Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

parenting islami

Berita dan Informasi parenting islami

2 artikel ditampilkan

Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah
Keluarga

Dokter Gia Pratama dan Adik Tumbuh Sederhana Padahal Hidup Berkecukupan, Ini Rahasia Pola Asuh Sang Ayah

Belakangan ini, nama dr. Gia Pratama Putra makin dikenal publik lewat konten-konten edukatifnya. Ia juga aktif membuat podcast yang membahas soal keluarga dan keseharian. Dalam salah satu episode terbaru, dr. Gia mengajak serta orang tua dan adiknya untuk berbincang hangat soal pola asuh yang mereka terima sejak kecil.Momen menarik muncul saat sang adik membuka cerita tentang bagaimana mereka berdua dibesarkan dengan gaya hidup sederhana, padahal kondisi keluarga mereka sebenarnya cukup mapan. Sang adik mengungkapkan bahwa kebiasaan hidup pas-pasan yang diajarkan ayah mereka justru menjadi bekal berharga untuk membangun mental yang kuat.“Menurut Dede, salah satu yang mengajarkan kita punya mental toughness adalah hidup sederhana, hidup pas-pasan. Padahal sebetulnya enggak sesulit itu,” ujar sang adik dalam podcast tersebut, seperti dikutip dari akun TikTok @giapratamamd. Dr. Gia pun mengamini, “Iya, jadi kita terbiasa gitu.”Terbiasa Naik Angkutan Umum Sejak KecilKebiasaan sederhana itu sudah ditanamkan sejak dr. Gia dan adiknya masih kecil. Sang ayah kerap mengajak mereka naik metromini untuk berangkat ke sekolah. Tentu saja, sang ibu sempat tidak sepakat dengan cara ini. Namun, ia sadar bahwa itu bagian dari didikan sang suami agar anak-anaknya mandiri.“Kalau itu menjadi basic, yang harus diucapkan terima kasih itu Papa,” kata ibunda dr. Gia. Ia pun berbagi cerita lucu sekaligus mengharukan, “Setiap anak mau naik angkot, yang nangis ini (ibunya). Dianterin ke metromini, Mama ngikutin sambil nyetir. ‘Itu anak gue mau diapain sih?’ Diam-diam ngikutin metromini.”Ibunda dr. Gia mengaku bahwa mereka sering berbeda pendapat soal pengasuhan. Namun, ia menyadari bahwa pola asuh sang suami tidaklah salah. “Jadi sering sekali kita beda pendapat dalam hal itu. Tetapi Mama sebetulnya menyadari bahwa itu benar. Tapi hati seorang ibu tidak ikhlas, ‘Masa anak gue naik angkot?’, karena apa? Saya bisa nyetir, saya bisa nganterin ke kampus. Tapi enggak boleh (sama suami),” kenangnya.Pentingnya Mengajarkan Hidup Sederhana pada AnakKisah dr. Gia ini mengingatkan kita bahwa mengajarkan kesederhanaan pada anak bukanlah hal yang sulit. Kuncinya ada pada bagaimana kita menanamkan tujuan hidup yang kuat pada mereka. Pakar dan penulis buku The Purpose Code, Jordan Grumet, MD, menjelaskan bahwa memiliki tujuan hidup adalah unsur penting untuk kebahagiaan dan kepuasan hidup.“Mengajarkan tujuan hidup dengan mencontohkan gairah yang dirasakan orang tua lebih efektif daripada sekadar memberikan nasihat kepada anak-anak,” ungkapnya. Lalu, bagaimana cara praktisnya? Berikut tiga langkah yang bisa Bunda coba di rumah.Menjadi Teladan yang BaikAnak-anak adalah peniru ulung. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika orang tua menunjukkan semangat dan kegembiraan dalam menjalani aktivitas atau hobi, anak-anak akan menangkap energi positif itu.“Ketika orang tua menekuni aktivitas dan minat yang membuat mereka bersemangat, anak-anak akan memperhatikannya. Mereka akan melihat orang tua sangat terlibat dalam sesuatu yang memberi kegembiraan dan kepuasan, dan itu dapat memicu rasa ingin tahu mereka sendiri,” jelas Grumet.Biarkan Anak Memilih BarangnyaSaat mengajarkan hidup sederhana, penting untuk memberi anak kendali atas barang-barang miliknya. Biarkan mereka memutuskan barang apa yang ingin disimpan dan apa yang akan disumbangkan. Walaupun pilihan mereka mungkin tidak selalu sesuai harapan Bunda, hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa aman pada diri mereka.Jelaskan Manfaat Hidup SederhanaJangan lupa untuk mengomunikasikan manfaat dari gaya hidup sederhana. Misalnya, saat Bunda dan Si Kecil merapikan rumah, tunjukkan secara langsung bagaimana barang yang lebih sedikit memberi lebih banyak waktu untuk bermain atau melakukan hal yang mereka sukai. Dengan begitu, anak akan belajar menghargai bahwa menyederhanakan hidup justru membuka lebih banyak kesempatan untuk kebahagiaan.Kisah dr. Gia Pratama dan keluarganya menjadi pengingat bahwa gaya hidup sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan sebuah pilihan untuk membangun karakter yang kuat. Semoga cerita ini bisa menginspirasi Bunda dalam mendidik buah hati di rumah ya.

Redaksi-07 Agustus 2026
Menyusui Saat Hamil, Apakah Aman untuk Ibu dan Janin?
Kesehatan Keluarga

Menyusui Saat Hamil, Apakah Aman untuk Ibu dan Janin?

Bagi ibu yang masih menyusui anak kecil lalu hamil lagi, muncul pertanyaan besar: apakah tetap boleh menyusui? Pengalaman ini dibagikan oleh Indah Ningtyas, istri komika Rigen Rakelna, yang baru saja melahirkan anak keempat melalui operasi caesar pada 11 Juni 2026. Ia mengaku tetap menyusui putra ketiganya, Nava, selama kehamilan hingga ASI-nya berhenti keluar dengan sendirinya.Pengalaman Indah: Menyusui sampai ASI HabisIndah menceritakan bahwa ia tidak langsung berhenti menyusui saat tahu hamil. "Selama ga ada kontraksi kata dokterku aman," tulisnya di Instagram. Keputusan ini diambil setelah berkonsultasi dengan dokter. Namun, karena jarak kehamilan yang dekat—Nava lahir Maret 2025 dan kehamilan keempat terdeteksi awal 2026—produksi ASI-nya perlahan berkurang hingga akhirnya tidak keluar lagi.Bagaimana Tubuh Menyesuaikan Diri?Menurut konsultan laktasi Lynnette Hafken, tubuh ibu hamil tetap memproduksi ASI, namun rasanya berubah menjadi kurang manis karena adanya kolostrum. Seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI bisa menurun karena energi tubuh lebih difokuskan pada janin. Faktor seperti frekuensi menyusui dan kapasitas penyimpanan ASI juga memengaruhi jumlah yang dihasilkan.Risiko yang Perlu DipertimbangkanMeski umumnya aman, menyusui saat hamil memiliki risiko, terutama jika ibu mengalami anemia atau riwayat persalinan prematur. Rangsangan pada puting melepaskan hormon oksitosin yang bisa memicu kontraksi. Oleh karena itu, ibu dengan risiko kelahiran prematur disarankan berhenti menyusui hingga usia kehamilan 37 minggu. Namun, pada kehamilan sehat, risiko ini rendah.Pandangan Islam tentang Al-GhiilahDalam Islam, menyusui saat hamil dikenal dengan istilah al-ghiilah dan hukumnya boleh. Nabi Muhammad SAW bahkan mengatakan bahwa bangsa Romawi dan Persia melakukannya tanpa membahayakan anak-anak mereka. Hal ini dikuatkan oleh kitab fiqih Kuwait yang menyebut makna al-ghiilah mencakup menyusui saat hamil.Tips untuk Ibu yang Ingin Menyusui Saat HamilKonsultasikan dengan dokter, bidan, atau konsultan laktasi terlebih dahulu.Perhatikan asupan nutrisi, terutama zat besi, untuk mencegah anemia.Jika muncul kontraksi atau nyeri, segera hentikan sementara dan konsultasi.Prioritaskan menyusui bayi baru lahir jika sudah melahirkan, untuk memastikan asupan ASI cukup.Setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda. Yang terpenting adalah mendengarkan tubuh dan mendapatkan saran medis yang tepat. Dengan begitu, ibu bisa menjalani peran ganda sebagai ibu menyusui dan ibu hamil dengan aman.

Redaksi-29 Juni 2026
NaraCerita