Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

menyusui

Berita dan Informasi menyusui

9 artikel ditampilkan

Strategi Cerdas Shenina Cinnamon Menjaga Kelancaran DBF Saat Kembali Bekerja
Gaya Hidup

Strategi Cerdas Shenina Cinnamon Menjaga Kelancaran DBF Saat Kembali Bekerja

Momen pertama kali kembali bekerja setelah melahirkan seringkali menjadi ujian emosional bagi seorang ibu. Shenina Cinnamon, aktris yang baru saja dikaruniai putra pertama, Segara Nadi Aksatama, merasakan hal yang sama. Ia mengaku perasaannya campur aduk saat harus meninggalkan buah hatinya untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan."Kemarin pertama kalinya kembali bekerja after melahirkan. Rasanya campur aduk banget, deg-degan ninggalin anak walaupun cuma sebentar. Tapi alhamdulillah Segara sangat pengertian," tutur Shenina dalam unggahan di media sosialnya.Meski harus bekerja, Shenina tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, terutama dalam hal pemberian ASI secara langsung atau direct breastfeeding (DBF). Ia pun memiliki beberapa trik jitu agar tetap bisa DBF meski sedang bekerja.1. DBF Sebelum Berangkat KerjaSalah satu cara yang dilakukan Shenina adalah menyusui langsung sebelum berangkat kerja. Ia menyempatkan diri untuk DBF sebelum acara dimulai. "Sempet DBF sebelum event," ujarnya. Dengan begitu, ia tetap bisa memberikan nutrisi terbaik bagi Segara sebelum meninggalkannya.2. Berangkat Saat Anak TertidurUntuk mengurangi rasa berat hati, Shenina memilih berangkat ketika Segara sudah tertidur pulas. Ia pun mempercayakan pengasuhan Segara kepada sang suami, Angga Yunanda, selama ia bekerja. Hal ini membuatnya lebih tenang karena anaknya berada dalam pengawasan orang terdekat.3. Menginap Dekat Lokasi AcaraStrategi lain yang tak kalah penting adalah memilih kamar hotel yang lokasinya dekat dengan venue acara. Dengan begitu, Shenina tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan dan bisa lebih cepat kembali ke kamar untuk bertemu Segara. "Aku tinggal pas udah bobo terus ke venue (aku booking kamar deket venue)," jelasnya.Berkat persiapan matang, Segara ternyata tidur nyenyak bersama papanya selama acara berlangsung. Begitu acara selesai, Shenina langsung berlari ke kamar dan mendapati Segara sudah bangun, siap untuk DBF. "Anak mama baik sekali, terima kasih udah nemenin mama kerja kemarin ya papa & Segara," ucapnya penuh syukur.Respons WarganetKisah Shenina ini pun menuai beragam komentar dari warganet. Banyak yang merasa terinspirasi dan menganggap apa yang dialami Shenina adalah hal wajar bagi seorang ibu. "Itulah naluri seorang ibu, apalagi kalau DBF bondingnya lebih kuat. Semangat para ibu yang berjuang buat anaknya," tulis seorang netizen. Ada pula yang berbagi pengalaman serupa, seperti yang dialami akun @shin***, "Shen wajar kok kaya gitu, aku waktu pertama kerja setelah lahiran sepanjang perjalanan berangkat kerja nangis bombay. Kelihatannya lebay tapi semua ibu ngerasain itu kalau jauh dari anak."Pengalaman Shenina Cinnamon ini bisa menjadi contoh bagi para ibu pekerja yang ingin tetap memberikan ASI langsung kepada buah hati. Dengan perencanaan yang baik dan dukungan dari pasangan, bukan tidak mungkin untuk tetap menjalani peran sebagai ibu dan pekerja secara seimbang.

Redaksi-14 September 2026
Menyusui Bisa Mengubah Gen Bayi, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kesehatan Keluarga

Menyusui Bisa Mengubah Gen Bayi, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bunda, setiap tetes ASI yang diberikan kepada si kecil ternyata menyimpan keajaiban yang luar biasa. Selain sebagai sumber makanan utama, menyusui juga diketahui mampu meninggalkan jejak biologis yang bertahan lama pada tubuh bayi. Temuan ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi para ibu yang sedang atau telah menjalani perjalanan menyusui.Apa yang Ditemukan Para Ilmuwan?Sebuah penelitian global yang melibatkan ribuan anak berhasil mengungkap bahwa menyusui dapat meninggalkan tanda pada gen bayi. Para peneliti dari University of Exeter di Devon, Inggris, menemukan adanya jejak darah pada anak-anak yang pernah disusui secara eksklusif, dan jejak ini masih terdeteksi bahkan bertahun-tahun setelah masa menyusui berakhir.Penelitian yang dipimpin oleh Barcelona Institute for Global Health dan University of Bristol ini melibatkan hampir 3.500 anak dari 11 negara, termasuk AS, Afrika Selatan, dan Spanyol. Anak-anak tersebut dipantau sejak lahir hingga usia 12 tahun. Hasilnya, mereka menemukan perbedaan yang signifikan pada anak-anak yang disusui secara eksklusif dibandingkan dengan yang tidak.Jejak Epigenetik pada Gen BayiDr. Doretta Caramaschi, penulis bersama penelitian ini, menjelaskan bahwa menyusui terkait dengan perubahan epigenetik. Epigenetik adalah proses yang memengaruhi perilaku gen tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri. Artinya, ASI dapat 'menghidupkan' atau 'mematikan' gen tertentu yang berperan dalam perkembangan kesehatan anak, terutama terkait sistem kekebalan tubuh."Kami berhasil mengidentifikasi perbedaan pada anak-anak yang hanya disusui secara eksklusif, bahkan bertahun-tahun setelah pengalaman menyusui," ujar Dr. Caramaschi. Ia menambahkan bahwa temuan ini memberikan bukti lebih kuat bahwa menyusui memang memiliki manfaat biologis yang membantu perkembangan sehat anak.Manfaat Menyusui Lebih dari Sekadar NutrisiTemuan ini tentu saja menambah daftar panjang manfaat menyusui. Selain memberikan nutrisi lengkap, menyusui juga membantu perkembangan otak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan bahkan melindungi bayi dari berbagai penyakit. Jejak epigenetik yang ditinggalkan oleh ASI ini menjadi bukti bahwa keajaiban menyusui sungguh nyata.Bagi para ibu yang berhasil menyusui, temuan ini menjadi penyemangat tersendiri. Seperti yang dialami oleh Rebecca Bates, seorang ibu dari tiga anak di Honiton, yang merasa sangat beruntung bisa menyusui semua anaknya. "Saya melihat teman-teman yang tidak mampu, atau pernah kesulitan, jadi saya sangat beruntung karena semuanya berhasil bagi saya," tuturnya.Menyusui Tidak Selalu MudahMeski menyusui adalah proses alami, tidak semua ibu mengalaminya dengan mudah. Tantangan seperti ASI tidak lancar, puting lecet, atau bayi yang sulit menyusu sering kali menjadi penghalang. Menurut data Unicef, hanya sekitar 17 persen perempuan di Inggris yang masih menyusui pada usia bayi tiga bulan. Angka ini memang naik dari sebelumnya 13 persen, namun masih termasuk rendah dibandingkan negara lain.Banyak faktor yang memengaruhi keputusan seorang ibu untuk terus menyusui, mulai dari dukungan keluarga, kondisi kesehatan, hingga pilihan pribadi. Para peneliti pun menekankan bahwa menyusui bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan anak. Ada banyak cara lain untuk mendukung tumbuh kembang si kecil, seperti memberikan makanan bergizi, imunisasi, dan kasih sayang yang cukup.Pesan untuk Para BundaJika Bunda sedang berjuang dalam proses menyusui, tetaplah semangat. Setiap tetes ASI yang berhasil diberikan adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk si kecil. Namun, jika Bunda mengalami kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari konselor laktasi atau tenaga kesehatan. Ingatlah, ada banyak cara untuk mendukung kesehatan dan perkembangan anak, dan setiap usaha Bunda sangat berarti.Penelitian ini memang memberikan kabar baik, tetapi juga mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan menyusui itu unik. Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik bagi buah hati, apa pun kondisinya. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah semangat Bunda dalam mengASIhi si kecil!

Redaksi-01 September 2026
Kesehatan Gigi Anak Menyusui: Mitos atau Fakta?
Kesehatan Keluarga

Kesehatan Gigi Anak Menyusui: Mitos atau Fakta?

Sebagai ibu, Bunda pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Si Kecil, termasuk dalam hal menyusui. Air Susu Ibu (ASI) memang dikenal kaya manfaat, mulai dari nutrisi hingga daya tahan tubuh. Namun, bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan gigi? Banyak yang bertanya-tanya, apakah anak yang menyusu ASI otomatis punya gigi lebih kuat dan bebas lubang? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu, Bunda.Fakta di Balik ASI dan Kesehatan GigiSebuah tinjauan sistematis yang dimuat di Medscape mengungkapkan bahwa pada tahun pertama kehidupan, bayi yang mendapat ASI eksklusif cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena karies gigi atau yang dikenal dengan Early Childhood Caries (ECC). ASI memberikan semacam perlindungan alami pada gigi selama 12 bulan pertama. Bahkan, pemberian ASI yang dilanjutkan hingga usia 24 bulan juga tidak menunjukkan dampak buruk yang signifikan terhadap risiko gigi berlubang.Namun, ceritanya bisa berubah ketika Si Kecil menginjak usia di atas 2 tahun. Jika Bunda masih menyusui setelah usia tersebut, risiko karies gigi justru bisa meningkat. Mengapa demikian? Ada beberapa faktor yang berperan, Bunda.Perubahan pola makan: Di usia 2 tahun, anak mulai mengenal berbagai makanan pendamping, termasuk camilan manis yang bisa memicu kerusakan gigi.Kandungan mineral ASI: Seiring bertambahnya usia anak dan durasi menyusui, kadar mineral pelindung gigi dalam ASI secara alami menurun.Kebiasaan menyusu malam hari: Frekuensi menyusu di malam hari saat anak tidur bisa meningkatkan risiko karies karena produksi air liur yang berfungsi melindungi gigi berkurang drastis saat tidur.Bagaimana ASI Mempengaruhi Gigi Berlubang?Karies gigi terjadi ketika bakteri dalam plak memetabolisme karbohidrat dan menghasilkan asam. Asam ini kemudian mengikis mineral pada email gigi, sehingga lama-kelamaan terbentuk lubang. Karena ASI mengandung laktosa, yaitu gula alami, muncul pertanyaan apakah laktosa bisa menyebabkan gigi berlubang.Kabar baiknya, laktosa memiliki potensi menyebabkan karies yang lebih rendah dibandingkan sukrosa (gula tebu). Selain itu, komponen dalam susu dan produk olahannya ternyata memiliki efek yang mendukung kesehatan gigi. Sebuah scoping review pada anak-anak dan remaja menemukan bahwa susu serta produk susu tanpa tambahan gula bersifat non-kariogenik, artinya tidak menyebabkan gigi berlubang, bahkan berpotensi membantu melindungi gigi.Apa saja yang membuat susu begitu istimewa untuk gigi? Berikut beberapa faktornya:Kalsium dan fosfat membantu remineralisasi: Kedua mineral ini penting untuk membangun dan memelihara struktur gigi. Mereka membantu mengembalikan mineral ke permukaan gigi yang telah hilang akibat asam.Kasein membentuk lapisan pelindung: Protein utama dalam susu ini dapat membentuk lapisan tipis pada permukaan gigi, sehingga email gigi lebih tahan terhadap serangan asam.Air liur menetralkan asam: Air liur berperan membersihkan mulut, menetralkan asam, dan menyediakan mineral untuk remineralisasi. Namun, efek perlindungan ini berkurang saat tidur, sehingga pola makan atau minum di malam hari perlu diperhatikan.Kesimpulan: Sehat atau Tidak, Semua Kembali ke PerawatanJadi, apakah anak yang menyusu ASI punya gigi lebih sehat? Jawabannya tidak bisa dipukul rata. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa menyusui di awal kehidupan tidak meningkatkan risiko karies dan bahkan bisa melindungi gigi. Namun, jika menyusui berlanjut terlalu lama (lebih dari 24 bulan) dan disertai kebiasaan menyusu malam hari, risiko karies bisa naik.Alih-alih menyimpulkan bahwa ASI otomatis membuat gigi sehat, lebih tepat jika kita mengatakan bahwa menyusui bukanlah penyebab kerusakan gigi. Kesehatan gigi anak sangat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti kebersihan gigi, konsumsi gula, frekuensi makan-minum, penggunaan fluorida, dan kondisi gigi itu sendiri.Yang terpenting, Bunda tetap harus rajin menyikat gigi Si Kecil setiap hari dengan pasta gigi berfluorida, apa pun jenis susu yang ia konsumsi. Dengan begitu, senyum cerah Si Kecil akan selalu terjaga. Semoga informasi ini bermanfaat, ya Bunda!

Redaksi-30 Agustus 2026
Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya
Kesehatan Keluarga

Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya

Menjadi ibu menyusui memang penuh tantangan, apalagi di masa-masa awal setelah melahirkan. Banyak hal yang bisa bikin stres, mulai dari kurang tidur, adaptasi dengan si kecil, hingga kekhawatiran soal produksi ASI. Padahal, perasaan tenang dan bahagia punya peran penting dalam kelancaran menyusui, lho. Emosi Positif Berpengaruh pada Hormon Laktasi? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature mencoba meneliti bagaimana intervensi psikologi positif, seperti menuliskan hal-hal baik setiap hari, memengaruhi produksi hormon laktasi pada ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara). Penelitian ini melibatkan 204 ibu hamil di Tiongkok yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok diminta mencatat tiga hal baik yang mereka syukuri setiap minggunya, sementara kelompok lainnya hanya mencatat hal-hal biasa. Hasilnya cukup menarik. Ibu-ibu yang rutin menuliskan hal-hal positif memiliki skor ketahanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Lebih dari itu, kadar prolaktin—hormon yang berperan penting dalam produksi ASI—setelah melahirkan juga berbeda signifikan antara kedua kelompok. Artinya, melatih diri untuk fokus pada hal-hal baik bisa membantu tubuh memproduksi hormon yang mendukung kelancaran ASI. Kolostrum dan Manfaat ASI untuk Si Kecil Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah melahirkan. Cairan kental berwarna kekuningan ini kaya akan antibodi dan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan bayi baru lahir. ASI sendiri memang sudah diakui dunia sebagai makanan terbaik untuk bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih. ASI mengandung berbagai mikrobiota dan komponen aktif biologis yang membantu perkembangan sistem kekebalan tubuh bayi. Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit infeksi, alergi, dan bahkan obesitas di kemudian hari. Oleh karena itu, upaya untuk mendukung kelancaran ASI sangat penting dilakukan. Selain Bahagia, Faktor Ini Juga Memengaruhi Produksi ASI Selain emosi positif, ada beberapa faktor lain yang juga berperan dalam keberhasilan menyusui, di antaranya: Frekuensi menyusui: Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak sinyal yang diterima tubuh untuk memproduksi ASI. Posisi dan perlekatan yang benar: Pastikan bayi menyusu dengan posisi yang nyaman dan mulutnya menempel dengan baik. Nutrisi ibu: Makan makanan bergizi seimbang dan minum cukup air putih sangat penting untuk mendukung produksi ASI. Dukungan keluarga: Dukungan dari suami dan orang terdekat dapat mengurangi stres dan membuat ibu lebih percaya diri. Tips Ampuh untuk Menjaga Perasaan Bahagia saat Menyusui Berdasarkan temuan studi tersebut, menjaga emosi positif adalah salah satu kunci untuk mendukung kelancaran ASI. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda coba: Latihan bersyukur: Setiap malam, tuliskan tiga hal baik yang terjadi di hari itu. Ini membantu melatih otak untuk fokus pada hal-hal positif. Cari dukungan sosial: Bergabunglah dengan komunitas ibu menyusui atau curhat dengan teman yang bisa dipercaya. Luangkan waktu untuk diri sendiri: Meski sibuk mengurus bayi, jangan lupa untuk melakukan hal yang Bunda nikmati, seperti membaca buku atau mendengarkan musik. Beristirahat yang cukup: Kurang tidur bisa membuat suasana hati memburuk. Usahakan untuk tidur saat bayi tidur. Konsultasi dengan ahli laktasi: Jika Bunda merasa kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi psikologi positif seperti latihan bersyukur dapat menjadi salah satu cara yang sederhana dan efektif untuk mendukung keberhasilan menyusui. Meski hasilnya tidak langsung terlihat, namun dengan melatih emosi positif, Bunda tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga turut berkontribusi pada kelancaran produksi ASI. Jadi, Bunda, jangan ragu untuk lebih sering tersenyum dan bersyukur. Kebahagiaan Bunda adalah kunci untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil.

Redaksi-07 Agustus 2026
Rahasia Menyusui: Lindungi Kesehatan Mental Ibu Hingga Satu Dekade
Kesehatan Keluarga

Rahasia Menyusui: Lindungi Kesehatan Mental Ibu Hingga Satu Dekade

Menyusui memang seringkali terasa melelahkan dan penuh tantangan, terutama di awal-awal masa menjadi ibu. Namun, di balik perjuangan itu, ada kabar baik yang mungkin belum banyak kita sadari. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa menyusui tidak hanya baik untuk bayi, tetapi juga menjadi investasi berharga bagi kesehatan mental kita di masa depan. Menyusui dan Perlindungan Jangka Panjang untuk Kesehatan Mental Penelitian yang dipimpin oleh para ahli dari University College Dublin (UCD) dan dipublikasikan di jurnal BMJ Open ini mengamati kesehatan mental dan pola menyusui pada 168 ibu yang baru saja melahirkan anak kedua. Mereka adalah bagian dari studi jangka panjang yang dilakukan di National Maternity Hospital, Irlandia. Para ibu ini dipantau sejak awal kehamilan hingga 10 tahun setelah melahirkan. Selama periode tersebut, mereka secara rutin mengisi kuesioner tentang riwayat kesehatan, termasuk diagnosis depresi atau kecemasan, serta menjawab pertanyaan seputar durasi dan konsistensi menyusui. Hasil yang Menggembirakan: Setiap Minggu Berharga Hasilnya sungguh menarik. Para peneliti menemukan bahwa ibu yang mengalami depresi dan kecemasan di tahun kesepuluh setelah melahirkan cenderung memiliki riwayat menyusui yang lebih singkat atau tidak menyusui sama sekali. Sebaliknya, semakin lama kita menyusui, terutama secara eksklusif, semakin rendah risiko kita mengalami masalah kesehatan mental tersebut. Bahkan, setiap tambahan satu minggu menyusui eksklusif seumur hidup dikaitkan dengan penurunan risiko depresi dan kecemasan hingga 2 persen. Ini berarti, setiap usaha kita untuk memberikan ASI, sekecil apa pun, adalah langkah besar untuk melindungi diri kita sendiri. Mengapa Ini Bisa Terjadi? Para peneliti menduga bahwa efek perlindungan ini mungkin terkait dengan hormon yang dilepaskan saat menyusui, seperti oksitosin dan prolaktin, yang dikenal dapat memberikan efek menenangkan dan mengurangi stres. Selain itu, keberhasilan menyusui juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi risiko depresi pasca melahirkan, yang pada akhirnya berdampak positif pada kesehatan mental jangka panjang. Meskipun penelitian ini belum memastikan apakah efeknya bertahan lebih dari 10 tahun, namun temuan ini sudah sangat menggembirakan. Ini menjadi alasan kuat bagi kita dan para tenaga kesehatan untuk terus mendukung ibu menyusui, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami depresi pasca melahirkan. Dukungan Menyusui: Investasi untuk Masa Depan Temuan ini juga menjadi pengingat pentingnya dukungan menyusui yang personal dan berkelanjutan. Bagi kita yang mungkin pernah mengalami keguguran atau memiliki riwayat depresi, dukungan ekstra sangatlah berarti. Para peneliti berharap temuan ini bisa mendorong para pembuat kebijakan untuk lebih gencar mempromosikan dan mendukung program menyusui, karena manfaatnya bukan hanya untuk individu dan keluarga, tetapi juga bisa mengurangi beban sistem kesehatan dan ekonomi secara keseluruhan. Lebih dari Sekadar Nutrisi Selain manfaat bagi kesehatan mental, menyusui juga telah lama dikenal sebagai nutrisi terbaik untuk bayi dan baik untuk kesehatan fisik ibu, seperti mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung. Jadi, di tengah segala kesibukan dan tantangan menjadi ibu, mari kita lihat setiap sesi menyusui sebagai momen berharga yang tidak hanya menyehatkan si kecil, tetapi juga merawat diri kita sendiri. Semoga informasi ini bermanfaat dan semakin memotivasi kita untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati, sambil tetap menjaga kesehatan mental kita. Ingat, ibu yang sehat dan bahagia adalah fondasi keluarga yang kuat. Semangat untuk para pejuang ASI di luar sana!

Redaksi-31 Juli 2026
Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya
Gaya Hidup

Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya

Zaman sekarang, melahirkan di usia 40 tahun atau lebih bukan lagi hal yang jarang. Sayangnya, masih ada stigma bahwa menyusui di usia tersebut menghasilkan ASI dengan kualitas rendah. Lantas, benarkah ada batas usia tertua untuk menyusui?Usia Bukanlah PenghalangMenurut para ahli, hingga saat ini tidak ada batasan usia tertentu yang membuat seorang ibu tidak boleh atau tidak mampu menyusui. Selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan, menyusui tetap bisa dilakukan dan memberikan manfaat optimal.Dr. Philippa Kaye, dokter umum asal Inggris, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kualitas ASI menurun hanya karena faktor usia. Banyak perempuan berusia 40 tahun ke atas yang sukses menyusui bayinya. “ASI adalah makanan pertama yang direkomendasikan untuk semua bayi, tanpa memandang usia ibunya,” ujarnya.Kualitas ASI: Usia vs KesehatanHingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ASI menjadi 'buruk' atau kehilangan nutrisi karena ibu lebih tua. Kualitas ASI lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu, frekuensi menyusui, serta kebutuhan bayi. Selama ibu sehat, bergizi baik, dan mendapat dukungan yang memadai, ASI tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak membedakan rekomendasi ASI berdasarkan usia ibu. WHO tetap menganjurkan inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif selama enam bulan, dan melanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih dengan MPASI. Artinya, usia bukanlah halangan selama tidak ada kontraindikasi medis.Faktor Penentu Keberhasilan MenyusuiKeberhasilan menyusui lebih ditentukan oleh pelekatan bayi yang benar, frekuensi menyusui, dukungan keluarga, serta pengosongan payudara secara rutin. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa sebagian besar ibu sehat mampu memproduksi ASI cukup jika proses menyusui efektif.Nadine Rosenblum, koordinator program laktasi di The Johns Hopkins Hospital, menambahkan bahwa banyak mitos membuat ibu berhenti menyusui lebih awal. Padahal, tubuh bayi sudah dipersiapkan untuk menerima ASI sebagai sumber makanan utama. “ASI adalah yang diharapkan tubuh bayi untuk dikonsumsi secara paling efektif,” jelasnya.Ibu di Atas 40 Tetap Bisa MenyusuiPerempuan yang melahirkan di usia 40 tahun atau lebih tetap bisa menyusui dengan sukses. Meskipun kehamilan di usia lebih tua memiliki risiko komplikasi seperti diabetes gestasional atau hipertensi, kondisi tersebut bukan berarti ibu tidak bisa menyusui. Dengan pemantauan yang baik, pemberian ASI tetap aman dan bermanfaat.Semakin banyak perempuan yang memilih hamil di usia matang karena karier, pendidikan, atau program kehamilan. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang. Jika Bunda mengalami kesulitan, seperti produksi ASI terasa kurang atau pelekatan belum optimal, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi.Ingatlah, tantangan menyusui bisa dialami ibu di segala usia. Faktor seperti kesehatan ibu, proses persalinan, frekuensi menyusui, dan dukungan keluarga justru lebih berperan daripada usia. Dengan demikian, tidak ada batas usia maksimal untuk menyusui. Selama ibu dan bayi sehat, ASI tetap menjadi nutrisi terbaik.

Redaksi-30 Juli 2026
Momen Romantis Suami Dukung Istri Menyusui saat Liburan
Keluarga

Momen Romantis Suami Dukung Istri Menyusui saat Liburan

Liburan keluarga memang momen yang dinanti-nanti, apalagi setelah sekian lama menjalani rutinitas. Bu Susan Sameh dan suami, Khalid Atamimi, baru-baru ini menghabiskan waktu bersama di Jerman. Namun, yang bikin hangat adalah perhatian Khalid saat Susan menyusui putra mereka di tengah perjalanan.Dukungan Suami yang Bikin Hati MelelehDalam beberapa potret yang dibagikan Susan, terlihat Khalid selalu sigap mendampingi saat istri menyusui. Baik di bandara, di dalam pesawat, maupun di tempat wisata, ia tak segan membantu menggendong atau mengatur posisi agar Susan nyaman. Sikap seperti ini tentu bikin istri merasa dihargai dan tidak sendirian.Tips Traveling Sambil MenyusuiBagi Bunda yang ingin mencoba liburan serupa, ada beberapa hal yang bisa dicontoh dari keluarga Susan:Pilih pakaian yang mudah diakses untuk menyusui.Bawa pompa ASI portable agar stok ASI tetap terjaga.Manfaatkan ruang menyusui di bandara atau tempat umum.Komunikasikan jadwal menyusui dengan pasangan agar saling mendukung.Jangan lupa istirahat cukup, karena perjalanan jauh bisa melelahkan.Keharmonisan Keluarga di Tengah PerjalananMomen-momen kecil seperti ini justru mempererat hubungan suami istri. Saat suami peduli pada kebutuhan istri dan buah hati, ikatan keluarga pun semakin kuat. Liburan bukan sekadar jalan-jalan, tapi juga kesempatan menciptakan kenangan indah bersama.Tak heran jika banyak yang menyebut keluarga Susan dan Khalid sebagai inspirasi. Mereka membuktikan bahwa menyusui tidak menghalangi aktivitas seru, asal ada kerja sama dan pengertian dari pasangan.

Redaksi-04 Juli 2026
Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya
Gaya Hidup

Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya

Bunda, pernah nggak sih merasa minder saat melihat foto stok ASI perah (ASIP) yang memenuhi freezer di media sosial? Botol-botol ASI yang tersusun rapi dan berjejer rapat memang sering bikin kita takjub. Tapi di balik itu, banyak ibu menyusui yang justru merasa cemas dan bertanya-tanya, "Apakah ASI-ku cukup?"Kisah Nyata yang MenginspirasiHal inilah yang pernah dirasakan oleh Caitlin Wilder, seorang ibu dari Los Angeles. Ia hampir membeli kulkas tambahan untuk menyimpan ASI berlebih yang ia bayangkan akan segera dibutuhkannya. Tapi ternyata, realitanya jauh berbeda."Yang saya lihat di internet hanyalah orang-orang memompa ASI dalam jumlah besar, mengisi botol pompa mereka, mengisi teko-teko penuh ASI," kata Wilder. "Saya tidak pernah memompa ASI sebanyak itu dan saya merasa buruk tentang hal itu."Wilder menyebut dirinya sebagai seorang "just-enougher"—ibu yang memompa secukupnya sesuai kebutuhan bayi. Saat melahirkan anak keduanya, ia memutuskan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa secukupnya saja sudah cukup. Ia membuat video yang memperlihatkan sedikit ASI yang berhasil dipompanya, sambil bernyanyi dengan konyol, dan membagikannya di media sosial. Respons yang ia terima sangat positif; banyak ibu yang merasa lega karena akhirnya ada yang berbagi realita.Tekanan dari Tren Stok ASIPTren berbagi foto stok ASIP beku di media sosial memang bisa memicu tekanan. Banyak ibu yang merasa harus memiliki persediaan sebanyak mungkin, padahal setiap perjalanan menyusui berbeda. Ada yang perlu memompa banyak karena bekerja, ada yang menyusui langsung sepanjang hari, dan ada juga yang hanya menyimpan sedikit sebagai cadangan. Semua itu normal.Penelitian dalam jurnal Pediatrics oleh Kent dan tim dari University of Western Australia menemukan bahwa volume ASI yang diminum bayi dalam satu sesi sangat bervariasi. Rata-rata sekitar 76 gram, tetapi rentangnya luas tergantung kondisi ibu dan bayi. Jadi, tidak ada standar pasti yang bisa dijadikan patokan.Berapa Banyak ASIP yang Normal?Menurut Ann Cha, ahli gizi terdaftar dan konsultan laktasi di Rumah Sakit Anak Philadelphia, produksi ASI setiap ibu memang berbeda. Bayi biasanya minum 25–32 ons susu per hari. Jika seorang ibu memompa secara eksklusif dalam delapan sesi, targetnya sekitar 3–4 ons per sesi. La Leche League menambahkan, ibu yang lebih sering menyusui langsung mungkin hanya menghasilkan kurang dari 2 ons per sesi memompa.Jumlah ASI yang keluar bisa dipengaruhi oleh:Usia bayiFrekuensi menyusu langsungJadwal pumpingKondisi tubuh ibuTingkat kelelahan dan stresKapasitas penyimpanan payudaraASI juga cenderung lebih banyak di pagi hari dibanding sore atau malam.Keberhasilan Menyusui Bukan Soal StokYang terpenting, produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip "semakin sering dikeluarkan, semakin banyak diproduksi". Tanda bahwa bayi cukup ASI bukan dari penuhnya freezer, melainkan dari:Berat badan yang bertambah sesuai grafik pertumbuhanBayi tampak puas setelah menyusuFrekuensi buang air kecil yang cukupBayi aktif dan responsifSetiap ibu punya perjuangan masing-masing. Ada yang stok ASIP-nya bertahan berbulan-bulan, ada yang hanya punya beberapa kantong cadangan, bahkan ada yang memompa sesuai kebutuhan harian. Foto-foto di media sosial hanyalah potongan kecil dari perjalanan seseorang.Jadi, Bunda, jangan jadikan jumlah ASIP orang lain sebagai tolok ukur. Nikmati proses menyusui dengan penuh cinta dan percaya bahwa apa yang Bunda berikan sudah yang terbaik untuk si kecil.

Redaksi-04 Juli 2026
Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra
Gaya Hidup

Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra

Seorang ibu di Inggris, Tayah Ettienne (33), mendadak viral setelah membagikan momen dirinya menyusui putrinya yang berusia 16 bulan di sebuah festival musik. Video yang diunggah ke TikTok itu telah ditonton lebih dari 700 ribu kali dan memicu perdebatan sengit di kolom komentar.Dalam video tersebut, Tayah tampak menari sambil menggendong Aaliyana, putrinya, yang tiba-tiba menyusu. “Kami menari sambil ia menyusu, dan ia tertawa serta tersenyum padaku,” cerita Tayah. Ia mengaku sangat senang bisa keluar rumah setelah hampir setahun lebih jarang beraktivitas di luar sejak melahirkan.Festival itu sendiri merupakan acara pribadi dan ramah keluarga, sehingga menurut Tayah tidak ada yang keberatan dengan aksinya. “Semua orang di sana benar-benar normal dan tidak mempermasalahkan seorang ibu yang menyusui,” ujarnya.Namun, setelah video menyebar luas, komentar negatif pun bermunculan. Banyak netizen yang menilai bahwa menyusui di festival musik dianggap tidak pantas. “Tidak pantas ya,” tulis seorang pengguna. “Hentikan waktu, itu salah,” komentar lainnya. Tayah mengaku terkejut dengan kritik tersebut. “Orang-orang mengatakan mereka merasa tidak nyaman menontonnya, itu sangat menyedihkan,” ucapnya.Di tengah kecaman, Tayah juga mendapat banyak dukungan. “Semangat, Bu,” tulis seorang warganet. “Jangan dengarkan komentar-komentar ini, Nak, kamu melakukan hal yang luar biasa,” tambah yang lain. Tayah menegaskan bahwa menyusui bukanlah hal yang memalukan dan menjadi ibu bukan berarti harus kehilangan jati diri atau berhenti bersenang-senang.Menyusui di Ruang Publik: Hak vs StigmaSecara medis, menyusui adalah kebutuhan dasar bayi yang tidak mengenal waktu dan tempat. WHO bahkan merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih. Artinya, ibu menyusui berhak memenuhi kebutuhan anaknya kapan pun, termasuk di luar rumah.Meski begitu, stigma sosial masih sering membuat ibu merasa tidak nyaman. Di Indonesia sendiri, menyusui di tempat umum sebenarnya tidak dilarang dan sudah didukung dengan adanya ruang laktasi di berbagai fasilitas publik. Namun, pandangan masyarakat tentang 'kepantasan' menyusui di ruang publik masih beragam.Kasus viral ini mengingatkan kita bahwa dukungan lingkungan sangat penting agar ibu bisa menyusui tanpa rasa takut. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kenyamanan ibu dan bayi. Jadi, bagaimana menurut Bunda? Apakah menyusui di festival musik itu wajar atau sebaiknya dihindari?

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita