Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

menyusui

Berita dan Informasi menyusui

6 artikel ditampilkan

Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya
Kesehatan Keluarga

Rahasia Bahagia Ibu Menyusui: Ternyata Bisa Memperlancar ASI, Ini Penjelasannya

Menjadi ibu menyusui memang penuh tantangan, apalagi di masa-masa awal setelah melahirkan. Banyak hal yang bisa bikin stres, mulai dari kurang tidur, adaptasi dengan si kecil, hingga kekhawatiran soal produksi ASI. Padahal, perasaan tenang dan bahagia punya peran penting dalam kelancaran menyusui, lho. Emosi Positif Berpengaruh pada Hormon Laktasi? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature mencoba meneliti bagaimana intervensi psikologi positif, seperti menuliskan hal-hal baik setiap hari, memengaruhi produksi hormon laktasi pada ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara). Penelitian ini melibatkan 204 ibu hamil di Tiongkok yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok diminta mencatat tiga hal baik yang mereka syukuri setiap minggunya, sementara kelompok lainnya hanya mencatat hal-hal biasa. Hasilnya cukup menarik. Ibu-ibu yang rutin menuliskan hal-hal positif memiliki skor ketahanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Lebih dari itu, kadar prolaktin—hormon yang berperan penting dalam produksi ASI—setelah melahirkan juga berbeda signifikan antara kedua kelompok. Artinya, melatih diri untuk fokus pada hal-hal baik bisa membantu tubuh memproduksi hormon yang mendukung kelancaran ASI. Kolostrum dan Manfaat ASI untuk Si Kecil Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah melahirkan. Cairan kental berwarna kekuningan ini kaya akan antibodi dan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan bayi baru lahir. ASI sendiri memang sudah diakui dunia sebagai makanan terbaik untuk bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih. ASI mengandung berbagai mikrobiota dan komponen aktif biologis yang membantu perkembangan sistem kekebalan tubuh bayi. Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit infeksi, alergi, dan bahkan obesitas di kemudian hari. Oleh karena itu, upaya untuk mendukung kelancaran ASI sangat penting dilakukan. Selain Bahagia, Faktor Ini Juga Memengaruhi Produksi ASI Selain emosi positif, ada beberapa faktor lain yang juga berperan dalam keberhasilan menyusui, di antaranya: Frekuensi menyusui: Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak sinyal yang diterima tubuh untuk memproduksi ASI. Posisi dan perlekatan yang benar: Pastikan bayi menyusu dengan posisi yang nyaman dan mulutnya menempel dengan baik. Nutrisi ibu: Makan makanan bergizi seimbang dan minum cukup air putih sangat penting untuk mendukung produksi ASI. Dukungan keluarga: Dukungan dari suami dan orang terdekat dapat mengurangi stres dan membuat ibu lebih percaya diri. Tips Ampuh untuk Menjaga Perasaan Bahagia saat Menyusui Berdasarkan temuan studi tersebut, menjaga emosi positif adalah salah satu kunci untuk mendukung kelancaran ASI. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda coba: Latihan bersyukur: Setiap malam, tuliskan tiga hal baik yang terjadi di hari itu. Ini membantu melatih otak untuk fokus pada hal-hal positif. Cari dukungan sosial: Bergabunglah dengan komunitas ibu menyusui atau curhat dengan teman yang bisa dipercaya. Luangkan waktu untuk diri sendiri: Meski sibuk mengurus bayi, jangan lupa untuk melakukan hal yang Bunda nikmati, seperti membaca buku atau mendengarkan musik. Beristirahat yang cukup: Kurang tidur bisa membuat suasana hati memburuk. Usahakan untuk tidur saat bayi tidur. Konsultasi dengan ahli laktasi: Jika Bunda merasa kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi psikologi positif seperti latihan bersyukur dapat menjadi salah satu cara yang sederhana dan efektif untuk mendukung keberhasilan menyusui. Meski hasilnya tidak langsung terlihat, namun dengan melatih emosi positif, Bunda tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga turut berkontribusi pada kelancaran produksi ASI. Jadi, Bunda, jangan ragu untuk lebih sering tersenyum dan bersyukur. Kebahagiaan Bunda adalah kunci untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil.

Redaksi-07 Agustus 2026
Rahasia Menyusui: Lindungi Kesehatan Mental Ibu Hingga Satu Dekade
Kesehatan Keluarga

Rahasia Menyusui: Lindungi Kesehatan Mental Ibu Hingga Satu Dekade

Menyusui memang seringkali terasa melelahkan dan penuh tantangan, terutama di awal-awal masa menjadi ibu. Namun, di balik perjuangan itu, ada kabar baik yang mungkin belum banyak kita sadari. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa menyusui tidak hanya baik untuk bayi, tetapi juga menjadi investasi berharga bagi kesehatan mental kita di masa depan. Menyusui dan Perlindungan Jangka Panjang untuk Kesehatan Mental Penelitian yang dipimpin oleh para ahli dari University College Dublin (UCD) dan dipublikasikan di jurnal BMJ Open ini mengamati kesehatan mental dan pola menyusui pada 168 ibu yang baru saja melahirkan anak kedua. Mereka adalah bagian dari studi jangka panjang yang dilakukan di National Maternity Hospital, Irlandia. Para ibu ini dipantau sejak awal kehamilan hingga 10 tahun setelah melahirkan. Selama periode tersebut, mereka secara rutin mengisi kuesioner tentang riwayat kesehatan, termasuk diagnosis depresi atau kecemasan, serta menjawab pertanyaan seputar durasi dan konsistensi menyusui. Hasil yang Menggembirakan: Setiap Minggu Berharga Hasilnya sungguh menarik. Para peneliti menemukan bahwa ibu yang mengalami depresi dan kecemasan di tahun kesepuluh setelah melahirkan cenderung memiliki riwayat menyusui yang lebih singkat atau tidak menyusui sama sekali. Sebaliknya, semakin lama kita menyusui, terutama secara eksklusif, semakin rendah risiko kita mengalami masalah kesehatan mental tersebut. Bahkan, setiap tambahan satu minggu menyusui eksklusif seumur hidup dikaitkan dengan penurunan risiko depresi dan kecemasan hingga 2 persen. Ini berarti, setiap usaha kita untuk memberikan ASI, sekecil apa pun, adalah langkah besar untuk melindungi diri kita sendiri. Mengapa Ini Bisa Terjadi? Para peneliti menduga bahwa efek perlindungan ini mungkin terkait dengan hormon yang dilepaskan saat menyusui, seperti oksitosin dan prolaktin, yang dikenal dapat memberikan efek menenangkan dan mengurangi stres. Selain itu, keberhasilan menyusui juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi risiko depresi pasca melahirkan, yang pada akhirnya berdampak positif pada kesehatan mental jangka panjang. Meskipun penelitian ini belum memastikan apakah efeknya bertahan lebih dari 10 tahun, namun temuan ini sudah sangat menggembirakan. Ini menjadi alasan kuat bagi kita dan para tenaga kesehatan untuk terus mendukung ibu menyusui, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami depresi pasca melahirkan. Dukungan Menyusui: Investasi untuk Masa Depan Temuan ini juga menjadi pengingat pentingnya dukungan menyusui yang personal dan berkelanjutan. Bagi kita yang mungkin pernah mengalami keguguran atau memiliki riwayat depresi, dukungan ekstra sangatlah berarti. Para peneliti berharap temuan ini bisa mendorong para pembuat kebijakan untuk lebih gencar mempromosikan dan mendukung program menyusui, karena manfaatnya bukan hanya untuk individu dan keluarga, tetapi juga bisa mengurangi beban sistem kesehatan dan ekonomi secara keseluruhan. Lebih dari Sekadar Nutrisi Selain manfaat bagi kesehatan mental, menyusui juga telah lama dikenal sebagai nutrisi terbaik untuk bayi dan baik untuk kesehatan fisik ibu, seperti mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung. Jadi, di tengah segala kesibukan dan tantangan menjadi ibu, mari kita lihat setiap sesi menyusui sebagai momen berharga yang tidak hanya menyehatkan si kecil, tetapi juga merawat diri kita sendiri. Semoga informasi ini bermanfaat dan semakin memotivasi kita untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati, sambil tetap menjaga kesehatan mental kita. Ingat, ibu yang sehat dan bahagia adalah fondasi keluarga yang kuat. Semangat untuk para pejuang ASI di luar sana!

Redaksi-31 Juli 2026
Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya
Gaya Hidup

Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya

Zaman sekarang, melahirkan di usia 40 tahun atau lebih bukan lagi hal yang jarang. Sayangnya, masih ada stigma bahwa menyusui di usia tersebut menghasilkan ASI dengan kualitas rendah. Lantas, benarkah ada batas usia tertua untuk menyusui?Usia Bukanlah PenghalangMenurut para ahli, hingga saat ini tidak ada batasan usia tertentu yang membuat seorang ibu tidak boleh atau tidak mampu menyusui. Selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan, menyusui tetap bisa dilakukan dan memberikan manfaat optimal.Dr. Philippa Kaye, dokter umum asal Inggris, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kualitas ASI menurun hanya karena faktor usia. Banyak perempuan berusia 40 tahun ke atas yang sukses menyusui bayinya. “ASI adalah makanan pertama yang direkomendasikan untuk semua bayi, tanpa memandang usia ibunya,” ujarnya.Kualitas ASI: Usia vs KesehatanHingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ASI menjadi 'buruk' atau kehilangan nutrisi karena ibu lebih tua. Kualitas ASI lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu, frekuensi menyusui, serta kebutuhan bayi. Selama ibu sehat, bergizi baik, dan mendapat dukungan yang memadai, ASI tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak membedakan rekomendasi ASI berdasarkan usia ibu. WHO tetap menganjurkan inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif selama enam bulan, dan melanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih dengan MPASI. Artinya, usia bukanlah halangan selama tidak ada kontraindikasi medis.Faktor Penentu Keberhasilan MenyusuiKeberhasilan menyusui lebih ditentukan oleh pelekatan bayi yang benar, frekuensi menyusui, dukungan keluarga, serta pengosongan payudara secara rutin. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa sebagian besar ibu sehat mampu memproduksi ASI cukup jika proses menyusui efektif.Nadine Rosenblum, koordinator program laktasi di The Johns Hopkins Hospital, menambahkan bahwa banyak mitos membuat ibu berhenti menyusui lebih awal. Padahal, tubuh bayi sudah dipersiapkan untuk menerima ASI sebagai sumber makanan utama. “ASI adalah yang diharapkan tubuh bayi untuk dikonsumsi secara paling efektif,” jelasnya.Ibu di Atas 40 Tetap Bisa MenyusuiPerempuan yang melahirkan di usia 40 tahun atau lebih tetap bisa menyusui dengan sukses. Meskipun kehamilan di usia lebih tua memiliki risiko komplikasi seperti diabetes gestasional atau hipertensi, kondisi tersebut bukan berarti ibu tidak bisa menyusui. Dengan pemantauan yang baik, pemberian ASI tetap aman dan bermanfaat.Semakin banyak perempuan yang memilih hamil di usia matang karena karier, pendidikan, atau program kehamilan. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang. Jika Bunda mengalami kesulitan, seperti produksi ASI terasa kurang atau pelekatan belum optimal, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi.Ingatlah, tantangan menyusui bisa dialami ibu di segala usia. Faktor seperti kesehatan ibu, proses persalinan, frekuensi menyusui, dan dukungan keluarga justru lebih berperan daripada usia. Dengan demikian, tidak ada batas usia maksimal untuk menyusui. Selama ibu dan bayi sehat, ASI tetap menjadi nutrisi terbaik.

Redaksi-30 Juli 2026
Momen Romantis Suami Dukung Istri Menyusui saat Liburan
Keluarga

Momen Romantis Suami Dukung Istri Menyusui saat Liburan

Liburan keluarga memang momen yang dinanti-nanti, apalagi setelah sekian lama menjalani rutinitas. Bu Susan Sameh dan suami, Khalid Atamimi, baru-baru ini menghabiskan waktu bersama di Jerman. Namun, yang bikin hangat adalah perhatian Khalid saat Susan menyusui putra mereka di tengah perjalanan.Dukungan Suami yang Bikin Hati MelelehDalam beberapa potret yang dibagikan Susan, terlihat Khalid selalu sigap mendampingi saat istri menyusui. Baik di bandara, di dalam pesawat, maupun di tempat wisata, ia tak segan membantu menggendong atau mengatur posisi agar Susan nyaman. Sikap seperti ini tentu bikin istri merasa dihargai dan tidak sendirian.Tips Traveling Sambil MenyusuiBagi Bunda yang ingin mencoba liburan serupa, ada beberapa hal yang bisa dicontoh dari keluarga Susan:Pilih pakaian yang mudah diakses untuk menyusui.Bawa pompa ASI portable agar stok ASI tetap terjaga.Manfaatkan ruang menyusui di bandara atau tempat umum.Komunikasikan jadwal menyusui dengan pasangan agar saling mendukung.Jangan lupa istirahat cukup, karena perjalanan jauh bisa melelahkan.Keharmonisan Keluarga di Tengah PerjalananMomen-momen kecil seperti ini justru mempererat hubungan suami istri. Saat suami peduli pada kebutuhan istri dan buah hati, ikatan keluarga pun semakin kuat. Liburan bukan sekadar jalan-jalan, tapi juga kesempatan menciptakan kenangan indah bersama.Tak heran jika banyak yang menyebut keluarga Susan dan Khalid sebagai inspirasi. Mereka membuktikan bahwa menyusui tidak menghalangi aktivitas seru, asal ada kerja sama dan pengertian dari pasangan.

Redaksi-04 Juli 2026
Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya
Gaya Hidup

Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya

Bunda, pernah nggak sih merasa minder saat melihat foto stok ASI perah (ASIP) yang memenuhi freezer di media sosial? Botol-botol ASI yang tersusun rapi dan berjejer rapat memang sering bikin kita takjub. Tapi di balik itu, banyak ibu menyusui yang justru merasa cemas dan bertanya-tanya, "Apakah ASI-ku cukup?"Kisah Nyata yang MenginspirasiHal inilah yang pernah dirasakan oleh Caitlin Wilder, seorang ibu dari Los Angeles. Ia hampir membeli kulkas tambahan untuk menyimpan ASI berlebih yang ia bayangkan akan segera dibutuhkannya. Tapi ternyata, realitanya jauh berbeda."Yang saya lihat di internet hanyalah orang-orang memompa ASI dalam jumlah besar, mengisi botol pompa mereka, mengisi teko-teko penuh ASI," kata Wilder. "Saya tidak pernah memompa ASI sebanyak itu dan saya merasa buruk tentang hal itu."Wilder menyebut dirinya sebagai seorang "just-enougher"—ibu yang memompa secukupnya sesuai kebutuhan bayi. Saat melahirkan anak keduanya, ia memutuskan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa secukupnya saja sudah cukup. Ia membuat video yang memperlihatkan sedikit ASI yang berhasil dipompanya, sambil bernyanyi dengan konyol, dan membagikannya di media sosial. Respons yang ia terima sangat positif; banyak ibu yang merasa lega karena akhirnya ada yang berbagi realita.Tekanan dari Tren Stok ASIPTren berbagi foto stok ASIP beku di media sosial memang bisa memicu tekanan. Banyak ibu yang merasa harus memiliki persediaan sebanyak mungkin, padahal setiap perjalanan menyusui berbeda. Ada yang perlu memompa banyak karena bekerja, ada yang menyusui langsung sepanjang hari, dan ada juga yang hanya menyimpan sedikit sebagai cadangan. Semua itu normal.Penelitian dalam jurnal Pediatrics oleh Kent dan tim dari University of Western Australia menemukan bahwa volume ASI yang diminum bayi dalam satu sesi sangat bervariasi. Rata-rata sekitar 76 gram, tetapi rentangnya luas tergantung kondisi ibu dan bayi. Jadi, tidak ada standar pasti yang bisa dijadikan patokan.Berapa Banyak ASIP yang Normal?Menurut Ann Cha, ahli gizi terdaftar dan konsultan laktasi di Rumah Sakit Anak Philadelphia, produksi ASI setiap ibu memang berbeda. Bayi biasanya minum 25–32 ons susu per hari. Jika seorang ibu memompa secara eksklusif dalam delapan sesi, targetnya sekitar 3–4 ons per sesi. La Leche League menambahkan, ibu yang lebih sering menyusui langsung mungkin hanya menghasilkan kurang dari 2 ons per sesi memompa.Jumlah ASI yang keluar bisa dipengaruhi oleh:Usia bayiFrekuensi menyusu langsungJadwal pumpingKondisi tubuh ibuTingkat kelelahan dan stresKapasitas penyimpanan payudaraASI juga cenderung lebih banyak di pagi hari dibanding sore atau malam.Keberhasilan Menyusui Bukan Soal StokYang terpenting, produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip "semakin sering dikeluarkan, semakin banyak diproduksi". Tanda bahwa bayi cukup ASI bukan dari penuhnya freezer, melainkan dari:Berat badan yang bertambah sesuai grafik pertumbuhanBayi tampak puas setelah menyusuFrekuensi buang air kecil yang cukupBayi aktif dan responsifSetiap ibu punya perjuangan masing-masing. Ada yang stok ASIP-nya bertahan berbulan-bulan, ada yang hanya punya beberapa kantong cadangan, bahkan ada yang memompa sesuai kebutuhan harian. Foto-foto di media sosial hanyalah potongan kecil dari perjalanan seseorang.Jadi, Bunda, jangan jadikan jumlah ASIP orang lain sebagai tolok ukur. Nikmati proses menyusui dengan penuh cinta dan percaya bahwa apa yang Bunda berikan sudah yang terbaik untuk si kecil.

Redaksi-04 Juli 2026
Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra
Gaya Hidup

Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra

Seorang ibu di Inggris, Tayah Ettienne (33), mendadak viral setelah membagikan momen dirinya menyusui putrinya yang berusia 16 bulan di sebuah festival musik. Video yang diunggah ke TikTok itu telah ditonton lebih dari 700 ribu kali dan memicu perdebatan sengit di kolom komentar.Dalam video tersebut, Tayah tampak menari sambil menggendong Aaliyana, putrinya, yang tiba-tiba menyusu. “Kami menari sambil ia menyusu, dan ia tertawa serta tersenyum padaku,” cerita Tayah. Ia mengaku sangat senang bisa keluar rumah setelah hampir setahun lebih jarang beraktivitas di luar sejak melahirkan.Festival itu sendiri merupakan acara pribadi dan ramah keluarga, sehingga menurut Tayah tidak ada yang keberatan dengan aksinya. “Semua orang di sana benar-benar normal dan tidak mempermasalahkan seorang ibu yang menyusui,” ujarnya.Namun, setelah video menyebar luas, komentar negatif pun bermunculan. Banyak netizen yang menilai bahwa menyusui di festival musik dianggap tidak pantas. “Tidak pantas ya,” tulis seorang pengguna. “Hentikan waktu, itu salah,” komentar lainnya. Tayah mengaku terkejut dengan kritik tersebut. “Orang-orang mengatakan mereka merasa tidak nyaman menontonnya, itu sangat menyedihkan,” ucapnya.Di tengah kecaman, Tayah juga mendapat banyak dukungan. “Semangat, Bu,” tulis seorang warganet. “Jangan dengarkan komentar-komentar ini, Nak, kamu melakukan hal yang luar biasa,” tambah yang lain. Tayah menegaskan bahwa menyusui bukanlah hal yang memalukan dan menjadi ibu bukan berarti harus kehilangan jati diri atau berhenti bersenang-senang.Menyusui di Ruang Publik: Hak vs StigmaSecara medis, menyusui adalah kebutuhan dasar bayi yang tidak mengenal waktu dan tempat. WHO bahkan merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih. Artinya, ibu menyusui berhak memenuhi kebutuhan anaknya kapan pun, termasuk di luar rumah.Meski begitu, stigma sosial masih sering membuat ibu merasa tidak nyaman. Di Indonesia sendiri, menyusui di tempat umum sebenarnya tidak dilarang dan sudah didukung dengan adanya ruang laktasi di berbagai fasilitas publik. Namun, pandangan masyarakat tentang 'kepantasan' menyusui di ruang publik masih beragam.Kasus viral ini mengingatkan kita bahwa dukungan lingkungan sangat penting agar ibu bisa menyusui tanpa rasa takut. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kenyamanan ibu dan bayi. Jadi, bagaimana menurut Bunda? Apakah menyusui di festival musik itu wajar atau sebaiknya dihindari?

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita