Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

ibu dan anak

Berita dan Informasi ibu dan anak

4 artikel ditampilkan

Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru
Keluarga

Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru

Gentle parenting belakangan menjadi topik hangat di kalangan orang tua, terutama para ibu. Pendekatan ini menekankan empati, komunikasi, dan kedekatan dengan anak. Namun, sering kali konsepnya disalahartikan sebagai pola asuh yang membebaskan anak tanpa batas. Padahal, gentle parenting tetap memiliki aturan dan disiplin yang jelas.Apa Sebenarnya Gentle Parenting?Menurut psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith, gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. "Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak, disiplin yang penuh perhatian, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ujarnya. Tujuannya adalah mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih sayang, namun tetap konsisten pada batasan sehat.Beda dengan Permissive ParentingBanyak yang menganggap gentle parenting sama dengan permissive parenting. Padahal, keduanya berbeda. Permissive parenting cenderung minim aturan dan memberikan kebebasan berlebihan, sering kali untuk menghindari konflik. Sementara gentle parenting tetap memberikan batasan yang jelas dan konsisten, meski disampaikan dengan empati. Orang tua tetap memegang kendali, bukan anak yang mengatur segalanya.Kesalahpahaman yang Sering TerjadiBerikut beberapa anggapan keliru tentang gentle parenting yang perlu Bunda ketahui:Tidak boleh menolak keinginan anak. Faktanya, mengatakan 'tidak' adalah bagian penting dari gentle parenting. Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan bahwa gentle parenting adalah bentuk authoritative parenting yang memadukan batasan tegas dengan hubungan hangat. Anak justru membutuhkan batasan agar merasa aman.Satu-satunya cara membesarkan anak yang baik. Tidak ada bukti ilmiah bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan yang benar. Penelitian justru menunjukkan bahwa authoritative parenting yang paling konsisten berdampak positif pada perkembangan anak.Orang tua tidak boleh marah. Menetapkan standar terlalu tinggi untuk selalu tenang justru bisa memicu burnout. Marah dan lelah adalah hal wajar. Anak tidak butuh orang tua sempurna, tetapi contoh bagaimana menghadapi emosi dengan sehat.Membuat anak manja. Gentle parenting tetap menerapkan aturan dan konsekuensi ketika dilanggar. Tujuannya memberi arahan, bukan menakut-nakuti, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi.Harus menghapus pola asuh masa kecil. Tidak perlu membandingkan dengan pengasuhan orang tua dulu. Yang terpenting adalah membangun hubungan yang aman dan penuh pengertian dengan anak, tanpa harus melupakan pengalaman masa lalu.Intinya, gentle parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang hadir dengan empati dan tetap teguh pada batasan yang sehat. Dengan pemahaman yang benar, Bunda dapat menerapkannya secara seimbang tanpa merasa terbebani.

Redaksi-08 Oktober 2026
Hati Ibu Tak Pernah Menyerah: Acha Septriasa Ungkap Perjuangan Co-Parenting Lintas Negara
Keluarga

Hati Ibu Tak Pernah Menyerah: Acha Septriasa Ungkap Perjuangan Co-Parenting Lintas Negara

Artis cantik Acha Septriasa kembali menjadi sorotan setelah unggahan Instagram-nya yang menyentuh hati. Dengan latar foto liburan bersama putri kesayangannya, Bridgia Kalina Kharisma, ia menuliskan curahan hati tentang perjalanan co-parenting yang ia jalani sejak 2025.Haru Biru di Balik Liburan IndahDalam keterangan fotonya, Acha mengaku bahwa setiap detik kebersamaan dengan Bridgia adalah harta yang tak ternilai. Namun, di balik senyum manis dalam foto, tersimpan rasa sakit saat harus berpisah. “Keputusan pengasuhan hari ini tidak mudah untuk diterima, dan tidak bisa memeluk putriku membuat hatiku hancur. Tapi perjalanan ini menuntut kesabaran, kekuatan, dan keteguhan hati,” tulis Acha dengan jujur.Ia melanjutkan, “Aku berjuang setiap hari untuk menciptakan kehidupan yang aman dan stabil bagi kita.” Ungkapan ini menunjukkan betapa besar cinta dan pengorbanan seorang ibu demi anaknya, meski harus rela tinggal terpisah negara.Co-Parenting Lintas Benua: Antara Australia dan IndonesiaSejak resmi berpisah dengan Vicky Kharisma pada Mei 2025, Acha dan Vicky sepakat untuk menjalani co-parenting. Namun, tantangan makin besar karena Bridgia kini tinggal bersama ayahnya di Australia, sementara Acha masih memiliki komitmen karier di Indonesia.Kondisi ini memaksa Acha untuk bolak-balik Indonesia-Australia demi bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan putrinya. Meski melelahkan, ia tidak pernah mengeluh. “Co-parenting di dua negara telah mengajarkanku bahwa waktu bersama itu sangat berharga, dan cinta tidak mengenal jarak,” ungkapnya penuh makna.Pesan untuk Semua Ibu HebatLewat unggahan yang sama, Acha juga menyampaikan pesan harapan. “Semua yang kulakukan adalah untukmu, dan aku berjanji—kita akan bersama lagi. Waktu yang akan menjawab. Selalu lebih kuat bersama,” curhatnya.Kisah Acha Septriasa ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para ibu, bahwa perjuangan untuk anak tidak pernah berhenti, meski harus berhadapan dengan jarak, waktu, dan air mata. Cinta seorang ibu sejati memang tak mengenal batas.

Redaksi-30 Juli 2026
Berjuang Lawan OCD Ekstrem, Aliando Syarief Bagikan Tips Jaga Kesehatan Mental
Kesehatan Keluarga

Berjuang Lawan OCD Ekstrem, Aliando Syarief Bagikan Tips Jaga Kesehatan Mental

Aliando Syarief akhirnya kembali menyapa penggemar setelah menjalani masa istirahat panjang. Bukan karena cedera fisik, melainkan demi memulihkan kesehatan mentalnya yang sempat terganggu akibat OCD ekstrem. Gangguan ini membuatnya kesulitan menjalani rutinitas sehari-hari, termasuk syuting dan bertemu orang banyak.Apa Itu OCD?OCD adalah kondisi di mana seseorang mengalami pikiran obsesif yang memicu kecemasan, lalu melakukan tindakan kompulsif untuk meredakannya. Bagi Aliando, gejalanya sangat berat hingga ia harus benar-benar vakum. Namun, perlahan ia bangkit dan menemukan cara untuk mengelola kondisinya.Tips Jaga Kesehatan Mental ala AliandoMenurut Aliando, kunci utama adalah konsistensi dalam melakukan 'kalibrasi' diri. Istilah yang ia gunakan ini berarti menyesuaikan kembali keseimbangan antara fisik dan mental. Berikut beberapa langkah yang ia terapkan:Rutin Berolahraga: Olahraga ringan seperti jogging atau yoga membantu menstabilkan mood dan mengurangi kecemasan.Meditasi dan Relaksasi: Meluangkan waktu sejenak untuk bernapas dalam dan menenangkan pikiran sangat membantunya.Menjaga Pola Tidur: Tidur cukup dan teratur menjadi prioritas agar otak bisa beristirahat optimal.Mengurangi Beban Pikiran: Aliando belajar untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal di luar kendali dan fokus pada apa yang bisa ia lakukan saat ini.Dukungan Orang Terdekat: Keluarga dan teman-teman menjadi support system yang penting selama masa pemulihan.Pentingnya Kesadaran akan Kesehatan MentalAliando berharap pengalamannya bisa menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang mungkin mengalami gejala serupa. Ia menekankan bahwa gangguan mental bukanlah aib, melainkan kondisi yang perlu ditangani dengan serius. Jika dibiarkan, bisa berdampak buruk pada kualitas hidup.Bagi para ibu Indonesia, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika merasa kesulitan mengelola stres, kecemasan, atau pikiran obsesif. Seperti Aliando, langkah kecil untuk merawat diri sendiri bisa membawa perubahan besar.

Redaksi-30 Juli 2026
Gerak Tubuh, Tenangkan Pikiran: Olahraga sebagai Me Time Ibu
Kesehatan Keluarga

Gerak Tubuh, Tenangkan Pikiran: Olahraga sebagai Me Time Ibu

Sebagai ibu, Anda mungkin sering merasa lelah secara fisik dan mental. Rutinitas mengurus anak, suami, dan rumah tangga kadang membuat Anda lupa pada diri sendiri. Banyak yang mengira me time hanya bisa didapat dengan pergi ke salon atau liburan, padahal ada cara yang lebih sederhana: bergerak.Olahraga Bukan Sekadar Bakar KaloriSayangnya, olahraga sering dikaitkan dengan target berat badan atau bentuk tubuh ideal. Jika tidak turun berat badan, banyak ibu merasa gagal. Padahal, manfaat olahraga jauh lebih besar dari sekadar angka di timbangan. Saat Anda bergerak, otak melepaskan endorfin dan dopamin yang membuat suasana hati lebih baik dan stres berkurang.Ruang Jeda untuk Pikiran yang PenatMenjadi ibu berarti harus selalu siap sedia. Namun, pikiran butuh istirahat. Olahraga memberi Anda ruang untuk fokus pada napas dan gerakan tubuh, bukan pada daftar tugas yang menumpuk. Jalan kaki 30 menit di pagi hari atau yoga singkat bisa menjadi jeda yang menyegarkan.Dengarkan Tubuh AndaTidak perlu olahraga berat setiap hari. Ada kalanya tubuh butuh gerakan ringan seperti peregangan atau jalan santai. Mendengarkan kebutuhan tubuh adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Ini juga mengajarkan anak bahwa merawat diri itu penting.Mulai dari Langkah KecilAnda bisa mulai dengan 10 menit peregangan setelah anak tidur, atau ajak si kecil jalan-jalan sore. Yang penting adalah konsistensi, bukan intensitas. Jadikan olahraga sebagai waktu Anda sendiri, tanpa gangguan. Nikmati prosesnya, dan lihat bagaimana pikiran Anda menjadi lebih tenang.Jadi, ibu-ibu hebat, jangan ragu untuk meluangkan waktu bergerak. Itu bukan egois, tapi cara Anda menjaga diri agar bisa terus merawat keluarga dengan bahagia.

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita