Mengurai Impostor Syndrome pada Perempuan: Dari Luka Masa Kecil hingga Cara Bangkit
"Anak perempuan itu cukup dilihat, tidak perlu didengar." Kalimat itu mungkin terdengar familiar bagi sebagian dari kita. Aktris Nadine Alexandra pernah mengalaminya langsung dari sang ayah. Kalimat yang terus terngiang itu membekas dalam, hingga ia menyadari luka batin yang selama ini tersembunyi. "Aku baru sadar ada luka itu, dan sekarang aku sedang berusaha menyembuhkannya, mencoba merebut kembali suaraku," tuturnya. Pengalaman Nadine bukan kasus tunggal. Dalam sistem patriarki, perempuan sering dibatasi sejak kecil—di rumah, sekolah, hingga dunia kerja. Akibatnya, banyak yang tumbuh dengan impostor syndrome, kondisi psikologis di mana seseorang meragukan kemampuan dan merasa tidak layak atas pencapaiannya. Hal ini menjadi topik hangat dalam sesi berbagi bertajuk Sharing Session on Fighting Impostor Syndrome yang digelar di Meltingpop, Mbloc, Jakarta Selatan. Nadine bersama podcaster Hannah Al Rashid membuka ruang diskusi tentang akar masalah dan strategi menghadapinya. Luka yang Terbentuk Sejak Dini Hannah menyoroti bahwa impostor syndrome tidak muncul begitu saja. "Untuk membahas ini, kita harus membongkar banyak hal. Bagaimana kita dididik sejak kecil dengan bias gender yang sangat nyata," ujarnya. Nadine pun berbagi cerita saat ia aktif di kelas, ia malah ditegur gurunya dengan label "overconfident", sementara siswa laki-laki yang sama aktifnya tidak mendapat perlakuan serupa. Di dunia kerja, ia beberapa kali dipermalukan di depan umum oleh atasan. "Itu sangat meyakinkan bahwa aku memang pantas dipermalukan, bahwa ada yang salah denganku," kenangnya. Hannah menambahkan, pola asuh yang penuh pembatasan membuat perempuan tumbuh tanpa rasa percaya diri. "Di sekolah kita sering dibilang calm down, perempuan tempatnya di situ dan diam. Sementara anak laki-laki didorong untuk memanjat pohon, berlari, mengekspresikan diri," jelasnya, mengutip buku The Authority Gap karya Mary Ann Sieghart. Strategi Menghadapi Impostor Syndrome Meski akar masalahnya sistemik, bukan berarti kita hanya bisa pasrah. Nadine dan Hannah berbagi cara untuk bangkit dan merebut kembali kepercayaan diri. Tekuni hal yang Anda cintai. Hannah merasa percaya dirinya tumbuh saat mengerjakan proyek yang disukai bersama teman-teman yang menjadi guru dan sekutu. Ubah cara pandang saat dipilih. Ketika dipercaya memimpin proyek, jangan langsung meragukan diri. "Mereka memilihku karena suatu alasan. Biarkan aku membuktikan bahwa aku layak," kata Hannah. Fokus pada pengembangan diri. Nadine mengutip kreator TikTok @vanessadomslife: alih-alih sibuk mencari penyebab, sadari celah yang bisa diperbaiki. "Jika ingin jadi penulis, apakah kamu menulis setiap hari? Apakah kamu membaca semua yang perlu dibaca?" Bangun lingkaran aman. Bertemu dengan teman-teman yang mendukung dan bisa menjadi ruang aman sangat membantu mengurangi keraguan. Ingat: tidak ada yang salah denganmu. Kurangnya kemampuan hanyalah bagian dari perjalanan. "Masih ada yang bisa kupelajari. Aku belum sampai di titik akhir," tegas Nadine. Impostor syndrome memang tidak hilang dalam semalam, terutama karena akarnya tertanam dalam sistem yang lebih besar. Namun, dengan kesadaran dan langkah kecil setiap hari, perempuan bisa mulai merebut kembali suaranya dan merayakan pencapaiannya tanpa rasa ragu.







