Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

energi terbarukan

Berita dan Informasi energi terbarukan

3 artikel ditampilkan

Cadangan Listrik Rumah yang Ramah Lingkungan: Pilihan Solar Generator Praktis
Keluarga

Cadangan Listrik Rumah yang Ramah Lingkungan: Pilihan Solar Generator Praktis

Hidup di Indonesia memang akrab dengan pemadaman listrik, entah karena cuaca ekstrem atau perawatan jaringan. Saat lampu padam, banyak aktivitas jadi terhambat. Kalau dulu kita bergantung pada genset bensin yang berisik dan berasap, sekarang ada alternatif yang jauh lebih bersih dan tenang, yaitu portable solar generator.Alat ini mengandalkan energi matahari yang diubah menjadi listrik, sehingga tidak menghasilkan emisi atau kebisingan. Cocok banget untuk Bunda yang ingin tetap nyaman menjalankan aktivitas di rumah saat listrik mati, atau bahkan saat berkemah bersama keluarga. Berikut beberapa rekomendasi yang bisa Bunda pertimbangkan.Solusi Ringkas untuk Kebutuhan RinganJika Bunda hanya butuh sumber listrik untuk mengisi ponsel, kamera, atau perangkat kecil lainnya, panel surya lipat bisa menjadi pilihan praktis. FLEXSOLAR E20 PRO dengan daya 20W dan port USB-A dan USB-C sangat mudah dibawa ke mana-mana. Desainnya yang ramping dan ringan membuatnya pas untuk aktivitas outdoor seperti camping atau hiking.Power Station Serbaguna untuk KeluargaUntuk kebutuhan yang lebih besar, power station portabel seperti Tonivaso 300W bisa diandalkan. Dengan kapasitas baterai 167Wh (50.000mAh), alat ini menyediakan berbagai output seperti AC 220V, USB QC3.0, DC, dan Type-C. Bunda bisa menggunakannya untuk menyalakan kipas angin, laptop, atau bahkan rice cooker kecil saat listrik padam.Pilihan lain yang tak kalah menarik adalah PB SOLAR PB-B200 dengan kapasitas 192Wh (60.000mAh) dan output AC 220–250V. Keunggulannya, alat ini bisa diisi ulang sambil digunakan, jadi Bunda tidak perlu khawatir kehabisan daya saat keadaan darurat.Tenaga Besar untuk Rumah TanggaBagi yang butuh cadangan listrik lebih besar, EcoFlow RIVER 2 Pro layak dilirik. Dengan kapasitas 768Wh dan output 800W (bisa naik hingga 1600W dengan teknologi X-Boost), alat ini mampu mendukung banyak perangkat sekaligus. Pengisiannya pun cepat, hanya sekitar 70 menit untuk penuh. Baterai LFP-nya awet hingga 3000 siklus, jadi investasi jangka panjang yang bijak.Tak kalah tangguh, JETE PS800 hadir dengan daya maksimal 800W dan delapan port output. Bunda bisa mengisi daya smartphone, laptop, kamera, drone, lampu, bahkan kulkas mini secara bersamaan. Dengan garansi dua tahun, alat ini menawarkan ketenangan pikiran bagi keluarga.Memilih solar generator memang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau hanya untuk perangkat kecil, cukup panel lipat. Tapi untuk cadangan listrik rumah yang lebih serius, power station dengan kapasitas besar adalah pilihan tepat. Semoga informasi ini membantu Bunda menemukan solusi listrik cadangan yang tepat, ya!

Redaksi-30 Agustus 2026
Mimpi Energi Bersih, Air Bersih Warga Jadi Taruhan
Gaya Hidup

Mimpi Energi Bersih, Air Bersih Warga Jadi Taruhan

Udara pagi di Dusun Watucapil, Ijen, biasanya segar dan menenangkan. Namun sejak Maret 2024, segelas air minum yang biasa dinikmati warga berubah jadi mimpi buruk. Air yang dulu jernih itu kini berwarna kehijauan, meninggalkan rasa pahit dan sensasi kering di tenggorokan. Tak butuh waktu lama, keluhan kesehatan mulai berdatangan – mual, diare, terutama pada anak-anak. Beberapa bahkan harus dirawat di puskesmas.“Anak-anak mual dan diare, ada tiga-empat orang yang opname. Kami yakin ini dari air yang kami minum,” ujar Donny, perangkat desa setempat. Warga menduga pencemaran berasal dari aktivitas pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen Blawan milik PT Medco Cahaya Geothermal. Namun perusahaan membantah adanya kaitan langsung antara gangguan kesehatan warga dengan operasional proyek. Mereka menilai keluhan tersebut terlalu dibesar-besarkan.Warga tak tinggal diam. Mereka meminta perusahaan memulihkan akses air bersih. Sempat ada rencana mencari sumber air alternatif di Gunung Ranti, namun kandas karena lokasinya terlalu jauh. Akhirnya, perusahaan hanya memberikan bantuan air bersih sementara dan menutup saluran pembuangan limbah yang diduga menjadi sumber pencemaran pada April 2024.Uji Laboratorium Ungkap FaktaBersama Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), kami melakukan uji laboratorium pada lima sumber mata air di Desa Kalianyar pada 22 April 2024. Hasilnya? Seluruh sampel masuk kategori tercemar ringan berdasarkan baku mutu air bersih. Rifnida Azmi Fitratian, peneliti kimia lingkungan dari PoskoKKLuLa, menjelaskan bahwa selain limbah proyek, faktor lain seperti material organik, kotoran hewan, dan residu pupuk juga bisa memengaruhi kualitas air. Namun ia menekankan bahwa sumber air ini adalah sumber utama warga, sehingga pemantauan berkala mutlak diperlukan.Mandailing Natal: Air Berkurang, Panen MerosotDi Mandailing Natal, Sumatera Utara, petani seperti Sita (41) mengeluh debit air ke sawahnya berkurang drastis sejak perusahaan panas bumi beroperasi. “Sejak ada perusahaan, aliran air ya berkurang jadi segitu,” katanya. Akibatnya, hasil panen terus menurun, menggerus pendapatan keluarganya. Sementara itu, Kepala Puskesmas Sibanggor Jae, Miva Riani Siregar, mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di desa-desa sekitar proyek. Lebih mengkhawatirkan lagi, wilayah ini beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S yang mematikan. Pada 2021, lima warga meninggal. Tahun berikutnya 58 warga keracunan. Terbaru, pada Februari 2024, 123 warga dilaporkan keracunan akibat kebocoran gas serupa.Mataloko: Kenangan Pahit yang Tak Kunjung UsaiDi Mataloko, Nusa Tenggara Timur, proyek panas bumi sudah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade. Namun semburan lumpur panas dan bau sulfur masih setia menemani warga. Inu dan Maria Baka yang tinggal sekitar satu kilometer dari pusat semburan sering terbangun oleh bau sulfur pekat menjelang subuh. Bau itu memicu sesak napas dan gatal-gatal pada kulit. “Kami harus beli obat Rp50 ribu sehari. Salep untuk kulit, obat batuk,” keluh Maria. Bagi mereka, dampak proyek energi tak berakhir saat mesin berhenti berputar.Kisah-kisah ini menggambarkan ironi besar: demi mewujudkan mimpi energi bersih dan berkelanjutan, warga lingkar panas bumi justru menggadaikan hak dasar mereka atas air bersih, kesehatan, dan kehidupan yang layak. Pertanyaan yang menggantung: sampai kapan mimpi itu harus dibayar mahal oleh mereka yang tak pernah menikmati listrik yang dihasilkan?

Redaksi-29 Juni 2026
Derita Warga di Sekitar Proyek Panas Bumi
Gaya Hidup

Derita Warga di Sekitar Proyek Panas Bumi

Anak-anak di TK Pusparini, Desa Kalianyar, Bondowoso, Jawa Timur, punya istilah sendiri untuk aroma yang sering menyergap kampung mereka: 'bau pengeboran'. Sebutan itu muncul sejak pengeboran sumur eksplorasi panas bumi dimulai pada April 2020. Kini, bau menyengat itu sudah jadi bagian hidup warga yang rumahnya dekat dengan proyek.Tim kami mengunjungi Kalianyar pada April lalu. Bau itu kembali muncul setelah hujan reda. Aromanya seperti campuran gas bocor dan telur busuk. Kadang bau itu bertahan hingga dua puluh menit sebelum hilang perlahan.Bau Gas dan Gangguan KesehatanBau tersebut berasal dari hidrogen sulfida (H?S) dan belerang yang dilepaskan PLTP Ijen Blawan. Pembangkit yang mulai beroperasi pada 7 Februari 2025 itu berdiri tak jauh dari permukiman. Pipa-pipa uap panas membentang di atas lahan pertanian warga, dan beberapa rumah hanya berjarak kurang dari 100 meter dari fasilitas operasional.Namun, persoalan tak berhenti pada bau. Warga mengeluhkan sumber air yang berubah, gangguan kesehatan, hingga hasil pertanian yang menurun. Keluhan serupa juga kami temukan di dua wilayah lain: Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur.Ambisi Energi vs. Realitas WargaIndonesia menargetkan panas bumi sebagai salah satu sumber energi utama. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas panas bumi ditargetkan bertambah 5.200 megawatt. Sejumlah proyek bahkan masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional (Obvitnas).Pemerintah mengklaim eksplorasi dilakukan dengan memperhatikan lingkungan. Muhammad Attar Majid dari Ditjen EBTKE mengatakan regulasi sudah diterbitkan untuk mengelola dampak. Namun, ia mengakui respons masyarakat tidak seragam. 'Banyak yang menolak, ada juga yang menerima karena efeknya,' ujarnya.Tiga Wilayah, Satu CeritaKami menelusuri tiga lokasi dengan karakteristik berbeda. PLTP Ijen dikelola perusahaan patungan Medco Energi dan Ormat Technologies (AS-Israel). PLTP Mandailing Natal 95% sahamnya dimiliki PT Sorik Marapi Geothermal Power (Singapura). Sementara PLTP Mataloko dikelola langsung PLN (BUMN).Di Ijen, keluhan sudah muncul sejak eksplorasi, namun berita setelah beroperasi masih terbatas. Proyek ini berdiri di atas lahan HGU PTPN dan Perhutani, bukan tanah warga. Status itu memengaruhi relasi masyarakat dengan proyek.Di Mandailing Natal, PLTP sudah beroperasi sejak 2019 dan beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S. Laporan JATAM menyebut paparan gas bisa menyebabkan pingsan, kelumpuhan pernapasan, hingga kematian.Di Mataloko, PLTP sempat beroperasi pada 2010, lalu berhenti karena penurunan kapasitas uap dan kerusakan mesin. Kini proyek kembali dalam tahap pengembangan.Dampak Nyata yang Tak TerbantahkanWarga di tiga wilayah bercerita tentang perubahan sumber air, gangguan kesehatan, dan penurunan hasil pertanian. Mereka juga masih menanti jawaban atas pertanyaan tentang dampak proyek terhadap ruang hidup mereka.Kami menggunakan panduan Gender Impact Assessment (GIA) dari Oxfam untuk menganalisis dampak, terutama pada perempuan. Namun, karena keterbatasan waktu, analisis tidak dilakukan secara menyeluruh.

Redaksi-29 Juni 2026
NaraCerita