Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

perempuan

Berita dan Informasi perempuan

9 artikel ditampilkan

Mengurai Impostor Syndrome pada Perempuan: Dari Luka Masa Kecil hingga Cara Bangkit
Keluarga

Mengurai Impostor Syndrome pada Perempuan: Dari Luka Masa Kecil hingga Cara Bangkit

"Anak perempuan itu cukup dilihat, tidak perlu didengar." Kalimat itu mungkin terdengar familiar bagi sebagian dari kita. Aktris Nadine Alexandra pernah mengalaminya langsung dari sang ayah. Kalimat yang terus terngiang itu membekas dalam, hingga ia menyadari luka batin yang selama ini tersembunyi. "Aku baru sadar ada luka itu, dan sekarang aku sedang berusaha menyembuhkannya, mencoba merebut kembali suaraku," tuturnya. Pengalaman Nadine bukan kasus tunggal. Dalam sistem patriarki, perempuan sering dibatasi sejak kecil—di rumah, sekolah, hingga dunia kerja. Akibatnya, banyak yang tumbuh dengan impostor syndrome, kondisi psikologis di mana seseorang meragukan kemampuan dan merasa tidak layak atas pencapaiannya. Hal ini menjadi topik hangat dalam sesi berbagi bertajuk Sharing Session on Fighting Impostor Syndrome yang digelar di Meltingpop, Mbloc, Jakarta Selatan. Nadine bersama podcaster Hannah Al Rashid membuka ruang diskusi tentang akar masalah dan strategi menghadapinya. Luka yang Terbentuk Sejak Dini Hannah menyoroti bahwa impostor syndrome tidak muncul begitu saja. "Untuk membahas ini, kita harus membongkar banyak hal. Bagaimana kita dididik sejak kecil dengan bias gender yang sangat nyata," ujarnya. Nadine pun berbagi cerita saat ia aktif di kelas, ia malah ditegur gurunya dengan label "overconfident", sementara siswa laki-laki yang sama aktifnya tidak mendapat perlakuan serupa. Di dunia kerja, ia beberapa kali dipermalukan di depan umum oleh atasan. "Itu sangat meyakinkan bahwa aku memang pantas dipermalukan, bahwa ada yang salah denganku," kenangnya. Hannah menambahkan, pola asuh yang penuh pembatasan membuat perempuan tumbuh tanpa rasa percaya diri. "Di sekolah kita sering dibilang calm down, perempuan tempatnya di situ dan diam. Sementara anak laki-laki didorong untuk memanjat pohon, berlari, mengekspresikan diri," jelasnya, mengutip buku The Authority Gap karya Mary Ann Sieghart. Strategi Menghadapi Impostor Syndrome Meski akar masalahnya sistemik, bukan berarti kita hanya bisa pasrah. Nadine dan Hannah berbagi cara untuk bangkit dan merebut kembali kepercayaan diri. Tekuni hal yang Anda cintai. Hannah merasa percaya dirinya tumbuh saat mengerjakan proyek yang disukai bersama teman-teman yang menjadi guru dan sekutu. Ubah cara pandang saat dipilih. Ketika dipercaya memimpin proyek, jangan langsung meragukan diri. "Mereka memilihku karena suatu alasan. Biarkan aku membuktikan bahwa aku layak," kata Hannah. Fokus pada pengembangan diri. Nadine mengutip kreator TikTok @vanessadomslife: alih-alih sibuk mencari penyebab, sadari celah yang bisa diperbaiki. "Jika ingin jadi penulis, apakah kamu menulis setiap hari? Apakah kamu membaca semua yang perlu dibaca?" Bangun lingkaran aman. Bertemu dengan teman-teman yang mendukung dan bisa menjadi ruang aman sangat membantu mengurangi keraguan. Ingat: tidak ada yang salah denganmu. Kurangnya kemampuan hanyalah bagian dari perjalanan. "Masih ada yang bisa kupelajari. Aku belum sampai di titik akhir," tegas Nadine. Impostor syndrome memang tidak hilang dalam semalam, terutama karena akarnya tertanam dalam sistem yang lebih besar. Namun, dengan kesadaran dan langkah kecil setiap hari, perempuan bisa mulai merebut kembali suaranya dan merayakan pencapaiannya tanpa rasa ragu.

Redaksi-16 September 2026
Pacuan Kuda, Ruang Karier Inklusif bagi Perempuan Indonesia
Gaya Hidup

Pacuan Kuda, Ruang Karier Inklusif bagi Perempuan Indonesia

Pacuan kuda mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Olahraga ini kerap dipandang sebagai dunia tertutup yang hanya dinikmati kalangan tertentu. Namun, siapa sangka, di balik kompetisi para joki, tersimpan potensi besar bagi perempuan untuk berkarier dan berkontribusi.Membuka Pintu bagi PerempuanSARGA.co, promotor pacuan kuda profesional pertama di Indonesia, berupaya mengubah stigma tersebut. Melalui pendekatan modern, mereka memperkenalkan olahraga ini ke publik sekaligus mendorong transformasi ekosistem yang lebih inklusif. Head of Corporate Communication SARGA.co, Esther D Ginting, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya menyelenggarakan event, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat lebih banyak."Kami ingin pacuan kuda menjadi olahraga yang bisa dinikmati semua orang, bukan hanya kelompok tertentu," ujarnya. "Dan yang tak kalah penting, kami ingin perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi di dalamnya."Olahraga yang Menjunjung KesetaraanMenariknya, pacuan kuda memiliki karakter unik dibanding cabang olahraga lain. Di lintasan, joki perempuan dan laki-laki bertanding dalam kelas yang sama. Begitu pula dengan kuda betina dan jantan yang tidak dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. "Ini mungkin satu-satunya olahraga yang inklusivitas perempuannya sangat tinggi," kata Esther. "Mereka bertanding berdampingan, side by side, tanpa sekat gender."Sayangnya, masih banyak yang menganggap pacuan kuda didominasi laki-laki. Padahal, kenyataannya perempuan memiliki peluang besar untuk bersinar. "Persepsi itu perlu diubah. Di sini, perempuan justru punya tempat yang setara," tambahnya.Beragam Peran untuk PerempuanKeterlibatan perempuan di pacuan kuda tidak terbatas pada profesi joki. Ekosistem olahraga ini menawarkan berbagai peran yang bisa diisi oleh perempuan, seperti:Stable owner (pemilik kandang kuda)Pelatih kudaDokter hewanPemilik kudaManajemen eventPerusahaan promosi pacuan kuda"Harapan kami, semakin banyak perempuan yang melihat pacuan kuda sebagai ruang untuk membangun karier, baik sebagai atlet, pelatih, dokter, maupun di industri event," ujar Esther.Pengakuan atas Dampak SosialUpaya SARGA.co dalam mendorong inklusivitas perempuan mendapat apresiasi. Mereka menerima The Sraya Recognition dalam kategori Social Impact pada Apresiasi Perempuan Berpengaruh (APB) 2026. Penghargaan ini menjadi momentum untuk terus memperluas dampak positif, tidak hanya di lintasan, tetapi juga di seluruh ekosistem pacuan kuda.Dengan semakin terbukanya akses, perempuan kini memiliki peluang lebih besar untuk hadir, berkompetisi, dan mengambil peran strategis. Pacuan kuda pun berpotensi tumbuh menjadi ruang yang lebih setara dan inklusif bagi semua.

Redaksi-14 September 2026
Lingkungan Tempat Tinggal di Usia Muda Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Jantung
Kesehatan Keluarga

Lingkungan Tempat Tinggal di Usia Muda Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Jantung

Memasuki usia 20-an, perhatian kita biasanya tercurah pada pekerjaan, pendidikan, atau mencari tempat tinggal yang terjangkau. Kesehatan jantung? Mungkin belum masuk daftar prioritas. Padahal, penelitian terbaru mengungkap bahwa lingkungan sosial tempat kita tinggal di masa dewasa muda dapat memengaruhi kesehatan jantung di kemudian hari.Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa orang yang tinggal di lingkungan dengan kondisi sosial kurang menguntungkan saat muda berisiko lebih tinggi mengalami kalsifikasi arteri koroner (CAC) di usia paruh baya. CAC sendiri merupakan penanda awal penyakit kardiovaskular, yang bisa mendeteksi masalah jantung sebelum gejala muncul.Bukan Hanya soal Gaya HidupSelama ini, penyakit jantung sering dikaitkan dengan pola makan, olahraga, merokok, atau berat badan. Namun, penelitian dari Northwestern Medicine ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga berperan besar. Para peneliti mengembangkan indeks khusus yang menggabungkan berbagai aspek sosial, seperti kondisi ekonomi, akses makanan sehat, kesempatan beraktivitas fisik, dan tingkat kriminalitas di lingkungan tempat tinggal.Pendekatan ini penting karena lingkungan tidak pernah hanya memiliki satu faktor risiko. Kawasan dengan ekonomi lemah seringkali memiliki akses terbatas ke makanan bergizi sekaligus minim ruang untuk berolahraga. Keamanan lingkungan juga memengaruhi seberapa bebas seseorang bisa beraktivitas di luar rumah.Apa yang Ditemukan?Peneliti menggunakan data dari studi CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults) yang memantau kesehatan jantung partisipan sejak usia muda. Mereka menghubungkan kondisi lingkungan tempat tinggal dengan pengukuran CAC yang dilakukan berulang kali.Hasilnya, partisipan yang tinggal di lingkungan sosial kurang menguntungkan di awal masa dewasa memiliki risiko lebih tinggi mengalami CAC di kemudian hari. Menariknya, hubungan ini lebih kuat pada partisipan berkulit hitam dibandingkan berkulit putih. Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis dan perilaku individu, tetapi juga konteks sosial yang dialami dalam jangka panjang.Mengapa Ini Penting bagi Perempuan?Sebagai perempuan, kita sering menjadi penentu utama dalam memilih lingkungan tempat tinggal keluarga. Memahami bahwa lingkungan sosial dapat berdampak pada kesehatan jantung membuat kita lebih bijak dalam memilih tempat tinggal. Bukan hanya soal harga, tetapi juga akses ke makanan sehat, ruang terbuka, dan keamanan lingkungan.Peneliti menduga kondisi lingkungan di masa awal dewasa dapat memicu konsekuensi biologis yang bertahan bertahun-tahun. Meski demikian, penelitian ini tidak berarti bahwa tinggal di lingkungan tertentu otomatis menyebabkan penyakit jantung. CAC hanyalah indikator awal yang membantu memahami proses penyakit kardiovaskular.Langkah ke DepanLifang Hou, MD, PhD, penulis senior penelitian, mengatakan bahwa penggabungan berbagai faktor sosial lingkungan memungkinkan peneliti melihat bagaimana faktor-faktor tersebut terakumulasi sepanjang waktu dan berkaitan dengan risiko kardiovaskular. Ke depannya, para peneliti berencana mempelajari apakah perbaikan lingkungan dapat menurunkan risiko penyakit jantung, serta mengidentifikasi faktor sosial yang bisa diubah untuk intervensi kesehatan masyarakat.Penelitian ini mengingatkan kita bahwa kesehatan jantung adalah hasil perjalanan hidup yang panjang. Kebiasaan individu tetap penting, tetapi tempat tinggal, akses sumber daya, kesempatan beraktivitas, kondisi sosial ekonomi, dan keamanan lingkungan juga berperan besar. Jadi, mulai sekarang, pertimbangkan dengan cermat lingkungan tempat Anda tinggal, karena itu bisa menjadi investasi kesehatan jantung di masa depan.

Redaksi-14 September 2026
Jalan Pulang yang Sesungguhnya dalam Film-film Pencarian Jati Diri
Cerita Ibu

Jalan Pulang yang Sesungguhnya dalam Film-film Pencarian Jati Diri

Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat, kita sering lupa untuk berhenti sejenak dan bertanya, "Siapa aku sebenarnya?" Film-film dengan tema perjalanan ziarah dan pencarian jati diri hadir sebagai teman setia yang mengingatkan kita bahwa setiap orang punya jalan pulangnya masing-masing. Melalui kisah-kisah yang inspiratif, kita diajak untuk menyelami makna hidup, memaafkan masa lalu, dan menemukan keberanian untuk menjadi diri sendiri.Menyingkap Luka Lintas GenerasiSalah satu film yang paling menyentuh adalah Aku Sebelum Aku (2026). Berkisah tentang Jati, seorang remaja berprestasi yang selalu jadi kebanggaan sekolah, film ini menunjukkan bagaimana tekanan orang tua bisa membentuk sekaligus menghancurkan jati diri seorang anak. Di balik deretan piala kemenangan, Jati menyimpan kecemasan yang luar biasa. Sebuah tugas sekolah tentang sejarah keluarga membawanya pada perjalanan mengungkap luka batin yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bersama Asa, Jati belajar bahwa menjadi dirinya sendiri jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi orang lain.Menemukan Kekuatan di Tengah DukaKehilangan orang terkasih sering kali menjadi titik balik dalam hidup. Dalam Jalan Pulang (2025), Lastini harus berjuang sendirian setelah suaminya meninggal secara misterius. Ketika putrinya jatuh sakit secara aneh, naluri keibuannya membawanya pada perjalanan spiritual yang penuh misteri khas budaya Jawa. Film ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar seorang ibu bisa muncul dari keputusasaan, dan jalan pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama, melainkan menemukan kedamaian di dalam hati.Merantau untuk Menemukan DiriJauh dari rumah, kita sering kali baru menyadari siapa diri kita sebenarnya. Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang (2023) mengikuti Aurora yang merantau ke London untuk mengejar mimpi sebagai seniman. Namun, kerasnya hidup di negeri orang membuatnya kehilangan arah dan terputus dari keluarga. Ketika kakak dan adiknya menyusul, mereka justru dihadapkan pada perselisihan yang memaksa mereka untuk saling memahami. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga adalah tempat kita pulang, meski jalan menuju ke sana penuh liku.Melawan Tekanan Sosial dan Menemukan MimpiBagi sebagian perempuan, pencarian jati diri sering kali berbenturan dengan norma sosial. Yuni (2021) mengisahkan seorang siswi SMA cerdas yang bercita-cita melanjutkan kuliah, namun harus menghadapi tiga lamaran pernikahan dini sekaligus. Di tengah tekanan keluarga dan masyarakat, Yuni berjuang untuk mempertahankan mimpinya. Film ini dengan apik menggambarkan bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk keberanian yang paling sederhana, dan setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.Menerima Diri Apa AdanyaPerjalanan menemukan jati diri tidak selalu harus jauh ke luar negeri; kadang kita hanya perlu berdamai dengan cermin. Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019) mengikuti Rara, seorang perempuan yang sejak kecil merasa rendah diri karena tubuhnya dianggap tidak ideal. Ketika pekerjaannya menuntut dia mengubah penampilan secara total, Rara justru kehilangan orang-orang terdekatnya. Film ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari angka di timbangan, melainkan dari penerimaan diri sendiri.Ziarah sebagai Metafora KehidupanAda film yang secara harfiah menggambarkan perjalanan ziarah sebagai pencarian makna hidup. Ziarah (2017) mengikuti Mbah Sri, seorang nenek berusia 95 tahun yang mencari makam suaminya yang hilang sejak perang. Perjalanan panjang yang penuh haru ini bukan hanya tentang menemukan makam, tetapi juga tentang menyusuri luka sejarah bangsanya. Film ini mengajarkan bahwa kadang kita harus berjalan jauh untuk memahami bahwa yang kita cari selama ini sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri.Menemukan Tuhan di Jalan PulangPerjalanan spiritual juga bisa menjadi sarana menemukan kembali iman. Dalam Haji Backpacker (2014), Mada yang marah kepada Tuhan memilih melarikan diri dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu. Namun, kebahagiaan duniawi yang ia kejar justru membuatnya semakin kosong. Perjalanannya melintasi sembilan negara secara darat perlahan membawanya kembali pada keyakinannya. Film ini mengajarkan bahwa kadang kita harus tersesat untuk menemukan jalan pulang yang sesungguhnya.Inspirasi untuk Terus MelangkahFilm-film di atas bukan sekadar hiburan, melainkan cermin yang mengajak kita merenungkan perjalanan hidup kita sendiri. Setiap kisah memiliki pesan yang kuat: bahwa luka bisa disembuhkan, mimpi layak diperjuangkan, dan setiap orang berhak menemukan jalan pulangnya masing-masing. Jadi, kapan terakhir kali kamu menonton film yang benar-benar mengubah cara pandangmu tentang hidup? Mungkin sudah saatnya kamu memberi waktu untuk dirimu sendiri, mengambil secangkir teh hangat, dan membiarkan kisah-kisah ini menginspirasimu untuk terus melangkah.

Redaksi-31 Agustus 2026
Perempuan-perempuan Tangguh di Balik Aksi Demo: Dari Dapur Umum hingga Garis Depan
Cerita Ibu

Perempuan-perempuan Tangguh di Balik Aksi Demo: Dari Dapur Umum hingga Garis Depan

Demonstrasi selalu identik dengan teriakan, spanduk, dan kemarahan. Namun, di balik itu semua, ada denyut nadi lain yang tak kalah penting. Di tengah riuh massa, sekelompok perempuan dengan tenang melakukan tugas mereka: membagikan makanan, menyiapkan obat, bahkan memungut sampah. Mereka adalah pahlawan senyap yang memastikan setiap suara tetap terdengar, tanpa harus mengorbankan kemanusiaan.Kisah Ibu-ibu Aktivis SeniorOlivia, Tata, dan Imelda adalah tiga perempuan yang sudah malang melintang di dunia aksi sejak 1998. Dulu mereka mahasiswa, kini mereka ibu-ibu yang tetap setia menyuarakan keresahan. "Kami sudah ikut aksi dari zaman Soeharto, sekarang masih di sini. Yang didemo beda orang, tapi masalahnya sama," ujar Tata sambil tertawa getir. Mereka mengkritisi program Makan Bergizi Gratis, terutama setelah ada temuan benda diduga peluru di dagingnya. "Itu kan berarti quality control-nya nol. Kami muak," sergah Olivia.Dapur Umum dan Logistik: Sumbangsih NyataTak jauh dari kerumunan, relawan Nadi Perempuan sibuk membagikan air mineral dan makanan. Mereka baru terbentuk 24 jam sebelum aksi, tapi semangat mereka membara. Nanda, koordinator tim, menceritakan bahwa donasi mengalir dari berbagai pihak, bahkan dari warga yang hanya lewat. "Ada yang nitip roti, lontong, sampai uang tunai Rp2.187.000. Kami pakai untuk transportasi, beli obat, oksigen, dan cetak poster," jelasnya. Mereka juga menyediakan obat-obatan seperti betadine dan paracetamol, siap sedia jika ada peserta yang butuh.Menjaga Lingkungan di Tengah AksiGaluh dan Khusna memilih cara berbeda untuk berkontribusi. Mereka memunguti botol plastik dan bungkus makanan yang berserakan. "Kami ambil cuti kantor untuk ini. Bos kami juga ikut, jadi delapan perempuan semua," kata Galuh. Sebelumnya, mereka juga membagikan makanan hasil kolaborasi dengan Dapur Umum Jakarta. "Ini langkah besar buat kami. Kami nggak pernah berani demo sebelumnya, tapi sekarang kami merasa harus melakukan sesuatu. Ini yang bisa kami lakukan," tambahnya.Suara Perempuan, Kekuatan yang Tak TerbendungPerempuan memang punya banyak cara untuk berdiri. Ada yang turun ke jalan, ada yang mendukung dari rumah lewat media sosial, ada yang menyumbang logistik. Semua itu adalah bentuk keberanian yang sama. Di balik setiap aksi, selalu ada perempuan yang memastikan tidak ada yang terlupakan. Mereka adalah bukti bahwa perubahan tidak selalu datang dari teriakan, tapi juga dari kepedulian yang tulus.

Redaksi-31 Agustus 2026
Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan
Cerita Ibu

Kisah Perempuan di Balik Meja Reparasi yang Sering Terlupakan

Siang itu, di sebuah toko reparasi di Celukan Bawang, Bali, seorang ibu muda terlihat sibuk menggendong anaknya sambil sesekali melayani pelanggan. Saat ditanya tentang usaha reparasi yang dijalaninya, ia menjawab singkat, “Ah, saya cuma bantu-bantu jaga toko kalau suami pergi.” Namun, di balik jawaban sederhana itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam.Sosok di Balik LayarPerempuan bernama Nur itu sebenarnya bukan sekadar penjaga toko. Ia aktif membantu proses reparasi, mulai dari menerima pelanggan hingga memahami kerusakan alat. Sayangnya, pengakuan atas perannya masih minim. Hal yang sama dialami Mega, pemilik toko reparasi di Sukawati, Gianyar. Saat kami datang, pandangan langsung tertuju pada dua teknisi laki-laki yang sedang memperbaiki TV, padahal Megalah yang mengelola semua operasional toko.Fenomena ini bukan hal baru. Sosiolog Janet Finch menyebutnya sebagai incorporated wives, istri yang “terserap” ke dalam pekerjaan suami tanpa pengakuan formal. Kontribusi mereka sering dianggap biasa saja atau bahkan sengaja disembunyikan. Padahal, tanpa mereka, usaha tersebut mungkin tak akan berjalan lancar.Pembagian Peran yang TimpangSurvei Kopernik di Bali menemukan fakta menarik. Dari 22 praktisi reparasi yang disurvei, hanya empat yang perempuan. Mereka bekerja sebagai pemilik toko, penjahit, atau penerima pesanan di toko elektronik. Pembagian peran berbasis gender masih kental terlihat, di mana laki-laki lebih dominan di bagian teknis.Mega mengaku sering harus menolak pelanggan karena keterbatasan suku cadang. “Kalau TV merek lama, kami minta pelanggan pesan dulu komponennya,” ujarnya. Keputusan seperti ini butuh pemahaman mendalam, dan Mega memilikinya. Sayangnya, keahliannya jarang dianggap sebagai kapasitas teknis yang mumpuni.Mengapa Perempuan Masih Sulit Dilihat?Akademisi Inggris, Cynthia Cockburn, menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap maskulin. Perempuan yang menguasainya dianggap pengecualian, bukan hal lumrah. Hal ini membuat kompetensi Nur dan Mega luput dari pengakuan, meski mereka mampu mengelola usaha reparasi dengan baik.Padahal, potensi perempuan di bidang ini sangat besar. Survei Kopernik terhadap 223 rumah tangga menunjukkan 52 persen responden tertarik mengikuti lokakarya reparasi, dan 42,5 persen di antaranya adalah perempuan. Sayangnya, ekosistem reparasi belum sepenuhnya mendukung mereka.Potensi yang Belum TergarapData menunjukkan 44 persen barang rusak di Gerokgak dan Gianyar berhasil diperbaiki, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 4 persen. Namun, masih banyak barang yang berakhir di tempat sampah karena keterbatasan teknisi. Padahal, 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki daripada membeli baru, salah satu angka tertinggi di dunia.Kisah Nur dan Mega mengajarkan kita bahwa perempuan punya peran besar dalam sektor reparasi. Sudah saatnya kita membuka mata dan memberi ruang bagi mereka untuk tampil, bukan hanya sebagai pembantu, melainkan sebagai ahli yang diakui. Dengan begitu, ekosistem reparasi di Indonesia bisa tumbuh lebih kuat dan inklusif.

Redaksi-07 Agustus 2026
Atalia Praratya Kritik Lagu Bupati Purwakarta: Budaya Sunda Tak Ajar Merendahkan Perempuan
Keluarga

Atalia Praratya Kritik Lagu Bupati Purwakarta: Budaya Sunda Tak Ajar Merendahkan Perempuan

Sebuah lagu berbahasa Sunda yang viral di media belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Bukan karena melodinya yang indah, melainkan liriknya yang dinilai sangat tidak menghormati perempuan. Lagu berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, langsung menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk Atalia Praratya.Atalia: Saya Tidak Temukan Penghormatan pada PerempuanMelalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia menyampaikan keprihatinannya. Ia membagikan cuplikan video musik lagu tersebut lengkap dengan lirik dan terjemahannya. Atalia mengaku tidak habis pikir dengan isi lagu yang menurutnya sangat merendahkan martabat perempuan.“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.Ia mempertanyakan pilihan kata yang digunakan dalam lagu tersebut. Menurutnya, bahasa Sunda memiliki banyak kosakata indah dan penuh makna, tetapi mengapa justru narasi yang merendahkan yang dipilih. “Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?” ungkapnya.Budaya Sunda Menjunjung Saling MenghargaiAtalia, yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat, menegaskan bahwa budaya Sunda tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan perempuan. Sejak dulu, budaya Sunda menjunjung tinggi nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Nilai-nilai inilah yang seharusnya tercermin dalam setiap karya yang mengatasnamakan budaya Sunda.“Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” tegasnya. Ia menyoroti bahwa di tengah perjuangan kesetaraan gender, justru muncul narasi patriarkal dari seorang pejabat publik. “Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun, mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah? Bagaimana menurut kalian?” tanya Atalia.Dukungan Publik MengalirPostingan Atalia langsung mendapat dukungan luas dari netizen. Banyak yang menyayangkan lagu tersebut diciptakan oleh seorang pemimpin daerah. “Miris lihat seperti ini. Kapan mau majunya bangsa Indonesia. Padahal kita banyak pahlawan perempuan yang membuktikan kalau jasa perempuan tidak kalah dengan laki-laki,” tulis seorang netizen. “Yang kaya begini dijadiin pemimpin, Bapak lahir dari rahim perempuan loh, kok bisa-bisanya bikin lirik yang merendahkan perempuan,” tambah yang lain.Lirik Kontroversial: Singgung Anak SMP dan KeguguranLagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' menuai kritik karena liriknya yang menyebutkan anak perempuan usia SMP, keguguran, dan keterlambatan menstruasi. Berikut beberapa penggalan lirik yang menjadi sorotan:“Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali”“Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki, tidak usah membeli bra”“Tidak usah keluyuran mencari apotek karena telat bulan”“Tidak usah melukis alis dan bulu mata”Lirik-lirik ini dinilai sangat tidak pantas dan melecehkan perempuan. Banyak yang berharap lagu ini segera ditarik dan Bupati yang bersangkutan memberikan klarifikasi.

Redaksi-03 Juli 2026
Mitos atau Fakta? Kesuburan Perempuan Ternyata Bisa Melampaui Pria
Gaya Hidup

Mitos atau Fakta? Kesuburan Perempuan Ternyata Bisa Melampaui Pria

Pernahkah kamu mendengar anggapan bahwa kesuburan laki-laki selalu lebih unggul? Alasannya karena pria dapat memproduksi sperma sepanjang hidupnya. Namun, perkembangan zaman dan data terkini dari para ahli demografi membalikkan asumsi tersebut.Penelitian Terbaru: Perempuan Unggul dalam KesuburanSebuah studi kolaboratif dari Max Planck Institute for Demographic Research (MPIDR), Divisi Populasi PBB, dan Universitas Oslo menemukan bahwa sejak tahun 2024, secara global perempuan memiliki tingkat kesuburan total yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan ini mengejutkan karena sebelumnya laki-laki selalu memimpin dalam indikator ini.Peneliti menggunakan data dari World Population Prospects PBB dan metode demografi-statistik tidak langsung untuk menganalisis dampak ketidakseimbangan populasi. Hasilnya, peningkatan proporsi laki-laki dalam populasi menjadi faktor utama pergeseran ini.“Kami mengamati transisi dari tingkat kesuburan total yang lebih tinggi pada laki-laki menjadi lebih tinggi pada perempuan,” ungkap Henrik-Alexander Schubert, salah satu peneliti MPIDR. Perubahan ini didorong oleh penurunan angka kematian dan penyempitan kesenjangan harapan hidup antara perempuan dan laki-laki, yang membuat rasio jenis kelamin semakin condong ke laki-laki.Kapan Transisi Terjadi di Berbagai Wilayah?Transisi ini tidak terjadi serentak di seluruh dunia. Di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, peralihan sudah terjadi sejak tahun 1960-an dan 1970-an. Sementara di sebagian besar Amerika Latin, perubahan baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan Oseania, Amerika Selatan, dan Asia juga mulai mengalami pergeseran ini belakangan.Perbedaan waktu ini terkait dengan transisi demografis masing-masing wilayah, termasuk tingkat urbanisasi, akses pendidikan, dan perubahan norma sosial.Dampak dan Tantangan yang MunculMeningkatnya proporsi laki-laki dalam populasi menyebabkan semakin banyak pria lajang yang tidak memiliki anak—bukan karena pilihan, melainkan karena faktor di luar kendali. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kesehatan yang lebih buruk dan ketergantungan pada perawatan profesional di usia tua.Para peneliti menekankan perlunya kebijakan untuk mengatasi kesenjangan ini. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain:Memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat untuk mencegah aborsi berbasis jenis kelamin.Meningkatkan pendidikan dan peluang kerja bagi laki-laki lajang yang belum memiliki anak.Memberikan solusi teknis seperti membentuk lingkaran pertemanan dan melegalkan teknologi reproduksi berbantuan.“Jika tantangan ini tidak diatasi, ada risiko reaksi balik budaya terhadap kesetaraan gender dan konflik sosial,” peringat tim peneliti.Jadi, anggapan lama bahwa kesuburan laki-laki selalu lebih tinggi ternyata tidak sepenuhnya benar. Data terkini membuktikan bahwa perempuan justru bisa lebih unggul dalam hal fertilitas. Informasi ini penting bagi kita semua, terutama dalam merencanakan keluarga dan memahami dinamika populasi masa depan.

Redaksi-02 Juli 2026
30 Nama Bayi Perempuan Islami Cantik & Penuh Doa Pilihan
Cerita Ibu

30 Nama Bayi Perempuan Islami Cantik & Penuh Doa Pilihan

Setiap orang tua tentu mendambakan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam pemberian nama. Dalam Islam, nama memiliki kedudukan istimewa karena akan melekat sepanjang hayat dan bahkan dipanggil di akhirat kelak. Oleh karena itu, memilih nama yang baik dan penuh makna adalah sebuah kewajiban dan investasi doa. Kami telah merangkum 30 nama bayi perempuan Islami yang tidak hanya cantik didengar, tetapi juga mengandung arti yang mendalam. Nama-nama ini dipilih karena mewakili nilai-nilai luhur seperti kebijaksanaan, kekuatan, ketaatan, dan kelembutan. Cocok untuk Bunda yang ingin memberikan nama terbaik bagi putri kecil tercinta. Nama Bayi Perempuan Islami Awalan A–Z Aaliyah – mulia, agung, dan sangat bahagia Afifah – suci, menjaga kehormatan Aminah – dapat dipercaya, setia Azizah – mulia, kuat, berharga Badriya – seperti bulan purnama, bercahaya Balqis – nama ratu yang bijaksana Basima – tersenyum, ceria Bilqis – ratu, pemimpin wanita Fariha – gembira, bahagia Hafsa – singa betina, pelindung Hana – kebahagiaan, kesenangan Hasna – cantik, baik Iffah – suci, menjaga diri Ikhlas – tulus, murni Jannah – surga, taman indah Jasmine – bunga melati, harum Khadijah – nama istri Nabi, lahir lebih awal Layla – malam, cantik seperti malam Mariam – ibu Nabi Isa, taat dan suci Nadia – harapan, pemanggil Nurul – cahaya, bercahaya Qisthi – adil, lurus Rahma – kasih sayang, rahmat Salma – selamat, damai Sarah – putri, bangsawan, bahagia Shafira – istimewa, unggul Tasnim – mata air di surga Zahra – cemerlang, putih bersih Zainab – perhiasan ayah, wangi Zulaikha – cerdas, cantik, pemimpin Setiap nama di atas memiliki bobot doa dan harapan yang indah. Bunda dapat memilih yang paling sesuai dengan hati dan keyakinan. Semoga nama ini menjadi doa yang terkabul sepanjang hayat putri kecil Bunda. Ingatlah, nama adalah doa. Pilihlah dengan penuh cinta dan pertimbangan yang matang. Selamat menyambut kehadiran buah hati, semoga menjadi anak yang salehah, cerdas, dan membanggakan.

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita