Media Parenting & Keluarga Indonesia
NaraCerita.com
Tag

ibu menyusui

Berita dan Informasi ibu menyusui

4 artikel ditampilkan

Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya
Gaya Hidup

Tak Ada Batas Usia untuk Menyusui, Ini Faktanya

Zaman sekarang, melahirkan di usia 40 tahun atau lebih bukan lagi hal yang jarang. Sayangnya, masih ada stigma bahwa menyusui di usia tersebut menghasilkan ASI dengan kualitas rendah. Lantas, benarkah ada batas usia tertua untuk menyusui?Usia Bukanlah PenghalangMenurut para ahli, hingga saat ini tidak ada batasan usia tertentu yang membuat seorang ibu tidak boleh atau tidak mampu menyusui. Selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan, menyusui tetap bisa dilakukan dan memberikan manfaat optimal.Dr. Philippa Kaye, dokter umum asal Inggris, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kualitas ASI menurun hanya karena faktor usia. Banyak perempuan berusia 40 tahun ke atas yang sukses menyusui bayinya. “ASI adalah makanan pertama yang direkomendasikan untuk semua bayi, tanpa memandang usia ibunya,” ujarnya.Kualitas ASI: Usia vs KesehatanHingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ASI menjadi 'buruk' atau kehilangan nutrisi karena ibu lebih tua. Kualitas ASI lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu, frekuensi menyusui, serta kebutuhan bayi. Selama ibu sehat, bergizi baik, dan mendapat dukungan yang memadai, ASI tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak membedakan rekomendasi ASI berdasarkan usia ibu. WHO tetap menganjurkan inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif selama enam bulan, dan melanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih dengan MPASI. Artinya, usia bukanlah halangan selama tidak ada kontraindikasi medis.Faktor Penentu Keberhasilan MenyusuiKeberhasilan menyusui lebih ditentukan oleh pelekatan bayi yang benar, frekuensi menyusui, dukungan keluarga, serta pengosongan payudara secara rutin. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa sebagian besar ibu sehat mampu memproduksi ASI cukup jika proses menyusui efektif.Nadine Rosenblum, koordinator program laktasi di The Johns Hopkins Hospital, menambahkan bahwa banyak mitos membuat ibu berhenti menyusui lebih awal. Padahal, tubuh bayi sudah dipersiapkan untuk menerima ASI sebagai sumber makanan utama. “ASI adalah yang diharapkan tubuh bayi untuk dikonsumsi secara paling efektif,” jelasnya.Ibu di Atas 40 Tetap Bisa MenyusuiPerempuan yang melahirkan di usia 40 tahun atau lebih tetap bisa menyusui dengan sukses. Meskipun kehamilan di usia lebih tua memiliki risiko komplikasi seperti diabetes gestasional atau hipertensi, kondisi tersebut bukan berarti ibu tidak bisa menyusui. Dengan pemantauan yang baik, pemberian ASI tetap aman dan bermanfaat.Semakin banyak perempuan yang memilih hamil di usia matang karena karier, pendidikan, atau program kehamilan. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang. Jika Bunda mengalami kesulitan, seperti produksi ASI terasa kurang atau pelekatan belum optimal, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi.Ingatlah, tantangan menyusui bisa dialami ibu di segala usia. Faktor seperti kesehatan ibu, proses persalinan, frekuensi menyusui, dan dukungan keluarga justru lebih berperan daripada usia. Dengan demikian, tidak ada batas usia maksimal untuk menyusui. Selama ibu dan bayi sehat, ASI tetap menjadi nutrisi terbaik.

Redaksi-30 Juli 2026
Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya
Gaya Hidup

Berani Lawan Tren ASIP Berlebihan, Busui Ini Bagikan Realita Stok ASI yang Sebenarnya

Bunda, pernah nggak sih merasa minder saat melihat foto stok ASI perah (ASIP) yang memenuhi freezer di media sosial? Botol-botol ASI yang tersusun rapi dan berjejer rapat memang sering bikin kita takjub. Tapi di balik itu, banyak ibu menyusui yang justru merasa cemas dan bertanya-tanya, "Apakah ASI-ku cukup?"Kisah Nyata yang MenginspirasiHal inilah yang pernah dirasakan oleh Caitlin Wilder, seorang ibu dari Los Angeles. Ia hampir membeli kulkas tambahan untuk menyimpan ASI berlebih yang ia bayangkan akan segera dibutuhkannya. Tapi ternyata, realitanya jauh berbeda."Yang saya lihat di internet hanyalah orang-orang memompa ASI dalam jumlah besar, mengisi botol pompa mereka, mengisi teko-teko penuh ASI," kata Wilder. "Saya tidak pernah memompa ASI sebanyak itu dan saya merasa buruk tentang hal itu."Wilder menyebut dirinya sebagai seorang "just-enougher"—ibu yang memompa secukupnya sesuai kebutuhan bayi. Saat melahirkan anak keduanya, ia memutuskan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa secukupnya saja sudah cukup. Ia membuat video yang memperlihatkan sedikit ASI yang berhasil dipompanya, sambil bernyanyi dengan konyol, dan membagikannya di media sosial. Respons yang ia terima sangat positif; banyak ibu yang merasa lega karena akhirnya ada yang berbagi realita.Tekanan dari Tren Stok ASIPTren berbagi foto stok ASIP beku di media sosial memang bisa memicu tekanan. Banyak ibu yang merasa harus memiliki persediaan sebanyak mungkin, padahal setiap perjalanan menyusui berbeda. Ada yang perlu memompa banyak karena bekerja, ada yang menyusui langsung sepanjang hari, dan ada juga yang hanya menyimpan sedikit sebagai cadangan. Semua itu normal.Penelitian dalam jurnal Pediatrics oleh Kent dan tim dari University of Western Australia menemukan bahwa volume ASI yang diminum bayi dalam satu sesi sangat bervariasi. Rata-rata sekitar 76 gram, tetapi rentangnya luas tergantung kondisi ibu dan bayi. Jadi, tidak ada standar pasti yang bisa dijadikan patokan.Berapa Banyak ASIP yang Normal?Menurut Ann Cha, ahli gizi terdaftar dan konsultan laktasi di Rumah Sakit Anak Philadelphia, produksi ASI setiap ibu memang berbeda. Bayi biasanya minum 25–32 ons susu per hari. Jika seorang ibu memompa secara eksklusif dalam delapan sesi, targetnya sekitar 3–4 ons per sesi. La Leche League menambahkan, ibu yang lebih sering menyusui langsung mungkin hanya menghasilkan kurang dari 2 ons per sesi memompa.Jumlah ASI yang keluar bisa dipengaruhi oleh:Usia bayiFrekuensi menyusu langsungJadwal pumpingKondisi tubuh ibuTingkat kelelahan dan stresKapasitas penyimpanan payudaraASI juga cenderung lebih banyak di pagi hari dibanding sore atau malam.Keberhasilan Menyusui Bukan Soal StokYang terpenting, produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip "semakin sering dikeluarkan, semakin banyak diproduksi". Tanda bahwa bayi cukup ASI bukan dari penuhnya freezer, melainkan dari:Berat badan yang bertambah sesuai grafik pertumbuhanBayi tampak puas setelah menyusuFrekuensi buang air kecil yang cukupBayi aktif dan responsifSetiap ibu punya perjuangan masing-masing. Ada yang stok ASIP-nya bertahan berbulan-bulan, ada yang hanya punya beberapa kantong cadangan, bahkan ada yang memompa sesuai kebutuhan harian. Foto-foto di media sosial hanyalah potongan kecil dari perjalanan seseorang.Jadi, Bunda, jangan jadikan jumlah ASIP orang lain sebagai tolok ukur. Nikmati proses menyusui dengan penuh cinta dan percaya bahwa apa yang Bunda berikan sudah yang terbaik untuk si kecil.

Redaksi-04 Juli 2026
Listrik Padam, ASIP Basi: Keluhan Bunda yang Viral
Keluarga

Listrik Padam, ASIP Basi: Keluhan Bunda yang Viral

Pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa belakangan ini membawa dampak luas. Bukan cuma sektor usaha yang merugi, tapi juga ibu rumah tangga, terutama yang memiliki bayi dan mengandalkan ASI perah (ASIP).Kisah Bunda Kehilangan Stok ASIPSeorang ibu dengan akun @ginalevinaa membagikan momen pilu di media sosial. Ia mengunggah foto kantong-kantong ASIP yang mencair karena kulkas tak berfungsi saat listrik padam. “Definisi sakit ga berdarah, susah-susah nabung ASI, leleh dalam sehari gara-gara pemadaman bergilir,” tulisnya. Tabungan ASI selama 5 bulan lenyap dalam sekejap.Unggahan ini langsung viral. Banyak netizen ikut berbagi pengalaman serupa. “Ikut nimbruung.. calon2 ASIP terbuang karena ada pemadaman tanpa informasi dari jam 18.00 an tadi,” tulis akun @n.k***. Tak sedikit yang kehilangan hingga puluhan kantong ASIP.Dampak Nyata bagi UMKMMenteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut pemadaman ini mengganggu operasional usaha kecil. “Yang jualan es, esnya cair. Frozen food juga rusak. Dampak sosialnya kemana-mana,” ujarnya. Pelaku usaha terpaksa menurunkan omzet bahkan merugi.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengakui pengaruh besar pemadaman terhadap produksi. Pemerintah pun mendorong PLN untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.Penyebab dan Permintaan Maaf PLNDirektur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. “Kami memahami kesulitan yang dihadapi,” katanya. Penyebab pemadaman adalah gangguan pasokan batu bara dan masalah teknis di dua pembangkit besar. PLN berjanji akan memperbaiki sistem agar pasokan listrik kembali normal.Bagi para ibu, kehilangan ASIP bukan sekadar materi, tapi juga perjuangan dan air mata. Semoga kejadian ini menjadi perhatian agar pasokan listrik lebih andal ke depannya.

Redaksi-25 Juni 2026
Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra
Gaya Hidup

Viral! Ibu Menyusui Bayi 16 Bulan di Festival Musik Tuai Pro dan Kontra

Seorang ibu di Inggris, Tayah Ettienne (33), mendadak viral setelah membagikan momen dirinya menyusui putrinya yang berusia 16 bulan di sebuah festival musik. Video yang diunggah ke TikTok itu telah ditonton lebih dari 700 ribu kali dan memicu perdebatan sengit di kolom komentar.Dalam video tersebut, Tayah tampak menari sambil menggendong Aaliyana, putrinya, yang tiba-tiba menyusu. “Kami menari sambil ia menyusu, dan ia tertawa serta tersenyum padaku,” cerita Tayah. Ia mengaku sangat senang bisa keluar rumah setelah hampir setahun lebih jarang beraktivitas di luar sejak melahirkan.Festival itu sendiri merupakan acara pribadi dan ramah keluarga, sehingga menurut Tayah tidak ada yang keberatan dengan aksinya. “Semua orang di sana benar-benar normal dan tidak mempermasalahkan seorang ibu yang menyusui,” ujarnya.Namun, setelah video menyebar luas, komentar negatif pun bermunculan. Banyak netizen yang menilai bahwa menyusui di festival musik dianggap tidak pantas. “Tidak pantas ya,” tulis seorang pengguna. “Hentikan waktu, itu salah,” komentar lainnya. Tayah mengaku terkejut dengan kritik tersebut. “Orang-orang mengatakan mereka merasa tidak nyaman menontonnya, itu sangat menyedihkan,” ucapnya.Di tengah kecaman, Tayah juga mendapat banyak dukungan. “Semangat, Bu,” tulis seorang warganet. “Jangan dengarkan komentar-komentar ini, Nak, kamu melakukan hal yang luar biasa,” tambah yang lain. Tayah menegaskan bahwa menyusui bukanlah hal yang memalukan dan menjadi ibu bukan berarti harus kehilangan jati diri atau berhenti bersenang-senang.Menyusui di Ruang Publik: Hak vs StigmaSecara medis, menyusui adalah kebutuhan dasar bayi yang tidak mengenal waktu dan tempat. WHO bahkan merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih. Artinya, ibu menyusui berhak memenuhi kebutuhan anaknya kapan pun, termasuk di luar rumah.Meski begitu, stigma sosial masih sering membuat ibu merasa tidak nyaman. Di Indonesia sendiri, menyusui di tempat umum sebenarnya tidak dilarang dan sudah didukung dengan adanya ruang laktasi di berbagai fasilitas publik. Namun, pandangan masyarakat tentang 'kepantasan' menyusui di ruang publik masih beragam.Kasus viral ini mengingatkan kita bahwa dukungan lingkungan sangat penting agar ibu bisa menyusui tanpa rasa takut. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kenyamanan ibu dan bayi. Jadi, bagaimana menurut Bunda? Apakah menyusui di festival musik itu wajar atau sebaiknya dihindari?

Redaksi-25 Juni 2026
NaraCerita