederhana, atau buku dengan tekstur. Biarkan ia bereksplorasi dengan aman.Kapan Harus ke Dokter?Setiap anak berbeda, tapi ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Segera konsultasi ke dokter jika si kecil di usia 1 tahun:Belum bisa merangkak atau bergerak sendiri (misal merayap, bergeser)Tidak bisa berdiri meski berpeganganTidak mengeluarkan suara atau meniru ucapanTidak merespon namanya sendiriKehilangan kemampuan yang sudah pernah dikuasaiIngat, Mama tidak sendirian. Selalu ada tenaga kesehatan yang siap membantu. Nikmati setiap fase tumbuh kembang si kecil, karena masa ini tak akan terulang lagi.

Redaksi-01 Juli 2026
Seru dan Edukatif, Frisian Flag Ajak Ibu Surabaya Optimalkan Tumbuh Kembang Anak
Keluarga

Seru dan Edukatif, Frisian Flag Ajak Ibu Surabaya Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Setiap orang tua pasti mendambakan anak yang cerdas, aktif, dan mampu meraih potensi terbaiknya. Namun, kecerdasan anak tidak datang begitu saja. Banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari asupan nutrisi sejak dini hingga stimulasi yang tepat. Pemberian makanan bergizi seimbang dan aktivitas yang merangsang otak menjadi kunci utama untuk mendukung tumbuh kembang si kecil.Frisian Flag Temani Langkah Anak di SurabayaBerangkat dari kepedulian terhadap tumbuh kembang anak, Frisian Flag Indonesia menggelar acara bertajuk 'Temani Langkahmu, Kini dan Nanti'. Setelah sukses di Jakarta, acara ini hadir di Atrium Mall Tunjungan Plaza 6, Surabaya, pada 19-21 Juni 2026. Acara ini dirancang untuk mengedukasi para orang tua tentang pentingnya nutrisi dan stimulasi dalam mendukung perkembangan optimal si kecil.Talkshow: Nutrisi dan Stimulasi, Kunci Kecerdasan AnakPada hari kedua, Sabtu (20/6/26), digelar talkshow bertema 'Optimalkan Kecerdasan Anak dengan Asupan Tepat'. Acara ini menghadirkan dr. Nurita Alami Sp.A, CIMI, Sp.A, Ph.D., seorang dokter spesialis anak, serta Momfluencer Sherly Lembono bersama putranya, Jason.Dokter Nurita menjelaskan bahwa nutrisi adalah fondasi utama tumbuh kembang anak. “Nutrisi yang tepat dapat menjaga daya tahan tubuh, sehingga anak tidak mudah sakit. Jika jarang sakit, berat badan naik optimal dan perkembangan otak terstimulasi dengan baik,” ujarnya. Ia menambahkan, kebutuhan nutrisi anak terdiri dari makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (kalsium, vitamin D, magnesium, omega-3, omega-6, DHA). Khusus untuk perkembangan otak, zat besi, omega-3, omega-6, dan DHA sangat penting untuk membentuk struktur dan volume otak yang optimal. Jika anak susah makan (picky eater), orang tua bisa memilih susu yang diperkaya nutrisi tersebut.Selain nutrisi, stimulasi juga tidak kalah penting. Dokter Nurita menekankan bahwa quality time bersama anak, meski hanya 30 menit sehari, dapat menjadi stimulasi yang efektif. “Anak-anak senang bermain, jadi berikan stimulasi melalui aktivitas bermain yang menyenangkan,” sarannya.Sherly Lembono, seorang ibu dua anak, setuju bahwa kombinasi nutrisi dan stimulasi sangat penting. Ia rutin memberikan susu yang mengandung omega-3, omega-6, dan DHA untuk melengkapi asupan harian anak-anaknya. “Jason dan Claretta punya preferensi makan berbeda. Jason suka karbohidrat, Claretta suka buah dan protein. Saya imbangi dengan susu agar nutrisinya seimbang,” cerita Sherly. Untuk Jason yang aktif basket dan banyak les, Sherly selalu membawakan bekal susu.Jelajah Empat Station EdukatifAcara Frisian Flag tidak hanya talkshow, tetapi juga menghadirkan empat station interaktif yang seru dan edukatif. Setiap station dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sambil bermain bagi anak-anak. Mulai dari station yang mengajarkan tentang pentingnya nutrisi, hingga aktivitas fisik yang menyenangkan. Semua station ini menjadi cara asyik untuk menemani perjalanan tumbuh kembang si kecil.Dengan acara seperti ini, Frisian Flag ingin mengajak para orang tua untuk lebih peduli pada nutrisi dan stimulasi anak. Karena setiap langkah kecil hari ini akan membawa mereka menuju masa depan yang lebih cerah.

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita