Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Keluarga

Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru

Banyak ibu mendengar istilah gentle parenting dan langsung membayangkan pola asuh yang serba lembut, tanpa aturan, dan selalu mengalah pada anak. Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Mari kita luruskan kesalahpahaman yang sering terjadi agar tidak salah langkah dalam mendidik buah hati.

Rini Azhari
Rini Azhari
Penulis NaraCerita
-08 Oktober 2026 -11:00:00 WIB
Ukuran teks
Gentle Parenting: Antara Empati dan Batasan yang Sering Keliru

Gentle parenting belakangan menjadi topik hangat di kalangan orang tua, terutama para ibu. Pendekatan ini menekankan empati, komunikasi, dan kedekatan dengan anak. Namun, sering kali konsepnya disalahartikan sebagai pola asuh yang membebaskan anak tanpa batas. Padahal, gentle parenting tetap memiliki aturan dan disiplin yang jelas.

Apa Sebenarnya Gentle Parenting?

Menurut psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith, gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. "Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak, disiplin yang penuh perhatian, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ujarnya. Tujuannya adalah mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih sayang, namun tetap konsisten pada batasan sehat.

Beda dengan Permissive Parenting

Banyak yang menganggap gentle parenting sama dengan permissive parenting. Padahal, keduanya berbeda. Permissive parenting cenderung minim aturan dan memberikan kebebasan berlebihan, sering kali untuk menghindari konflik. Sementara gentle parenting tetap memberikan batasan yang jelas dan konsisten, meski disampaikan dengan empati. Orang tua tetap memegang kendali, bukan anak yang mengatur segalanya.

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Berikut beberapa anggapan keliru tentang gentle parenting yang perlu Bunda ketahui:

  • Tidak boleh menolak keinginan anak. Faktanya, mengatakan 'tidak' adalah bagian penting dari gentle parenting. Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan bahwa gentle parenting adalah bentuk authoritative parenting yang memadukan batasan tegas dengan hubungan hangat. Anak justru membutuhkan batasan agar merasa aman.
  • Satu-satunya cara membesarkan anak yang baik. Tidak ada bukti ilmiah bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan yang benar. Penelitian justru menunjukkan bahwa authoritative parenting yang paling konsisten berdampak positif pada perkembangan anak.
  • Orang tua tidak boleh marah. Menetapkan standar terlalu tinggi untuk selalu tenang justru bisa memicu burnout. Marah dan lelah adalah hal wajar. Anak tidak butuh orang tua sempurna, tetapi contoh bagaimana menghadapi emosi dengan sehat.
  • Membuat anak manja. Gentle parenting tetap menerapkan aturan dan konsekuensi ketika dilanggar. Tujuannya memberi arahan, bukan menakut-nakuti, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi.
  • Harus menghapus pola asuh masa kecil. Tidak perlu membandingkan dengan pengasuhan orang tua dulu. Yang terpenting adalah membangun hubungan yang aman dan penuh pengertian dengan anak, tanpa harus melupakan pengalaman masa lalu.

Intinya, gentle parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang hadir dengan empati dan tetap teguh pada batasan yang sehat. Dengan pemahaman yang benar, Bunda dapat menerapkannya secara seimbang tanpa merasa terbebani.

Rini Azhari
Rini Azhari

Penulis dan kontributor di NaraCerita.com.

Suka artikel ini?

Dapatkan tips parenting pilihan langsung ke email Anda setiap minggu.

Artikel Terkait

NaraCerita