Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

musik indonesia

Berita dan Informasi musik indonesia

9 artikel ditampilkan

Ketika Luka Lama Berbicara: Mengapa Album Laika Menyentuh Hati Perempuan Indonesia
Cerita Ibu

Ketika Luka Lama Berbicara: Mengapa Album Laika Menyentuh Hati Perempuan Indonesia

Album Laika, Yang Ditinggalkan yang dirilis Nadin Amizah pada akhir Agustus lalu bukan sekadar kumpulan lagu. Ia adalah narasi tentang kehilangan, kemarahan, dan kerinduan yang tak pernah usai. Terinspirasi dari kisah Laika, anjing jalanan Moskow yang menjadi makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi dalam misi Sputnik 2 pada 1957, Nadin mengangkat metafora tentang sosok yang mendambakan kasih sayang namun tak kunjung mendapatkannya. "Laika adalah simbol dari mereka yang menginginkan cinta yang tak datang, dan permohonan yang berubah menjadi amarah," ujarnya dalam sebuah wawancara. Sejak perilisannya, tiga lagu dari album ini—Reservasi Untuk Dua, Tamu Berwajah Itu, dan Amarah—ramai digunakan sebagai latar belakang konten di media sosial. Ketiganya memiliki benang merah: menggambarkan fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Nadin sendiri mengakui bahwa album ini turut menyoroti realitas tersebut di Indonesia. Baginya, banyak anak yang merasa ditelantangkan oleh ayah, namun ironisnya, justru anak yang sering disebut "durhaka" ketika menyuarakan luka hatinya. Salah satu penggalan lirik dalam Reservasi Untuk Dua menyentuh banyak hati: "Dan jika neraka tempatku durhaka, kuyakin kau juga ku temu di sana. Kita tak berbeda, tak ada yang menang. Di dunia tak jumpa, kita bersama di sana." Lirik ini membuka diskusi luas tentang relasi anak dan ayah yang retak, serta bagaimana perempuan kerap menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Untuk memahami lebih dalam, saya mewawancarai tiga pendengar setia Nadin yang memiliki pengalaman fatherless. Mereka berbagi kisah, luka, dan bagaimana album ini membantu mereka merasa "dilihat". Berikut cerita Nabila, Flo, dan Lita. Nabila: Amarah yang Menjaga Kenangan Sejak kecil, Nabila menyaksikan pertengkaran orang tuanya hampir setiap hari. Hal-hal sepele bisa memicu keributan, seperti ketika masakan ibu tidak disentuh ayahnya. "Aku pikir pertengkaran itu normal, sampai teman-teman kuliahku bilang orang tua mereka tidak pernah bertengkar di depan anak-anak. Aku kaget," kenangnya. Puncaknya, pada 2025, ayahnya memilih tinggal di Bogor sementara Nabila dan ibunya kembali ke Jakarta. Mereka tidak bercerai, tetapi berpisah rumah. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam. Nabila mengaku hingga kini belum memiliki standar pasangan yang ideal karena tidak pernah melihat contoh pernikahan yang sehat. "Aku marah, kenapa ayah seperti melepas tanggung jawab. Tapi sekarang aku sadar, mungkin hidup ayah lebih tenang tanpa mama, begitu juga mama," ujarnya. Penelitian Apranda dan Ninawati (2025) menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah berkorelasi dengan ketakutan akan keintiman pada perempuan dewasa. Ketika mendengar lagu Amarah, Nabila merasa tervalidasi. "Lirik 'Jangan ambil amarahku, hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku' sangat relate. Setidaknya masih ada rasa untuk ayah, meski rasa itu marah," tuturnya. Flo: Ketika Durhaka Menjadi Cermin Di mata orang luar, keluarga Flo tampak harmonis. Namun di balik itu, ayahnya nyaris tidak pernah hadir secara emosional. "Papa tidak pernah membimbing atau mengajariku apa pun. Malah saat kecil, aku sering dipukul dengan gesper, dikunci di kamar mandi gelap, dan mainanku dirusak hanya karena telat makan," ungkapnya. Ayahnya juga kerap mengomentari tubuhnya hingga membuat Flo tidak percaya diri. Yang lebih menyakitkan, sang ayah enggan membantu pekerjaan rumah tangga, padahal ibunya juga bekerja. "Papa bilang, untuk apa punya istri kalau tidak menyiapkan makan dan membereskan rumah," kenangnya. Flo menyadari bahwa sikap ayahnya lahir dari nilai patriarki yang mengakar. Ia pun merasa terwakili ketika mendengar lagu Reservasi Untuk Dua. "Kalau aku dianggap durhaka, maka papa tak ada bedanya. Kita sama-sama punya salah," ujarnya. Argumentasi Zhao (2026) dalam jurnalnya menyebutkan bahwa norma gender patriarki menciptakan ketimpangan peran domestik, di mana perempuan tetap memikul beban ganda meski sama-sama bekerja. Lita: Merawat Luka dengan Musik Lita tumbuh tanpa sosok ayah sejak usia lima tahun. Ayahnya pergi dan tidak pernah kembali. "Aku tidak punya kenangan indah tentang ayah. Yang ada hanya rasa ingin tahu, kenapa dia tega pergi," katanya. Lita menemukan pelipur lara dalam lagu Tamu Berwajah Itu. "Liriknya seperti mewakili perasaanku yang selalu menunggu seseorang yang tak pernah datang. Aku merasa Nadin mengerti," ujarnya. Kini Lita aktif dalam komunitas perempuan yang mendukung pemulihan luka fatherless. "Musik tidak menyembuhkan semuanya, tapi setidaknya aku tahu aku tidak sendiri." Album Laika, Yang Ditinggalkan bukan hanya karya seni, tetapi juga ruang aman bagi perempuan untuk mengakui luka dan marah. Nadin Amizah berhasil merangkai kata yang menyuarakan isi hati banyak orang, sekaligus mengajak kita merenung: bagaimana seharusnya peran ayah dan ibu dibagi, dan mengapa anak selalu dianggap durhaka ketika berani bersuara? Melalui lagu-lagunya, Nadin mengingatkan bahwa setiap perempuan berhak didengar, termasuk dalam kemarahannya.

Redaksi-08 Oktober 2026
Kisah Pilu di Balik Album Terbaru Nadin Amizah yang Menggetarkan Hati
Cerita Ibu

Kisah Pilu di Balik Album Terbaru Nadin Amizah yang Menggetarkan Hati

Penyanyi berbakat Nadin Amizah baru saja merilis album ketiganya yang berjudul Laika, Yang Ditinggalkan. Judul ini mungkin terasa asing, tapi di baliknya tersimpan kisah yang sangat mengharukan. Siapa sebenarnya Laika? Bagi yang belum tahu, Laika adalah seekor anjing betina yang dikirim oleh Uni Soviet ke luar angkasa pada misi satu arah. Sayangnya, ia tidak pernah kembali karena meninggal di hari keempat akibat kepanasan dan stres yang luar biasa. Nadin mengaku bahwa kisah Laika sangat menginspirasinya. Dalam album ini, ia menggambarkan sosok Laika sebagai makhluk yang haus akan kasih sayang, selalu mendambakan sesuatu yang tak pernah cukup, dan pada akhirnya berubah menjadi amarah. “Di mataku, Laika adalah sosok yang mendambakan sesuatu yang tak pernah cukup, menginginkan kasih yang tak datang, dan permohonan yang akhirnya berubah jadi amarah,” tuturnya. Mengangkat Realitas Kehidupan Album ini sebenarnya berbicara tentang perasaan kesepian yang dialami oleh anak-anak yang ditinggalkan ayahnya. Ada kerinduan mendalam untuk memiliki tempat berlindung, yang menjadi benang merah di seluruh lagu. Nadin memang dikenal dekat dengan peristiwa nyata dalam berkarya. Ia selalu memproses realitas di sekitarnya menjadi musik yang menyentuh. “Karya-karyaku selalu berasal dari pemrosesan diriku sendiri, terutama dalam melihat sesuatu,” ungkapnya. Salah satu lagu yang berjudul Ditemukan Sebuah Bangkai bahkan lahir dari kejadian nyata saat banjir Jakarta pada awal 2020. Saat itu, ada sesosok mayat yang mengapung di sungai dan tidak ada yang mengenalinya. “Bayangin, gak ada sanak keluarga atau siapa pun yang mencarinya. Gila gak?” katanya dengan nada prihatin. Eksplorasi Musik yang Lebih Luas Untuk album ini, Nadin sengaja keluar dari zona nyaman dengan menggandeng sepuluh produser berbeda untuk sebelas lagu. Beberapa nama seperti Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, Otta Tarega, dan Feby Putri turut ambil bagian. Hal ini menunjukkan keinginannya untuk terus bereksplorasi sebagai seniman. “Bahkan sejak proses songwriting, aku sudah punya bayangan gimana tata soniknya. Termasuk orang-orang yang bisa menciptakannya dengan maksimal,” jelas Nadin. Ia pun berharap suatu hari bisa memproduksi lagunya sendiri. “Yang belum kesampaian, produce laguku sendiri. Semoga segera ya,” tambahnya penuh harap. Momen Spesial Bersama Penggemar Sebelum album ini resmi dirilis, Nadin mengadakan sesi dengar eksklusif bersama penggemar setianya yang disebut “Kesayangan Nadin”. Acara ini berlangsung di lima kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Sebanyak 885 pendengar hadir dan menjadi saksi pertama keindahan album ini sebelum dinikmati publik luas. Momen ini menjadi bukti kedekatan Nadin dengan para penggemarnya. Ia ingin berbagi cerita secara langsung sebelum karya besarnya dirilis. Tentu saja, respons positif langsung mengalir dari mereka yang hadir. Album Laika, Yang Ditinggalkan bukan sekadar musik, melainkan refleksi tentang kehidupan, kehilangan, dan harapan. Nadin berhasil mengemas kisah pilu menjadi karya yang indah dan menggugah. Bagi kamu yang sedang merasa sendiri atau kehilangan, album ini mungkin bisa menjadi teman yang mengerti perasaanmu.

Redaksi-30 Agustus 2026
Bernadya Bawa Penonton Terhipnotis dalam Showcase Penuh Kejutan
Cerita Ibu

Bernadya Bawa Penonton Terhipnotis dalam Showcase Penuh Kejutan

Bernadya baru saja menyelesaikan showcase album keduanya yang bertajuk 'Semoga Hanya di Mimpi' di Tennis Indoor Senayan pada 25 Juli 2026. Malam itu, ia membawakan seluruh lagu dari album terbarunya secara langsung, ditemani konsep panggung yang memukau dan kejutan-kejutan manis.Konsep Era 2000-an yang HidupSebelum naik panggung, Bernadya mengaku deg-degan. Tapi berkat kerja keras tim dan arahan kreatif Edy Khemod, ia berhasil menghidupkan nuansa era 2000-an yang kental. Setiap lagu dirangkai seperti cerita, dari awal hingga akhir, dengan tata panggung yang berbeda-beda. Misalnya, saat membawakan 'Peluk Aku Sekarang', ia menggunakan telepon rumah sebagai properti, sementara videotron dan pencahayaan berganti-ganti mengiringi setiap emosi lagu.Kolaborasi Spesial yang Bikin Penonton BergoyangSuasana makin meriah saat Rendy Pandugo muncul sebagai bintang tamu. Duet mereka di lagu 'Tolong Bilang Ini Mimpi' bikin penonton terhanyut. Tak berhenti di situ, Tenxi juga ikut memeriahkan panggung dengan aransemen hipdut untuk lagu 'Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan'. Nuansanya jadi lebih enerjik, dan ribuan penonton kompak bergoyang bersama.Lagu Lama yang Bikin NostalgiaSetelah menyelesaikan semua lagu baru, Bernadya mengajak penonton bernostalgia dengan lagu-lagu lamanya seperti 'Apa Mungkin', 'Kata Mereka Ini Berlebihan', dan 'Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan'. Semua dinyanyikan bersama dengan penuh penghayatan. Showcase yang berlangsung sekitar dua setengah jam itu ditutup dengan lagu 'Lama-Lama' yang diiringi confetti biru, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang hadir.

Redaksi-30 Juli 2026
Rahasia di Balik Lagu Matilah Kau Mati, Soundtrack Laut Bercerita
Keluarga

Rahasia di Balik Lagu Matilah Kau Mati, Soundtrack Laut Bercerita

Puluhan orang berkumpul di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Minggu petang. Mereka datang bukan untuk sekadar nongkrong, melainkan untuk mendengarkan lagu terbaru Efek Rumah Kaca (ERK) yang berjudul 'Matilah Kau Mati'. Lewat pengeras suara, alunan gitar dan vokal Cholil Mahmud yang mengawang sukses membuat pengunjung larut dalam suasana. Beberapa orang bahkan memejamkan mata, seolah ingin meresapi setiap bait lirik.Dari Novel ke LaguLagu ini lahir dari puisi berjudul 'Di Hari Kematianku' yang termuat dalam novel 'Laut Bercerita' karya Leila S. Chudori. Awalnya, Leila menamai puisinya seperti itu. Namun, Cholil mengusulkan judul baru yang diambil dari penggalan lirik yang kuat: 'Matilah Kau Mati'. Judul ini langsung terasa ikonik dan mewakili semangat perlawanan dalam cerita.Leila mengaku sempat menyiapkan rencana cadangan jika Cholil menolak. Ia akan meminta izin menggunakan lagu ERK yang lain, 'Di Udara', yang juga berkisah tentang aktivis yang dibunuh rezim otoriter. Tapi untungnya, Cholil menerima tawaran itu dan lahirlah 'Matilah Kau Mati' sebagai soundtrack film 'Laut Bercerita' yang akan tayang Oktober mendatang.Nuansa Tenang dalam PenantianBerbeda dengan lagu-lagu ERK sebelumnya yang sering bernada garang, 'Matilah Kau Mati' justru mengusung nuansa tenang. Cholil memilih kunci Major7 yang lazim dalam genre shoegaze dan dream-pop. Menurutnya, karakter bunyi itu paling pas untuk menggambarkan emosi dalam lirik.“Gua pingin ada ketenangan dalam menunggu, dia mentransformasikan lukanya menjadi sesuatu yang lebih adem, enggak yang meledak-ledak,” jelas Cholil. Ia terinspirasi oleh figur seperti Ibu Sumarsih, pendiri Aksi Kamisan, yang mampu mengubah kehilangan menjadi keberanian dan keteguhan.Kolaborasi Ayah dan AnakYang menarik, aransemen lagu ini dipercayakan kepada Angan Senja, putra Cholil. Angan sengaja menghindari aransemen yang terlalu kosong. Ia menambahkan dengungan dan snare dengan efek delay untuk mengisi ruang tanpa membuat lagu terasa penuh sesak.“Aku enggak mau lagunya terlalu hollow, jadi ada banyak momen yang pakai dengungan untuk fill the space without over-produce,” ujar Angan. Efek delay pada snare bahkan diciptakan untuk memberikan kesan seperti berada di dalam laut, merefleksikan kisah tokoh Biru Laut.Cholil mengaku senang melibatkan Angan karena pendekatannya yang berani. “Dia kalau bikin sound cukup berani. Gue enggak berani sih bikin sound kayak gini. Contoh ada sound kayak lebah, itu kan kita enggak pernah lakukan,” akunya.Relevansi dengan Situasi KiniBagi Cholil, 'Matilah Kau Mati' bukan hanya tentang kisah di novel. Lagu ini juga terasa relevan dengan kondisi sosial-politik saat ini, di mana ruang berekspresi semakin sempit. Intimidasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari buzzer dan massa bayaran di media sosial.“Itu bikin teror buat orang biasa untuk speak up, bahkan di media sosial kita sendiri,” tuturnya. Lewat lagu ini, ERK ingin mengingatkan bahwa meskipun banyak tekanan, kita bisa tetap teguh dan melahirkan perlawanan dengan cara yang tenang namun bermakna.

Redaksi-29 Juli 2026
Fatin Shidqia Siapkan Karya Baru, Angkat Tema Kerinduan Masa Kecil
Gaya Hidup

Fatin Shidqia Siapkan Karya Baru, Angkat Tema Kerinduan Masa Kecil

Fatin Shidqia Lubis kembali menjadi sorotan setelah beberapa waktu lalu terlihat di studio rekaman. Momen ini langsung memicu spekulasi bahwa pelantun 'Aku Memilih Setia' itu tengah menggarap karya anyar. Meski belum ada pengumuman resmi, kehadirannya di studio menjadi sinyal kuat bahwa perjalanan musiknya akan memasuki babak baru.Diskusi dengan Sony MusicMenurut Head of A&R Sony Music Indonesia, Kananta Kandria, pihak label sudah berdiskusi santai dengan Fatin mengenai langkah selanjutnya setelah album Cerita Kita. Diskusi tersebut ternyata berjalan seru karena Fatin datang dengan segudang referensi dan ide segar.“Kita ngobrol santai tentang apa yang ingin dilakukan Fatin ke depan. Dia sudah punya bayangan kuat soal arah musik yang ingin diambil, dan itu sangat menarik,” ujar Kananta.Konsep yang Lebih Dewasa dan PersonalYang membuat tim label antusias adalah Fatin sudah memiliki gambaran jelas mengenai konsep besar yang ingin diusung. Bukan sekadar lagu cinta, ia ingin menuangkan pengalaman hidupnya sebagai perempuan yang terus bertumbuh. Tema besar yang diangkat adalah kerinduan terhadap masa kecil—sebuah fase sederhana yang jauh dari tekanan dan keresahan orang dewasa.“Dia paham bahwa dirinya semakin dewasa, dan dari pendewasaan itu muncul realita baru: pengalaman, hal-hal baru, keresahan, kebingungan. Semua itu ingin ia tuangkan ke dalam karya berikutnya,” jelas Kananta.Konsep ini diprediksi akan menghadirkan warna berbeda dalam katalog musik Fatin. Jika sebelumnya ia identik dengan balada romantis, proyek baru ini kemungkinan akan lebih personal dan introspektif.Penantian Panjang PenggemarSejak memenangkan X Factor Indonesia pada 2013, Fatin telah melahirkan sejumlah hits seperti 'Dia Dia Dia', 'Kaulah Kamuku', dan 'Jingga'. Album Cerita Kita menjadi bukti kedewasaan artistiknya, dengan lagu 'Red Flag' yang menunjukkan eksplorasi pop modern tanpa kehilangan ciri khas vokal emosionalnya.Kini, publik menanti seperti apa karya baru Fatin. Meski judul lagu dan jadwal rilis belum diumumkan, kehadirannya di studio menjadi pertanda bahwa penantian panjang akan segera berakhir.

Redaksi-29 Juli 2026
Bernadya Curhat soal Rasa Cemas di Balik Album 'Semoga Hanya di Mimpi'
Cerita Ibu

Bernadya Curhat soal Rasa Cemas di Balik Album 'Semoga Hanya di Mimpi'

Bernadya akhirnya melepas album studio keduanya yang berjudul Semoga Hanya di Mimpi. Bukan sekadar kumpulan lagu, album ini menjadi ruang curhat bagi perasaan-perasaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.Inspirasi dari KegalauanJudul album ini diambil dari sepenggal lirik lagu pertama. Menurut Bernadya, kalimat itu paling pas menggambarkan isi hati seluruh album. "Itu adalah harapanku. Lagu-lagu lainnya adalah ketakutanku, yang kuharap cuma ada di mimpi," ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.Pelantun Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan ini mengaku sering cemas saat hidupnya terasa terlalu tenang. Bukannya lega, ketenangan justru membuatnya khawatir akan datangnya hal buruk. Perasaan itulah yang menjadi inspirasi utama dalam menulis lagu-lagu di album ini.Harapan yang Tertuang dalam LirikBernadya berharap semua ketakutan yang ia tulis hanya menjadi bunga tidur, bukan kenyataan. "Mudah-mudahan nggak beneran. Takut ini bentar lagi ada bencana besar. Semoga hanya di mimpi ketakutanku," katanya dengan nada harap-harap cemas.Babak Baru dalam BermusikAlbum ini juga menjadi penanda babak baru dalam perjalanan musik Bernadya. Lewat 10 lagu di dalamnya, ia berusaha lebih jujur mengekspresikan sisi rapuh dan kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Ia berharap pendengar bisa ikut menyelami dunia yang ia bangun dan menemukan ruang untuk memahami ketakutan mereka sendiri."Semua berangkat dari lagu ini. Kayak, 'Oh ya udah aku tulis lagu-lagu tentang apa yang aku takutin aja,'" pungkas Bernadya.

Redaksi-02 Juli 2026
Bernadya dan Ketakutan yang Ia Harap Hanya Mimpi
Cerita Ibu

Bernadya dan Ketakutan yang Ia Harap Hanya Mimpi

Penyanyi Bernadya resmi meluncurkan album studio keduanya yang bertajuk Semoga Hanya di Mimpi. Bukan sekadar kumpulan lagu, album ini adalah cerminan perasaan personal yang ia alami dalam beberapa waktu terakhir. Bernadya mengaku bahwa banyak ketakutan yang selama ini ia pendam, dan ia menuangkannya ke dalam lirik-lirik yang jujur dan menyentuh.Ketika Ketenangan Membawa KekhawatiranBernadya mengungkapkan bahwa ia sering merasa cemas ketika hidupnya berjalan terlalu tenang. Baginya, ketenangan justru memunculkan kekhawatiran akan datangnya sesuatu yang buruk. Perasaan inilah yang menjadi inspirasi utama dalam penulisan lagu-lagu di album ini. Ia berharap segala ketakutan yang ia tulis hanya menjadi bunga tidur dan tidak benar-benar terjadi di kehidupan nyata.Judul album diambil dari salah satu penggalan lirik di lagu pembuka. Menurut Bernadya, kalimat itu paling mampu merepresentasikan benang merah dari seluruh lagu. “Karena itu ada di salah satu lirik di track 1. Dan itu adalah harapanku. Track-track-nya adalah isi ketakutanku, yang aku harap itu cuman ada di mimpi,” ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.Babak Baru dalam Perjalanan MusikAlbum ini juga menandai babak baru dalam perjalanan bermusik Bernadya. Lewat karya keduanya, ia berusaha tampil lebih jujur dalam mengekspresikan sisi rapuh dan kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Pendengar diajak untuk menyelami dunia yang ia bangun, sekaligus menemukan ruang untuk memahami ketakutan mereka sendiri.Bernadya berharap album ini bisa menjadi teman bagi siapa pun yang pernah merasa cemas atau takut. “Aku tulis lagu-lagu tentang apa yang aku takutin aja. Akhirnya dipilihlah jadi focus track dari single pertama di albumnya ini,” pungkasnya.Dengan aransemen musik yang intim dan lirik yang personal, Semoga Hanya di Mimpi siap menemani perjalanan emosional para pendengarnya. Apakah kamu siap menghadapi ketakutanmu sendiri?

Redaksi-02 Juli 2026
26 Tahun Berkarya, Andien Rilis Album Paling Personal 'Sehidup Semusik'
Gaya Hidup

26 Tahun Berkarya, Andien Rilis Album Paling Personal 'Sehidup Semusik'

Andien resmi merilis album studio kesembilannya, Sehidup Semusik, pada 26 Juni 2026 di berbagai platform musik digital. Album yang berisi 13 lagu ini menjadi penanda perjalanan panjang kariernya selama 26 tahun di industri musik Indonesia. Lebih dari sekadar karya, album ini merupakan refleksi atas perjalanan bermusik yang memadukan nuansa nostalgia dengan eksplorasi berbagai warna musik.Proses Kreatif yang Lebih PersonalProses pengerjaan album ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun dan menjadi salah satu karya yang paling personal bagi Andien. Ia terlibat lebih besar dalam setiap tahap produksi, mulai dari konsep hingga detail teknis. Bagi Andien, Sehidup Semusik bukan sekadar judul album, melainkan representasi hubungan yang telah terjalin erat antara musik dan kehidupannya. Album ini terinspirasi dari budaya mixtape, yang menjadi fondasi proses kreatifnya dalam merangkum berbagai jenis musik yang ia sukai.Kolaborasi dengan Sembilan Produser BerbedaUntuk mewujudkan konsep tersebut, Andien menggandeng sembilan produser musik dengan karakter musikal yang berbeda. Kolaborator lama seperti Laleilmanino, Nikita Dompas, Ali Akbar Sugiri, Lafa Pratomo, Swugafunk, Abenk Alter, Mohammed Kamga, Kevin Queency, Iqbal Siregar, dan Dipha Barus kembali bergabung. Album ini juga menghadirkan wajah-wajah baru seperti Kenny Gabriel, tim S/EEK, dan Kareem Soenharjo. Setiap lagu memiliki karakter berbeda, namun tetap menyatu dalam identitas musikal yang selama ini melekat pada dirinya.13 Lagu yang Merekam Perjalanan HidupAlbum Sehidup Semusik menghadirkan 13 lagu, termasuk "Intro", "Naksir", "Cosmic Romantic", "Jatuh Pelan", "Mata Ketiga", "Nonchalant", "Sentil Kalau Nakal", "Manusia Favorit", "Merona Rasa", "Ujung-Ujungnya Kamu", "Jika Nanti Kita Lupa", dan "Sehidup Semusik". Beberapa lagu terasa semakin personal karena melibatkan anggota keluarga Andien, yakni kedua putranya, Kawa dan Tabi, serta sang suami, Irfan Wahyudi. Melalui keseluruhan lagu tersebut, Andien ingin menghadirkan karya yang merekam perjalanan hidup sekaligus perkembangan musikalnya selama lebih dari dua dekade.Makna di Balik 'Sehidup Semusik'Bagi Andien, Sehidup Semusik memiliki makna tentang kesamaan frekuensi yang terjalin melalui musik. Menurutnya, musik menjadi bahasa yang menyatukan irama, kata-kata, rasa, dan cara berkomunikasi, sehingga mampu menghubungkan dirinya dengan keluarga, sahabat, maupun para pendengar yang telah mengikuti perjalanan kariernya. Andien juga menyebut album ini sebagai karya yang paling banyak melibatkan pikiran, hati, dan jiwanya dibandingkan album-album sebelumnya. Meski diproduksi bersama banyak produser dengan beragam karakter musik, ia memastikan identitas musikalnya tetap terasa di setiap lagu.Dengan Sehidup Semusik, Andien tidak hanya merayakan 26 tahun perjalanan musiknya, tetapi juga mengajak pendengar untuk merasakan kedekatan yang lebih intim melalui lagu-lagu yang lahir dari pengalaman pribadi dan refleksi kehidupan.

Redaksi-01 Juli 2026
Barasuara Ngaku Masih Rajin Pantau Rilisan Musisi Baru, Siapkan Kejutan
Berita

Barasuara Ngaku Masih Rajin Pantau Rilisan Musisi Baru, Siapkan Kejutan

Barasuara, band yang sudah malang melintang di industri musik Tanah Air, ternyata nggak pernah berhenti penasaran sama karya-karya baru. Mereka justru punya tradisi unik: setiap minggu, para personel saling berbagi lagu-lagu yang baru dirilis, baik dari musisi pendatang baru maupun yang sudah mapan.Diskusi Musik Jadi Rutinitas SeruIga Massardi, vokalis sekaligus gitaris Barasuara, cerita kalau kebiasaan ini udah jadi semacam ritual. "Kami selalu pantau siapa aja yang rilis karya setiap minggu. Bahkan sering banget kami berenam duduk bareng dan ngobrolin musisi yang lagi kami dengerin," ujarnya santai saat ditemui di Studio 6 Emtek City, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.Menurut Iga, sekarang informasi soal rilisan baru makin gampang diakses. Banyak media dan akun media sosial yang rajin membagikan update. "Kebetulan juga kami dalam waktu dekat mau rilis lagu baru. Jadi referensi itu penting banget buat kami," tambahnya.Proses Kreatif yang Terus BergerakBuat Barasuara, mendengarkan karya orang lain bukan cuma hiburan, tapi juga cara untuk tetap relevan dan segar secara musikal. Mereka percaya, dengan terus membuka telinga pada berbagai genre dan gaya, ide-ide baru bisa muncul secara alami. Apalagi dengan rencana rilis lagu anyar, tradisi ini makin terasa manfaatnya.Sayangnya, Iga masih bungkam soal detail lagu baru tersebut. Yang jelas, para penggemar Barasuara bisa mulai bersiap-siap untuk kejutan manis dari band favorit mereka. Tetap pantengin terus ya, siapa tahu single anyar bakal meluncur lebih cepat dari perkiraan!

Redaksi-26 Juni 2026
NaraCerita