Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

asi

Berita dan Informasi asi

3 artikel ditampilkan

Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya
Kesehatan Keluarga

Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya

Menjadi ibu menyusui memang penuh tantangan, apalagi di masa-masa awal setelah melahirkan. Banyak hal yang bisa bikin stres, mulai dari kurang tidur, adaptasi dengan si kecil, hingga kekhawatiran soal produksi ASI. Padahal, perasaan tenang dan bahagia punya peran penting dalam kelancaran menyusui, lho. Emosi Positif Berpengaruh pada Hormon Laktasi? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature mencoba meneliti bagaimana intervensi psikologi positif, seperti menuliskan hal-hal baik setiap hari, memengaruhi produksi hormon laktasi pada ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara). Penelitian ini melibatkan 204 ibu hamil di Tiongkok yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok diminta mencatat tiga hal baik yang mereka syukuri setiap minggunya, sementara kelompok lainnya hanya mencatat hal-hal biasa. Hasilnya cukup menarik. Ibu-ibu yang rutin menuliskan hal-hal positif memiliki skor ketahanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Lebih dari itu, kadar prolaktin—hormon yang berperan penting dalam produksi ASI—setelah melahirkan juga berbeda signifikan antara kedua kelompok. Artinya, melatih diri untuk fokus pada hal-hal baik bisa membantu tubuh memproduksi hormon yang mendukung kelancaran ASI. Kolostrum dan Manfaat ASI untuk Si Kecil Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah melahirkan. Cairan kental berwarna kekuningan ini kaya akan antibodi dan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan bayi baru lahir. ASI sendiri memang sudah diakui dunia sebagai makanan terbaik untuk bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih. ASI mengandung berbagai mikrobiota dan komponen aktif biologis yang membantu perkembangan sistem kekebalan tubuh bayi. Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit infeksi, alergi, dan bahkan obesitas di kemudian hari. Oleh karena itu, upaya untuk mendukung kelancaran ASI sangat penting dilakukan. Selain Bahagia, Faktor Ini Juga Memengaruhi Produksi ASI Selain emosi positif, ada beberapa faktor lain yang juga berperan dalam keberhasilan menyusui, di antaranya: Frekuensi menyusui: Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak sinyal yang diterima tubuh untuk memproduksi ASI. Posisi dan perlekatan yang benar: Pastikan bayi menyusu dengan posisi yang nyaman dan mulutnya menempel dengan baik. Nutrisi ibu: Makan makanan bergizi seimbang dan minum cukup air putih sangat penting untuk mendukung produksi ASI. Dukungan keluarga: Dukungan dari suami dan orang terdekat dapat mengurangi stres dan membuat ibu lebih percaya diri. Tips Ampuh untuk Menjaga Perasaan Bahagia saat Menyusui Berdasarkan temuan studi tersebut, menjaga emosi positif adalah salah satu kunci untuk mendukung kelancaran ASI. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda coba: Latihan bersyukur: Setiap malam, tuliskan tiga hal baik yang terjadi di hari itu. Ini membantu melatih otak untuk fokus pada hal-hal positif. Cari dukungan sosial: Bergabunglah dengan komunitas ibu menyusui atau curhat dengan teman yang bisa dipercaya. Luangkan waktu untuk diri sendiri: Meski sibuk mengurus bayi, jangan lupa untuk melakukan hal yang Bunda nikmati, seperti membaca buku atau mendengarkan musik. Beristirahat yang cukup: Kurang tidur bisa membuat suasana hati memburuk. Usahakan untuk tidur saat bayi tidur. Konsultasi dengan ahli laktasi: Jika Bunda merasa kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi psikologi positif seperti latihan bersyukur dapat menjadi salah satu cara yang sederhana dan efektif untuk mendukung keberhasilan menyusui. Meski hasilnya tidak langsung terlihat, namun dengan melatih emosi positif, Bunda tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga turut berkontribusi pada kelancaran produksi ASI. Jadi, Bunda, jangan ragu untuk lebih sering tersenyum dan bersyukur. Kebahagiaan Bunda adalah kunci untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil.

Redaksi-07 Agustus 2026
Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya
Gaya Hidup

Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya

Zaman sekarang, melahirkan di usia 40 tahun atau lebih bukan lagi hal yang jarang. Sayangnya, masih ada stigma bahwa menyusui di usia tersebut menghasilkan ASI dengan kualitas rendah. Lantas, benarkah ada batas usia tertua untuk menyusui?Usia Bukanlah PenghalangMenurut para ahli, hingga saat ini tidak ada batasan usia tertentu yang membuat seorang ibu tidak boleh atau tidak mampu menyusui. Selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan, menyusui tetap bisa dilakukan dan memberikan manfaat optimal.Dr. Philippa Kaye, dokter umum asal Inggris, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kualitas ASI menurun hanya karena faktor usia. Banyak perempuan berusia 40 tahun ke atas yang sukses menyusui bayinya. “ASI adalah makanan pertama yang direkomendasikan untuk semua bayi, tanpa memandang usia ibunya,” ujarnya.Kualitas ASI: Usia vs KesehatanHingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ASI menjadi 'buruk' atau kehilangan nutrisi karena ibu lebih tua. Kualitas ASI lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu, frekuensi menyusui, serta kebutuhan bayi. Selama ibu sehat, bergizi baik, dan mendapat dukungan yang memadai, ASI tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak membedakan rekomendasi ASI berdasarkan usia ibu. WHO tetap menganjurkan inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif selama enam bulan, dan melanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih dengan MPASI. Artinya, usia bukanlah halangan selama tidak ada kontraindikasi medis.Faktor Penentu Keberhasilan MenyusuiKeberhasilan menyusui lebih ditentukan oleh pelekatan bayi yang benar, frekuensi menyusui, dukungan keluarga, serta pengosongan payudara secara rutin. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa sebagian besar ibu sehat mampu memproduksi ASI cukup jika proses menyusui efektif.Nadine Rosenblum, koordinator program laktasi di The Johns Hopkins Hospital, menambahkan bahwa banyak mitos membuat ibu berhenti menyusui lebih awal. Padahal, tubuh bayi sudah dipersiapkan untuk menerima ASI sebagai sumber makanan utama. “ASI adalah yang diharapkan tubuh bayi untuk dikonsumsi secara paling efektif,” jelasnya.Ibu di Atas 40 Tetap Bisa MenyusuiPerempuan yang melahirkan di usia 40 tahun atau lebih tetap bisa menyusui dengan sukses. Meskipun kehamilan di usia lebih tua memiliki risiko komplikasi seperti diabetes gestasional atau hipertensi, kondisi tersebut bukan berarti ibu tidak bisa menyusui. Dengan pemantauan yang baik, pemberian ASI tetap aman dan bermanfaat.Semakin banyak perempuan yang memilih hamil di usia matang karena karier, pendidikan, atau program kehamilan. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang. Jika Bunda mengalami kesulitan, seperti produksi ASI terasa kurang atau pelekatan belum optimal, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi.Ingatlah, tantangan menyusui bisa dialami ibu di segala usia. Faktor seperti kesehatan ibu, proses persalinan, frekuensi menyusui, dan dukungan keluarga justru lebih berperan daripada usia. Dengan demikian, tidak ada batas usia maksimal untuk menyusui. Selama ibu dan bayi sehat, ASI tetap menjadi nutrisi terbaik.

Redaksi-30 Juli 2026
Menyusui Saat Hamil, Apakah Aman untuk Ibu dan Janin?
Kesehatan Keluarga

Menyusui Saat Hamil, Apakah Aman untuk Ibu dan Janin?

Bagi ibu yang masih menyusui anak kecil lalu hamil lagi, muncul pertanyaan besar: apakah tetap boleh menyusui? Pengalaman ini dibagikan oleh Indah Ningtyas, istri komika Rigen Rakelna, yang baru saja melahirkan anak keempat melalui operasi caesar pada 11 Juni 2026. Ia mengaku tetap menyusui putra ketiganya, Nava, selama kehamilan hingga ASI-nya berhenti keluar dengan sendirinya.Pengalaman Indah: Menyusui sampai ASI HabisIndah menceritakan bahwa ia tidak langsung berhenti menyusui saat tahu hamil. "Selama ga ada kontraksi kata dokterku aman," tulisnya di Instagram. Keputusan ini diambil setelah berkonsultasi dengan dokter. Namun, karena jarak kehamilan yang dekat—Nava lahir Maret 2025 dan kehamilan keempat terdeteksi awal 2026—produksi ASI-nya perlahan berkurang hingga akhirnya tidak keluar lagi.Bagaimana Tubuh Menyesuaikan Diri?Menurut konsultan laktasi Lynnette Hafken, tubuh ibu hamil tetap memproduksi ASI, namun rasanya berubah menjadi kurang manis karena adanya kolostrum. Seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI bisa menurun karena energi tubuh lebih difokuskan pada janin. Faktor seperti frekuensi menyusui dan kapasitas penyimpanan ASI juga memengaruhi jumlah yang dihasilkan.Risiko yang Perlu DipertimbangkanMeski umumnya aman, menyusui saat hamil memiliki risiko, terutama jika ibu mengalami anemia atau riwayat persalinan prematur. Rangsangan pada puting melepaskan hormon oksitosin yang bisa memicu kontraksi. Oleh karena itu, ibu dengan risiko kelahiran prematur disarankan berhenti menyusui hingga usia kehamilan 37 minggu. Namun, pada kehamilan sehat, risiko ini rendah.Pandangan Islam tentang Al-GhiilahDalam Islam, menyusui saat hamil dikenal dengan istilah al-ghiilah dan hukumnya boleh. Nabi Muhammad SAW bahkan mengatakan bahwa bangsa Romawi dan Persia melakukannya tanpa membahayakan anak-anak mereka. Hal ini dikuatkan oleh kitab fiqih Kuwait yang menyebut makna al-ghiilah mencakup menyusui saat hamil.Tips untuk Ibu yang Ingin Menyusui Saat HamilKonsultasikan dengan dokter, bidan, atau konsultan laktasi terlebih dahulu.Perhatikan asupan nutrisi, terutama zat besi, untuk mencegah anemia.Jika muncul kontraksi atau nyeri, segera hentikan sementara dan konsultasi.Prioritaskan menyusui bayi baru lahir jika sudah melahirkan, untuk memastikan asupan ASI cukup.Setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda. Yang terpenting adalah mendengarkan tubuh dan mendapatkan saran medis yang tepat. Dengan begitu, ibu bisa menjalani peran ganda sebagai ibu menyusui dan ibu hamil dengan aman.

Redaksi-29 Juni 2026
NaraCerita