Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

ivf

Berita dan Informasi ivf

5 artikel ditampilkan

Kisah Sinyorita Esperanza: Perjuangan IVF di Usia 44 dan Kehilangan di Usia 6 Minggu
Kesehatan Keluarga

Kisah Sinyorita Esperanza: Perjuangan IVF di Usia 44 dan Kehilangan di Usia 6 Minggu

Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air. Sinyorita Esperanza, presenter dan komedian yang dikenal ceria, baru saja mengalami keguguran setelah menjalani program bayi tabung (IVF) untuk kedua kalinya. Perempuan berusia 44 tahun ini mengumumkan kabar tersebut melalui unggahan emosional di akun Instagram pribadinya.Perjalanan IVF yang Penuh HaruSinyorita dan suaminya, Robby, pertama kali mencoba IVF pada 2021, namun belum berhasil. Pada 2026, mereka kembali berjuang menjalani program yang sama. Sinyorita menceritakan bahwa proses transfer embrio (ET) berjalan lancar, dilanjutkan dengan masa tunggu dua minggu yang ia jalani dengan bedrest. Saat tes beta hCG, hasilnya positif 280—tanda kehamilan.Kebahagiaan menyelimuti keluarga kecilnya, termasuk putra pertama mereka, Abang Aca. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Pada 9 September, Sinyorita mengalami keguguran saat kehamilan baru memasuki usia 6 minggu. Ia pun memberikan nama untuk calon buah hatinya: Baby Bala Bala atau Queena.Ucapan Syukur dan DoaMeski dilanda kesedihan, Sinyorita tetap mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa dari teman-teman serta para pengikutnya. Ia meyakini bahwa Baby Queena kini telah menjadi tabungan surga bagi dirinya dan suami. "Mewakili The Bundars, mau bilang makasih ya atas support dan doanya. #innalillahiwainnailaihirojiun #babyqueenatabungansurga," tulisnya.Warganet pun membanjiri kolom komentar dengan ucapan duka dan semangat. Banyak yang mendoakan agar Sinyorita lekas pulih dan diberi ketabahan.Fakta Tentang Keguguran di Usia 6 MingguKeguguran di awal kehamilan, seperti yang dialami Sinyorita, bukan hal yang jarang terjadi. Menurut studi, sekitar 1 dari 3 perempuan pernah mengalami keguguran. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:Usia ibu di atas 35 tahunKelainan kromosom pada janinInfeksi atau penyakit kronisGaya hidup tidak sehatMeski demikian, setiap kehamilan memiliki keunikannya sendiri. Dukungan moral dan medis sangat penting bagi pasangan yang sedang berjuang menjalani program kehamilan.Pelajaran Berharga dari Kisah SinyoritaKisah Sinyorita mengajarkan kita tentang ketangguhan dan keikhlasan. Ia menunjukkan bahwa di balik rasa sakit, masih ada ruang untuk bersyukur dan berbagi cinta. Semoga kisahnya menginspirasi para Bunda yang sedang berjuang mendapatkan momongan untuk tidak menyerah dan terus berdoa.

Redaksi-17 September 2026
Panduan Suntik Obat IVF Mandiri: Aman dan Nyaman di Rumah
Keluarga

Panduan Suntik Obat IVF Mandiri: Aman dan Nyaman di Rumah

Program bayi tabung atau IVF memang membutuhkan perjuangan ekstra, baik secara fisik maupun emosional. Salah satu momen yang sering membuat Bunda cemas adalah ketika harus menyuntikkan obat kesuburan sendiri di rumah. Padahal, dengan pemahaman yang benar, Bunda bisa melakukannya dengan aman dan nyaman. Yuk, simak panduan lengkapnya!Mengenal Protokol Stimulasi IVFDalam siklus IVF, biasanya ada dua jenis obat suntik yang digunakan. Yang pertama berfungsi mencegah ovulasi dini, dan yang kedua merangsang pertumbuhan sel telur. Protokolnya bisa berbeda-beda, namun umumnya menggunakan Lupron yang disuntikkan sejak hari ke-21 siklus menstruasi, serta hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang diberikan sekitar 9 hari untuk mematangkan sel telur.Obat FSH sendiri memiliki beberapa merek dagang seperti Follistim, Gonal-F, Menopur, dan Bravelle. Semuanya diberikan melalui suntikan subkutan atau intramuskular, tergantung jenisnya.Tips Aman Menyuntik Obat IVF SendiriBerikut langkah-langkah yang bisa Bunda ikuti agar proses injeksi berjalan lancar tanpa rasa sakit berlebih:Pilih lokasi yang tepat: Area perut sekitar pusar, paha bagian luar, atau lengan atas bagian belakang adalah lokasi ideal untuk suntikan subkutan.Bersihkan kulit: Usap area dengan kapas alkohol secara melingkar dari tengah ke luar, lalu biarkan kering sendiri agar tidak perih saat jarum masuk.Buka jarum dengan hati-hati: Lepaskan penutup jarum perlahan agar posisinya tidak bergeser.Teknik menusuk: Pegang alat suntik seperti pensil, cubit sedikit kulit, lalu tusukkan jarum dengan sudut 90 derajat menggunakan gerakan cepat seperti melempar panah.Periksa darah: Setelah jarum masuk, tarik plunger sedikit. Jika tidak ada darah, tekan plunger perlahan hingga obat habis. Jika ada darah, cabut jarum, ganti dengan yang baru, dan ulangi di lokasi berbeda.Cabut jarum dengan lembut: Setelah obat masuk, lepaskan cubitan dan cabut jarum cepat. Tekan bekas suntikan dengan kapas bersih selama 10-15 detik.Rotasi lokasi: Ganti titik suntikan setiap hari untuk mencegah iritasi dan benjolan.Buang limbah medis dengan aman: Simpan jarum bekas dalam wadah keras seperti toples kaca, lalu serahkan ke klinik IVF untuk dimusnahkan.Itulah panduan lengkap menyuntik obat IVF sendiri di rumah. Kunci utamanya adalah ketenangan dan kebersihan. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau perawat jika masih ada keraguan. Semoga perjuangan Bunda membuahkan hasil yang indah!

Redaksi-14 September 2026
Mitos dan Fakta Program Bayi Tabung di Usia 40 Tahun
Berita

Mitos dan Fakta Program Bayi Tabung di Usia 40 Tahun

Kehadiran teknologi reproduksi seperti bayi tabung atau IVF memang memberikan harapan baru bagi pasangan yang mendambakan buah hati. Terlebih, kabar selebritas yang berhasil hamil di usia kepala empat seringkali menjadi penyemangat. Namun, di balik cerita sukses tersebut, ada realita yang perlu dipahami dengan baik.Kisah Selebritas yang MenginspirasiMemang tak bisa dipungkiri, banyak artis yang berhasil memiliki anak di usia 40 tahun ke atas. Anne Hathaway dan Natalie Portman, misalnya, sukses hamil di usia 43 dan 45 tahun. Ada juga Jennifer Meyer yang melahirkan di usia 49 tahun, serta Halle Berry dan Janet Jackson yang masing-masing melahirkan di usia 47 dan 50 tahun. Kisah-kisah ini tentu memberi harapan bagi para pejuang garis dua.Fakta di Balik Kesuksesan IVFNamun, perlu diingat bahwa kasus-kasus tersebut adalah pengecualian, bukan aturan umum. Menurut Jaime Knopman, ahli endokrinologi reproduksi di CCRM Fertility of New York, banyak pasien yang datang dengan semangat setelah membaca kisah selebritas. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu.Sebuah studi komprehensif menunjukkan bahwa kurang dari 3 persen wanita yang memulai siklus IVF di usia 45 tahun akan melahirkan bayi hidup. Angka ini bahkan menurun drastis mendekati nol pada usia 46 tahun. Meski begitu, bagi mereka yang sangat menginginkan anak, peluang sekecil apa pun terasa berharga.Data Tingkat Keberhasilan IVF Berdasarkan UsiaBerdasarkan data dari Journal of Assisted Reproduction and Genetics, tingkat keberhasilan IVF menggunakan sel telur sendiri adalah sebagai berikut:Usia 43-44 tahun: sekitar 8-10 persen per siklus.Usia 45 tahun ke atas: kurang dari 5 persen per siklus.Sementara itu, jika menggunakan donor sel telur atau embrio, tingkat keberhasilannya meningkat drastis hingga sekitar 37 persen, bahkan untuk usia 43-45 tahun. Namun, angka-angka ini hanyalah rata-rata populasi dan tidak bisa dijadikan patokan pasti untuk setiap individu.Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan IVFKeberhasilan IVF sangat bergantung pada banyak faktor, seperti cadangan ovarium, kesehatan secara keseluruhan, riwayat reproduksi, dan protokol perawatan yang dirancang oleh spesialis. Menjalani beberapa siklus juga dapat meningkatkan peluang keberhasilan kumulatif.Alternatif untuk Meningkatkan PeluangBagi yang merasa buntu dengan metode konvensional, ada beberapa prosedur tambahan yang ditawarkan, seperti terapi sel punca, terapi penggantian mitokondria, dan PRP ovarium. Prosedur-prosedur ini tergolong eksperimental dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Misalnya, PRP ovarium bisa menghabiskan sekitar USD 3.000 untuk sekali tindakan.Dengan memahami realita ini, diharapkan para pejuang garis dua bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak dan tidak mudah berkecil hati. Konsultasikan selalu dengan dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Redaksi-07 Agustus 2026
Memahami Batas Usia Subur Perempuan dan Peluang Hamil
Kesehatan Keluarga

Memahami Batas Usia Subur Perempuan dan Peluang Hamil

Semakin bertambahnya usia, kesuburan perempuan memang mengalami penurunan. Meski teknologi reproduksi seperti program bayi tabung (IVF) bisa membantu, keberhasilannya tidak lagi setinggi saat usia masih muda. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan sel telur donor pun tidak sepenuhnya mengembalikan jam reproduksi, terutama setelah usia 49 tahun.Penelitian Terbaru tentang Usia dan KesuburanSebuah studi yang melibatkan 1.774 perempuan mengungkap bahwa perempuan berusia 49 tahun ke atas memiliki risiko keguguran dua kali lipat dibandingkan mereka yang berusia 35–40 tahun. Peluang hamil juga menurun: dari 54% pada usia pertengahan hingga akhir 30-an menjadi sekitar 43% pada usia 49 tahun ke atas. Tingkat kelahiran hidup menurun dari 46% menjadi 32%, sementara tingkat keguguran meningkat dari 24% menjadi 38%.Para peneliti percaya bahwa perubahan pada lapisan rahim akibat penuaan menjadi penyebabnya. Meski ketebalan endometrium serupa, kualitasnya memburuk seiring usia. Hal ini menantang anggapan bahwa donor sel telur bisa sepenuhnya mengatur ulang kesuburan.Pengaruh Usia pada RahimDr. Beatrice Crestani dari Reproduction Medical Institute Italia menjelaskan bahwa penuaan reproduksi tidak hanya masalah ovarium, tapi juga rahim. "Temuan kami menunjukkan gambaran yang lebih kompleks," ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa temuan ini tidak boleh menghalangi perempuan untuk menjalani donor sel telur, karena tingkat keberhasilan masih signifikan.Dalam studi tersebut, tingkat kelahiran hidup sekitar 80% untuk perempuan 35–40 tahun dan 62,5% untuk usia 49 tahun ke atas yang mentransfer semua embrio yang tersedia. Meski demikian, konseling tetap penting agar pasien memahami bahwa donor sel telur tidak sepenuhnya menghilangkan efek penuaan reproduksi.Perbedaan Kesehatan Rahim dan OvariumKesehatan rahim dan ovarium setiap perempuan berbeda. Di Inggris, tidak ada batasan usia hukum untuk IVF, berbeda dengan Yunani yang membatasi hingga 54 tahun. Perempuan hingga usia 36 tahun dapat mendonorkan sel telur. NHS merekomendasikan tiga siklus IVF untuk perempuan hingga 40 tahun, dan satu siklus untuk usia hingga 42 tahun.Pasien yang menggunakan donor sel telur biasanya membiayai sendiri prosesnya. Di Inggris, sejak 2005, anak hasil donor berhak mengetahui identitas donor biologis saat berusia 18 tahun.Harapan untuk Masa DepanProf. Borut Kovacic dari ESHRE mengatakan penelitian ini membantu memahami komunikasi antara embrio dan lapisan rahim. Meski ada ambang batas usia, hal ini tidak mutlak. "Penelitian ini memberikan informasi penting bagi pasien dan acuan untuk penelitian biomarker penuaan rahim," tambahnya.Dr. Ippokratis Sarris dari British Fertility Society menekankan perlunya penelitian lebih lanjut. Kehamilan di usia tua memang berisiko lebih tinggi, sehingga pasangan perlu menjalani pemeriksaan dan konseling menyeluruh sebelum memulai perawatan kesuburan.

Redaksi-29 Juli 2026
IVF Add-Ons: Antara Harapan dan Bukti Ilmiah
Gaya Hidup

IVF Add-Ons: Antara Harapan dan Bukti Ilmiah

Setiap pasangan yang menjalani IVF pasti menginginkan hasil terbaik. Sayangnya, tidak semua siklus berakhir dengan kehamilan. Hal ini mendorong munculnya berbagai prosedur tambahan, atau yang dikenal sebagai IVF add-ons, yang dijanjikan dapat meningkatkan keberhasilan. Mulai dari akupunktur hingga tes genetik, semuanya ditawarkan dengan biaya ekstra yang tidak sedikit.Apa Itu IVF Add-Ons?IVF add-ons adalah prosedur, pemeriksaan, atau terapi di luar tahapan standar IVF. Tujuannya beragam: membantu implantasi embrio, mengurangi risiko keguguran, atau meningkatkan kualitas embrio. Namun, tidak semua prosedur ini didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di The Lancet Obstetrics, Gynaecology & Women's Health pada Juni 2026 mengungkap fakta mengejutkan.Hasil Penelitian: Hanya Tiga yang Berpotensi BermanfaatTim peneliti menganalisis 157 uji klinis acak tentang 10 jenis IVF add-ons. Setelah menyaring studi berkualitas rendah, mereka hanya menggunakan 85 penelitian. Hasilnya, tujuh dari sepuluh prosedur tidak terbukti efektif atau buktinya sangat terbatas. Hanya tiga prosedur yang menunjukkan potensi manfaat, meski kualitas buktinya masih lemah.Prosedur yang Belum Terbukti EfektifAkupunktur: jarum tipis ditusukkan ke titik tubuh tertentu.Kortikosteroid: obat anti-inflamasi untuk menekan sistem imun.Endometrial Receptivity Array (ERA): biopsi rahim untuk mengetahui waktu optimal transfer embrio.Infus intralipid: cairan lemak yang diberikan melalui infus.Injeksi intraovarium platelet-rich plasma (PRP): PRP disuntikkan ke ovarium.Infus intrauterin PRP: PRP dimasukkan ke dalam rahim.PGT-A: tes genetik untuk memeriksa jumlah kromosom embrio.Peneliti menekankan bahwa bukan berarti prosedur ini tidak berguna sama sekali. Namun, bukti yang ada saat ini belum cukup untuk merekomendasikannya secara rutin.Tiga Prosedur dengan Potensi ManfaatEmbryoGlue: media transfer yang mengandung asam hialuronat. Studi menunjukkan kemungkinan peningkatan kehamilan dan kelahiran hidup, meski efeknya tidak besar.Endometrial scratching: goresan ringan pada lapisan rahim sebelum transfer. Beberapa penelitian melihat peningkatan angka kehamilan, tapi perlu studi lebih besar.PICSI: teknik memilih sperma berdasarkan kemampuannya berikatan dengan asam hialuronat. Dapat menurunkan risiko keguguran, namun bukti masih terbatas.Hati-hati dengan Klaim BerlebihanDr. Sarah Lensen, peneliti utama dari Universitas Melbourne, mengingatkan bahwa banyak informasi tentang IVF add-ons berasal dari situs klinik atau media sosial yang melebih-lebihkan manfaatnya. Pasien seringkali tidak diberi tahu tentang keterbatasan bukti ilmiah. Akibatnya, mereka bisa terjebak dalam harapan palsu dan biaya tambahan yang tidak perlu.“Di banyak negara, perawatan infertilitas disediakan oleh klinik swasta yang sangat mengkomersialkan IVF. Beberapa add-ons sangat mahal,” ujar Lensen. Ia juga menyoroti maraknya uji klinis yang mencurigakan dalam bidang kedokteran reproduksi.Apa yang Harus Dilakukan Pasien?Hasil penelitian ini bukan berarti Anda harus menolak semua add-ons. Kuncinya adalah memilih berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi pribadi. Konsultasikan dengan dokter Anda secara mendalam, tanyakan manfaat dan risikonya, serta jangan ragu untuk mencari opini kedua. Ingat, tidak semua yang mahal dan canggih selalu efektif.

Redaksi-28 Juli 2026
NaraCerita