Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Gaya Hidup

Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya

Selama puluhan tahun, perempuan menanggung beban kontrasepsi sendirian. Kini, sebuah inovasi dari Prancis menawarkan angin segar: alat kontrasepsi pria tanpa hormon yang bisa dipasang dan dilepas.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni
Penulis NaraCerita
-14 September 2026 -19:04:00 WIB
Ukuran teks
Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan, Ini Cara Kerjanya

Bayangkan sebuah alat kontrasepsi yang dipasang di tubuh pria, bekerja tanpa mengganggu hormon, dan bisa dilepas kapan saja. Itulah gambaran dari STEOM, sebuah perangkat kontrasepsi pria yang tengah dikembangkan oleh tim peneliti di Lille University Hospital, Prancis, bekerja sama dengan University of Liège.

Proyek yang dipimpin oleh androlog Julie Prasivoravong ini bertujuan memberikan lebih banyak pilihan bagi pria, sekaligus mendorong pembagian tanggung jawab kontrasepsi yang lebih seimbang dalam pasangan.

Mengenal STEOM: IUD untuk Pria

STEOM bekerja dengan prinsip mekanis, mirip dengan IUD (intrauterine device) yang digunakan perempuan. Alat ini menghambat perjalanan sperma melalui saluran reproduksi tanpa memengaruhi kadar hormon atau mematikan kesuburan secara permanen. Berbeda dengan pil KB atau implan hormonal, STEOM tidak mengandung hormon sehingga minim efek samping sistemik.

Bagaimana Cara Pasangnya?

Prosedur pemasangan STEOM terbilang cepat, hanya sekitar 15 menit dengan anestesi lokal. Dokter akan membuat sayatan kecil di skrotum, lalu memasukkan alat tersebut. Menariknya, tidak diperlukan jahitan atau perban besar, sehingga pemulihan pun relatif singkat. Setelah terpasang, STEOM dapat bertahan hingga tiga tahun. Jika ingin menghentikan kontrasepsi, alat ini bisa dilepas atau diganti oleh tenaga medis terlatih, dan kesuburan pria akan kembali seperti semula.

Mengapa Inovasi Ini Penting?

Selama ini, pilihan kontrasepsi pria sangat terbatas: kondom, metode alami (pantang berkala), atau vasektomi yang bersifat permanen. Kondisi ini membuat perempuan menanggung sebagian besar beban kontrasepsi, mulai dari pil harian, suntik, implan, hingga IUD hormonal yang kerap menimbulkan efek samping seperti kenaikan berat badan, migrain, penurunan libido, hingga perubahan suasana hati.

Kehadiran STEOM membuka harapan akan tanggung jawab yang lebih setara. Di Prancis sendiri, jumlah pria yang menjalani vasektomi meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menandakan minat pria untuk lebih terlibat dalam pengaturan kelahiran.

Tahapan Uji dan Ketersediaan

Meski menjanjikan, STEOM masih harus melalui perjalanan panjang sebelum bisa diakses publik. Uji praklinis dimulai pada Mei 2026 di University of Liège. Jika hasilnya memuaskan, uji klinis akan melibatkan sekitar 100 relawan di Prancis dan Belgia. Sebagai perangkat medis, STEOM wajib melewati regulasi ketat, sehingga diperkirakan baru tersedia secara komersial dalam 7 hingga 10 tahun ke depan.

Respons Publik dan Diskusi Gender

Di media sosial, kemunculan STEOM memicu perbincangan hangat. Banyak perempuan menyoroti betapa menariknya kontrasepsi pria yang bebas hormon, sementara perempuan telah lama mengonsumsi hormon tambahan dengan berbagai konsekuensi. Namun, sebagian pihak menilai langkah ini tetap positif karena memperluas pilihan dan mendorong pembagian tanggung jawab yang lebih adil.

Terlepas dari pro dan kontra, STEOM menandai babak baru dalam dunia kontrasepsi. Inovasi ini tidak hanya soal teknologi medis, tetapi juga membuka ruang dialog tentang kesetaraan gender dan hak atas tubuh sendiri. Bagaimana menurutmu, apakah pasanganmu bersedia mencobanya nanti?

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita