Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

shireen sungkar

Berita dan Informasi shireen sungkar

2 artikel ditampilkan

Cerita Shireen Sungkar soal Perjuangan Shafiyyah, Terapi Intensif dan Menu Spesial
Berita

Cerita Shireen Sungkar soal Perjuangan Shafiyyah, Terapi Intensif dan Menu Spesial

Pasangan selebriti Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu kembali menjadi perbincangan hangat. Kali ini bukan karena gosip atau drama, melainkan perjuangan mereka dalam mendampingi putri bungsu, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, yang didiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD).Shireen membagikan kondisi terbaru Shafiyyah dengan nada penuh syukur. Ia mengungkapkan bahwa si kecil menjalani terapi secara intensif, tepatnya lima kali dalam seminggu. "Ya terapi aja, seminggu lima kali terapinya ya. Dijalani aja, Allah tahu yang terbaik," ujar Shireen saat ditemui di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.Perkembangan Positif yang MembanggakanTak hanya sekadar menjalani rutinitas, Shireen menceritakan bahwa perkembangan Shafiyyah semakin baik dari waktu ke waktu. "Insya Allah perkembangannya banyak banget, aku bersyukur sama Allah juga banyak banget perkembangannya makin bagus. Mohon doanya aja mudah-mudahan bermanfaat," katanya dengan penuh harap.Komitmen pada jadwal terapi yang konsisten menjadi kunci utama. Shireen dan Teuku Wisnu berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hati mereka, meski harus melewati hari-hari yang penuh tantangan.Picky Eater, Menu Harian yang BerbedaSelain terapi, Shireen juga harus pintar-pintar menyiasati kebiasaan makan Shafiyyah yang picky eater. Berbeda dengan kedua kakaknya, Adam dan Hawa, Shafiyyah sangat selektif soal makanan. "Adam sama Hawa itu kalau Shafiyyah kan emang picky eater banget ya. Kalau Adam sama Hawa itu lebih kayak nyerahin ke aku sih. Paling kadang-kadang request, 'Mami aku mau ini, aku mau ikan ya'," jelas Shireen.Ia menambahkan, "Tapi kalau bumbunya aku mau dipilihin apa terserah Maminya. Shafiyyah yang picky eater, makannya beda sendiri dia. Jadi dia nggak bisa lunch box kayak kakak-kakaknya, karena kan dia picky eater banget, bumbunya harus yang kering, beda-beda sedikit."Karena itu, Shireen harus menyiapkan menu khusus untuk Shafiyyah setiap hari. Meski repot, ia menganggapnya sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab seorang ibu. "Mencoba untuk kasih yang terbaik aja, karena setiap Ibu pasti tahu yang terbaik buat anaknya. Dan semuanya nggak bisa dikomparasi, pasti semuanya yang terbaik buat anaknya," pungkasnya.Kisah perjuangan Shireen Sungkar ini menjadi inspirasi bagi banyak orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Dengan kesabaran, cinta, dan dukungan penuh, setiap anak bisa tumbuh optimal sesuai kemampuannya.

Redaksi-29 Juli 2026
Perjalanan Hati Shireen Sungkar Menerima Diagnosis Autisme pada Putrinya
Keluarga

Perjalanan Hati Shireen Sungkar Menerima Diagnosis Autisme pada Putrinya

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh kejutan. Ada kalanya kebahagiaan datang tanpa cela, namun tak jarang ujian hadir untuk menguatkan. Hal itulah yang dialami oleh Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu. Pasangan yang telah dikaruniai tiga anak ini harus melewati masa-masa sulit saat mengetahui putri bungsu mereka, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, memiliki kebutuhan khusus.Awal Mula KekhawatiranShireen mengaku bahwa pada dua tahun pertama, perkembangan Shafiyyah tampak normal. Namun, ia mulai merasakan ada yang berbeda. "Dari 0 sampai 2 tahun menurut kita baik-baik saja. Memang speech delay, kosakatanya ada terus. Tapi usia 0 sampai 2 tahun tuh telat banget kelihatannya," ujarnya.Perubahan perilaku mulai terlihat saat Shafiyyah lebih suka menyendiri dan enggan bermain dengan teman sebaya. "Kalau aku ajari dia menghindar, lebih suka melakukan apa-apa sendiri," kenang Shireen. Kondisi ini semakin jelas saat pandemi COVID-19 melanda, ketika aktivitas di luar rumah terhenti total."Paling parah waktu itu COVID-19. Dia enggak beraktivitas di luar, kelas-kelasnya berhenti, enggak ada main di playground. Dan dia tuh anaknya enggak gadget," cerita Shireen. Di masa itu, kosakata yang sudah dimiliki Shafiyyah justru menghilang, dan kontak mata pun berkurang drastis.Proses Diagnosis yang PanjangMeski firasat sudah kuat, Shireen dan suami sempat menunda pemeriksaan karena situasi pandemi. Hingga akhirnya, saat Shafiyyah berusia 2 tahun 8 bulan, mereka memutuskan untuk memeriksakan sang buah hati ke dokter spesialis. Hasilnya pun mengejutkan: Shafiyyah didiagnosis autisme."Waktu itu bingung mencernanya. Autisme itu apa? Terus aku harus melakukan apa? Terapinya seperti apa?" ungkap Shireen. Kebingungan dan rasa bersalah langsung menghampiri. "Aku salahin diri aku banget. Apa aku salah makan waktu hamil? Apa aku stres pas hamil? Apa aku salah mendidiknya?" tuturnya.Belajar Ikhlas dan BersyukurDalam perjalanan menerima kondisi Shafiyyah, Shireen menyadari betapa pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Ia pun mencari ketenangan dengan bercerita kepada seorang ustaz. "Gimana ya, ustaz, supaya saya tuh nerima, saya mau berjuang. Terus enggak sedih melihat anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara, seumurannya bisa main," curhatnya.Nasihat sang ustaz menjadi titik balik. "Kita manusia itu cuma bisa berencana. Allah yang kasih takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak ketika Allah itu sudah menakdirkan anaknya?" kata Shireen menirukan wejangan yang ia terima. Mendengar itu, perasaannya campur aduk. "Memang aku tuh kenapa ya, aku lebih fokus marah sama kondisi daripada fokus berpikir Allah itu baik," akuinya.Shireen kini bersyukur dan menerima bahwa anak berkebutuhan khusus adalah surga yang dititipkan Allah. "Di situ aku merasa pentingnya ilmu supaya kita bisa mengambil sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan," pungkasnya. Perjalanan ini mengajarkan bahwa setiap anak adalah anugerah, dan tugas orang tua adalah mendampingi dengan penuh cinta dan kesabaran.

Redaksi-01 Juli 2026
NaraCerita