Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

panas bumi

Berita dan Informasi panas bumi

3 artikel ditampilkan

Ketika Energi Hijau Membawa Duka di Lereng Ijen
Gaya Hidup

Ketika Energi Hijau Membawa Duka di Lereng Ijen

Pagi itu, 26 April 2020, dentuman keras mengagetkan warga Desa Kalianyar, Bondowoso. Dari lokasi pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Blawan Ijen, semburan uap dan api hitam membubung tinggi. Warga yang sedang di ladang atau di rumah berhamburan, mengira ada pesawat jatuh. Rany (50) yang sedang memetik sayur langsung diberi masker oleh petugas proyek. ‘Kayak pesawat mau jatuh,’ kenangnya dengan suara bergetar.Silvi (28) baru saja melahirkan saat ledakan terjadi. Tanpa sempat memulihkan diri, ia membungkus bayinya dan ikut evakuasi. Hingga kini, trauma itu masih membekas. ‘Takut aja bakal meledak lagi sampai sini,’ ujarnya sambil menunjuk ke arah sumur bor.Kopi yang Ditebang, Harapan yang SirnaDesa Kalianyar adalah pusat proyek PLTP Blawan Ijen yang dikelola PT Medco Cahaya Geothermal (MCG). Sejak 2020, ribuan hektare lahan warga berubah menjadi sumur bor, jalan, dan infrastruktur. Lahan kopi yang menjadi kebanggaan dan tabungan keluarga terpaksa ditebang. Padahal, kopi telah menjadi sumber penghidupan turun-temurun sejak zaman Belanda.Donny (35), perangkat desa, menceritakan ada warga yang tanamannya sudah berusia empat tahun—siap panen—ditebang tanpa kompensasi. ‘Kopi itu tabungan untuk hari tua dan pendidikan anak. Sekarang warga khawatir kalau proyek diperluas,’ katanya.Menanam kopi bukan perkara mudah. Untuk satu hektare, petani harus merogoh kocek Rp15-25 juta untuk bibit, belum lagi biaya tenaga kerja dan perawatan. Pohon kopi baru berbuah setelah 3-4 tahun. Ketika ditebang sebelum panen, kerugian bukan hanya soal tanaman, tapi juga waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan.Air Berubah, Hasil Pertanian MenurunTak hanya kopi, tanaman lain pun merana. Firman (63), petani cabai, menunjukkan perubahan nyata. ‘Dulu cabai bisa merambat sampai satu meter, sekarang cuma setengah meter. Daunnya menguning, buahnya sedikit,’ keluhnya. Ia yakin perubahan itu terkait proyek panas bumi yang berjarak hanya 200 meter dari kebunnya.Warga juga mengeluhkan kualitas air yang menurun. Sumur-sumur mulai mengeluarkan bau belerang, dan sumber air yang biasa digunakan untuk minum dan mandi tercemar. Perempuanlah yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air bersih, atau mengeluarkan uang lebih untuk membeli air galon.Beban Ganda PerempuanDi desa ini, perempuan tidak hanya bekerja di ladang, tapi juga mengurus rumah tangga. Ketika hasil panen menurun dan pengeluaran membengkak, mereka harus pintar-pintar mengatur keuangan. ‘Saya harus memastikan anak-anak tetap sekolah meski penghasilan suami berkurang,’ ujar Sari (40), seorang ibu rumah tangga.Bau gas yang sesekali tercium dari proyek membuat mereka khawatir akan kesehatan keluarga. Beberapa warga mengeluh sesak napas dan pusing. Namun, tidak semua berani bersuara karena takut kehilangan pekerjaan atau kompensasi.Energi Hijau, Tapi untuk Siapa?Pemerintah dan perusahaan menyebut proyek ini sebagai langkah menuju energi bersih. Namun, bagi warga Kalianyar, energi hijau itu datang dengan harga yang mahal. ‘Kami tidak anti pembangunan, tapi tolong perhatikan kami yang tinggal di sini,’ pinta Donny.Hingga kini, belum ada solusi nyata bagi warga yang kehilangan mata pencaharian. Beberapa dipekerjakan di proyek, tapi jumlahnya terbatas. Sebagian besar petani kopi kini beralih jadi buruh serabutan, sementara perempuan harus menanggung beban ganda: kehilangan pendapatan dan tambahan pekerjaan domestik.Kisah di lereng Ijen ini mengingatkan kita bahwa transisi energi tak boleh mengabaikan keadilan sosial. Di balik megawati proyek, ada perempuan yang berjuang melawan trauma, ladang yang layu, dan mimpi yang pupus.

Redaksi-06 Juli 2026
Mimpi Energi Bersih, Air Bersih Warga Jadi Taruhan
Gaya Hidup

Mimpi Energi Bersih, Air Bersih Warga Jadi Taruhan

Udara pagi di Dusun Watucapil, Ijen, biasanya segar dan menenangkan. Namun sejak Maret 2024, segelas air minum yang biasa dinikmati warga berubah jadi mimpi buruk. Air yang dulu jernih itu kini berwarna kehijauan, meninggalkan rasa pahit dan sensasi kering di tenggorokan. Tak butuh waktu lama, keluhan kesehatan mulai berdatangan – mual, diare, terutama pada anak-anak. Beberapa bahkan harus dirawat di puskesmas.“Anak-anak mual dan diare, ada tiga-empat orang yang opname. Kami yakin ini dari air yang kami minum,” ujar Donny, perangkat desa setempat. Warga menduga pencemaran berasal dari aktivitas pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen Blawan milik PT Medco Cahaya Geothermal. Namun perusahaan membantah adanya kaitan langsung antara gangguan kesehatan warga dengan operasional proyek. Mereka menilai keluhan tersebut terlalu dibesar-besarkan.Warga tak tinggal diam. Mereka meminta perusahaan memulihkan akses air bersih. Sempat ada rencana mencari sumber air alternatif di Gunung Ranti, namun kandas karena lokasinya terlalu jauh. Akhirnya, perusahaan hanya memberikan bantuan air bersih sementara dan menutup saluran pembuangan limbah yang diduga menjadi sumber pencemaran pada April 2024.Uji Laboratorium Ungkap FaktaBersama Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), kami melakukan uji laboratorium pada lima sumber mata air di Desa Kalianyar pada 22 April 2024. Hasilnya? Seluruh sampel masuk kategori tercemar ringan berdasarkan baku mutu air bersih. Rifnida Azmi Fitratian, peneliti kimia lingkungan dari PoskoKKLuLa, menjelaskan bahwa selain limbah proyek, faktor lain seperti material organik, kotoran hewan, dan residu pupuk juga bisa memengaruhi kualitas air. Namun ia menekankan bahwa sumber air ini adalah sumber utama warga, sehingga pemantauan berkala mutlak diperlukan.Mandailing Natal: Air Berkurang, Panen MerosotDi Mandailing Natal, Sumatera Utara, petani seperti Sita (41) mengeluh debit air ke sawahnya berkurang drastis sejak perusahaan panas bumi beroperasi. “Sejak ada perusahaan, aliran air ya berkurang jadi segitu,” katanya. Akibatnya, hasil panen terus menurun, menggerus pendapatan keluarganya. Sementara itu, Kepala Puskesmas Sibanggor Jae, Miva Riani Siregar, mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di desa-desa sekitar proyek. Lebih mengkhawatirkan lagi, wilayah ini beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S yang mematikan. Pada 2021, lima warga meninggal. Tahun berikutnya 58 warga keracunan. Terbaru, pada Februari 2024, 123 warga dilaporkan keracunan akibat kebocoran gas serupa.Mataloko: Kenangan Pahit yang Tak Kunjung UsaiDi Mataloko, Nusa Tenggara Timur, proyek panas bumi sudah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade. Namun semburan lumpur panas dan bau sulfur masih setia menemani warga. Inu dan Maria Baka yang tinggal sekitar satu kilometer dari pusat semburan sering terbangun oleh bau sulfur pekat menjelang subuh. Bau itu memicu sesak napas dan gatal-gatal pada kulit. “Kami harus beli obat Rp50 ribu sehari. Salep untuk kulit, obat batuk,” keluh Maria. Bagi mereka, dampak proyek energi tak berakhir saat mesin berhenti berputar.Kisah-kisah ini menggambarkan ironi besar: demi mewujudkan mimpi energi bersih dan berkelanjutan, warga lingkar panas bumi justru menggadaikan hak dasar mereka atas air bersih, kesehatan, dan kehidupan yang layak. Pertanyaan yang menggantung: sampai kapan mimpi itu harus dibayar mahal oleh mereka yang tak pernah menikmati listrik yang dihasilkan?

Redaksi-29 Juni 2026
Derita Warga di Sekitar Proyek Panas Bumi
Gaya Hidup

Derita Warga di Sekitar Proyek Panas Bumi

Anak-anak di TK Pusparini, Desa Kalianyar, Bondowoso, Jawa Timur, punya istilah sendiri untuk aroma yang sering menyergap kampung mereka: 'bau pengeboran'. Sebutan itu muncul sejak pengeboran sumur eksplorasi panas bumi dimulai pada April 2020. Kini, bau menyengat itu sudah jadi bagian hidup warga yang rumahnya dekat dengan proyek.Tim kami mengunjungi Kalianyar pada April lalu. Bau itu kembali muncul setelah hujan reda. Aromanya seperti campuran gas bocor dan telur busuk. Kadang bau itu bertahan hingga dua puluh menit sebelum hilang perlahan.Bau Gas dan Gangguan KesehatanBau tersebut berasal dari hidrogen sulfida (H?S) dan belerang yang dilepaskan PLTP Ijen Blawan. Pembangkit yang mulai beroperasi pada 7 Februari 2025 itu berdiri tak jauh dari permukiman. Pipa-pipa uap panas membentang di atas lahan pertanian warga, dan beberapa rumah hanya berjarak kurang dari 100 meter dari fasilitas operasional.Namun, persoalan tak berhenti pada bau. Warga mengeluhkan sumber air yang berubah, gangguan kesehatan, hingga hasil pertanian yang menurun. Keluhan serupa juga kami temukan di dua wilayah lain: Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur.Ambisi Energi vs. Realitas WargaIndonesia menargetkan panas bumi sebagai salah satu sumber energi utama. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas panas bumi ditargetkan bertambah 5.200 megawatt. Sejumlah proyek bahkan masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional (Obvitnas).Pemerintah mengklaim eksplorasi dilakukan dengan memperhatikan lingkungan. Muhammad Attar Majid dari Ditjen EBTKE mengatakan regulasi sudah diterbitkan untuk mengelola dampak. Namun, ia mengakui respons masyarakat tidak seragam. 'Banyak yang menolak, ada juga yang menerima karena efeknya,' ujarnya.Tiga Wilayah, Satu CeritaKami menelusuri tiga lokasi dengan karakteristik berbeda. PLTP Ijen dikelola perusahaan patungan Medco Energi dan Ormat Technologies (AS-Israel). PLTP Mandailing Natal 95% sahamnya dimiliki PT Sorik Marapi Geothermal Power (Singapura). Sementara PLTP Mataloko dikelola langsung PLN (BUMN).Di Ijen, keluhan sudah muncul sejak eksplorasi, namun berita setelah beroperasi masih terbatas. Proyek ini berdiri di atas lahan HGU PTPN dan Perhutani, bukan tanah warga. Status itu memengaruhi relasi masyarakat dengan proyek.Di Mandailing Natal, PLTP sudah beroperasi sejak 2019 dan beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S. Laporan JATAM menyebut paparan gas bisa menyebabkan pingsan, kelumpuhan pernapasan, hingga kematian.Di Mataloko, PLTP sempat beroperasi pada 2010, lalu berhenti karena penurunan kapasitas uap dan kerusakan mesin. Kini proyek kembali dalam tahap pengembangan.Dampak Nyata yang Tak TerbantahkanWarga di tiga wilayah bercerita tentang perubahan sumber air, gangguan kesehatan, dan penurunan hasil pertanian. Mereka juga masih menanti jawaban atas pertanyaan tentang dampak proyek terhadap ruang hidup mereka.Kami menggunakan panduan Gender Impact Assessment (GIA) dari Oxfam untuk menganalisis dampak, terutama pada perempuan. Namun, karena keterbatasan waktu, analisis tidak dilakukan secara menyeluruh.

Redaksi-29 Juni 2026
NaraCerita