Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

bpjs

Berita dan Informasi bpjs

2 artikel ditampilkan

Minggu yang Penuh Kejutan: Dari Lapangan Hijau sampai War Tiket 17-an
Gaya Hidup

Minggu yang Penuh Kejutan: Dari Lapangan Hijau sampai War Tiket 17-an

Pekan pertama Agustus selalu punya cerita, tapi minggu ini benar-benar roller coaster emosi. Kita diajak tertawa, lalu tiba-tiba menangis, dan diakhiri dengan rasa bangga yang hangat. Kalau kamu ketinggalan momen-momen pentingnya, tenang—aku sudah merangkum semuanya untukmu.Duka di Lapangan: Indonesia vs Vietnam 0-3Pertandingan pembuka fase grup Piala AFF 2026 mempertemukan Garuda dengan Vietnam. Bermain di kandang sendiri, Stadion Pakansari, ekspektasi kita sempat melambung tinggi setelah kemenangan impresif melawan Kamboja. Namun, hasil akhir justru mengecewakan: 0-3 untuk keunggulan Vietnam.Kekalahan ini tentu perih, apalagi kita sempat berharap banyak pada penyerang baru, Mitchell Lee Baker, yang sebelumnya mencetak hat-trick. Meski rekor head-to-head memang memihak Vietnam, tetap saja sulit menerima kenyataan pahit ini. Posisi Indonesia di klasemen pun menjadi genting—kita wajib menang melawan Singapura di laga pamungkas untuk melaju ke semifinal.Yang menarik, antusiasme suporter tidak surut. Ribuan fans tetap memadati stadion dan media sosial dipenuhi dukungan. Semangat ini membuktikan bahwa kecintaan kita pada Garuda tidak pernah pudar. Kita semua berharap Indonesia bisa membawa pulang piala AFF pertama kalinya!Kocak dan Mendidik: Tren 'Saya Ganti Kimpul'Di tengah harga kebutuhan pokok yang meroket, media sosial mendadak dihibur oleh fenomena unik: kimpul. Berkat konten kreator Blacksheep, banyak anak muda dan Gen Z yang baru mengenal umbi tradisional ini. Dengan gaya bicara yang natural dan lucu, jargon khasnya, "Saya ganti dengan kimpul!", langsung melekat di ingatan.Tanpa disangka, konten sederhana ini menjadi pintu masuk untuk mengenalkan diversifikasi pangan lokal. Kimpul yang tadinya dianggap makanan jadul, kini disulap menjadi berbagai olahan menarik yang bikin penasaran. Di sela tekanan ekonomi, humor segar seperti ini mengingatkan kita betapa kayanya bahan pangan lokal yang bisa menjadi alternatif.Kisah Pilu Pasien BPJS yang Menggugah EmpatiDari tawa, suasana berubah haru. Publik digegerkan dengan kisah almarhum Yurizal yang membagikan perjuangannya menunggu penanganan medis berjam-jam menggunakan BPJS Kesehatan di Threads. Setelah kabar duka menyebar, emosi warganet meledak—bukan hanya karena sistemnya, tapi juga karena komentar tidak pantas dari beberapa oknum tenaga kesehatan yang merespons unggahan tersebut.Alih-alih simpati, yang muncul justru hujatan. Hal ini membuat banyak orang geram. Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa di balik prosedur dan administrasi, yang paling dibutuhkan pasien dan keluarga adalah empati dan kepedulian. Kita semua berharap tidak ada lagi cerita serupa di masa depan.War Tiket Upacara 17-an: Nasionalisme yang Tak Pernah RedupMenutup minggu yang penuh gejolak, ada kabar hangat menjelang HUT RI. Pemerintah membuka pendaftaran 8.100 tiket untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Negara. Tiket yang bisa dibeli pada 5–7 Agustus 2026 ini langsung diserbu masyarakat.Fenomena war tiket ini ramai diperbincangkan, dan melihat antusiasmenya, hati terasa hangat. Di tengah berbagai berita negatif dan kritik, momen ini menunjukkan bahwa nasionalisme warga tidak pernah luntur. Kamu termasuk yang ikut berebut tiket, nggak?Minggu yang penuh pasang surut ini memang melelahkan. Kalau kamu merasa overwhelmed, tidak apa-apa untuk rehat sejenak dari media sosial. Sempatkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan menonton film atau membaca buku. Selamat berakhir pekan dan jaga kesehatan, ya!

Redaksi-07 Agustus 2026
Menkes Angkat Bicara soal Dokter dan Nakes yang Tak Punya Empati pada Pasien
Keluarga

Menkes Angkat Bicara soal Dokter dan Nakes yang Tak Punya Empati pada Pasien

Bunda, beberapa hari terakhir ini media sosial ramai membahas sikap dingin sebagian dokter dan perawat terhadap pasien pengguna BPJS. Semuanya berawal dari cerita seorang pasien yang mengaku harus antre sangat lama di rumah sakit. Alih-alih mendapat simpati, ia malah menerima komentar pedas dari para tenaga kesehatan yang membuat hatinya semakin terluka. Kabar yang lebih memilukan, pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia. Orang-orang terdekatnya mengungkapkan bahwa perundungan di media sosial membuat kondisi kesehatan dan mentalnya semakin memburuk. Tentu saja ini menjadi perhatian serius banyak pihak, termasuk pemerintah. Reaksi Menteri Kesehatan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengaku sangat sedih dengan kejadian ini. Beliau menekankan bahwa empati adalah hal yang sangat penting, terutama bagi mereka yang bekerja melayani masyarakat, termasuk tenaga kesehatan. "Saya sedih sekali melihat tenaga kesehatan dan profesi lainnya yang melayani masyarakat harus memiliki empati yang baik. Kasihan masyarakat kita kalau kita tidak punya empati seperti itu," ujar Menkes saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis lalu. Langkah Tegas untuk Tenaga Kesehatan Menanggapi pertanyaan tentang sanksi bagi para pelaku perundungan, Menkes mengatakan akan memeriksa status kepegawaian mereka. Apakah yang bersangkutan berstatus pegawai tetap, honorer, atau masih berstatus pelajar atau mahasiswa. "Tindakan selanjutnya, nanti kita akan cek apakah yang bersangkutan statusnya itu pegawai atau masih pelajar," jelasnya. Sementara itu, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) telah mencatat setidaknya ada 10 nama dokter hingga perawat yang terlibat dalam komentar tidak menyenangkan terhadap pasien BPJS di media sosial Threads. Namun, jumlah ini bisa bertambah setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. "Kita bisa tahu semua di media sosial kan. PNS ada, swasta ada. Dokter gigi ada," ungkap Pimpinan KKI, Muhammad Syahril, saat ditemui di Jakarta Selatan. Sebagai pasien, kita tentu berharap pelayanan kesehatan di Indonesia semakin baik dan ramah. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama para tenaga kesehatan, untuk selalu mengedepankan empati dalam melayani pasien. Bunda, jika mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berobat, jangan ragu untuk menyampaikan keluhan melalui kanal resmi. Dengan begitu, kita turut berkontribusi dalam memperbaiki kualitas layanan kesehatan di tanah air.

Redaksi-07 Agustus 2026
NaraCerita