Mengintip Karakter Anak dari Camilan Kesukaannya
Setiap anak punya dunia rasa yang berbeda-beda. Ada yang senang sekali dengan camilan manis seperti cokelat atau es krim, ada pula yang lebih memilih gurihnya kentang goreng atau cimol. Tapi tahukah Bunda, di balik pilihan itu tersimpan petunjuk menarik tentang kepribadian si kecil? Menyingkap Kaitan Antara Rasa dan Karakter Juliet Boghossian, pakar perilaku makanan dan pendiri Food-ology, meyakini bahwa cara kita makan sebenarnya berbicara banyak tentang siapa diri kita. Selama lebih dari tiga dekade, ia mempelajari bagaimana kebiasaan makan berkaitan erat dengan kepribadian dan perilaku seseorang. Menariknya, kebiasaan ini terus berkembang seiring waktu, dipengaruhi oleh pengalaman emosional, kematangan diri, hingga lingkungan sekitar. Penelitian dalam jurnal Current Research in Food Science (2021) bahkan mengungkapkan bahwa ada dasar ilmiah di balik hubungan ini. Rupanya, preferensi rasa lebih banyak ditentukan oleh indra perasa dan sensasi di mulut, bukan hanya sekadar aroma atau faktor genetik semata. Faktor Genetik dan Lingkungan yang Berperan John Hayes, profesor ilmu pangan dari Penn State University, menjelaskan bahwa kombinasi gen dan lingkungan membentuk selera makan anak. Kebiasaan makan keluarga sejak kecil adalah pengalaman belajar yang kuat. Selain itu, setiap orang punya varian gen reseptor rasa yang berbeda—bahkan ada sekitar 25 gen yang mengatur sensitivitas terhadap rasa pahit. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian anak sangat peka terhadap rasa tertentu, sementara yang lain tidak. Kepribadian dan Pilihan Rasa Para peneliti menemukan korelasi antara ciri-ciri kepribadian utama (Big Five Personality Traits) dengan perilaku makan. Misalnya, anak yang ekstrovert cenderung lebih menikmati sensasi makanan dibandingkan introvert. Anak yang terbuka pada pengalaman baru biasanya lebih lahap menyantap buah dan sayur, serta jarang mengonsumsi junk food. Studi lain dalam jurnal Appetite (2008) menunjukkan bahwa anak yang gemar mencari tantangan dan berambisi tinggi lebih doyan makanan asin. Sementara itu, anak yang sensitif terhadap hadiah atau pujian lebih memilih makanan manis. Penelitian di Food Quality and Preference (2015) juga mengaitkan kesukaan pada makanan pedas dengan kepribadian yang pemberani dan senang mencari sensasi. Yang Tersembunyi di Balik Rasa Tidak Suka Menariknya, makanan yang dibenci anak juga bisa mengungkap banyak hal. Boghossian berpendapat bahwa ketidaksukaan yang kuat terhadap suatu makanan mencerminkan sikap pantang menyerah dan komitmen yang tinggi. Jika anak sangat menolak bahkan menyentuh makanan tertentu, itu bisa jadi tanda bahwa ia pribadi yang berpegang teguh pada prinsip dan sulit berkompromi. Meski terkadang orang lain melihatnya sebagai sikap kaku, sebenarnya itu adalah bentuk loyalitas yang mendalam. Jadi, Bunda, memperhatikan pilihan rasa si kecil bukan hanya soal memenuhi nutrisi, tetapi juga cara seru untuk lebih mengenal jati dirinya. Tetaplah amati dan dukung tumbuh kembangnya dengan penuh kasih sayang, ya.













