Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

budaya sunda

Berita dan Informasi budaya sunda

2 artikel ditampilkan

Belajar Bahasa Sunda untuk Si Kecil, Yuk Kenalkan dari Sekarang!
Keluarga

Belajar Bahasa Sunda untuk Si Kecil, Yuk Kenalkan dari Sekarang!

Bahasa Sunda adalah salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia, mencapai 32 juta jiwa. Bagi para ibu, mengajarkan bahasa Sunda kepada anak sejak dini bukan hanya memperkaya kemampuan berbahasa, tetapi juga menanamkan nilai sopan santun melalui undak usuk basa atau tingkatan bahasa. Yuk, kita pelajari bersama kalimat-kalimat sederhana yang bisa Ibu praktikkan bersama si kecil!Mengenal Ciri Khas Bahasa SundaSebelum mulai belajar, ada baiknya Ibu tahu beberapa keunikan bahasa Sunda. Pertama, bahasa ini memiliki tingkatan: lemes (halus), loma (akrab), dan kasar. Kedua, pelafalannya khas, terutama bunyi 'e', 'é', dan 'eu'. Ketiga, sering menggunakan partikel seperti 'teh', 'mah', dan 'atuh' untuk memperhalus kalimat. Misalnya, untuk kata 'jatuh' saja ada beberapa istilah seperti tikusruk, tijengkang, dan tijungkel, yang menggambarkan cara jatuh yang berbeda. Menarik, kan?Kalimat Sehari-hari untuk Si KecilMulailah dengan sapaan dan ungkapan sederhana yang sering digunakan. Berikut beberapa contoh yang bisa Ibu ajarkan:Sampurasun – Halo (sapaan formal)Kumaha damang? – Apa kabar? (untuk orang yang lebih tua)Wilujeng énjing – Selamat pagiWilujeng wengi – Selamat malamTepangkeun, nami abdi... – Perkenalkan, nama saya...Hatur nuhun – Terima kasihSami-sami – Sama-samaPunten – PermisiMuhun – IyaTeu acan – BelumBadé kamana? – Mau ke mana?Nuju naon? – Sedang apa?Tos emam? – Sudah makan?Abdi teu damang – Saya sakitKarunya teuing – Kasihan sekaliBogoh ka anjeun – Cinta sama kamu (untuk pasangan)Geus lila teu papanggih – Sudah lama tidak bertemuSing enggal damang – Semoga lekas sembuhKaduhung pisan – Sangat menyesalTipayun nya! – Duluan ya!Ibu bisa mempraktikkan kalimat-kalimat ini setiap hari agar si kecil terbiasa mendengar dan mengucapkannya.Mengajarkan Basa Lemes (Bahasa Halus)Bagian penting dari bahasa Sunda adalah basa lemes atau bahasa halus. Ini digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua, guru, atau orang yang baru dikenal. Mengajarkan basa lemes pada anak akan membentuk karakter sopan dan hormat. Contoh kalimat halus yang bisa Ibu ajarkan:Abdi badé ulin sareng réréncangan – Saya ingin bermain dengan teman-teman.Bapa badé tuang? – Ayah mau makan?Abdi hoyong ngabantosan – Saya ingin membantu.Punten, abdi badé angkat ti payun – Permisi, saya mau pergi duluan.Hapunten, abdi teu ngartos – Maaf, saya tidak mengerti.Dengan membiasakan menggunakan basa lemes di rumah, si kecil akan tumbuh menjadi anak yang santun dan dihormati orang lain.Selamat mencoba, Ibu! Semoga si kecil cepat fasih berbahasa Sunda dan bangga dengan budaya daerah sendiri.

Redaksi-06 Juli 2026
Atalia Praratya Kritik Lagu Bupati Purwakarta: Budaya Sunda Tak Ajar Merendahkan Perempuan
Keluarga

Atalia Praratya Kritik Lagu Bupati Purwakarta: Budaya Sunda Tak Ajar Merendahkan Perempuan

Sebuah lagu berbahasa Sunda yang viral di media belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Bukan karena melodinya yang indah, melainkan liriknya yang dinilai sangat tidak menghormati perempuan. Lagu berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, langsung menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk Atalia Praratya.Atalia: Saya Tidak Temukan Penghormatan pada PerempuanMelalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia menyampaikan keprihatinannya. Ia membagikan cuplikan video musik lagu tersebut lengkap dengan lirik dan terjemahannya. Atalia mengaku tidak habis pikir dengan isi lagu yang menurutnya sangat merendahkan martabat perempuan.“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.Ia mempertanyakan pilihan kata yang digunakan dalam lagu tersebut. Menurutnya, bahasa Sunda memiliki banyak kosakata indah dan penuh makna, tetapi mengapa justru narasi yang merendahkan yang dipilih. “Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?” ungkapnya.Budaya Sunda Menjunjung Saling MenghargaiAtalia, yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat, menegaskan bahwa budaya Sunda tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan perempuan. Sejak dulu, budaya Sunda menjunjung tinggi nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Nilai-nilai inilah yang seharusnya tercermin dalam setiap karya yang mengatasnamakan budaya Sunda.“Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” tegasnya. Ia menyoroti bahwa di tengah perjuangan kesetaraan gender, justru muncul narasi patriarkal dari seorang pejabat publik. “Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun, mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah? Bagaimana menurut kalian?” tanya Atalia.Dukungan Publik MengalirPostingan Atalia langsung mendapat dukungan luas dari netizen. Banyak yang menyayangkan lagu tersebut diciptakan oleh seorang pemimpin daerah. “Miris lihat seperti ini. Kapan mau majunya bangsa Indonesia. Padahal kita banyak pahlawan perempuan yang membuktikan kalau jasa perempuan tidak kalah dengan laki-laki,” tulis seorang netizen. “Yang kaya begini dijadiin pemimpin, Bapak lahir dari rahim perempuan loh, kok bisa-bisanya bikin lirik yang merendahkan perempuan,” tambah yang lain.Lirik Kontroversial: Singgung Anak SMP dan KeguguranLagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' menuai kritik karena liriknya yang menyebutkan anak perempuan usia SMP, keguguran, dan keterlambatan menstruasi. Berikut beberapa penggalan lirik yang menjadi sorotan:“Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali”“Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki, tidak usah membeli bra”“Tidak usah keluyuran mencari apotek karena telat bulan”“Tidak usah melukis alis dan bulu mata”Lirik-lirik ini dinilai sangat tidak pantas dan melecehkan perempuan. Banyak yang berharap lagu ini segera ditarik dan Bupati yang bersangkutan memberikan klarifikasi.

Redaksi-03 Juli 2026
NaraCerita